NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: DARAH KELUARGA

Kesadaran kembali merayap perlahan, membawa serta rasa pening yang menghantam kepala bagaikan hantaman palu baja di tengah keheningan laboratorium yang pekat dan menyesakkan dada. Aroma obat bius bercampur bau antiseptik yang sangat tajam langsung menusuk rongga hidung, membuat indra penciuman terasa terbakar hebat.

Shen Mo menggerakkan jemarinya yang terasa kaku, mencoba mengepalkan tangan namun mendapati pergelangannya terkunci erat oleh belenggu logam dingin di atas sandaran kursi besi. Di sekelilingnya, pendar lampu neon putih yang menyilaukan mata perlahan menampakkan bentuk sebuah ruangan laboratorium bawah tanah yang luas, sangat bersih, dan dipenuhi oleh deretan tabung inkubator kaca berukuran raksasa.

Pria itu mengertakkan giginya; otot-otot di sekujur tubuhnya menegang hebat saat ia mencoba meronta melepaskan diri dari kursi interogasi tempat ia diikat tanpa berdaya sedikit pun.

Di samping kursi Shen Mo, Luo Chen perlahan membuka matanya yang jernih. Bocah tujuh tahun itu tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan atau isak tangis seperti anak kecil pada umumnya; sebaliknya, tatapan matanya langsung menyapu setiap sudut ruangan dengan kecepatan analisis yang luar biasa tinggi.

Chen melihat kedua pergelangan tangan kecilnya juga terikat kencang pada kursi khusus anak yang dilengkapi dengan sensor elektroda medis canggih. Napas bocah itu teratur, meskipun keningnya berkerut tajam saat ia menyadari bahwa mereka telah dibawa masuk ke dalam pusat kendali eksperimen genetik rahasia. Fasilitas bawah tanah di bawah pabrik baja lama itu ternyata bukan sekadar bunker tua peninggalan masa lalu, melainkan laboratorium hidup yang sengaja dihidupkan kembali oleh faksi pengkhianat untuk membongkar rahasia terdalam sistem Aegis Corp.

"Kau sudah sadar, Tuan Mafia yang agung," sebuah suara dingin dan datar memecah keheningan laboratorium, menggema dari pengeras suara tersembunyi di sudut langit-langit ruangan. Langkah kaki berderit pelan terdengar mendekat dari balik deretan tabung inkubator kaca.

Dari dalam bayangan cahaya putih yang menyilaukan, sesosok pria berjas putih rapi dengan kacamata berbingkai tipis muncul perlahan. Pria paruh baya itu bukanlah Vane ataupun sang tetua pengkhianat di dermaga, melainkan kepala riset utama korporasi Aegis Corp—seorang ilmuwan jenius gila yang selama bertahun-tahun merancang sistem sandi biologis organisasi tanpa diketahui oleh siapa pun di lingkaran kekuasaan tertinggi Kota Yucheng.

Shen Mo mendongakkan kepalanya, menatap tajam pria berjas putih itu dengan kilatan amarah membunuh yang memancar terang dari sorot mata hitamnya.

"Lepaskan anak itu," suara Shen Mo bergemuruh rendah, serak, dan penuh ancaman kematian yang membuat udara di sekitar ruangan mendadak terasa membeku.

Kepala riset tersebut hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman sinis yang merendahkan—lalu berjalan mendekati meja konsol komputer transparan yang terletak tepat di hadapan kursi Chen dan Shen Mo.

"Kau tidak punya hak untuk memberikan perintah di sini, Tuan Shen," jawab ilmuwan itu tenang, mengetikkan beberapa baris perintah pada konsol digital. "Kau mengira kau adalah penguasa mutlak di Kota Yucheng. Padahal, kau hanyalah pion bodoh yang kami gunakan selama bertahun-tahun untuk mendanai dan mengamankan aset finansial korporasi ini dari bayang-bayang."

Luo Chen mengangkat dagunya perlahan, menatap lurus ke arah ilmuwan gila di hadapannya tanpa secercah rasa gentar sedikit pun di wajah kecilnya.

"Kau adalah orang yang mencetak dokumen otopsi palsu kematian ayahku tujuh tahun lalu," ucap Chen jernih, suaranya memecah keheningan laboratorium dengan ketajaman yang menusuk.

Kepala riset itu menoleh, menatap bocah tujuh tahun tersebut dengan kilatan kekaguman bercampur rasa ingin tahu yang aneh di balik lensa kacamata tipisnya.

"Kau memang anak yang sangat luar biasa, Luo Chen," puji ilmuwan itu tanpa rasa bersalah. "Otak fotografismu adalah mahakarya genetik yang diwariskan langsung dari ibumu—subjek uji coba biologis nomor satu yang sengaja kami sembunyikan di fasilitas ini sebelum ia melarikan diri bersama ayahmu."

