NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 19.

Terhitung sudah satu minggu setelah kerja kelompok seni budaya di rumah Lingga.

Tujuh hari penuh sejak hujan badai hari rabu lalu yang sukses membuat Stella tumbang dan harus bed rest total.

Bagi Gibran, seminggu ini rasanya ada yang aneh dengan atmosfer sekolah. Cowok dengan jersi bernomor punggung 10 itu berdiri di tepi lapangan futsal, menumpu kedua tangannya di pinggang sambil mengatur napas yang memburu.

Keringat membasahi dahi dan lehernya, tapi matanya justru bergerak liar, menatap deretan kursi beton di pinggir lapangan yang biasanya gaduh.

"Gib! Fokus, elah! Malah ngelamun," teriak Devan dari tengah lapangan, disusul bola yang menggelinding pelan ke arah kakinya.

Gibran hanya mengangkat jempolnya malas. Dia meraih botol air mineral di dekat tasnya, meneguk nya cepat, lalu kembali menatap sudut tribun mini itu. Kosong.

Biasanya, jam istirahat kedua seperti ini, area lapangan futsal adalah tempat paling berisik di seantero SMA Pancasila. Dan delapan puluh persen dari sumber kebisingan itu berasal dari Stella. Cewek itu pasti sudah heboh berteriak kegirangan tiap kali Gibran menggiring bola, lengkap dengan kotak bekal atau es jeruk di tangannya yang siap disodorkan begitu Gibran selesai main.

"Sepi amat, ya," gumam Gibran pada diri sendiri.

Dia baru sadar, teriakan cewek itu yang biasanya terdengar cempreng dan kadang bikin kupingnya panas, ternyata berfungsi sebagai generator energi di lapangan ini.

Begitu Stella absen seminggu karena demam tinggi akibat nekat menerobos hujan deras seminggu lalu, lapangan futsal mendadak terasa seperti kuburan. Gibran menghela napas panjang, ada yang aneh rupanya saat Stella tidak ada di pandangan.

Di saat yang sama, beberapa meter dari hiruk-piruk lapangan, seorang cowok berjalan pelan menyusuri koridor lantai dua yang menghadap langsung ke area olahraga, orang nya adalah Lingga.

Cowok itu berjalan dengan kedua tangan tenggelam di saku celana abu-abunya. Wajahnya sedingin es, datar tanpa ekspresi, seolah semua hal di sekitarnya hanyalah angin lalu.

Rambut hitamnya yang agak berantakan sedikit menutupi dahinya.

Siang ini, langkah kaki Lingga melambat saat matanya menangkap siluet Gibran di pinggir lapangan. Tatapan Lingga beralih ke bangku penonton yang kosong.

Ada kilat kecemasan yang berkelebat cepat di mata elang cowok itu, sekelumit emosi yang selama ini selalu berhasil dia sembunyikan dengan rapat dari dunia luar.

'Seminggu' batin Lingga. 'Dia nggak masuk seminggu cuma karena hujan deras itu?'

Lingga ingat betul kejadian sore itu. Dia melihat Stella berdiri sendirian di bawah kanopi halte yang bocor, menggigil menahan dingin sambil memeluk tasnya.

Lingga yang saat itu mengendarai motornya sempat berhenti agak jauh, beralibi memakai jas hujan, padahal matanya tidak lepas dari Stella yang mulai bersin-bersin.

Lingga ingin menghampiri, tapi egonya menahan. Dan sekarang, rasa gengsi itu berubah menjadi kecemasan yang sialnya mulai menggerogoti logikanya.

Bel masuk berbunyi nyaring, memecah lamunan semua orang. Gibran segera menyambar handuk kecilnya dan berjalan menuju ruang ganti dengan kepala tertunduk.

Sementara itu, Lingga berbalik arah. Dia tidak berjalan menuju kelasnya di ujung koridor, melainkan berbelok menuruni tangga tengah, menuju ke sebuah ruangan di dekat lobi utama.

Ruang Tata Usaha.

Suasana di dalam ruang TU cukup tenang, hanya terdengar suara ketukan keyboard dari dua orang staf yang sedang menginput data.

Lingga mengetuk pintu kaca yang terbuka rendah, membuat seorang staf wanita paruh baya bernama Bu Lastri menoleh. "Ya, Lingga? Ada yang bisa dibantu? Mau legalisir?" tanya Bu Lastri ramah. Lingga memang murid yang tenang, jadi para guru dan staf cenderung menyukainya karena tidak pernah membuat onar.

Lingga berdehem pelan, mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar gemetar atau mencurigakan. "Siang, Bu. Saya... mau minta tolong."

"Minta tolong apa, Le?"

"Saya mau minta data alamat rumah Stella Angelica, anak kelas dua belas A. Tugas kelompok seni budaya kami harus dikumpul besok, dan nomor HP-nya nggak bisa dihubungi sejak dia sakit," bohong Lingga. Wajahnya yang flat dan nada suaranya yang luar biasa tenang membuat kebohongan itu terdengar seperti fakta medis yang mutlak.

Bu Lastri tampak menimbang sejenak, dahinya berkerut. "Walah, Stella yang sakit seminggu itu ya? Ibu dengar dari wali kelas nya memang dia kena gejala tifus setelah kehujanan. Tapi Lingga, aturan sekolah kan nggak boleh sembarangan kasih alamat siswa ke siswa lain."

Lingga tidak mundur. Dia menatap Bu Lastri dengan pandangan lurus, mengunci perhatian wanita itu. "Saya tahu, Bu. Tapi ini darurat untuk nilai kelompok. Kalau Ibu ragu, Ibu bisa tulis alamatnya di kertas, biar saya yang catat tanpa melihat layar komputer Ibu. Saya cuma mau antar bagian tugas dia yang sudah selesai saya kerjakan."

Logis, dingin, dan meyakinkan. Bu Lastri akhirnya menghela napas, kalah telak oleh tatapan serius cowok misterius di depannya ini.

"Ya sudah, sebentar Ibu carikan di buku induk digital," kata Bu Lastri sambil mengklik beberapa menu di komputernya.

Lingga berdiri tegak, namun tangannya di dalam saku celana mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

Dia tahu ini impulsif.

Dia tahu ini sama sekali bukan gayanya yang biasa acuh tak acuh.

Tapi membayangkan Stella terbaring lemah sendirian di rumahnya tanpa ada yang tahu seberapa parah kondisinya, membuat Lingga mendadak kehilangan kontrol atas sifat dingin nya sendiri.

"Ini, Lingga. Perumahan Dahlia Indah, Blok C Nomor dua belas," Bu Lastri menyodorkan selembar kertas kecil berisi tulisan tangan.

Lingga menerima kertas itu. Jarinya menyentuh permukaan kertas, membaca deretan alamat tersebut dalam hati, lalu melipatnya dengan rapi sebelum dimasukkan ke dalam saku.

"Terima kasih banyak, Bu," ucap Lingga pelan, lalu membungkuk sedikit sebelum berbalik pergi.

Saat keluar dari ruang TU, angin siang berembus agak kencang, membawa aroma tanah yang lembap sisa hujan semalam.

Lingga menatap kertas di genggamannya sekali lagi. Pikirannya berteriak bahwa ini salah, bahwa dia tidak punya hak untuk sejauh ini mencampuri urusan Stella. Tapi entah kenapa, langkah kakinya terasa jauh lebih mantap sekarang.

Lingga harus memastikan sendiri kalau wanita kesayangannya itu baik-baik saja.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!