NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 - MALAM SEBELUM PEMERIKSAAN

Lin bangun sebelum alarm kecil yang ia buat dari dua potong kayu beradu. Loteng masih gelap, dan udara malam tertinggal di sela papan. Ia melipat selimut, menuruni tangga dengan hati-hati, lalu membuka toko setengah jam lebih awal.

Dua keping biaya pemeriksaan telah dibayar sehari sebelumnya. Tiga keping lain tersimpan di kantongnya. Ia menulis semuanya pada catatan keuangan, bukan karena jumlahnya berubah, melainkan agar ia tidak mengandalkan ingatan ketika pikirannya sibuk memikirkan hari esok.

Mo datang saat cahaya mulai masuk dari jendela depan. Lin menjelaskan bahwa pemeriksaan akan dimulai sebelum matahari terbit.

“Aku akan membuka toko sendiri,” kata Mo. “Kau datang setelah selesai. Kalau mereka menahan peserta sampai lewat tengah hari, kirim pesan lewat pedagang yang menuju pasar.”

“Apakah saya harus membayar waktu yang terlewat?”

“Kita hitung setelahnya. Pemeriksaan itu urusanmu. Aku tidak akan memotong upah sebelum tahu berapa lama kau pergi.”

Lin mengangguk. Mo tidak menawarkan bantuan berlebihan, tetapi juga tidak membuatnya memilih antara bekerja dan mencari jawaban tentang dirinya sendiri.

Menjelang siang, Lin membawa buku toko ke alchemy association untuk menyerahkan satu catatan retur. Di jalan, ia melewati gerbang Azure Flame Sect. Papan pengumuman dikelilingi beberapa pemuda yang akan ikut pemeriksaan esok pagi.

Seorang anak lelaki seusianya berkata bahwa batu penguji akan menyala merah atau biru, lalu warna paling terang menentukan sekte mana yang menerima seseorang. Pemuda lain membantah bahwa hanya satu warna yang muncul dan peserta yang tidak melihat cahaya harus mengulang ujian.

Lin berhenti di sisi papan. Ia tidak menulis kedua klaim itu sebagai fakta. Ia menunggu sampai penjaga yang sama dari hari sebelumnya selesai berbicara dengan seorang ayah yang membawa anaknya.

“Apakah peserta perlu membawa sesuatu?” tanya Lin.

“Tanda kayu dan pakaian yang mudah digerakkan. Tidak perlu membawa pil atau alat kultivasi.”

“Apakah hasilnya berupa warna?”

“Bisa tampak berbeda pada alat, tetapi petugas yang memeriksa akan menuliskan hasilnya. Jangan menilai sendiri dari warna.”

“Kalau pemeriksaan sebelumnya disebut biasa, apakah pemeriksaan ini membandingkan hasil lama?”

“Tidak ada catatan pemeriksaan masa kecilmu di sini. Kami mengukur kondisi sekarang dan memberi hasil yang bisa kau bawa pulang.” Penjaga menunjuk tanda kayu di tangan Lin. “Simpan nomormu. Datang sebelum lonceng pertama.”

Lin mengucapkan terima kasih. Ia menulis instruksi resmi di catatannya, lalu menaruh cerita tentang warna di kolom “belum diverifikasi”. Ia tidak tahu apakah rumor itu berasal dari pengalaman nyata atau hanya cara orang menenangkan diri sebelum diperiksa.

Di asosiasi, petugas menerima catatan retur dan mencapnya. Lin mengembalikan lembar tersebut kepada Mo, lalu bertugas seperti biasa sampai sore. Selama menimbang bahan, ia beberapa kali mendapati dirinya membaca ulang angka yang sama. Ia menutup buku inventaris dan menarik napas, memperlambat gerakan sebelum melanjutkan.

Mo melihatnya. “Kau khawatir?”

“Sedikit. Saya tahu hasil kecil saya dulu biasa, tapi saya tidak tahu apa arti istilah itu.”

“Kalau hasilnya sama, kau mendapat konfirmasi. Kalau berbeda, kau mendapat sesuatu yang harus diperiksa lagi.”

“Kalau hasilnya buruk?”

“Buruk menurut siapa?” Mo meletakkan penjepit di meja. “Sekte mungkin hanya menerima orang yang sesuai kebutuhan mereka. Itu tidak menentukan apakah kau bisa bekerja, belajar, atau hidup dengan baik.”

