NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:532.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Sementara itu, di ndalem timur, waktu seolah berjalan merayap. Setelah kepergian Mbak Zaenab dan pengusiran dingin yang dilakukannya pada Reyhan di teras depan beberapa saat lalu, Naya kembali mengunci pintu kayu yang tebal. Ia berdiri di tengah ruang tamu ndalem timur yang sepi. Keheningan di sini sangat kontras dengan keributan yang sempat pecah di pelataran utama pesantren.

Naya melangkah perlahan menuju kamar tidur. Langkah kakinya tak lagi ragu. Ada rasa hampa yang amat besar di dadanya, namun hampa itu kini tak lagi terasa menusuk.

Ilusi tentang sosok Gus Reyhan yang karismatik, santun, dan berilmu tinggi telah runtuh total, menyisakan seorang pria biasa yang rapuh, egois, dan mudah dimanipulasi oleh kepolosan palsu.

Naya mendekati lemari kayu di sudut kamar. Ia mengeluarkan tas travel berukuran sedang yang dibawanya dari ndalem utama petang tadi. Jemarinya yang tenang mulai merapikan pakaian-pakaian pribadinya. Tidak ada tangisan lagi. Wajah cantik berdarah dingin itu kini menampakkan aura keteguhan yang sangat kuat.

Setiap helai pakaian yang dimasukkannya ke dalam tas terasa seperti proses pelepasan ikatan. Pakaian ustadzah, gamis-gamis berwarna lembut yang biasanya ia kenakan saat mendampingi Reyhan dalam acara-acara besar pesantren, kini ia susun dengan rapi tanpa ada lagi rasa memiliki atas status 'Ning' yang sempat melekat pada namanya.

Brak.

Sebuah bunyi gesekan halus dari balik jendela samping kamar membuat gerakan tangan Naya terhenti.

Naya menoleh. Jendela kamar ndalem timur menghadap langsung ke arah kebun bambu yang berbatasan dengan jalan setapak menuju pemakaman keluarga pesantren.

Naya berjalan mendekati jendela. Ia menyibak sedikit kain hordeng krem untuk mengintip ke luar.

Di bawah bayang-bayang pepohonan bambu yang berderit terhempas angin malam, berdiri sebuah bayangan tinggi. Sosok itu tidak bergerak, berdiri mematung di tengah gerimis yang basah tanpa memegang payung.

Penerangan dari lampu teras ndalem timur yang redup menyirami tubuh sosok tersebut, memperlihatkan kemeja koko putih yang kini kotor oleh lumpur.

Itu Reyhan.

Pria itu kembali lagi. Meski Naya telah menolaknya secara mentah-mentah dan membiarkannya bersimpuh di dinginnya semen teras, Reyhan justru memutari bangunan ndalem timur dan berdiri di bawah jendela kamar Naya. Wajahnya yang memar menengadah ke atas, menatap langsung ke arah celah hordeng tempat Naya berdiri.

Matanya yang merah dan sembab memancarkan keputusasaan yang teramat sangat. Bibirnya yang sobek tampak bergerak-gerak tanpa suara, membisikkan kata maaf yang tak lagi mampu menembus kaca jendela yang tertutup rapat.

Naya menatap suaminya dari balik kaca selama beberapa detik. Ada desir kasihan yang melintas sepintas di benaknya—bukan rasa kasihan seorang istri yang masih mencintai, melainkan empati seorang calon psikiater yang melihat jiwa seorang pria terpuruk akibat perbuatannya sendiri. Reyhan sedang menuai badai dari benih ketidakjujuran yang ditanamnya sendiri. Pria itu baru menyadari harga sebuah berlian di tangannya justru setelah berlian itu meluncur jatuh ke dalam lumpur.Tanpa ekspresi berlebihan, Naya menarik kembali kain hordeng tersebut, menutup rapat pemandangan di luar. Ia mematikan lampu kamar utama, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam kegelapan yang menenangkan.

Naya membaringkan tubuhnya di atas ranjang ndalem timur. Ia memejamkan mata, membiarkan deru angin malam Pacet menjadi pengantar tidurnya.

**

Suara azan subuh mengalun bersahutan dari pengeras suara masjid utama Al-Anwar, membelah kabut tebal yang menyelimuti kawasan Pacet. Suhu udara merosot hingga empat belas derajat Celsius, membuat uap napas mengepul jelas di udara.

