Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Arus tak banyak bicara, ia lebih memilih menunjukkan bukti pekerjaannya.
"Kamu benar benar bekerja selama ini" bangga Juita
Arus hanya mengangguk.
Semalaman Alya terus memikirkan prihal mahar yang di tanyakan arus kemarin, bahkan saat sampai mengajar ia masih memikirkan tentang ini.
"Ly, ada apa. Kenapa melamun..."
Alya menoleh, melihat Lia yang duduk di sebelahnya.
"Masih memikirkan perihal mahar" tanya Lia.
Kemarin Alya akhirnya bisa menghubungi Lia setelah jam mengajar usai. tapi meskipun begitu, saran Lia tetap tak dapat mengambil saran Lia yang hampir sama dengan apa yang ia temukan di internet.
"Kak, apa meminta kalung emas tak terlalu memberatkan arus. Dia kan tak bekerja" jawab Alya.
"Seharusnya tidak, mahar seperti itu sudah normal untuk pernikahan. Lagi pula dia sendiri yang meminta pendapat mu tentang mahar, berarti dia sudah menyiapkan anggarannya."
"Tapikan arus tak bekerja, kalo tabungannya di pakai untuk membeli mahar lalu setelah menikah kami bisa bisa tak punya uang"
"Kamu baru sadar kalau calonmu pengangguran...? Tapi telat kalo kamu sadar sekarang, semuanya sudah di siapkan tak mungkin di batalkan semuanya."
Alya mengambil ponsel, ia melihat pesan dari arus tadi malam.
Arus kembali menanyakan perihal mahar, namun Alya beralasan akan menanyakan ke orang sekitar dulu.
"Udah ngapain ragu, bilang aja...."
Alya sempat ragu, namun ia akhirnya mulai mengetik.
"Begini, dari pendapat orang sekitar aku mendapatkan jawaban kalo biasanya mahar itu berupa perhiasan emas"
Pesan terkirim, terlihat jelas keringat membasahi kening Alya. Walau ia hanya mengirim itu.
Alya kembali memasukkan ponsel karena arus tak kunjung membalas.
Karena jam masuk anak TK sudah mulai, Alya memutuskan kembali mengajar.
Saat tengah mengajar, salah satu muridnya mengangkat tangan..
"buk Alya, apa bener kalok ibuk mau menikah sama kak arus" tanya anak perumpamaan itu.
Alya tersenyum....
"dari mana adek tau" tanya Alya dengan lembut.
"kemarin aku denger ibuk ngomongin ini sama bapak" jawab polos anak itu.
Alya mendekat, ia sedikit berlutut agar mensejajarkan dengan tinggi anak itu. Lalu Alya mengelus puncak kepala anak tersebut.
"inget, lain kali jangan gitu lagi. Gak baik nguping pembicaraan orang dewasa, itu gak boleh" ungkap Alya masih dengan nada lembut.
"kenapa buk...?" bingung anak itu.
"kalok informasi yang penting bagaimana, coba kalok kamu ngomong sama temen. Dan pembicaraan itu hal penting yang gak mau orang lain tau, tapi ada temen yang dengerin secara diam diam, kamu kesel gak...?"
anak itu mengangguk....
"maaf kak, Fiza gak sengaja.".
Alya kembali mengelus rambut anak itu.
"karena yang di bicarakan orang tua Fiza adalah hal yang semua orang tau jadi gak apa apa, tapi besok besok kalok ibu sama bapak lagi berbicara dan Fiza lagi gak di ajak cobalah untuk tak menyebarkan apa yang mereka sampaikan, takutnya itu penting."
"ia kak" jawab anak itu.
"anak pinter" puji Alya.
Suci yang sedari tadi mendengar dari pintu masuk tersenyum, ia tau hal ini penting. Karena dia pernah mendapatkan saran dari Alya kalau berbicara dengan anak anak tak bisa langsung ke inti, lebih baik memberi contoh tentang anak itu dan itupun tak boleh terlalu keras, karena jika menghardik atau langsung menyalahkan, itu akan dapat mempengaruhi emosi dan tumbuh kembang anak..
