Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
#
"Kamu mau ke sana," kata suara mesin dari tablet yang retak di sudutnya. Axel baru saja membantingnya ke meja, dan layar itu masih berkedip. "Sendirian. Tanpa pistol. Tanpa topeng. Atas undangan perempuan yang bahkan tidak mau menyebut namanya."
"Iya."
*Itu jebakan, Kenzo.*
"Mungkin."
*Dia tahu kuburan Victor.*
"Aku tahu." Kenzo menatap layar yang retak itu, bukan Axel. "Dia juga tahu soal lelaki di kursi roda. Aku nggak tahu siapa itu, Xel. Tapi dia tahu, dan dia bilang dia tahu aku siapa."
Axel diam lama. Jarinya mengetuk-ngetuk sisi tablet, pelan, seperti orang menghitung sesuatu yang tidak mau ia selesaikan. Lalu tangannya bergerak, lebih lambat dari biasanya.
*Kamu bukan satu-satunya yang nggak punya jawaban.*
"Aku tahu."
*Aku ikut.*
"Dia bilang sendirian."
*Aku nggak peduli dia bilang apa.*
"Aku peduli." Kenzo menarik napas. "Kalau kita berdua masuk dan itu jebakan, Jack sama Jeky nggak ada yang pegang komando. Kamu yang jaga di luar. Kamu selalu yang jaga di luar."
Axel menatapnya dengan mata yang sudah terlalu lelah untuk marah. Tapi ia tidak membantah. Ia membuka laci, mengeluarkan pelacak sebesar biji jagung, dan menunjuk sepatu Kenzo tanpa bertanya. Kenzo mengangkat kaki. Axel menyelipkannya ke sol dengan gerakan cepat dan sangat rapi.
*Kalau sinyalnya mati lebih dari sepuluh menit, aku kirim semua orang. Aku nggak minta izin.*
"Aku nggak akan larang."
Axel menarik lengan baju Kenzo, kuat, seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal di depan pintu sekolah.
*Jangan mati duluan. Aku baru baikan sama kamu.*
Kenzo hampir tertawa. Ia mengacak rambut lelaki itu dengan kasar, dan Axel menepisnya sambil menggerutu tanpa suara.
Bus tua Sinar Pantai berangkat dari terminal Marenta pukul dua siang. Kursinya sobek, jendelanya tidak bisa ditutup, dan baunya campuran keringat, ikan asin, dan solar. Kenzo duduk di pojok belakang dengan jaket lusuh dan kacamata tebal, tas kain di pangkuan. Di KTP palsu buatan Marco, namanya Danu Prasetyo, pencatat gudang. Orang pendiam yang tidak akan diingat siapa pun.
Di depannya dua ibu-ibu sudah ribut sejak bus keluar gerbang.
"Jeng Ratna, kamu sudah dengar? Anaknya Bu Tuti yang di Kampung Nelayan itu."
"Yang mana? Yang sulung?"
"Yang bungsu, yang masih SMP! Kemarin sore dijemput. Katanya pendataan. Pendataan apa, anak SMP? Sampai sekarang belum pulang. Ke kantor polisi ditolak, katanya nggak ada nama itu di daftar."
"Ya Allah..." Bu Ratna menepuk dadanya. "Itu yang minggu lalu juga, si Rudi anaknya Pak Karto. Tiga hari baru ketemu, mukanya biru, nggak mau ngomong."
"Makanya aku bilang, Jeng. Sekarang jangan biarin anak keluar lewat magrib."
Di bangku sebelah, dua bapak bersarung dengan kopiah miring ikut nimbrung tanpa menoleh. "Itu belum seberapa. Listrik kampung kita mati tiga hari, tahu kenapa? Dialihkan ke vila di bukit. Tiga hari! Es di pasar mencair, ikan busuk semua. Lapor ke kelurahan, disuruh bayar 'uang administrasi' dua ratus ribu biar diurus."
"Dua ratus ribu! Gaji sehari aja nggak sampai segitu."
"Ya makanya. Sekarang beras sepuluh persen naik lagi, jatahnya buat orang-orang gudang. Kita makan aci, mereka makan pelabuhan."