Naya sudah selesai menunaikan salat subuh dan merapikan mukenanya. Ia mengenakan gamis berwarna cokelat tanah yang dipadukan dengan jilbab lebar berwarna senada. Penampilannya sangat bersahaja, namun raut wajahnya nampak begitu segar dan siap menghadapi apa pun yang akan terjadi hari ini.

Suara deru mesin mobil yang memasuki pelataran ndalem timur membuat Naya menoleh ke arah pintu depan.

Sebuah SUV hitam berhenti tepat di depan anak tangga teras. Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka. Seorang pria bertubuh jangkung dengan jaket kulit hitam melangkah keluar. Raut wajahnya keras, matanya tajam menatap sekeliling komplek ndalem timur dengan pandangan menelisik.

Arsyaka telah tiba.

Naya membuka pintu depan ndalem timur. Saat matanya bertabrakan dengan mata sang kakak, sebuah kehangatan keluarga yang telah lama hilang seketika merayapi dada Naya.

"Mas Syaka..." bisik Naya pelan.

Arsyaka menaiki anak tangga teras dengan langkah lebar. Pria itu tidak bertanya apa-apa. Ia langsung merengkuh adik perempuannya ke dalam pelukan hangat yang sangat erat. Tangan Arsyaka mengelus punggung Naya, menyalurkan perlindungan seorang kakak yang tak akan membiarkan adiknya dihina oleh siapa pun.

"Mas sudah di sini, Cah ayu," bisik Arsyaka tegas di samping telinga adiknya. "Kamu tidak sendiri lagi. Ayo kita ambil barang-barangmu, lalu kita ke ndalem utama. Mas yang akan bicara dengan Kiai Ahmad."

Naya mengangguk pelan dalam dekapan kakaknya. "Semua barang Naya sudah masuk tas, Mas."

Arsyaka mengurai pelukan, mengambil tas travel milik Naya dengan satu tangan, sementara tangan satunya menggenggam jemari adiknya dengan erat. Mereka berdua berjalan menuruni tangga teras menuju mobil.

Namun sebelum kakinya benar-benar menginjak tanah, terdengar suara langkah berlari dari arah belakang.

"Naya!"

Tubuh Naya membeku.Reyhan datang dengan napas tersengal. Koko putih yang dikenakannya sedikit kusut. Wajahnya pucat, matanya merah, dan bekas lebam di pipinya masih jelas terlihat.

"Naya..."

Reyhan berhenti beberapa langkah di hadapan mereka. Untuk pertama kalinya, laki-laki yang selama ini selalu tampak tenang dan berwibawa itu terlihat benar-benar kehilangan arah.

"N-Naya... jangan pergi..." suara Reyhan terdengar sangat parau, hampir tak keluar dari tenggorokannya. Pria itu mengulurkan tangannya berusaha merebut kembali wanita yang selama ini ia sia-siakan.

Arsyaka seketika pasang badan. Pria itu melangkah maju satu tindak, mendorong dada Reyhan hingga Gus muda itu oleng dan jatuh terduduk di atas tanah basah.

"Jangan sentuh adik saya dengan tangan kotormu, Gus Reyhan!" gertak Arsyaka dengan suara dingin yang menusuk. Matanya menatap tajam pria yang dulu sangat ia hormati sebagai calon ipar. "Kamu sudah puas mempermainkan Naya selama satu tahun? Sekarang giliran saya yang mengambil dia kembali dari tempat hina ini!"

"Gus Syaka... tolong saya, Gus..." Reyhan menangis di atas tanah, memegangi celana Arsyaka dengan sisa-sisa tenaganya. "Saya salah... Saya buta... Saya mencintai Naya... Tolong beri saya kesempatan satu kali lagi..."

"Cinta?" Arsyaka tertawa sinis, sebuah tawa yang sarat akan cemoohan. "Kamu baru menyebut kata cinta setelah kelakuan nistamu terbongkar? Kamu itu bukan cinta, Gus Reyhan. Kamu cuma panik karena egomu hancur dan statusmu sebagai Gus di pesantren ini runtuh!"

Arsyaka menghempaskan kaki Reyhan hingga cengkraman pria itu terlepas. Tanpa membuang waktu lagi, Arsyaka masuk ke dalam mobil dan langsung menginjak pedal gas, meluncurkan kendaraan itu menuju ndalem utama.

