"A...aku hanya ingin kamu bahagia, menikahlah dengannya. Aku bersedia berpisah..."
Tatapan suaminya yang pada awalnya penuh amarah menjadi penuh rasa iba."Aku rasa tunjangan perlu di revisi."
"Dia muda dan cantik, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Hanya saja foto pernikahan boleh untukku? Aku hanya ingin mengenang saat kita susah dan senang bersama-sama."
Sang suami kembali tertegun, menelan ludahnya."Aku akan menambahkan satu villa lagi dalam pembagian harta nanti."
Sementara putranya, berbisik kepada ibunya."Bagus ibu, manipulasi rasa bersalah Ayah. Agar kita mendapatkan lebih banyak hartanya lagi."
***
Ayu Ningsih merupakan istri sekaligus ibu rumah tangga yang baik. Memiliki seorang putra yang begitu cerdas.
Suaminya datang, mengatakan bahwa selingkuhannya hamil dan ingin menceraikan istrinya.
Ayu Ningsih, pada awalnya marah, tapi putranya memberikan gagasan yang lebih bagus."Cerai Boleh! Harta Harus!"
Ibu dan anak yang ingin memiskinkan pasangan selingkuh itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengalah
Saat dirinya masih muda, harus melepaskan semua tabungannya untuk kuliah. Itu karena pada semester awal, Dani mengalami kesulitan keuangan. Jadi dirinya yang mengalah, membantu Dani hingga dapat kuliah dan lulus dengan baik.
Sedangkan Ayu sendiri mengerjakan berbagai pekerjaan sambilan. Saat itu usianya baru 20 tahun, tapi statusnya sudah menikah dengan Dani. Bayangkan harus merawat anak, harus merawat mertua, harus tetap bekerja hingga dapur mengepul.
Benar-benar sebuah kehidupan yang menyengsarakan. Dirinya hanya berharap suaminya dapat cepat sukses. Sehingga suatu hari nanti hidupnya dapat lebih baik.
Tapi selama puluhan tahun, Dani hanya memberikan uang nafkah yang terbatas untuknya. Terbatas dalam artian, bagaikan semuanya sudah diatur.
Istri CEO mana, yang hanya mendapatkan uang satu setengah juta rupiah, sisa dari uang belanja bulanan. Itupun terkadang kurang, karena biaya obat mertuanya yang membengkak. Kalau tersisa paling sekitar satu setengah juta. Kalau kurang harus minta ke suaminya lagi.
Memang begitulah kehidupannya selama ini. Bahkan mobil ini pun, merupakan mobil bekas Dani. Karena suaminya sudah membeli berbagai koleksi mobil seharga miliaran rupiah.
Jujur saja Ayu tidak pernah mengeluh. Ayu juga selalu tersenyum terhadap suami, ibu mertua bahkan putranya sendiri, walaupun dirinya terkadang merasa kehidupannya tidak adil dan sulit.
Pada akhirnya mobil milik Ayu berhenti. Wanita itu menghirup nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya.
Wanita yang tidak memiliki koneksi sama sekali. Wanita yang selama ini hanya bergantung pada suaminya. Jika ingin berdiri sendiri maka harus memiliki pijakan yang kokoh.
Satu-satunya yang dapat membantunya adalah temannya.
Suara bel terdengar, dirinya menekan bel berkali-kali. Pada akhirnya seorang security keluar dan bertanya padanya. “Mau cari siapa ya?”
“Aku ingin bertemu dengan Pak Arkan. Apa dia ada di rumah?” Tanya Ayu ragu.
“Pak Arkan kebetulan tidak ada, beliau sedang pergi ke luar negeri. Mungkin ada pesan yang bisa saya sampaikan?” Tanya sang security kepada Ayu.
“Katakan Ayu Ningsih datang menemuinya. Katakan juga, dia benar dan saya salah. Satu lagi…katakan kali ini saya akan bercerai.” Ucapnya pada sang security.
Pria itu mengangguk mengerti. Barulah Ayu Ningsih meninggalkan bagian depan kediaman yang megah itu.
Tidak banyak hal yang ada di pikiran wanita tua ini. Wanita yang berusia 50 tahun lebih, hanya sedikit keriput di wajahnya. Mungkin karena begitu pandai merawat diri hingga wajahnya terlihat bagaikan berusia 30 tahunan?
Entahlah…
Hanya melajukan mobilnya berputar dengan beberapa pemikiran gila. Selingkuhan suaminya adalah orang yang sewenang-wenang. Jika nantinya tidak mendapatkan harta yang cukup, jika pergi tanpa harta, maka selingkuhan suaminya akan menindasnya. Mengingat kehidupan di luar rumah tidaklah mudah.
Menghela nafas berkali-kali. Inilah derita dari orang yang tidak memiliki koneksi. Kedua orang tua Ayu sudah meninggal, dirinya hanya seorang yatim yang besar di panti asuhan. Kekuasaan keluarga pun tidak ada…Apa yang bisa dilakukan olehnya untuk melindungi hak putranya?
“Sudah lama aku tidak melakukan perawatan. Apa seharusnya aku melakukan perawatan?” Gumam wanita itu ingin menyegarkan diri.