Kenzo menatap ke luar jendela. Ladang kering, rumah-rumah triplek, anak-anak telanjang dada main bola di tanah yang tidak rata. Ia pernah hidup di dunia ini, tapi selalu dari balik topeng, dari atap, dari bidikan. Sekarang ia duduk di tengahnya, berdesakan dengan keringat dan keluhan yang tidak punya tempat mengadu.
"Eh, tapi dengar-dengar," suara Bu Ratna turun jadi bisikan, "kepala bea cukai Sarvenna itu mati di mobilnya. Terus hakim yang jual-jual putusan itu juga."
"Sst! Jangan keras-keras."
"Kenapa? Biarin aja! Aku mau bikin tumpeng kalau semua pejabat itu mati satu-satu."
"Heh, Jeng! Kalau ada yang dengar..."
"Orang itu namanya Sang Bayangan, katanya." Satu bapak bersarung akhirnya menoleh sedikit. Suaranya serak, hampir tidak bergerak di bibir. "Anak sepupuku kerja di pelabuhan. Dia bilang orang-orang gudang pada nggak berani tidur. Ada yang ngigau nyebut topeng putih."
"Ih, hantu!"
"Bukan hantu. Orang. Kalau hantu, nggak perlu bikin pejabat ketakutan sampai sewa pengawal." Bapak itu terkekeh pendek, tapi matanya sama sekali tidak tertawa. "Aku sih nggak tahu dia siapa. Tapi kalau dia mau ngajak, aku ikut."
Tidak ada yang menyahut. Bus menurun di tikungan, dan Kenzo merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan bangga. Lebih seperti orang yang mendengar namanya dipanggil dari ruangan yang tidak boleh ia masuki.
Seorang nenek di sebelahnya, kecil dan keriput dengan kerudung pudar, menyodorkan bungkusan daun pisang tanpa bicara. Isinya dua potong tempe goreng yang masih hangat.
"Makan, Le. Mukamu pucat. Kuliah ya? Kok kurus."
"Bukan, Nek. Saya..." Kenzo berhenti. Tangannya menerima bungkusan itu, tapi jari-jarinya kaku. Bau minyak dan bawang putih membawa sesuatu yang naik terlalu cepat dari dasar dadanya, sepotong tempe dibelah dua dengan tangan kosong, *yang goreng harus kalah*. "Makasih, Nek."
"Sama-sama. Makan, jangan dilihat saja."
Ia mengangguk, memasukkan bungkusan itu ke saku jaket, dan menatap jendela sampai matanya kering lagi.
Pos pemeriksaan pertama ada di gerbang kota Sarvenna. Dua truk tentara melintang di jalan, dan sekitar dua puluh orang berseragam berdiri dengan senapan. Bus berhenti. Seorang sersan gemuk naik, menyapu pandang seisi bus seperti pemilik rumah menghitung tamu yang tidak diundang.
"KTP! Surat jalan! Yang nggak punya, turun!"
Satu per satu penumpang menyodorkan dokumen, dan satu per satu tangan sersan itu menyelipkan lembaran uang ke saku bajunya tanpa disembunyikan. Seorang bapak tua membuka tas, hendak mengeluarkan KTP, tapi sersan itu sudah menarik karung jagung di kakinya.
"Ini apa? Barang dagangan? Mana izinnya?"
"Pak, itu buat dijual di pasar, saya..."
"Izinnya mana!"
"Saya nggak punya, Pak, tapi biasanya..."
Popor senapan menghantam bahu bapak itu sampai ia terjerembab di lorong bus. Tidak ada yang bergerak. Bu Ratna menutup mulut dengan tangan, dan Bu Tuti memalingkan wajah. Anak kecil di bangku depan mulai menangis, dan ibunya buru-buru membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
Kenzo tidak bergerak. Tapi di bawah jaketnya otot lengannya mengeras, dan di dalam kepalanya satu suara dingin berhitung: tiga langkah ke depan, patahkan pergelangan, rebut senapan, dua orang di pintu, enam di luar...
