NovelToon NovelToon
Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: Nina1708

Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang Di Genoa

Happy Reading

❤❤❤❤❤❤❤

Hakim masuk. Hakim tua bernama Hakim Rossi, umur 68 tahun, botak, bekas nelayan juga sebelum jadi hakim, jadi dia kenal semua anak pelabuhan.

"SIDANG DIBUKA! Kasus Yayasan Stella menggugat Al-Rashid Group 2 triliun rupiah atas percobaan pembunuhan dan pencemaran nama baik, dan Al-Rashid Group menggugat balik Yayasan Stella 2 triliun rupiah atas wanprestasi kontrak! Karena dua kasus saling terkait, sidang di gabung!" Ucap hakim.

Tuan Moretti berdiri, dengan suara gemetar karena tua. "Yang Mulia Hakim Rossi, kami dari Yayasan Stella punya bukti: pertama, bom rakitan yang di kirim Al-Rashid Group 3 hari lalu ke sekolah kami, dengan timer 2 menit 47 detik, yang hampir membunuh 30 anak. Bom nya ada di luar sebagai barang bukti, sudah di jinakkan. Kedua, kami punya saksi, Bruno, mantan supir Tuan Herman Adijaya, yang melihat tuan Herman membunuh wartawan Antonio Rossi tahun 2019 untuk lindungi kontrak senjata ini. Ketiga, kami punya tulisan tangan Ratu Queen yang viral 15 juta like, yang membuktikan itikad baik kami." Ucap Tuan Moretti.

Pengacara Inggris pertama berdiri, tertawa kecil."Yang Mulia, bom itu tidak ada bukti siapa yang kirim. Bisa saja Yayasan Stella bikin bom sendiri untuk cari simpati. Saksi Bruno adalah mantan kriminal, tidak kredibel. Dan tulisan tangan viral di Tik**Tok bukan bukti hukum. Yang kami punya adalah kontrak asli dengan tanda tangan Tuan Herman Adijaya dan stempel yayasan. Kontrak itu sah. 2 triliun rupiah harus di bayar." Ucap pengacara itu.

Ruang sidang riuh. Nelayan-nelayan di luar jendela berteriak, "Bohong! Al-Rashid teroris!" Teriak mereka.

Hakim Rossi memukul palu. "TENANG!"

Leila Al-Rashid berdiri. Dia tidak seperti dua pengacara Inggris yang arogan. Dia berjalan pelan ke tengah ruang sidang, ke arah 30 anak yang duduk di lantai.

"Anak-anak, siapa yang hampir kena bom 3 hari lalu?" tanya Leila lembut. 30 anak angkat tangan, termasuk Stella.

Leila berjongkok di depan mereka. "Kalian takut?" Tanya nya lagi.

Anak-anak mengangguk, beberapa menangis lagi ingat detak bom.

Leila menatap Queen. " Ratu Queen, saya percaya anak-anak ini hampir di bom. Dan saya minta maaf atas nama keluarga saya. Ayah saya memang kirim bom itu. Saya tahu. Saya yang larang ayah saya, tapi ayah saya tidak dengar." Ucap nya.

Semua terkejut. Pengacara lawan mengaku ayah nya kirim bom?

Leila melanjutkan, berdiri, menatap hakim. "Yang Mulia, saya sebagai anak Al-Rashid dan sebagai pengacara, saya akui ayah saya, Al-Rashid, memang kirim bom itu. Dan ayah saya memang paksa Herman tanda tangan kontrak senjata 5000 AK-47 tahun 2020 dengan ancaman akan bunuh keluarga Herman. Jadi kontrak itu memang di buat di bawah paksaan. Secara hukum internasional, kontrak di bawah paksaan kriminal batal demi hukum." Ucap Leila.

Dua pengacara Inggris langsung pucat. "Leila! Apa yang kau lakukan! Kita di bayar untuk menang!" Ucap nya.

Leila menatap dua pengacara itu. "Saya di bayar ayah saya, tapi saya di sumpah untuk keadilan. Saya lulusan Harvard bukan untuk bela teroris, tapi untuk hentikan teroris, bahkan kalau teroris itu ayah saya sendiri." Jawab Leila.

Ruang sidang hening total. Tidak ada yang menyangka. Queen menatap Leila, air mata nya jatuh. Musuh nya ternyata sekutu nya.

Leila berjalan ke arah Queen, mengeluarkan sebuah flashdisk dari tas kulit buaya nya. " Ratu Queen, ini flashdisk berisi semua bukti: video ayah saya ancam Herman tahun 2020, bukti transfer uang ayah saya ke Herman 200 ribu dolar untuk 200 AK-47 pertama, dan... Pengakuan ayah saya bahwa dia yang bakar gudang senjata keluarga Russo di Palermo 3 hari lalu, bukan sisa anak buah Herman. Jadi Daniel Russo tidak bersalah. Daniel di fitnah ayah saya agar perang antara Russo dan Alessandro pecah lagi, supaya ayah saya bisa ambil alih pelabuhan Genoa dan Palermo." Ucap Leila.

