Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Mawar Misterius
Felicya yang sedang asyik menenami ibunya di ruang tunggu, ia terkejut dengan ke datangan seorang laki-laki misterius di hadapannya. Lelaki itu membawa bucket bunga padanya.
"Hai nona. Ini bunga mawar untukmu. Kebetulan wajahmu seperti bunga mawar terlihat indah dipandang," ucap laki-laki tak dikenal di hadapannya.
Felicya masih bingung dengan kedatangan tidak terduga dari laki-laki yang tidak dia kenal sama sekali. Begitupula dengan ibunya juga bingung siapa laki-laki ini berani memberikan bunga kepada putrinya yang sudah mempunyai status bergelar istri.
Felicya mencoba bertanya pada laki-laki tersebut.
"Kamu siapa, kenapa kamu memberiku bunga? kamu gak tahu aku ini istri orang? kamu kalau mau kasih bunga ke wanita single saja, jangan ke aku. Gila yah kamu," ucap Felicya yang emosi dengan tingkah tidak jelas laki-laki tak dikenalnya ini. Ia takut nanti suaminya berpikir bahwa dirinya berselingkuh dari suaminya.
"Gawat. Kalau Mas Galang berpikirnya aku selingkuh sama lelaki lain, bisa marah lagi Mas Galang," gumamnya. Felicya merasa panik diposisi seperti ini, walau ia memang tak mengkhianati suaminya. Namun. Ia takut suaminya berpikir yang aneh padanya.
Ibunya pun melindungi putrinya. "Heh kamu, kamu itu mau jahatin anakku yah? ini lagi di rumah sakit loh? kok kamu berani sih bujang (lelaki single),"
"Maaf yah bu, saya sudah mengganggu ibu dan anak ibu, Permisi," ucap laki-laki misterius. Lalu ia pun pergi begitu saja.
Galang yang melihat laki-laki itu berjalan cepat dan menundukan palanya. Tak menengok ke arahnya. Galang penasaran lalu menarik laki-laki tersebut.
"Heh. lu siapa? kok ngasih bunga ke istri gue," ujar Galang yang emosi.
"Bukan urusan lo," laki-laki-laki itu menepis tangan Galang dan menginjak kaki Galang. Galang yang di injak kakinya menjerit, dan lelaki misterius itu kabur berjalan cepat.
"Aduhh sakit banget kaki gue," ucapnya sambil memegang kakinya yang di injak.
Galang yang berniat ingin menahan lelaki misterius tadi gagal. Galang berdecak kesal. "Cihh sialan.."
Lalu Galang melanjutkan langkahnya menuju ruang tunggu ke tempat istri dan mertuanya duduk.
Galang yang melihat istrinya dan mertuanya di sana. Dia menghampiri istrinya.
"Sayang tadi aku lihat ada seorang laki-laki isengin kamu yah?" tanyanya.
"Iya Mas aku gak tahu laki-laki itu siapa, aku juga kaget dia ngasih aku bunga, aku sangka dia orang gila Mas," Felicya menjawabnya polos dan tidak mengada-ngada.
Galang tarik napas. "Hemmm..Tapi untung ini masih di rumah sakit, aku tadi menghadang lelaki aneh itu, tapi sialan kaki aku di injek Ayy...," ujar Galang yang menahan sakit di kakinya.
"Aku aneh kenapa dia senekad itu yah, padahal aku gak kenal dia, ibun juga gak kenal, begitu juga kamu Mas. apa benar kali yah dia orang gila lepas begitu? kalau benar parah sekali pihak rumah sakit jiwanya lalai."
"Mas juga gak tahu. Mungkin memang dia orang gila,yang terpenting kamu gak diapa-apain sama orang gila tadi," ucap Galang.
"Alhamdulillah sih aku gak kenapa-kenapa Mas."
Galang lalu bertanya ke adaan mertuanya.
"Bunda sekarang Asmanya masih kerasa gak?"
"Sedikit mendingan Lang cuma bunda kaget saja tadi, jadi jantung bunda sedikit nyeri."
"Serius bunda ngerasa nyeri di dada?" tanya Galang khawatir.
"Benar, bunda sedikit nyeri tadi. Tapi aga mendinganlah, bunda gak kenapa-kenapa kok." ucapnya agar mantunya tidak begitu khawatir dengan dirinya.
"Yasudah bunda, sedikit mendingan. Aku masih tunggu nama antrian bunda, bunda gak apa-apa kan nunggu lama di sini?"
"Iya bunda gak apa-apa, bunda bakal tungguin."
Tiga jam menunggu namanya di panggil, akhirnya nama mertuanya sudah di panggil dan Galang langsung ke depan menuju kasir.
Galang yang sudah mengambil data berobatnya. Dia bawa ke ruang pemeriksaan untuk bukti administrasi nya. Lalu Felicya dan Ibunya mengikuti Galang ke ruang pemeriksaan. Mereka masih duduk di depan luar pintu.
Felicya berbicara pada ibunya. "Ibun.. Aku minta maaf yah pasti ibun Asmanya kambuh kepikiran sama neng yah?" tanyanya.
"Ibun sakit bukan karena neng, memang ibun sudah tua saja," ucapnya menenangkan putri kesayangannya. Felicya menjawab. "Ibun maafin aku yah," Felicya memeluk ibunya erat. Dia tidak perduli menjadi bahan perhatian orang di sana.
Entah Galang melihat betapa Felicya sayang dengan ibunya, hatinya merasa tersentil karena dia tidak bisa melakukan itu ke ibunya sendiri, karena ibu Galang sudah meninggal dunia.
"Andai mama masih ada mungkin aku bisa mengurus mama, aku bisa merasakan kasih sayangmu lagi ma," gumamanya.
Galang hanya bisa diam dan iri melihat anak, ibu saling menyanyangi. Ia mengingat bagaimana perilakunya dulu saat ibunya masih ada. Banyak mengeluarkan air mata karena dirinya. Bahkan saat ia sudah diposisi ini. Galang tidak bisa bertemu dengan ayahnya yanh enggan untuk bertemu dirinya karena rasa kecewa yang begitu dalam.
Namun, Felicya sama sekali tidak mengetahui tentang masalalu Galang, dan dia hanya tahu Galang hidup sendiri dan tidak punya saudara. Galang merahasiakan kehidupan di masalalunya dan tentang keluarganya dari istrinya sendiri.
Suatu saat Felicya akan mengetahui tentang suaminya. Apa pun yang di sembunyikan suatu saat tuhan akan memberi pertunjukan sesuai naskah tuhan untuk para manusia di muka bumi.