*Jangan. Bukan malam ini. Danu Prasetyo tidak punya tangan seperti itu.*
"KTP."
Sersan itu sudah berdiri di depannya. Kenzo menyodorkan kartu dengan gerakan canggung orang yang takut, menurunkan bahu, membiarkan kacamata tebalnya melorot sedikit. Mata sersan itu menyipit membaca nama, lalu menatap wajahnya terlalu lama.
"Pencatat gudang."
"Iya, Pak."
"Gudang mana?"
"Gudang Dua, Marenta. Pak Hasan yang punya."
"Kamu kurus. Kerja apa nyatat doang?" Sersan itu tertawa, mengembalikan kartu, lalu mengulurkan telapak terbuka. "Uang keamanan. Lima puluh."
Kenzo mengambil selembar dari dompet dan menyerahkannya dengan kedua tangan. Sersan itu mengantonginya, menepuk pipinya dua kali seperti pada anak anjing, dan turun.
Bus bergerak lagi. Di belakang, bapak tua itu masih berjongkok di pinggir jalan, memunguti jagung yang berhamburan, tanpa seorang pun berhenti membantu.
Kenzo menggenggam bungkusan tempe di sakunya sampai daun pisangnya remuk.
Di sebuah rumah putih di lereng bukit Sarvenna, dengan jendela setinggi langit-langit dan lantai marmer yang dingin, Alexander Gunawan berdiri memunggungi tiga lelaki yang berdiri gelisah di depan mejanya.
"Empat puluh satu miliar," ulangnya pelan. "Dalam sebulan."
"Ya, Tuan. Dua pabrik ditutup audit. Tiga truk hilang. Kapal Sri Mandala tertahan denda. Dan..." Seorang ajudan menelan ludah. "...sembilan rekening cadangan ditemukan kosong. Bukan dicuri, Tuan. Seperti salah hitung. Kecil-kecil, tersebar, seolah..."
"Seolah ada yang sabar." Alexander berbalik. Rambutnya sudah memutih sempurna, wajahnya tampan dan teduh seperti di baliho, hanya matanya yang tidak. "Siapa yang menghancurkan semua ini?"
Tidak ada yang menjawab.
"Siapa?"
"Belum jelas, Tuan. Orang-orang menyebutnya Sang Bayangan."
"Bayangan tidak punya tagihan." Alexander mengambil gelas wiski dan menatap cairan keemasannya. "Orang yang menjatuhkan bisnisku punya rekening, punya alamat, punya wajah. Cari yang punya."
"Sudah, Tuan. Tidak ada jejak apa pun. Tiga kali kami hampir menemukan satu nama, tapi laporan itu hilang sebelum sampai ke meja kami."
Alexander berhenti menyesap. Perlahan ia meletakkan gelasnya.
Telepon di mejanya berdering, telepon hitam tua tanpa nomor yang tidak pernah berdering pada siang hari. Ketiga ajudan itu mundur seketika, seolah benda itu bisa menggigit. Alexander menatapnya dua detik, lalu mengangkatnya dengan sangat hati-hati.
"Tuanku Terhormat," katanya, dan suaranya yang tadi tajam jadi licin dan merendah. "Ya... saya mengerti... Tidak, Tuanku, tidak akan terulang. Saya akan menyelesaikannya sendiri."
Tidak ada yang tahu apa yang dikatakan suara di seberang. Tapi ketiga ajudan melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sepanjang bekerja untuknya: setetes keringat meluncur turun di pelipis Alexander Gunawan.
Gudang es itu masih berbau amis laut dan air dingin, tapi sekarang tidak ada matras, tidak ada samsak, tidak ada Victor yang berseru *jangan cuma berdiri kayak patung*. Hanya ruang besar berlantai licin dan dinding bergetah lumut, dan satu lampu minyak yang menyala di tengah-tengah seperti mata tunggal.
Kenzo melepas kacamata tebalnya di ambang pintu dan melipatnya ke saku. Tanpa topeng, tanpa senjata, ia melangkah masuk dengan tangan terbuka di sisi tubuh.
Langkahnya menggema. Ia menghitung tanpa sadar. Tiga di rangka atap. Empat di gang tangga. Tiga di belakang lampu, di balik tumpukan peti. Sepuluh.