***
Saat itu hari sudah mulai sore. Jantung Virgo berdegup cepat, ibunya sudah membuat masalah hari ini dan dirinya juga harus ikut menerima balasan dari ayahnya. Apa yang harus menjadi alasannya? Bagaimana caranya mengatasi perdebatan dengan ayahnya? Berbagai hal berkutat dalam pikirannya.
Melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Lampu-lampu jalanan sudah mulai menyala, terkadang di dekat persimpangan lampu merah terjadi kemacetan. Biasanya dirinya tidak sabaran ingin segera pulang, tapi kali ini dirinya berharap akan terus macet.
Walaupun pada akhirnya sampai di rumah jua. Otaknya mengatur skenario, semua nomor kontak klien dan rekan bisnis ayahnya sudah dikantongi olehnya. Tinggal bagaimana caranya merekrut koneksi.
Dirinya benar-benar ragu ketika turun dari mobilnya. Apa sebaiknya pura-pura tidak tahu dengan ulah ibunya? Atau membuat alasan untuk ibunya?
Tapi ketika dirinya sampai di rumah, pelayan kepercayaan ibunya bernama Marini menghampirinya. Kemudian membisikkan sesuatu di telinganya, barulah perlahan Virgo menyeringai.
Ternyata memang benar ibunya tidak bodoh. Ternyata memang benar ibunya memiliki rencana lain. Dan dirinya tinggal mengikuti skenario ibunya saja.
“Terima kasih…ini tips untuk kalian.” Ucap Virgo, mengeluarkan beberapa kotak donat dari dalam bagasinya. Beberapa kotak donat yang memang sempat dipesan oleh ibunya tadi sore.
Sekarang dirinya mengerti, mengapa ibunya begitu baik pada para pelayan. Mereka adalah mata dan telinga dari rumah ini.
Ketika dirinya sampai di pintu depan. Suara tangisan itu terdengar, seakan-akan suara tangisan itu memang menunggu suara mobilnya memasuki rumah.
“Aku benar-benar takut sayang…Aku benar-benar tidak menyangka Kak Ayu akan menamparku. Rasanya benar-benar sakit…syukurlah seharian ini kamu bersedia menemaniku. Kalau tidak entah apa yang terjadi pada anak kita.” Suara ketakutan yang dibuat-buat.
Hanya orang bodoh seperti ayahnya yang akan tertipu. Virgo memutar bola matanya malas, Bagaimana ayahnya bisa menjadi begitu bucin, hingga dengan mudah terpedaya oleh wanita ular ini.
Sedangkan ibunya yang tulus malah tidak dipandang sama sekali.
Pada akhirnya berjalan memasuki rumah. Entah omelan apalagi yang akan didapatkan olehnya. Tapi dirinya harus mengomel duluan.
Ketika dirinya masuk.
Srak!
Prang!
Sebuah asbak melayang hampir mengenai wajahnya yang tampan rupawan. Meleset sedikit sekitar 2 cm, hingga pada akhirnya malah membentur dinding dan pecah berkeping-keping.
“Masih berani pulang kamu!? Ini semua karena ulah ibumu, Siska yang hamil jadi terkejut dan hampir kehilangan bayinya. Seharusnya di rumah ini ibumu merawatnya dengan baik. Tapi sekarang malah seperti ini! Ibumu yang katanya wanita berbakti itu menampar Siska!” Suara teriakan dari Dani menggelegar.
Virgo menatap ke arah pecahan asbak itu. Tidak ada kalimat yang diucapkan olehnya. Terkadang ada saatnya melawan, tapi terkadang ada saatnya untuk berhenti melawan.
Tiba-tiba saja air matanya mengalir, tertunduk bagaikan kelinci kecil yang gemetaran. “Ayah…” panggilnya.
“Jangan panggil aku ayah! Ini pasti rencanamu dan ibumu!” Teriak sang ayah lagi.
Virgo hanya mendekat dengan langkah gontai. Ayahnya ini patut dibantai, hampir saja membunuh anaknya tercinta.
Ini adalah medan perang, maka hal pertama yang dapat dilakukannya adalah berlutut.
“Ayah…aku memang tidak tahu apa yang dilakukan oleh ibu. Tapi pagi ini Ibu memang sempat menelponku. Dia menelponku sembari menangis, mengatakan dia ditampar oleh Siska. Ditampar hanya karena tidak memerintah pelayan dengan benar, hingga tidak memberikan strawberry cake pada waktu yang tepat.” Ucap pria itu terlihat berusaha untuk tabah.
“Sayang…emang kapan aku pernah membohongimu? Dia yang berbohong, benar-benar dia yang berbohong! Aku tidak pernah menampar Ayu. Ayu lah yang menamparku. Dia ingin anak kita menghilang, dia ingin aku keguguran—” Siska masih menangis hingga saat ini. Semuanya untuk menyempurnakan aktingnya.
“Pukul lah aku!” Tapi sebelum hati ayahnya tergugah, suara teriakan dari putranya menggema. “Pukul lah aku! Jika memang semuanya adalah kesalahan ibuku. Aku tidak menuntut keadilan atau apapun, kalau memang ibuku menamparmu. Ayah boleh memukulku 100 kali, karena itu artinya kami ibu dan anak, tidak bisa melindungi bayi kecil itu. Percayalah ayah…kasih sayang kami ikhlas pada anak yang ada di dalam kandungan Siska. Ibuku bahkan rela menyerahkan kamarnya…”