Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 35
Jumat jam 4 pagi. Sesuai janji di trotoar .
Aku sudah bangun jam 3.30. Tidak pakai alarm adzan Subuh lagi. Aku bangun sendiri karena tidak bisa tidur. Di kos Bekasi yang baru, kamar mandi di dalam, tidak seperti kos triplek kemarin. Airnya hangat. Tapi tanganku tetap dingin karena gugup.
Aku pakai rok dan memakai blouse rajut yang paling rapi, yang aku beli dari THR lebaran kemarin. Jilbab segi empat warna cream. Hari ini aku bukan kepala admin di Bekasi yang gajinya 5 juta. Hari ini aku Laila anak petani lagi di kampung.
Jam 4.05 Arpan sudah di depan kos. Bukan pakai motor hitam yang mogok di Kuningan kemarin. Dia pakai motor pinjaman dari Pak Atasan, motor NMAX hitam Katanya biar enak perjalanan jauh, kalau pakai motor nya yang biasa dia pakai untuk kerja dan jemput aku takut mogok lagi dijalan.
Dia pakai kaos putih dan jaket hitam, Celana hitam biasa. Tidak seperti manager.
"Laila siap?" tanyanya. Suaranya pelan karena masih gelap dan ibu kos masih tidur.
"Siap Kak," jawabku. Aku bawa tas plastik kecil isinya baju koko buat oleh-oleh bapak di kampung.
Kami berangkat. Dari Bekasi - kampungku itu 6 jam kalau naik motor. Jalanan masih gelap, masih sepi. Aku duduk di belakang.
Di tengah perjalanan jam 5.30, adzan Subuh berkumandang dari masjid-masjid di pinggir jalan Pantura. Kami berhenti di masjid kecil.
Aku sholat di tempat perempuan, Arpan di tempat laki-laki. Habis sholat, Arpan tidak langsung jalan. Dia duduk di teras masjid agak lama. Aku lihat dari jauh, dia angkat tangan, doa. Lama sekali doanya. Lebih lama dari biasanya.
Aku dekati pelan setelah dia selesai.
"Kak Arpan doa apa lama banget?" tanyaku.
"Doa biar Bapak kamu tidak usir saya pas sampai sana nanti" jawabnya jujur. Dia senyum, tapi senyumnya tegang.
Jam 10.00 pagi kami sampai di ujung kampungku. Jalan tanah, bukan aspal. Motor NMAX itu loncat-loncat kena batu.
Orang kampung sudah lihat. Ibu-ibu yang lagi jemur padi teriak.
"Laila pulang! Laila pulang bawa laki!"
Aku tunduk. Malu. Arpan yang di depan tetap jalan pelan, tidak ngebut.
Kebun karet Bapakku kelihatan dari jauh. seperti yang aku bilang di Kuningan. Kecil. Di tengah kebun ada satu orang pakai topi caping Pakai kaos oblong hitam. Lagi ngambil getah karet.
Itu Bapak.
Jantungku deg-degan model keenam. Paling kencang dari semua model deg-degan sebelumnya.
"Bapak di situ Kak," bisikku.
Arpan berhenti motor di pematang kebun. Matikan motor. Dia turun duluan. Dia tidak langsung jalan ke Bapak.
Dia lihat aku.
"Laila, kita jalan kaki aja ya dari sini , tidak pakai motor. Biar sopan masuk kebun orang," katanya.
Kami jalan kaki di pematang.
Bapak yang di tengah kebun lihat kami sedang berjalan menuju kedia, bapak berdiri. Topi capingnya dia buka. Muka Bapak hitam kena matahari, keriput.
Bapak diam. Tidak senyum. Tidak marah juga. Hanya diam lihat anaknya pulang bawa laki-laki.
Sampai jarak lima langkah, aku berhenti. Aku tidak berani lanjut. Air mata sudah di ujung mata.takut akan tidak sesuai yang di harapkan oleh Arpan,takut Arpan kecewa.
Arpan yang lanjut lima langkah itu sendirian. Kakinya yang pakai sepatu nginjak dedaunan kering dikampung tepat dikebun bapak ku.