Mendengar pengakuan mengejutkan itu, napas Shen Mo seketika tertahan di tenggorokan. Seluruh urat di leher dan pelipis pria itu menegang hebat. Selama bertahun-tahun, ia mengira kematian ibu Chen hanyalah tragedi kemanusiaan biasa akibat kerasnya dunia bawah tanah. Namun, kenyataan yang diungkapkan detik ini jauh lebih memilukan dan mengerikan: ibu Chen adalah bagian dari eksperimen genetik rahasia Aegis Corp, dan seluruh pelarian mereka selama tujuh tahun terakhir diawasi secara ketat oleh ilmuwan gila di hadapan mereka.

"Jadi... kematian ibuku..." bisik Chen pelan, suaranya bergetar tipis untuk pertama kalinya, bukan karena rasa takut, melainkan karena gelombang amarah yang mendidih di dalam dada kecilnya. "...bukan sekadar pembunuhan balas dendam, melainkan eksekusi yang sengaja untuk menutup proyek penelitian biologis ini?"

"Tepat sekali, anak manis," jawab kepala riset itu dengan nada suara yang begitu dingin, tanpa memiliki sedikit pun rasa kemanusiaan. "Dan sekarang, lingkaran itu akan ditutup secara sempurna. Karena malam ini, kecerdasan fotografis di dalam otakmu akan kami pindahkan sepenuhnya ke dalam sistem server pusat Aegis Corp, sementara organ biologismu akan menjadi kunci terakhir untuk membuka brankas penyimpanan data utama yang tidak bisa diakses oleh siapa pun di dunia ini."

Sambil berkata demikian, ilmuwan itu menekan tombol besar berwarna merah pada konsol utama. Seketika itu juga, tabung inkubator kaca besar di belakang mereka mendadak menyala terang benderang, memuntahkan cairan hijau berpendar ke dalam selang-selang transparan yang terhubung langsung ke kursi tempat Chen dan Shen Mo diikat tanpa ampun.

Kabel-kabel elektroda medis di kepala Chen mulai berdenyut mengeluarkan arus listrik bertegangan rendah, memicu rasa sakit yang menusuk tajam di saraf kepala bocah tersebut. Chen menutup matanya rapat-rapat; giginya bergemeretuk menahan rasa sakit luar biasa saat sistem transfer data ingatan mulai memaksa masuk ke dalam memori otaknya.

"Hentikan, brengsek!" teriak Shen Mo mengamuk luar biasa, meronta-ronta dengan sisa tenaganya hingga kursi besi tempat ia diikat berderit nyaring dan nyaris roboh. Urat-urat tangan Shen Mo robek dan mengeluarkan darah segar yang menetes membasahi lantai putih laboratorium, namun ia sama sekali tidak memedulikan rasa sakit fisiknya sendiri. Yang ada di dalam benak pria itu hanyalah tekad mutlak untuk melindungi anak di sampingnya dari siksaan keji tersebut.

"Percuma saja meronta, Tuan Mafia," ucap kepala riset itu dengan senyum kemenangan yang lebar. "Sistem ini dirancang khusus untuk mengunci kesadaran kalian berdua sampai proses ekstraksi ingatan selesai sepenuhnya dalam waktu tiga puluh menit."

Namun, di tengah kesakitan hebat yang menderu di kepalanya, Luo Chen tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. Alih-alih berteriak kesakitan, sudut bibir bocah itu justru terangkat membentuk senyuman dingin yang sangat mirip dengan ekspresi Shen Mo di saat-saat paling berbahaya.

"Kau terlalu sombong mengandalkan teknologi usang ini, profesor tua," bisik Chen dengan suara serak namun sangat jelas terdengar di seluruh ruangan. "Kau lupa bahwa logic bomb yang ditanam ayahku di server pusat Aegis Corp bukan sekadar ancaman kosong di dermaga, melainkan program perusak otomatis yang langsung menghapus seluruh file biometrik saat sistem dipaksa meretas dari jarak jauh."

Wajah kepala riset itu mendadak membeku seketika; senyuman di bibirnya lenyap digantikan oleh kepanikan yang luar biasa saat layar monitor utama di dinding laboratorium tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah, menampilkan peringatan sistem berbunyi Fatal Error: Core Override Activated.

Sebelum ilmuwan itu sempat berlari mematikan konsol utama, seluruh lampu laboratorium padam total dalam kegelapan pekat, disusul oleh suara sirene darurat bernada tinggi yang meraung memekakkan telinga, mengisyaratkan bahwa seluruh pangkalan bawah tanah itu kini berada di ambang kehancuran total akibat serangan balik digital dari bocah tujuh tahun yang duduk di kursi interogasi.

Di tengah gulita dan suara alarm yang memekakkan telinga, pintu brankas baja di ujung ruangan tiba-tiba mendesing terbuka dengan paksa, menampilkan siluet bayangan pasukan taktis tak dikenal yang Siap menembak mati siapa saja di dalam ruangan tersebut, menyisakan ketegangan mematikan di ambang akhir kesadaran mereka berdua yang terperangkap dalam sangkar besi tanpa jalan keluar, sementara langkah kaki misterius terdengar mendekat dari balik kabut gas.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!