"Sepuluh orang," katanya pelan ke ruang kosong. "Aku nggak diundang buat dikubur."
"Sebelas." Suara perempuan itu datang dari balik lampu, tenang, dalam, tanpa perlu meninggikan nada. "Kamu tidak menghitung yang di bawah lantai."
Ia melangkah keluar dari bayangan. Kenzo sudah siap melihat apa pun, tapi bukan ini.
Perempuan itu muda, dua puluh tujuh mungkin, berdiri tegak dengan mantel panjang abu arang yang jatuh sampai mata kaki dan sepasang sarung tangan kulit hitam. Rambutnya hitam pekat, disanggul rendah tanpa sehelai pun lepas. Wajahnya pucat, bersih, sangat cantik dengan cara yang tidak meminta dilihat, seperti pisau di balik beludru. Matanya cokelat gelap dan tidak berkedip. Di belakangnya tiga lelaki berpakaian hitam berdiri diam seperti patung, tapi tidak satu pun memegang senjata yang kelihatan.
"Namaku Silva," katanya. "Aku memimpin Mata Senja."
"Nggak pernah dengar."
"Itu tujuan namanya."
Kenzo tidak menjawab. Ia menatap tangannya, tenang di sisi tubuh. Menatap mantel, menatap tiga lelaki di belakangnya. Orang yang tidak membawa senjata di tempat seperti ini hanya ada dua jenis: orang bodoh, atau orang yang tidak perlu.
"Kamu tidak duduk." Silva melirik kursi besi di dekat lampu.
"Aku berdiri."
"Keras kepala." Ia berbalik, berjalan dua langkah, dan membuka map hitam di atas peti. Suara kertasnya tajam di ruang sunyi. "Kenzo Adriel. Terdaftar meninggal, Jalan Melati Dua, Sarvenna. Dibesarkan seorang mantan perwira bernama Victor Pradana, ditemukan di bawah akar pohon tiga puluh menit setelah rumahnya dibakar. Pembunuh bayaran yang memakai topeng porselen dengan retakan emas, atas perintah seorang tua bernama Raden Wiratama. Kamu mengirim Hartono Salim ke dunia lain dengan satu tembakan, dan minta maaf. Hakim di Marenta, tidak." Ia mengangkat mata. "Pelan-pelan, kamu belajar berhenti minta maaf."
"Kamu mengikutiku."
"Aku tidak perlu mengikutimu. Aku hanya membaca apa yang ditinggalkan orang lain." Silva menutup map. "Pradana mengajarimu jatuh tanpa sakit. Sayang dia tidak mengajarimu cara kehilangan."
Kenzo bergerak sebelum ia memutuskan. Satu langkah, dan sepuluh titik merah menyala sekaligus di dadanya, di dahi, di leher, bergetar halus seperti kunang-kunang yang tahu persis ke mana harus hinggap.
Silva tidak mengangkat tangan. Tapi sepersekian detik, bibirnya terkatup rapat, dan ada sesuatu di matanya yang cepat ditutup.
"Itu murahan," katanya pelan. "Aku tidak seharusnya mengatakannya."
Kenzo menarik napas panjang, mundur setengah langkah. Titik-titik merah tetap di tempatnya.
"Katakan tawaranmu."
"Begitu saja?"
"Aku di sini bukan buat dengar kamu pamer."
Sudut bibir Silva bergerak, hampir tersenyum, hampir. "Baik. Alexander Gunawan hanya pintu pertama. Di belakangnya ada sebuah rantai yang dimulai dari pelabuhan dan berakhir di ruangan-ruangan yang tidak pernah kamu lihat. Menteri. Jenderal. Dan satu nama di atas semuanya yang bahkan Mata Senja belum berhasil menyebutnya dengan keras." Ia berjalan mengitari lampu, mantelnya menyapu lantai tanpa bunyi. "Aku punya data. Dua ribu empat ratus dokumen, tujuh belas saksi yang masih bernapas, dan akses ke Kementerian yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kamu punya tangan yang tidak ragu menarik pelatuk. Kita saling melengkapi."