Daniel yang duduk di belakang, mendengar itu, langsung berdiri, marah. "Jadi kau yang bakar gudang ku, Leila?! Ayah mu yang bakar gudang ku?!" Teriak Daniel.

Leila mengangguk, menunduk. "Maafkan saya, tuan Daniel. Ayah saya memang..." Ucap Leila terpotong.

Queen mengambil flashdisk itu. Flashdisk hitam kecil. Lebih kecil dari USB emas ibunya, tapi isinya bisa selamatkan 2 triliun rupiah.

Hakim Rossi mengambil flashdisk itu, colok ke laptop pengadilan. Video di putar.

Di video itu, terlihat Al-Rashid tua, berjenggot putih, sedang memegang pistol, mengancam Herman yang ketakutan di sebuah gudang di Libya.

" Herman! Kau tanda tangan kontrak 5000 AK-47 ini, atau aku bunuh semua keluarga Alessandro di Genoa malam ini! Kau pilih!" Ancam nya. Herman gemetar, tanda tangan. Bukti paksaan.

Hakim Rossi langsung putuskan. "Dengan bukti flashdisk dari Leila Al-Rashid, pengadilan memutuskan: KONTRAK 5000 AK-47 ANTARA VITO ALESSANDRO DAN AL-RASHID GROUP BATAL DEMI HUKUM KARENA DIBUAT DI BAWAH PAKSAAN DAN ANCAMAN PEMBUNUHAN! Gugatan 2 triliun rupiah dari Al-Rashid Group DI TOLAK! Sebalik nya, gugatan balik Yayasan Stella 2 triliun rupiah atas percobaan pembunuhan dengan bom..." Ucap Hakim.

Hakim Rossi menatap Leila. "Leila, ayah mu mengaku kirim bom, apakah kau siap ayah mu dipenjara?" Tanya Hakim Rossi.

Leila menangis, tapi mengangguk. "Siap, Yang Mulia. Ayah saya harus tanggung jawab. Saya sudah laporkan ayah saya ke Interpol pagi ini. Pesawat Interpol sudah terbang ke Tripoli untuk tangkap ayah saya. Saya... Saya tidak mau jadi anak teroris lagi. Saya mau jadi pengacara yang benar." Jawab Leila.

Hakim Rossi mengangguk hormat pada Leila. "Gugatan balik Fondazione Stella 2 triliun Rupiah... DI KABULKAN SEBAGIAN. Pengadilan menghukum Al-Rashid Group bayar ganti rugi 50 Miliar rupiah untuk trauma 30 anak dan perbaikan sekolah, bukan 2 triliun, karena 2 triliun terlalu besar. 50 Miliar cukup untuk bangun 10 sekolah baru di pelabuhan Genoa dan Palermo."

50 Miliar rupiah!! Lebih dari cukup untuk selamatkan sekolah dan bangun 10 sekolah lagi!

Ruang sidang meledak. 30 anak bersorak. Nelayan di luar jendela menyalakan lilin lagi, siang-siang, meski matahari terang. Karena lilin itu bukan untuk gelap, tapi untuk kemenangan.

Queen berlari memeluk Leila, musuh yang jadi teman."Terima kasih, Leila... kenapa kau bantu kami?" Tanya Queen.

Leila memeluk Queen balik, berbisik, "Karena 5 tahun lalu, wartawan Antonio Rossi yang di bunuh Herman... Adalah suami saya. Antonio Rossi adalah suami saya, ayah dari anak saya yang masih 3 tahun di London. Herman bunuh suami saya untuk lindungi kontrak ayah saya. Jadi kita sama, Queen. Kita sama-sama anak yang kehilangan orang yang di cintai karena senjata." Jawab Leila.

Deg//

Queen terpaku. Antonio Rossi, wartawan yang di bunuh Herman di video USB emas, adalah suami Leila.

Dua Nona muda, satu dari Genoa, satu dari Libya, sama-sama kehilangan orang gang di cintai karena senjata, sekarang berpelukan di tengah ruang sidang. King, Daniel, Bruno, Lucas, semua bertepuk tangan.

******

Happy Reading Guys. 🤗🥰

1
🙈
karyanya bagus banget 😍
🙈
semangat nulisnya kak, 🤭, yokk intip karyaku kak 🤭, like komen yukk🤭
🙈: aman kak, yok nilai punya ku bestie,😋
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!