NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Racun Manis Darel

Gerimis tipis masih membasahi kaca jendela kamar Aira. Di dalam ruangan yang dingin itu, Aira perlahan membuka mata. Tubuhnya terasa lebih ringan meski sisa demam masih menyisakan sedikit rasa hangat di keningnya.

Saat tangannya terulur menyentuh plester kompres di keningnya dan melihat deretan obat serta segelas air di meja, Aira sempat terpaku. Siapa yang menyiapkan ini semua?

"Sudah bangun, Aira?"

Suara yang sangat tenang dan lembut terdengar dari dekat pintu. Darel melangkah masuk membawa sebuah nampan berisi mangkuk bubur hangat. Senyumannya yang begitu menenangkan seketika mengalirkan rasa aman di dada Aira.

"Kak... Darel?" bisik Aira serak. Ia mencoba duduk sambil memegangi kepalanya yang masih agak berat.

Darel meletakkan nampan di meja kecil, lalu duduk di pinggir kasur dengan sikap yang sangat sopan dan penuh perhatian. Ia membenahi selimut Aira dengan telaten.

"Jangan dipaksakan langsung bangun. Kamu demam tinggi dari subuh tadi," ucap Darel lembut.

Aira menatap obat-obatan dan plester di mejanya dengan bingung. "Kak Darel yang beliin obat dan kompres aku dari tadi?"

Darel tersenyum manis—sebuah senyuman hangat yang menyembunyikan niat manipulasinya dengan sangat sempurna.

"Iya, Aira. Siapa lagi kalau bukan saya?" Darel meraih gelas air hangat dan menyerahkannya pada Aira. "Saya khawatir sekali waktu Bibi bilang kamu sakit."

Aira menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Hatinya tersentuh luar biasa. Di rumah yang penuh intimidasi ini, hadirnya Darel terasa seperti satu-satunya perlindungan yang ia miliki.

Namun, beberapa saat kemudian, raut wajah Darel berubah menjadi prihatin dan serba salah. Ia mendesah pelan, menatap Aira dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba.

"Aira... ada sesuatu yang sebenarnya bikin saya ganjal dari tadi pagi," ujar Darel pelan, suaranya terdengar sangat hati-hati.

"Ganjal... soal apa, Kak?" tanya Aira cemas.

Darel mengusap pelan jemari Aira yang teraba hangat. "Soal Vino. Tadi pagi, sebenarnya dia sempat melihat kamu sakit waktu Bibi panggil dia."

Dada Aira berdebar. Ada sedikit bagian di dalam hatinya yang berharap bahwa Vino mungkin peduli padanya. "Vi—Vino... bilang apa, Kak?"

Darel menatap mata Aira dalam-dalam, menanamkan kebohongan manis yang dirancang untuk meracuni pikiran Aira.

"Saya cuma enggak mau kamu salah paham dan berharap terlalu jauh, Aira," bisik Darel prihatin. "Vino tadi cuma bilang sama Bibi buat kasih kamu obat ala kadarnya, biar kamu cepat sembuh dan bisa kerja lagi seperti biasa. Bagi Vino, kamu yang sakit itu cuma bikin repot dan ngerusak nama baik keluarganya kalau sampai orang luar tahu."

Aira terpaku. Kata-kata Darel terasa seperti beban dingin yang langsung menghantam dadanya. Jadi... Vino cuma kasihan karena enggak mau direpotkan?

"Vino itu cuma kasihan sama status kamu di rumah ini, Aira. Bukan karena dia benar-benar peduli atau menghargai kamu sebagai manusia," lanjut Darel dengan nada yang sangat meyakinkan, menekan rasa percaya diri Aira hingga titik terendah. "Perhatian apa pun yang kelihatan dari dia... itu cuma bentuk rasa bersalah yang terpaksa, bukan tulus."

Air mata Aira menetes pelan menembus pipinya yang pucat. Kata-kata Darel masuk begitu dalam ke dalam pikirannya, melapisi ingatan Aira tentang semua bentakan dan makian Vino selama ini. Racun halus Darel bekerja secara sempurna: Aira sepenuhnya percaya bahwa Vino tidak akan pernah bisa tulus padanya.

"Kenapa... kenapa Vino sejahat itu sama aku, Kak?" suara Aira pecah dalam isakan pelan.

Darel mendekat, merangkul bahu Aira yang gemetar dan membawanya ke dalam pelukan yang hangat. Darel mengusap rambut Aira dengan sangat lembut, sementara matanya menatap dingin ke arah pintu kamar.

"Kamu enggak usah pikirkan Vino lagi, Aira," bisik Darel manis di dekat telinga Aira. "Pria seperti dia cuma bisa melukai kamu. Mulai sekarang, kamu cuma punya saya. Kamu bisa bersandar sama saya untuk apa pun, dan saya janji enggak akan pernah biarkan Vino atau siapa pun bikin kamu nangis lagi."

Aira menyandarkan kepalanya di bahu Darel, menangis pelan sambil menggenggam kemeja Darel erat-erat. Di balik kepasrahan dan rasa bergantung Aira yang makin pekat pada Darel, Aira sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam perangkap manipulasi Darel yang sesungguhnya.

Sementara itu, di lorong luar kamar, Vino berdiri kaku memegang mangkuk bubur yang diniatkannya untuk Aira.

Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Vino melihat Aira yang menangis pasrah di dalam pelukan Darel. Vino mendengar samar-samar bagaimana Aira mengangguk dan berbisik bahwa ia hanya percaya pada Darel.

Tangan Vino yang memegang nampan gemetar. Rasa cemas dan berniat baik yang sempat tumbuh di dadanya seketika runtuh tersapu amarah dan gengsi yang luar biasa tinggi.

Bagus, Aira. Lu lebih memilih percaya sama Darel daripada melihat fakta, batin Vino menggeram pahit.

Vino memutar badannya dengan kasar, meletakkan nampan itu begitu saja di atas meja koridor luar hingga sedikit tumpah, lalu berjalan pergi dengan hati yang kembali tertutup rapat oleh rasa cemburu dan gengsi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!