Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Tercoreng di Depan Hakim
Pagi itu, suara mesin diesel berat menderu memecah keheningan Gang Melati yang sempit. Sebuah truk besar berwarna biru tua berhenti tepat di depan kontrakan kumuh tempat Bagas, Siska, dan Ibu Melati menginap. Beberapa orang berseragam hitam dengan logo firma hukum ternama turun dari mobil pendamping yang mengikuti di belakang truk tersebut. Bagas yang baru saja terbangun karena kebisingan, segera berlari keluar dengan rambut berantakan dan mata yang masih bengkak.
Bagas menatap tajam ke arah para pria yang mulai mengeluarkan perlengkapan dari truk. Ia mengenali salah satu dari mereka, seorang petugas eksekusi yang pernah ia temui di kantor hukum Pak Hendra beberapa bulan lalu. Kemarahan Bagas meluap, ia merasa martabatnya diinjak-injak di depan tetangga sekitar yang mulai keluar dari rumah untuk mengintip keributan.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" teriak Bagas dengan suara lantang yang parau. "Pergi dari sini! Ini kawasan pribadi, kalian tidak punya hak untuk datang dan mengganggu ketenangan kami!"
Petugas eksekusi itu hanya menatap Bagas dengan pandangan datar, tidak sedikit pun merasa terintimidasi. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari balik jasnya dan menunjukkan dokumen resmi dengan stempel pengadilan yang mencolok.
"Kami datang untuk melaksanakan perintah sita jaminan atas aset-aset yang masih tersisa atas nama Larasati," jawab petugas itu dengan nada tenang dan profesional. "Mohon jangan menghalangi tugas kami, atau kami akan memanggil pihak kepolisian untuk penertiban."
Ibu Melati berlari keluar dari kontrakan sambil terengah-engah, wajahnya pucat pasi melihat truk besar dan orang-orang asing yang mulai mengepung tempat tinggal mereka. Ia mencengkeram lengan baju Bagas dengan tangan yang gemetar hebat.
"Bagas, apa maksudnya ini?" tanya Ibu Melati dengan nada histeris. "Apa lagi yang mau mereka ambil? Kita sudah tidak punya apa-apa lagi di sini!"
Siska menyusul di belakang ibunya, ia tampak sangat syok melihat pemandangan itu. Ponselnya terjatuh ke lantai semen, layarnya retak namun ia tidak lagi mempedulikan benda itu.
"Kak, jangan bilang kalau mereka datang untuk mengusir kita dari kontrakan ini juga?" teriak Siska dengan nada cemas yang melengking. "Kita mau tidur di mana kalau ini diambil? Kita benar-benar tidak punya uang sepeser pun!"
Bagas menepis tangan ibunya dengan kasar, matanya tertuju pada pengacara yang kini turun dari mobil sedan perak. Pak Hendra berdiri di sana dengan setelan jas rapi dan wajah tanpa ekspresi yang membuat Bagas semakin membenci kehadirannya.
"Pak Hendra! Anda benar-benar tidak punya hati!" seru Bagas sambil menunjuk tepat ke wajah pengacara itu. "Laras sudah mendapatkan segalanya, mengapa dia masih harus mengejar kami sampai ke lubang tikus ini?"
Pak Hendra melipat tangannya di dada, menatap Bagas dengan tatapan dingin dan berwibawa. Ia sama sekali tidak menunjukkan emosi meski Bagas berteriak tepat di depan wajahnya.
"Sesuai dengan putusan pengadilan terbaru, seluruh aset yang dibeli dengan dana pribadi Larasati harus dikembalikan sepenuhnya tanpa terkecuali," ujar Pak Hendra dengan suara yang tegas. "Tindakan Larasati hari ini hanyalah bentuk pemenuhan hukum yang sah. Saya menyarankan Anda untuk bersikap kooperatif agar tidak terjadi masalah yang lebih panjang."
Ibu Melati mulai menangis sejadi-jadinya, ia terduduk di atas lantai semen yang kotor sambil meratapi nasibnya. Ia merasa dunia benar-benar telah runtuh di depan matanya.
"Laras! Keluar kau! Jangan bersembunyi di balik pengacara ini!" teriak Ibu Melati sambil memukuli lantai dengan tangannya. "Kau tega melakukan ini pada orang yang sudah merawatmu bertahun-tahun? Kau benar-benar wanita kejam yang tidak punya nurani!"
Beberapa warga mulai berbisik-bisik, menatap keluarga Bagas dengan pandangan sinis daripada rasa iba. Mereka sudah muak dengan kesombongan keluarga itu selama mereka tinggal di lingkungan tersebut.