"Dan imbalannya identitasku."
"Setelah selesai."
"Setelah aku jadi pisau kamu."
"Setelah kita menumpas yang harus ditumpas." Ia berhenti satu meter di depan Kenzo. Dari jarak itu, ia lebih tinggi dari yang terlihat, hanya setengah kepala lebih pendek. "Aku tahu apa yang kamu cari. Kamu tahu kenapa mereka membakar rumahmu, tapi tidak tahu kenapa mereka menyisir semak sampai subuh untuk mencari satu anak berumur tujuh tahun. Amplop itu sudah di tangan mereka malam itu. Jadi apa lagi yang mereka cari?"
Dada Kenzo seperti dipukul dari dalam. Itu pertanyaan yang sudah sepuluh tahun ia kubur, dan perempuan ini menaruhnya di depan hidungnya seperti menaruh cangkir.
"Tidak," katanya.
Silva mengangkat satu alis. "Kamu belum dengar semuanya."
"Aku dengar cukup. Kamu pegang namaku di satu tangan, dan pisauku di tangan yang lain. Itu bukan kerja sama. Itu tali."
"Itu tawaran."
"Itu tali yang dikasih nama bagus." Suara Kenzo rendah, datar, tanpa gemetar. "Aku sudah pernah jadi alat. Dua kali. Sama Raden, sama Anderson. Dua-duanya bilang mereka tahu jalan, dua-duanya ngasih aku gambaran yang tinggal dibaca, dan dua-duanya hampir bikin aku bunuh orang yang paling aku sayang." Ia menatap lurus ke mata cokelat itu. "Aku akan cari tahu siapa aku sendiri. Pelan-pelan. Salah-salah. Berdarah-darah. Tapi itu milikku."
"Kamu bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."
"Dari Alexander."
"Alexander tidak tahu apa-apa tentang kamu. Dia hanya anjing yang diberi kunci."
"Kalau begitu aku mulai dari anjingnya, dan naik."
"Kamu akan mati sebelum sampai."
"Itu urusanku."
Hening. Tetesan air jatuh dari langit-langit dan memecah di lantai, satu, dua. Silva menatapnya tanpa berkedip, dan ia, yang sepanjang hidupnya mengendalikan ruang rapat, interogasi, dan nyawa orang-orang yang tidak pernah bertemu dengannya, mendapati kalimat berikutnya tidak keluar sebagaimana yang ia rencanakan.
"Kalau saya menolak," ucap Kenzo, formal, dingin, sengaja menyebut dirinya dengan kata itu seperti mengetuk meja, "apa yang akan kamu lakukan, Nona Silva?"
"Kamu tidak bisa menolak."
"Kalau saya menolak."
Silva menjentikkan jari satu kali. Dari balik peti, dua lelaki membawa tablet dan meletakkannya di atas meja. Di layar muncul tiga foto, diambil dari kejauhan: Jack dan Jeky sedang makan di warung pinggir jalan, Aceng menunduk di depan laptop di warnet kumuh, dan sebuah jendela kamar kontrakan dengan siluet kurus berhoodie di baliknya.
"Axel Arsenio," kata Silva datar. "Dua puluh enam tahun. Tidak bisa bicara sejak umur lima, bukan karena lahir, tapi karena seseorang menyayat tenggorokannya. Server kecilnya di kamar itu bisa kuhancurkan dalam sembilan puluh detik. Orang-orangmu bisa kubunuh tanpa suara dalam satu malam." Ia mengangkat mata. "Dan ada satu hal lagi. Tiga kali dalam sebulan terakhir, nama Danu Prasetyo, pencatat gudang, hampir sampai ke meja Alexander. Tiga kali aku yang menahannya. Kamu rapi, tapi tidak ada yang rapi seratus persen." Ia berhenti satu napas. "Aku bisa berhenti menahannya."
Kenzo tidak menjawab. Ia hanya menatap foto jendela itu, dan sesuatu yang sangat dingin dan sangat tua bangun di dadanya.
Lalu ia bergerak.
