Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: KENANGAN PAHIT DAN TELEPON YANG DIABAIKAN
Alunan musik klasik megah yang membahana di dalam gedung pertunjukan terus mengalun indah, namun pikiran Kamilah justru terlempar jauh menyusuri lorong waktu ke masa lalunya yang kelam. Tatapan lembut dan sikap serba perhatian yang ditunjukkan oleh Ikram Pratama di sampingnya—yang memandangnya dengan penuh kehangatan di balik remang-remang lampu panggung—mendadak memicu kilas balik memori pahit yang telah belasan tahun ia kubur rapat-rapat...
Kilas Balik — Semasa Kamilah Kecil...
Suasana pusat perbelanjaan kelas atas kala itu tampak begitu ramai. Kamilah kecil berjalan riang penuh kepolosan sambil menggandeng erat jemari manis ibunya, Nyonya Ye.
"Senang hari ini, Sayang? Suka dengan mainannya?" tanya sang Ibu dengan senyum hangat yang terukir di wajah cantiknya, menatap putri kecilnya yang memeluk erat boneka barunya.
"Suka sekali, Mama!" jawab Kamilah kecil dengan tawa renyah penuh kegembiraan.
Namun, begitu mereka melangkah keluar dari pintu utama gedung menuju area parkir VIP, mata jernih Kamilah kecil menangkap sosok yang sangat ia kenali di dalam sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari sana. Di balik kaca mobil yang agak terbuka setengah, terlihat seorang pria tegap sedang berciuman mesra dan intim dengan seorang wanita asing bergaun mencolok.
"Mama... lihat, itu Ayah dan Bibi lain!" seru Kamilah kecil polos sambil menunjuk ke arah mobil tersebut.
Nyonya Ye membeku seketika di tempatnya, matanya bergetar hebat. Pria di dalam mobil itu—Husein, ayah Kamilah—tersentak kaget saat menoleh dan menyadari keberadaan anak serta istrinya yang berdiri di luar. Dengan tergesa-gesa dan canggung, Husein keluar dari mobil dan menghampiri mereka dengan raut wajah yang berusaha tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kamilah..." panggil Husein, lalu mengelus lembut puncak kepala putrinya. Pria itu menatap istrinya sekilas sebelum kembali tersenyum manis pada Kamilah. "Kamu pergi belanja lagi dengan Ibu di dalam, ya?"
"Iya, Papa," jawab Kamilah kecil penuh kepolosan.
Husein kemudian berbalik menatap Nyonya Ye. Perhatian dan kelembutannya tampak begitu sempurna, romantis, dan hangat, seolah ia tidak baru saja melakukan pengkhianatan menjijikkan tepat di depan mata kepala mereka.
"Cuaca malam ini sangat dingin, Ye..." bisik Husein halus. "...kenapa kamu tidak minta sopir pribadi saja untuk mengantar kalian bertiga?"
Tanpa rasa canggung atau bersalah sedikit pun, Husein melepaskan jaket tebal berharga mahal yang dikenakannya, lalu memakaikannya ke bahu Nyonya Ye dengan gerakan yang teramat lembut, santun, dan penuh kasih sayang palsu.
Dulu... bagaimana bisa Ayah bertindak begitu tenang, lembut, dan penuh perhatian di depan selingkuhannya, sambil tetap menunjukkan kasih sayang yang tampak sangat tulus pada istri dan anaknya? batin Kamilah merasa pilu dan perih di masa kini. Lalu sekarang... kenapa sikap Ikram Pratama terasa begitu mirip dan seidentik itu dengan Ayah? Sikapnya yang teramat lembut, sopan, dan penuh perhatian ini... apakah ini juga sebuah kepalsuan manis untuk menutupi niat buruknya?
"Jadi... aku pikir setidaknya berikan aku kesempatan agar aku bisa mengenal dirimu lebih jauh, Kamilah," kata Ikram Pratama memecah lamunan panjang Kamilah.
Ikram mengangkat tangannya perlahan, terulur dengan lembut berniat mengusap pipi mulus Kamilah. Namun, refleks trauma masa lalu yang mendadak bangkit membuat Kamilah dengan cepat memiringkan kepalanya ke samping, menghindar secara spontan dari sentuhan tangan pria itu.
Tangan Ikram tergantung kaku di udara selama beberapa detik. Kamilah berdehem canggung, berusaha keras mencairkan suasana tegang yang tercipta. "Pertunjukannya... sudah mulai, Mas Ikram."
Ikram menarik kembali tangannya perlahan, menyunggingkan senyum maklum meski ada kilat kecewa yang terbersit di matanya. "Baiklah, mari kita fokus menikmati pertunjukan musiknya."
Alunan musik di dalam auditorium besar itu mulai berdentum makin kencang, menandakan babak utama pertunjukan telah dimulai. Tepat saat itu, ponsel di dalam tas tangan Kamilah bergetar kencang berulang kali. Ia merogohnya pelan dan melihat sebuah pesan masuk dari nama yang sangat ia hindari: Rizky Syah.
