"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 Bonus Dari Lily
"Simpan dokumen ini dalam brankas utama," perintah Lucas yang diangguki Dave.
"Ehhhhh, Kak Lucas jangan kerja dulu, Lily mau makan malam, sudah lapar, hari-hari kerja terus," kata Lily begitu Lucas akan membuka laptopnya.
Lucas berjalan mengikuti Lily yang memegang tangannya dan begitu mereka keluar dari pintu utama ruang kerja, Lily malah bingung sendiri.
"Ini arah ke ruang makan, ke mana Kak?" tanya Lily karena belum mengenal semua ruangan di rumah ini.
"Alena," panggil Lucas lalu beberapa saat kemudian pimpinan pelayan itu datang.
"Antarkan Lily ke ruang makan," perintah Lucas.
"Mmmh, nggak mau makan sendiri," kata Lily tetap saja menyeret tangan Lucas mengikuti pelayan itu.
"Lily, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, jika kamu tidak mau makan sendiri minta pelayan suapi," ucap Lucas akhirnya komplain setelah lama terdiam mengikuti Lily yang berjalan menyeret tangannya.
"Mmmmh, mau sama Kak Lucas pokoknya," kata Lily keras kepala kembali menyeret Lucas yang sudah berhenti berjalan.
"Ayo," rengek Lily meronta-ronta terus berusaha menarik Lucas yang sama sekali tidak bergerak ketika Lily menariknya.
"Nyonya," teriak Dave yang baru keluar dari ruang brankas, berlari spontan dan memegang Lily yang hampir terjatuh setelah menarik Lucas sekuat tenaga namun tangannya malah terlepas.
"Akkkh," teriak Lily yang jatuh di lantai menimpa Dave.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya Dave duduk dan membantu Lily agar bangun karena mereka rebah ke lantai.
"Mmmh, nggak mau temenan sama Lucas," kata Lily yang baru duduk itu langsung menendang kaki Lucas yang berdiri di hadapan mereka.
"Sejak dulu aku memang tidak ingin berteman dengan kamu gadis menyebalkan, selalu memaksakan kehendak," Lucas juga jadi kesal melihat Lily yang masih duduk di lantai itu terus menendang kakinya.
Sedari kecil, Lily selalu memaksa Lucas untuk memenuhi keinginannya padahal Lucas nggak mau berada dekat dengan Lily yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Mmmh, Kak Dave ayo makan sama Lily aja yuk," kata Lily berdiri dan mengulurkan tangannya pada Dave yang masih duduk di lantai.
"Ti, tidak Nyonya," gelagapan Dave langsung berdiri sendiri melihat tatapan tajam Lucas ketika Lily mengulurkan tangan padanya.
Lily langsung menoleh pada Lucas melihat tatapan ketakutan Dave.
"Apa matanya begitu, tadi katanya Lily kalau malas makan sendiri boleh minta suapi pelayan," kata Lily malah menantang Lucas yang aura dinginnya sudah membekukan seisi rumah.
"Dia adalah asistensiku bukan pelayan," kata Lucas dengan suara cukup keras.
"Mmmmh, mau pulang ke rumah Lily aja," kata Lily langsung berlari dengan kesal.
"Lily, melangkah selangkah lagi kita program hamil besok pagi," teriak Lucas yang langsung menghentikan langkah Lily yang baru menuruni satu anak tangga.
"Hwaaaaaa," Lily benar-benar menangis dan berteriak sampai seisi rumah kaget mendengar suaranya bergema ke mana-mana karena Lily berdiri di anak tangga paling atas.
Lucas kembali berjalan menghampiri Lily lalu memegang sebelah tangan dan membawa gadis itu ke ruang makan.
"Mmmh, nggak mau makan," kata Lily malah berjongkok di tangga dan tidak mau berjalan.
"Lily, berdiri dan jangan menguji kesabaranku," tegas Lucas yang membuat Lily langsung berdiri dan mengikuti pria galak itu.
Sesampai di ruang makan Lily yang awalnya ngambek dan masih menangis langsung mengusap air matanya melihat makanan di atas meja.
"Makanlah cepat," ucap Lucas duduk sambil memangku tangannya.