Tidak ada yang melihat awalnya. Tangan kanannya masuk ke lengan jaket, dan sebilah pisau kecil, yang tidak seorang pun tahu ia bawa, sudah menempel di tenggorokan Silva sebelum bunyi pertama sempat memecah ruangan. Tangan kirinya mencengkeram bahu mantel, menarik tubuh perempuan itu rapat ke dadanya, punggung Silva menempel padanya, ujung logam menekan kulit tipis di lehernya.
Sepuluh titik merah mengepung kepala Kenzo dalam satu detik.
"Jangan," kata Silva.
Bukan kepada Kenzo. Kepada anak buahnya. Dua jarinya terangkat, tenang, dan seluruh ruangan membeku.
"Kamu bisa menyuruh mereka menembak," bisik Kenzo di dekat telinganya. Napasnya hangat dan sangat stabil. "Tapi sebelum peluru pertama sampai, pisau ini sudah selesai. Kamu hitung sendiri, mana yang lebih cepat."
"Aku sudah menghitung." Suara Silva tidak gemetar. "Kamu lebih cepat. Tapi mereka tidak membutuhkan perintahku untuk menyampaikan namamu kepada Alexander. Kalau aku mati, itu otomatis."
"Itu kedengaran kayak kebohongan."
"Itu kedengaran seperti seseorang yang sudah mengatur kematiannya sendiri sebelum bertemu dengan orang sepertimu." Ia menarik napas pelan, dan Kenzo merasakan denyut nadi di bawah ujung pisaunya. Cepat. Jauh lebih cepat dari suaranya. "Turunkan pisaumu, Kenzo Adriel."
Detik-detik berlalu. Dari jarak sedekat itu ia mencium sesuatu yang tidak ia duga: wangi kayu cendana tipis dan debu hujan, dan di baliknya, samar, bau obat mesiu. Silva memejamkan mata hanya sepersekian detik, dan di wajahnya yang pucat itu ada sesuatu yang cepat sekali disembunyikan.
*Kenapa jantungku.*
Pikiran itu muncul begitu saja, tanpa izin, dan ia benci. Ia pernah mengunci pintu kamar interogasi bersama lelaki yang membunuh sepuluh orang, ia pernah duduk di ruang rapat dengan menteri yang menodongkan pistol di bawah meja, dan tidak sekali pun denyutnya berubah. Sekarang, dengan logam dingin di lehernya dan napas orang asing di telinganya, detak jantungnya sendiri terdengar lebih keras dari sepuluh senapan yang mengarah ke satu kepala.
Kenzo menurunkan pisaunya. Pelan. Ia melepaskan bahu Silva dan mundur dua langkah, tangan terbuka.
"Kamu boleh kasih tahu Alexander," katanya. "Kalau dia datang, aku sambut. Tapi aku nggak akan jadi milik siapa pun. Mau kamu sebut apa pun."
Silva berbalik perlahan. Tangannya yang bersarung kulit hitam terangkat ke lehernya, menyentuh garis tipis merah di sana, dan Kenzo melihat jari-jari itu bergetar sedikit. Hanya sedikit. Ia cepat-cepat menyembunyikannya ke dalam saku mantel.
"Bram," katanya tanpa menoleh. Suaranya nyaris tak berubah. "Turunkan senjata."
"Nyonya, protokol Opsi B..."
"Aku bilang turunkan."
Titik-titik merah padam satu per satu. Lelaki di sebelah kanannya, yang dipanggil Bram, menatap bosnya dengan kerut dalam di dahi, tapi tidak membantah. Ia sudah mendampingi Silva sembilan tahun, dan sepanjang sembilan tahun itu ia tidak pernah melihat perempuan ini menunda perintah yang telah ia keluarkan.
Kenzo berjalan melewatinya menuju pintu. Di depan ambang, ia berhenti tanpa menoleh.
"Tiga hari," kata Silva di belakangnya. Suaranya tenang lagi, tetapi ada nada yang berbeda di dalamnya, sesuatu yang lebih tipis. "Aku tidak akan membongkar siapa kamu. Itu bukan ancaman. Itu bukti bahwa kamu salah mengira aku. Setelah tiga hari, kalau kamu berubah pikiran, kamu tahu cara menemukanku."