Sampai di depan Bapak, Arpan langsung jongkok. Bukan salaman biasa. Dia jongkok dan ambil tangan Bapak yang bau karet itu, dia cium punggung tangan Bapak lama.
"Assalamualaikum Pak," kata Arpan. Suaranya gemetar. Jauh lebih gemetar dari pas motor mogok di Kuningan. "Saya Arpan Pak. Teman kerja Laila di Jakarta."
Bapak tidak langsung jawab salam . Bapak lihat tangan Arpan yang cium tangannya yang kotor bau karet. Bapak lihat kaki Arpan yang pakai sepatu bagus , beda dengan kaki Bapak.
Baru setelah itu Bapak jawab, "Waalaikumsalam."
Bapak lihat aku yang masih berdiri 5 langkah di belakang, nangis.
"Laila, sini, kenapa tidak berani mendekat!panggil Bapak. Suaranya berat.
Aku jalan pelan, Sampai di depan Bapak, aku juga cium tangan Bapak. Tangan yang kasar, yang kerja di kebun untuk sekolahin aku sampai SMP.
"Bapak," kataku pelan. "Ini Kak Arpan yang Laila cerita di telepon kemarin,menager Laila yang kasih Laila kerjaan selama dijakarta."
Bapak diam lama. Angin dikebun karet dengan pohon yang bergoyang tertiup angin.
Bapak lihat Arpan dari atas sampai bawah.
"Kamu kerja apa di Jakarta?" tanya Bapak akhirnya ke Arpan. Nada datar.
"Saya manager toko hijab Pak, di tempat Laila kerja," jawab Arpan. Tidak bohong, tidak melebih-lebihkan.
"Gaji berapa?" Bapak tanya lagi. Langsung. Petani memang begitu kalau tanya.
Arpan tidak malu. "Gaji saya 8 juta Pak. Tidak banyak."
Bapak angguk. "Terus kamu bawa anak saya pulang mau apa? Anak saya sudah saya bilang jangan pulang bawa laki-laki kalau belum halal."
Ini pertanyaan yang paling aku takut dari kemarin.
Arpan tarik napas panjang. Dia lihat kebun karet itu. lihat rumah kami dari kejauhan yang kelihatan dari situ.
"Pak, saya datang hari ini bukan bawa Laila pulang," kata Arpan. Suaranya sekarang tidak gemetar lagi. Jelas. "Saya datang mau izin bawa Laila pulang lagi nanti setelah halal. Saya tidak punya rumah besar Pak, saya cuma punya niat. Tapi kalau Bapak izinkan, minggu depan saya bawa ibu saya ke sini buat lamaran resmi. Mahar saya belum banyak, tapi saya punya janji tidak akan buat Laila kesusahan dan saya akan bertanggung jawab penuh ke Laila pak.
Bapak diam. Lama sekali. Aku sudah siap dimarahi. Aku sudah siap Bapak bilang pulang sana, jangan bawa laki-laki.
Bapak tepuk bahu Arpan.
"Kamu sudah berani injak kaki di sini, berarti kamu tidak takut kotor," kata Bapak pelan. "Manager Jakarta biasanya takut kotor. Kamu tidak."
Bapak balik badan, ambil ngarep batang karet.
"Ya sudah, ayo pulang. Makan dulu di rumah. Urusan halal kita bicarakan di rumah, jangan di sini. Disi tidak cukup buat bicarakan masa depan anak saya."
Bapak jalan duluan di pematang,
Aku dan Arpan lihat-lihatan. .
Aku bisik, "Kak, Bapak tidak usir."
Arpan angguk, matanya merah mau nangis juga.
Kami jalan bertiga di pematang sawah. Bapak di depan, aku di tengah, Arpan di belakang.
Di belakang kami, motor NMAX pinjaman masih parkir di pematang.
Tuhan, apakah bapak akan merestui hubungan ku dengan Arpan Karena Bapak sudah bilang ayo pulang, bukan pulang sana?!