Walau suci tau itu penting, tapi terkadang dia sendiri lupa. Bagaimanapun anak seusia ini masih egosentris, merasa dunia berpusat kepada mereka. Jadi lebih sulit di kendalikan.
"Alya benar benar calon ibu yang sempurna, tapi sayang calonnya arus" gumam suci.
Setelah memberi hal itu kepada anak tersebut, Alya baru tertuju ke pertanyaan anak itu.
"bener, ibuk sama kak arus akan menikah bulan depan. Kalian jangan lupa Dateng ya"
"yah..... Padahal aku pengen nikah juga sama kak arus, kenapa ibuk Alya yang nikahin si" jawab beberapa anak yang masih terlihat seperti anak ayam itu.
Tentu Alya terkejut mendengar perkataan anak itu, ia kira anak anak ini akan takut kepada arus.
Dengan sifat arus, bahkan dia sendiri sebenarnya takut. Jika bukan karena mimpi, Alya tak mungkin mau menikah dengan pria itu.
namun walaupun begitu, Alya masih tersenyum.
"emang kalian gak takut sama kak arus.." tanyanya.
kali ini tak hanya murid wanita, bahkan murid pria menjawab.
"tidak, soalnya kak arus baik"
"baik...? Memang apa yang di lakukan kak arus"
"dia sering ngasih kita jajan, sering ngajak kita main" jawab mereka serentak.
"ia apa lagi kak arus ganteng" jawab Fiza murid TK yang tadi berbicara.
saat para muridnya memuji arus, entah mengapa ada desiran halus di hati Alya.
Setelah kelas selesai, Alya baru mendapatkan balasan pesan dari arus.
Namun balasan itu membuatnya kesal, karena pesan panjang yang ia kirim hanya di jawab, "iya" oleh arus.
"ini orang terbuat dari apa si, apa sulitnya ngetik lebih panjang" kesalnya dalam hati.
Arus sendiri setelah membalas pesan itu, ia pergi ke toko emas.
Namun saat hendak masuk, ia di hadang oleh satpam.
"tunjukkan kartu identitas" tanya satpam.
arus mengerutkan keningnya, pasalnya hanya dia yang di hadang. Sedangkan pelanggan lain tak ada yang di hentikan sepertinya.
"ada apa, aku ke sini mau belanja.".
"itu sudah prosedur toko" alasan satpam itu.
"mereka." tunjuk arus ke arah beberapa orang yang berlalu lalang..
"tunjukkan saja identitas anda, jika tidak silahkan cari toko lain"
"pak, jika anda melihat pelanggan dari pakaiannya, itu bukan hal yang baik. Tak semua orang berpakaian seperti kami ini penjahat, bahkan terkadang maling malah sengaja menggunakan pakaian rapi agar tak di curigai" ungkap arus sambil menunjukkan beberapa kartu.
satpam itu terdiam, melihat beberapa kartu berwarna hitam, silver, dan gold di dompet arus.
"maaf silahkan masuk" ungkap satpam itu.
Namun bukannya masuk, arus lebih memilih berpindah toko.
Beruntungnya, di toko kali ini tak ada hambatan. Dia bisa masuk dengan mudah.
Bahkan beberapa pelanggan di sana sibuk menatap ketampanan arus, di tambah wajah dinginnya membuat para gadis yang ada di sana tak mau mengalihkan pandangan.
"mau beli apa kak" tanya penjual.
"kalo paket untuk mahar pernikahan ada..?" tanya arus.
"ada kak, tunggu sebentar biar saya Carikan dulu"
beberapa wanita yang tadi menatap arus langsung menampilkan wajah kecewa saat mendengar arus sudah mau menikah.
Sedangkan arus sendiri sama sekali tak memperdulikan tatapan mereka.
Penjaga itu mengeluarkan beberapa paket hantaran untuk mahar dengan lengkap..
"silahkan mau pilih paket yang mana kak" tanya penjaga toko.
Arus mengambil foto beberapa paket perhiasan itu.