Lily duduk di meja makan bahkan saking tidak sabarnya dia ikut mengisi piringnya dengan lauk yang dia inginkan, padahal pelayan sedang mengisi piringnya.
"Ayo makan Kak," kata Lily tanpa dosa seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan mereka beberapa saat yang lalu.
Lily makan dengan begitu lahap sampai nambah, hingga beberapa orang yang melihatnya tersenyum melihat selera makan Lily yang luar biasa.
"Isi piringku," perintah Lucas yang jadi ingin makan juga melihat selera makan Lily.
"Biar Lily aja," kata Lily begitu Alena akan mengisi piring Lucas.
"Cukup, aku tidak makan dengan porsi kuli seperti kamu," ucap Lucas menghentikan Lily yang sedang mengisi nasi di piringnya.
"Ooooh baguslah," senang Lily mengisi semua nasi yang masih tersisa ke piringnya sampai Lucas melotot.
"Kalau ayam sepotong nggak habis nanti kasih Lily," kata Lily lanjut makan setelah mengisi piring Lucas dengan makanan.
"Dasar rakus," ucap Lucas geleng kepala, ternyata Lily masih sama selera makannya sejak dulu.
"Hidup untuk makan, makan untuk hidup," kata Lily yang sama sekali tidak tersinggung dikatai rakus oleh Lucas.
Lily kalau sudah bertemu makanan seketika mood-nya langsung membaik bahkan cepat memaafkan kalau sudah makan.
"Wahhhh, makanan di sini enak-enak banget, surga dunia," kata Lily yang benar-benar mencoba semua hidangan.
"Siapa yang masak?" tanya Lily menatap beberapa pelayan yang berdiri dekat mereka.
"Makanan ini dimasak oleh Chef Fu, Nyonya," kata pelayan menjawab pertanyaan Lily.
"Wahhhh, ternyata chef yang masak, coba panggil dia," kata Lily.
"Se, selamat malam Nyonya, Tuan," gelagapan chef itu begitu datang menyapa Lily.
"Masakan chef enak banget, tulis nomor rek di sini, Lily kasih bonus," kata Lily yang kalau di rumahnya sering mengapresiasi masakan enak.
Lily langsung memberikan bonus begitu Chef itu selesai menulis nomor rekening di ponsel Lily.
"Terima kasih, Nyonya," kata chef itu masih tidak menyangka.
"Kenapa kamu kasih dia bonus?" tanya Lucas melirik chef yang masih berdiri bersama pelayan.
"Karena masakannya enak," jawab Lily dengan polos.
"Lalu apa masakanku tidak enak, hingga tidak pernah kamu beri bonus?" tanya Lucas yang mengejutkan pelayan dan chef itu.
Apa selama tinggal di apartemen Lucas memasak untuk Lily?
"Ahhhh, tidak mungkin," ucap Alena yang bahkan sampai matipun menolak mempercayainya.
"Kak Lucas kan sudah kaya, untuk apa bonus?" heran Lily ketika Lucas malah menagih bonus juga.
"Apa bonus hanya berbentuk uang?" tanya Lucas balik berdiri lalu berjalan menaiki tangga.
"Apa sih, serigala itu sangat tidak jelas," kata Lily memilih menikmati makanan penutup.
Para pelayan hanya menutup mulut mendengar Lily yang berani sekali menjuluki Lucas serigala.
Selesai makan Lily berjalan ceria sampai ke dalam kamar dengan mood baik, karena perutnya sudah kenyang.
Lucas yang duduk bersandar di tengah ranjang itu menoleh menatap Lily yang sedang mengunci pintu kamar.
"Kak Lucas, jadi mau bonus?" tanya Lily naik ke atas ranjang.
"Apa yang bisa kamu berikan untukku selain uang?" tanya Lucas menatap Lily sejenak lalu kembali fokus ke ponselnya.
Lily merangkak sampai ke dekat Lucas dan tiba-tiba mengecup pipi Lucas, hingga pria itu terkejut.
"Terima kasih, sudah masak untuk Lily selama 5 hari ini," kata Lily dengan senyum lebarnya.
Muachhh
"Lily," teriak Lucas ketika Lily mengecup pipinya untuk kedua kali.