"Aku nggak akan berubah pikiran."
"Aku tahu." Ada jeda. "Itu yang membuatku..." Kalimatnya berhenti. Silva menutup mulutnya, rapat.
Kenzo menoleh setengah, hanya cukup untuk melihat sosoknya di bawah lampu minyak: tegak, dingin, sangat cantik, dan untuk pertama kali tampak seperti seseorang yang tidak yakin harus meletakkan tangannya di mana.
"Siapa pun yang ngasih tahu kamu soal kuburan Victor," katanya datar. "Bilang ke dia, aku akan datang."
Lalu ia keluar, menembus gelap dermaga timur yang basah, dan tidak menoleh lagi.
Silva berdiri diam sampai langkah itu menghilang. Baru setelah suara pintu besi menutup, ia melepas satu sarung tangannya dan menekan telapak kosongnya di dada kiri, di tempat yang selama ini ia anggap hanya mesin.
"Nyonya," kata Bram, hati-hati. "Kita punya protokol untuk target yang menolak. Anda sendiri yang menulisnya."
"Aku tahu."
"Jika Anda tidak memerintahkan..."
"Batalkan semuanya. Yang menyangkut orang-orangnya. Yang menyangkut Arsenio." Silva menarik napas, mengenakan kembali sarung tangannya, dan kembali menjadi dirinya. "Dia tidak boleh disentuh. Siapa pun yang menyentuhnya sebelum aku mengizinkan, kupatahkan sendiri jarinya."
Bram menatap perempuan itu lama sekali. Ia sudah melihat Silva menghukum, membunuh, dan memerintah, tapi ia belum pernah melihatnya membiarkan lehernya digores, lalu menyentuh luka itu seperti menyentuh sesuatu yang berharga.
"Nyonya," katanya lebih pelan. "Dia memengaruhi Anda."
"Jangan bicara."
Di luar, hujan tipis sudah berhenti. Kenzo berjalan menyusuri dermaga timur dengan tangan terbenam di saku, kacamata tebal kembali di wajahnya, dan di dalam saku kirinya bungkusan tempe goreng yang sudah dingin. Ia mengeluarkannya, membukanya, dan menggigit sepotong. Rasanya asin dan agak keras. Ia mengunyahnya lama.
*Yang goreng harus kalah, biar besok-besok belajar bagi-bagi.*
Earpiece di sakunya bergetar dan mendesis. Ia buru-buru memasangnya.
"...zo... Kenzo! Kenzo, jawab! Sinyalmu mati empat belas menit, Jack sama Jeky sudah di mobil, aku..." Suara mesin itu pecah, tapi bukan dari kualitas sambungan. Dari ketakutan yang tak lagi bisa ditutup. "Kamu hidup?"
"Hidup. Dia nggak apa-apa. Aku nggak jadi..."
"Berhenti."
Kenzo berhenti.
"Jangan bergerak. Jangan sentuh apa pun di jaketmu." Suara Axel turun menjadi bisikan datar yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Begitu sinyalmu pulih, sensorku menangkap pemancar kedua. Di kerah jaket. Bukan buatanku."
Kenzo tidak bernapas.
"Frekuensinya aktif sejak kamu naik bus dari Marenta. Siapa pun yang memasangnya, sudah mendengar setiap kata yang kamu ucapkan malam ini. Termasuk soal kuburan, soal lelaki di kursi roda, soal..." Suara itu berhenti. Terdengar ketikan cepat, lalu satu desis pendek yang tidak sengaja lolos. "Kenzo. Sinyalnya baru saja berhenti."
"Berhenti?"
"Sepuluh detik lalu. Persis ketika kamu keluar dari gudang es. Seolah..." Axel menelan sesuatu yang terdengar sampai ke earpiece. "...seolah dia sudah dapat apa yang dia cari."
Di ujung dermaga yang gelap, jauh di balik kabut dan deretan kapal tua, sebuah mobil hitam menyalakan lampu depannya satu kali, dan mematikannya lagi.
*Bersambung ke Bab 22*