Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 11
Ruang pengarahan taktis di markas komando Aegis Corporation biasanya selalu bising oleh perdebatan strategi. Namun malam ini, ruangan berdinding baja itu hening total. Lima orang komandan divisi tempur elit duduk mengelilingi meja bundar raksasa yang memancarkan peta hologram menyala.
Exel berdiri di ujung meja. Wajahnya yang biasanya keras dan penuh tekanan kini memancarkan aura buas yang sudah lama tidak terlihat.
"Kalian pasti penasaran kenapa gue manggil kalian semua secara mendadak, ninggalin pos kalian masing-masing," Exel membuka suara, memecah keheningan yang mencekam.
"Kalau lo pakai panggilan darurat kode merah, ini pasti soal invasi wilayah. Siapa yang mau kita hancurin kali ini, Bang?" Victor bertanya sambil menyandarkan punggungnya yang berotot besar ke punggung kursi.
"Bukan invasi. Ini penjemputan," Exel membalas singkat. Ia mengetuk tablet di tangannya perlahan.
Hologram peta di atas meja langsung berubah menjadi layar proyektor. Itu adalah rekaman kamera *dashcam* yang ditemukan Leo di *Dark Web* beberapa puluh menit yang lalu. Video itu berputar berulang-ulang, menampilkan adegan tangan pria berkemeja usang memelintir tangan pria berjas secara luwes. Gambar kemudian berhenti dan memperbesar fokus ke arah Cincin Naga Hitam yang melingkar kusam di jarinya.
Kelima komandan tempur elit itu sontak memajukan tubuh mereka mendekati meja. Mata mereka terbelalak lebar seolah baru saja melihat mayat bangkit dari kuburan.
"Itu... teknik kuncian patah tulang dari divisi bayangan," Anya berdesis pelan, matanya tak berkedip menatap layar. Penembak jitu berambut sebahu itu mengepalkan tangannya menahan gemetar.
"Dan cincin itu... nggak mungkin. Cuma ada satu cincin kayak gitu di dunia ini," Victor ikut bergumam, suaranya yang berat mendadak serak karena emosi.
"Bener. Tuan Besar kita masih hidup. Dewa Perang masih bernapas, dan dia sekarang lagi sembunyi di sebuah kota kecil di negara kepulauan sana," Exel menyeringai lebar melihat reaksi tak percaya dari para bawahannya.
Ruangan itu langsung meledak. Victor menggebrak meja bajanya hingga sedikit penyok, tertawa lepas dengan mata berkaca-kaca. Anya menutup mulutnya tak percaya. Tiga komandan lainnya saling berpandangan dengan senyum mengerikan yang mulai mengembang di wajah mereka. Harapan yang sempat terkubur bersama ledakan tiga tahun lalu kini bangkit kembali menjadi kobaran api yang membakar semangat hidup mereka.
"Gue tahu Bos nggak mungkin mati semudah itu! Anjing-anjing pengkhianat masa lalu itu pasti bakal kencing di celana kalau tahu Bos masih hidup!" teriak salah satu komandan dengan penuh euforia.
"Tahan sebentar perayaan kalian," Exel mengangkat tangannya, membuat seisi ruangan kembali patuh dan fokus padanya. Layar hologram kini memunculkan tangkapan layar sayembara kotor dari *Dark Web*. "Masalahnya sekarang, ada preman lokal kelas teri di kota itu yang berani naruh harga buat nyelakain Bos kita. Anak bawang yang nggak tahu diri ini berani nyewa pembunuh bayaran buat matahin kaki Tuan Besar."
Hawa di ruangan itu mendadak anjlok menjadi nol derajat. Tawa mereka langsung lenyap seketika, digantikan oleh niat membunuh yang sangat pekat dan mencekik. Berani menyentuh Dewa Perang sama saja dengan menantang seluruh armada Aegis Corporation untuk meratakan kota tersebut.
"Ada cecunguk yang mau matahin kaki Bos?" Victor tersenyum miring, urat di lehernya menonjol menahan amarah yang mendidih. "Biar gue yang potong kedua kaki tangannya duluan, Bang."