"Sudah, Bu. Tidak ada gunanya memaki-maki," bisik Siska dengan suara lemah dan putus asa. "Mereka tidak akan peduli meskipun kita memohon sampai mati. Laras yang kita kenal dulu sudah tidak ada lagi."
Bagas merasa dadanya sesak oleh amarah yang tertahan. Ia ingin melawan, namun ia sadar sepenuhnya bahwa ia tidak memiliki kekuatan hukum atau finansial untuk menandingi tim pengacara yang dibawa Laras.
"Ini belum berakhir!" teriak Bagas kepada orang-orang yang mulai membawa keluar beberapa barang yang tertinggal di dalam kontrakan. "Aku tahu kamu menonton ini dari jauh, Laras! Aku akan membalas semuanya!"
Petugas eksekusi mulai mengangkat sisa perabotan yang ada di kontrakan, termasuk kipas angin tua dan lemari plastik yang selama ini digunakan Siska. Siska mencoba menahan lemari tersebut, namun petugas dengan mudah melepaskan cengkeramannya.
"Lepaskan! Ini milikku!" teriak Siska dengan suara yang tertahan karena marah dan malu. "Kalian pencuri! Pencuri harta orang miskin!"
Petugas hanya menatap Siska dengan pandangan kasihan, seolah sedang melihat orang yang kehilangan akal sehatnya. Mereka terus bekerja dengan cepat dan efisien, mengabaikan teriakan dan makian yang keluar dari mulut Siska.
"Bagas, lakukan sesuatu!" pinta Ibu Melati sambil mengguncang bahu anaknya dengan liar. "Jangan biarkan mereka membawa semuanya. Kita tidak bisa hidup seperti ini!"
Bagas hanya terdiam, punggungnya terasa kaku dan matanya mulai memanas oleh air mata kekalahan. Ia sadar bahwa setiap langkah yang ia ambil untuk melawan hanya memperburuk keadaannya sendiri di depan mata banyak orang.
Pak Hendra memberikan isyarat kepada petugas untuk segera menyelesaikan tugasnya. Ia mendekati Bagas untuk terakhir kalinya sebelum masuk kembali ke dalam mobil.
"Saran saya, cari tempat berteduh yang lebih layak dan berhenti mencari masalah dengan Nyonya Larasati," ucap Pak Hendra dengan nada peringatan. "Jika ada tindakan intimidasi atau ancaman lagi, kami akan melaporkannya sebagai tindak pidana serius. Anda sudah memiliki catatan hukum, jangan sampai itu bertambah panjang."
Mobil Pak Hendra pun melaju pergi, meninggalkan keluarga Bagas yang kini benar-benar kehilangan segalanya di depan kontrakan yang sudah kosong melompong. Siska terduduk lesu, menatap truk yang membawa barang-barang terakhir mereka menjauh dari gang.
Bagas masih berdiri tegak di tengah gang, menatap kepergian truk itu dengan tatapan yang penuh kehampaan. Ia sadar bahwa ia telah membuang keberuntungan yang pernah ia miliki, dan kini ia hanya seorang pria gagal yang terjebak dalam kemiskinan.
"Kita sekarang benar-benar tidak punya apa-apa lagi, Kak," gumam Siska dengan suara yang sangat pelan. "Apakah ini akhir dari segalanya?"
Bagas tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya dan masuk kembali ke dalam ruangan kontrakan yang kini benar-benar hanya berisi debu dan udara dingin. Ia duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya sendiri, sementara Ibu Melati terus terisak di sampingnya.
Sementara itu, dari dalam mobilnya yang melaju jauh di jalan raya, Laras menutup berkas laporan dari Pak Hendra. Ia tidak merasa senang ataupun sedih, ia hanya merasa lega karena bab ini akhirnya tertutup rapat.
"Semua sudah selesai, Mbak," lapor Pak Hendra melalui panggilan telepon. "Mereka sudah tidak memiliki akses apa pun terhadap aset yang tersisa."
Laras mengangguk kecil, menatap jalanan kota yang cerah di depannya. Ia menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju kantornya, siap untuk menyambut hari baru tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyiksa.
Hari itu, matahari bersinar terang, namun di sudut Gang Melati, waktu seolah berhenti bagi keluarga Bagas. Mereka hanya bisa duduk terdiam dalam kehampaan, menelan pil pahit dari kesombongan yang mereka tanam sendiri selama ini. Tidak ada lagi jalan untuk kembali, tidak ada lagi belas kasihan yang menanti, hanya ada sisa hidup yang harus mereka jalani dengan konsekuensi dari pilihan-pilihan mereka yang salah.