Lin tidak tahu apakah kata-kata itu akan terasa cukup ketika ia berdiri di depan alat besok. Namun ia menyimpan kalimat tersebut sebagai pandangan Mo, bukan kepastian tentang hasilnya.

Pada sore hari, ia memeriksa tanda kayu sekali lagi. Nomornya masih utuh. Ia menyiapkan pakaian yang mudah bergerak dan meletakkannya di samping tikar. Ia tidak memiliki baju khusus untuk menghadapi sekte; pakaian bersih yang biasa dipakainya untuk bekerja sudah cukup.

Ia mengukur waktu berjalan dari toko ke gerbang dengan memperhatikan jumlah persimpangan dan penanda jalan. Ia tidak ingin terlambat karena salah memperkirakan jarak. Tanda kayu ia masukkan ke kantong yang sama dengan peta, lalu memindahkannya ke kantong depan agar mudah ditunjukkan. Setelah itu barulah ia kembali bekerja. Bai datang sebentar sebelum toko tutup. Ia belum menerima tugas kedua dari Mercenary Hall. Ketika mendengar Lin akan menjalani pemeriksaan, ia mengangkat alis.

“Besok pagi?”

“Ya. Pemeriksaan resonansi spiritual dan kecenderungan unsur.”

“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.”

“Tidak perlu mengatakan apa pun. Kau bisa berharap aku tidak pingsan.”

Bai tertawa, lalu menyadari Lin serius. “Aku akan menunggu kabarmu setelahnya. Apa pun hasilnya, kau tidak perlu mengubah hidupmu dalam satu pagi.”

Lin memandangnya. “Kau juga tidak tahu apakah akan diterima sebagai pengawal tetap setelah tugas kedua.”

“Benar. Jadi kita sama-sama menunggu keputusan orang lain.” Bai mengangkat tanda kayunya. “Bedanya, punyaku bisa dipakai untuk mengantar barang. Punyamu mengukur sesuatu yang tidak terlihat.”

Ia pamit setelah mengingatkan Lin untuk sarapan secukupnya. Lin tidak tahu apakah makanan akan memengaruhi hasil, tetapi ia memutuskan makan porsi biasa dan tidak mencoba meniru ritual yang ia dengar dari calon peserta lain.

Mo membayar upah hari ini satu keping tembaga. Upah untuk hari pemeriksaan akan dihitung setelah Lin kembali, sesuai jam kerja yang sempat ia lakukan. Mo tetap menyiapkan makan malam dan mengingatkannya agar tidak terlambat tidur.

Lin menyimpan keping barunya. Saldo kini empat. Biaya pendaftaran sudah dibayar, sehingga uang itu bisa tetap menjadi tabungan. Ia menulis instruksi pemeriksaan pada satu sisi kertas dan pertanyaan pribadinya di sisi lain: “Apa yang diukur saat kecil? Apakah aku dapat mengolah Qi? Apakah hasil sekarang menjawab keduanya?”

Ia membaca tiga pertanyaan itu satu per satu. Jawabannya tidak harus datang bersamaan. Pemeriksaan besok mungkin hanya menjelaskan resonansi dasar. Ia tidak boleh mengubah hasil itu menjadi jawaban untuk semua hal.

Sebelum naik ke loteng, ia memeriksa pintu depan, jendela, dan palang. Mo menyimpan kunci ruang belakang. Lin tidak menyentuh kotak pil atau pamflet di laci. Rutinitas itu memberi tangannya sesuatu untuk dikerjakan saat pikirannya berputar.

Malamnya ia sulit tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia mengingat wajah anak-anak di desa yang menunggu hasil. Kali ini ia tidak bisa bertanya kepada ayahnya apa arti kata biasa. Ia juga tidak dapat mengandalkan memori permainan untuk menafsirkan alat yang belum pernah dilihatnya.

Akhirnya ia membuka catatan dan menulis satu baris: “Besok aku akan mencatat apa yang benar-benar dikatakan petugas, bukan hanya apa yang kurasakan.”

Ia meletakkan tanda kayu di samping pakaian, memeriksa nomornya sekali lagi, lalu mematikan lampu. Tidak ada latihan malam, tidak ada pil yang bisa mengubah hasil, dan tidak ada strategi rahasia yang menjamin penerimaan.

Yang ia miliki hanyalah satu pagi, satu pemeriksaan, dan kesediaan untuk menerima jawabannya tanpa buru-buru menambahkan arti yang belum diberikan siapa pun.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!