"Itu bagian gue nanti. Sekarang, dengarkan rencana operasinya," Exel menyalakan layar menampilkan denah rute udara rahasia. "Kita nggak bisa masuk pakai seragam militer Aegis apalagi bawa kapal induk. Bos sengaja nyembunyiin identitasnya selama ini buat mancing dalang pengkhianatan di markas asal. Kalau kita masuk pakai atribut tempur penuh, identitas Bos bakal bocor ke musuh yang sesungguhnya."
"Jadi kita masuk lewat jalur belakang?" Anya bertanya sambil mengetukkan penanya di atas meja.
"Ya. Kita bakal nyamar jadi rombongan konglomerat dan eksekutif perusahaan investasi asing. Leo udah buatin data perusahaan cangkang buat kalian. Kita masuk pakai jet pribadi kelas VIP, bukan pesawat kargo militer," Exel menjelaskan instruksinya dengan cepat dan terstruktur. "Anya, lo bawa tim pengintai bayangan. Victor, lo kumpulin seratus pasukan tempur jarak dekat terbaik kita, suruh mereka masuk bertahap mulai malam ini pakai penerbangan komersial biasa dan nyamar jadi turis bisnis."
"Siap laksanakan, Komandan!" jawab kelima orang itu serempak, suara mereka menggema penuh tekad kesetiaan.
"Peralatan kita gimana, Bang? Kita masuk tangan kosong?" Victor bertanya memastikan logistik.
"Gudang senjata rahasia Aegis di perbatasan udah gue buka jalurnya. Kalian bisa ngambil suplai di sana begitu mendarat di negara itu. Bawa senjata taktis berperedam suara aja. Kita bakal bersihin sampah-sampah yang ganggu Bos tanpa bikin keributan di media," Exel memberikan senyuman mematikannya yang khas.
***
Tiga jam kemudian, di hanggar rahasia yang tersembunyi di balik bukit karang pangkalan.
Dua buah jet pribadi tipe Gulfstream berwarna hitam legam tanpa nomor seri militer resmi sudah bersiap di landasan pacu. Mesinnya menderu halus namun memancarkan tenaga luar biasa.
Puluhan pria berbadan tegap berpakaian setelan jas hitam *custom* yang dirancang khusus untuk menyimpan senjata dan pisau taktis mulai berjalan rapi menaiki tangga jet. Mereka sama sekali tidak terlihat seperti tentara bayaran beringas, melainkan sangat berkelas seperti pengawal elit para kepala negara.
Exel berdiri di dekat tangga pesawat terakhir, memakai setelan jas mahal berwarna biru dongker yang membuat tubuh kekarnya terlihat semakin mengintimidasi. Ia mengecek jam tangannya. Leo berdiri di sampingnya dengan tas ransel berisi perlengkapan peretas paling canggih di dunia gelap.
"Semua jalur komunikasi udara udah gue bersihin, Bang. Kedatangan kita terdaftar resmi sebagai rombongan CEO dari perusahaan investasi Eropa," Leo melapor sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Bagus. Berapa lama total penerbangan kita ke sana?" Exel bertanya sambil melangkah naik ke anak tangga pertama.
"Sekitar sepuluh jam lebih dikit, Bang. Kalau nggak ada kendala cuaca, besok siang kita mendarat langsung di bandara kota itu," jawab Leo mengikuti langkah bos sementaranya dari belakang.
Exel mengangguk pelan. Ia menoleh ke belakang, menatap markas besarnya sejenak sebelum pandangannya lurus mengunci cakrawala malam yang gelap pekat. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut menghadapi perang, melainkan karena rindu dan semangat yang teramat sangat untuk kembali berdiri menjaga punggung raja yang sesungguhnya.
"Siapkan karpet merah kalian yang paling bagus, kota kecil," Exel bergumam pelan diiringi senyum kejam yang membekukan darah. "Kiamat kalian datang besok siang."
Pintu jet akhirnya tertutup rapat, menyembunyikan armada mematikan di dalamnya. Beberapa menit kemudian, burung besi hitam itu melesat membelah langit malam, membawa badai kehancuran senyap menuju tempat Sang Dewa Perang berada.