Rizky Syah: Ayo makan malam sekarang.
Kamilah melirik sekilas ke arah Ikram yang tampak fokus menatap ke panggung utama, lalu dengan cepat jari-jarinya mengetikkan pesan balasan singkat.
Kamilah: Aku sedang ada urusan lain yang sangat penting.
Rizky Syah: Batalkan urusanmu itu sekarang juga.
Kamilah: Tidak bisa.
Belum sempat Kamilah mengunci layar ponselnya untuk menyimpannya kembali, tiba-tiba nama Rizky Syah memenuhi seluruh layar dengan panggilan telepon masuk secara langsung. Pria itu menelponnya!
DRRR... DRRR... DRRR...
Kamilah panik setengah mati. Ia menoleh cemas ke kanan dan ke kiri, sangat takut getaran dan kilatan cahaya layar ponselnya akan mengganggu kenyamanan penonton lain di dalam ruang konser yang tenang itu. Tanpa berpikir panjang dan tanpa ragu, Kamilah segera menekan tombol merah untuk menghentikan panggilan dan menolak telepon dari Rizky Syah. Ia bahkan langsung mengaktifkan mode hening total agar panggilannya tidak masuk lagi.
Ikram menyadari kepanikan gadis di sampingnya dan berbisik sangat pelan, "Ada apa, Kamilah? Kenapa sepertinya kamu masih punya urusan lain yang mengganggu?"
"Ah... tidak ada, Mas Ikram. Tidak ada apa-apa," sangkal Kamilah cepat sambil buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas, berusaha fokus kembali menatap panggung.
Sementara itu, di ruangan kantor pimpinan yang sangat megah dan luas milik Rizky Syah...
Pria tegap itu berdiri kaku di dekat dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan gemerlap lampu Kota Jakarta di malam hari. Di telinganya, ponsel flagship mewahnya tergenggam sangat erat. Namun, bukannya suara manis atau ketakutan dari gadis itu yang menyambutnya, melainkan suara rekaman wanita otomatis dari pihak operator.
"Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak dapat menerima panggilan saat ini..."
Rizky mendengus kasar, urat-urat di leher dan tangannya menegang. Ia mencoba menelpon kembali berulang kali tanpa henti, namun jawaban operator yang sama terus-menerus berulang menampar telinganya. Kamilah secara sengaja menolak panggilannya dan menutup akses telepon darinya!
"Siang tadi dia masih memanggilku 'Kakak' dengan suara sangat manis..." gumam Rizky dengan raut wajah yang makin mengeras dan napas menahan emosi yang meluap-luap. "...sekarang baru malam hari, jangankan menemuiku, telepon dariku bahkan sengaja tidak dijawab sama sekali?!"
Dengan emosi membara yang menyulut dadanya, Rizky melempar ponsel mewahnya secara kasar ke atas sofa kulit mahal di ruang kerjanya. Ponsel itu mendarat kencang sebelum akhirnya berdering nyaring menandakan ada panggilan masuk dari kontak lain.
Rizky menyambar ponselnya kembali tanpa sudi melihat nama pengirim, lalu menggeser tombol hijau dengan sangat kasar. "Katakan!" semburnya dingin penuh dorongan emosi.
Dari seberang sambungan telepon, suara Syahril—sahabat dekat sekaligus rekan bisnisnya—terdengar kaget dan kebingungan. "Woah, santai bro! Kenapa saluran teleponmu dari tadi sibuk terus, sih?"
"Katakan saja langsung apa mau mu, aku sangat sibuk," balas Rizky singkat, tajam, dan penuh intonasi berbahaya.
"Tadinya aku berniat mengajakmu keluar makan malam bersama," jelas Syahril dari seberang sana. "elisa ingin pergi mencoba restoran masakan rumahan yang baru saja buka di pusat kota, tapi tidak ada teman yang bisa menemaninya. Dia mengajak kita makan bersama supaya ramai."
Syahril jeda sejenak sebelum menambahkan informasinya, "Tapi... sepertinya elisa tidak sedang bersama dengan Kamilah malam ini. Jadi kalau kamu memang sangat sibuk, ya sudah tidak apa-apa..."
Rizky yang tadinya hendak mematikan sambungan telepon secara sepihak, mendadak menghentikan gerakannya seketika. Matanya menyipit tajam bagaikan serigala yang menemukan jejak mangsanya saat mendengar fakta bahwa Kamilah ternyata tidak sedang bersama Laila.
Jadi... urusan penting yang membuatnya berani menolak dan mematikan telepon dariku malam-malam begini... adalah pergi bersama pria lain?! batin Rizky Syah dengan dada yang mendadak bergejolak panas terbakar cemburu.
"Tunggu dulu," sela Rizky cepat dengan suara rendah menakutkan sebelum Syahril sempat mematikan panggilannya. "Aku ada waktu senggang malam ini. Kirimkan saja alamat restorannya padaku sekarang juga."