***

1
dyah EkaPratiwi
mas zeyad😍😍😍 sisain 1 kayak mas zeyad buat calon mantu
Luna
kamu sendiri juga GK mau jujur tentang masa lalu mu yad,,,, bau baunya nanti ada drama mantan nya zeyad datang ,,,diuji lagi deh hatinya Naya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,
Sani Srimulyani
kayanya bentar lagi kondangan nih kita.....🤭
Sri Murtini
kapan zeyad mau cerita masa lalumu ke Naya shg saat lamaran tidak ada rahasia berdua👍👍👍
bibuk Hannan & Afnan
nyesel gak Gus nyesel pasti lah,
Mundri Astuti
kamu sendiri belum jujur zeyad
Agnezz
Yup fondasi yg kuat dalam pernikahan adalah keterbukaan dan kejujuran. Setelah Naya terbuka ttg masa lalunya kini giliranmu Zeyad. Jangan ada yg disembunyikan. Paling tidak kalian berawal dari titik yg sama. Yakni sama2 berusaha menjadikan pernikahan ini berhasil. Jangan seperti pernikahan Naya dan Rayhan dimasa lalu. Mereka menikah karena perjodohan, belum kenal satu sama lain. Ternyata mereka tiidak memulai dari titik yg sama. Hanya Naya saja yg berusaha. Rayhan tidak sepenuhnya menerima pernikahan perjodohan ini. Cenderung mengabaikan bahkan diam2 telah menikah siri dengan wanita lain.
Agnezz: nah makanya , tidak diimbangi dengan kebijaksanaan dan kedewasaan. padahal anak Kyai.
total 3 replies
Herman Lim
ne sih blom seberapa blom lagi u lihat tmn u jadi calon suami mantan istri mu u lebih bakal lebih nyesal lagi klo kamu tidak seujung kuku dari zeyad
Rini Maryani
lanjut ka yg bnyk up nya ya semangat
Agnezz
gimana sih kamu Rayhan, dulu Naya disia-siakan, dianggurin jadi istri, dianggap pajangan. Sekarang menyesal telah melepaskan, wanita cerdas yg karirnya cwmerlang. Tapi kalo Naya denganmu Rayhan, potensinya gak akan muncul. Dia cuma istri yg mengabdi suami. Sekarang ada seseorang yg mensupport kariernya yaitu calon suami. Naya bersama Rayhan bakal.tenggelam tetapi bersama Zeyad bakal cemerlang. Kamu bukan levelnya Rayhan, levelmu ya si Rani itu.
Agnezz: iya, kita tunggu saatnya tiba, Rayhan pasti kaget banget
total 3 replies
sunaryati jarum
Reyhan akan lebih menyesal lagi ketika melihat dari Naya bersama Zeyad.
Agnezz
sebentar...aku agak bingung sama kalimat "di aula almamater tempat mereka berdua mengenang masa lalu"...berarti Naya dan Rayhan kuliah ditempat yg sama. Bukannya Rayhan kuliah di mesir ya?🤔 Naya dan Rayhan bukannya hanya bertemu dipeaantren itupun dari kejauhan tanpa saling mengenal dekat.
Mundri Astuti
gimana reyy...Naya skrng.,..palagi klo kau tau Naya calonnya zeyad... makin terbelakang kau 🤭
Muji Lestari
lanjut thor dah penasaran mau lihat Rayhan pingsan tau Naya calon istri emir
Sani Srimulyani
aku sih ngarep banget Reyhan ketemu sama Naya pas lagi berdampingan sama zeyad. biar dia ga punya muka lagi untuk berharap.
Sani Srimulyani
gimana reaksi Reyhan ya kalo tau calon istri sahabatnya itu mantan istri yang dia sia2kan.
Mukeseh
mampus gus 🤣🤣 rasakan pilihanmu pelakor manipulatif itu 😂😂 apalagi tau kslau naya cslon istrinya emir🤭 apa g jsntungen hatimu 😂😂😂
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔✰͜͡v᭄
apa lagi kalo tau Naya itu calon istri Emir aduh2 mati berdiri kau Reyhan 🤣
dyah EkaPratiwi
dan lebih syak syek syok nanti calon istri zeyad adalah mantan istrimu
dewi rofiqoh
Sempatksh reyhan bertemu naya? 🤔🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!