• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Gemuruh di Atas Jok Motor
Langkah kaki Eca terasa seberat timah saat dia mengekor di belakang punggung tegap Angkasa yang berjalan santai menyusuri koridor lantai satu. Area sekolah sudah benar-benar sepi, hanya menyisakan beberapa anak ekskul olahraga yang suaranya terdengar sayup-sayup dari arah lapangan luar. Tas ransel hitam milik Eca yang berisi laptop OSIS tampak bergelayut santai di bahu kanan Angkasa, kontras dengan almamater OSIS cowok itu yang kini disampirkan di bahu kirinya.
Eca memandangi punggung itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa lega karena geng Fanya akhirnya mendapat pelajaran yang setimpal tanpa dia harus membongkar penyamarannya sendiri. Namun, di sisi lain, tarikan napasnya terasa sesak setiap kali dia menyadari posisi tubuhnya yang kini benar-benar terjerat dalam kepemilikan sepihak sang Ketua OSIS. Lingkaran perlindungan yang Angkasa sebutkan tadi terasa lebih mirip sebuah sangkar emas yang perlahan-lahan mengunci kebebasannya.
Mereka berdua akhirnya tiba di area parkir khusus pengurus OSIS yang terletak di samping gedung laboratorium. Di sana, sebuah motor sport hitam dengan mesin 250cc berdiri dengan gagah. Angkasa menaruh tas Eca di atas tangki motor, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil kunci beserta sebuah helm full-face hitam matte yang tergantung di stang motor.
Tanpa sepatah kata pun, Angkasa berbalik menghadapi Eca. Jarak mereka kembali mengikis. Angkasa mengangkat kedua tangannya, membawa helm besar itu mendekati kepala Eca.
"K-Kak... gue bisa pakai sendiri," cicit Eca, mendadak kembali memanggil dengan sebutan formal karena gugup melihat gerakan Angkasa yang begitu telaten. Dia mencoba meraih helm itu, namun jemari hangat Angkasa dengan lembut menepis tangan kecil Eca.
"Diem, Alesya. Tangan lo masih gemeteran kayak gitu," tegur Angkasa dengan suara baritonnya yang rendah dan datar.
Angkasa memakaikan helm besar itu ke kepala Eca dengan sangat hati-hati, memastikan kacamata tebal cewek itu tidak tergeser atau patah. Jarak wajah mereka yang sangat dekat membuat Eca terpaksa menahan napasnya kembali. Dia bisa mencium aroma mint segar dari napas Angkasa yang menyapu permukaan dahinya. Setelah helm terpasang sempurna, Angkasa menarik tali pengikat di bawah dagu Eca dan menguncinya dengan bunyi klik yang nyaring. Angkasa sempat mengetuk pelan bagian kaca helm Eca sambil tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat langka dan sanggup membuat jantung Eca berdentum dua kali lebih cepat.
"Naik," perintah Angkasa pendek sambil melangkahi jok motornya yang tinggi dan menyalakan mesin. Suara raungan knalpot sport yang berat langsung memecah keheningan sore itu.
Eca menelan ludah, menatap jok belakang motor yang posisinya menungging cukup tinggi. Dengan sisa tenaganya, dia memegang pundak Angkasa sebagai tumpuan dan menaiki jok belakang dengan canggung. Begitu dia duduk, motor itu mendadak melaju dengan sentakan yang cukup kuat saat Angkasa menarik tuas gasnya tanpa peringatan.
"Aaa!" Eca memekik kaget di dalam helmnya. Tubuhnya terdorong ke depan akibat gaya inersia, membuat dada dan perutnya menempel sempurna pada punggung kokoh Angkasa. Kedua tangan Eca refleks melingkar erat di pinggang tegap cowok itu, mencengkeram jaket seragamnya dengan sangat kencang karena takut terjatuh.
Di balik kaca helmnya yang gelap, Angkasa melirik dari kaca spion dan tersenyum miring melihat respons asisten pribadinya. Dia sengaja tidak mengurangi kecepatan motornya saat membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan. Sementara itu, Eca hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat, merutuki kelakuan Angkasa di dalam hati. Namun, di tengah gemuruh angin jalanan dan deru mesin motor yang bising, Eca tidak bisa membohongi pendengarannya sendiri. Di balik punggung Angkasa yang dia dekap erat, ada suara detak jantung yang konstan, kuat, dan berdegup dengan ritme yang sama cepatnya dengan debaran gila di dalam dadanya sendiri.