NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALEA, SIAPA NAYA?

Mendengar pembicaraan Mely dan Hans membuat semua nyaliku terkumpul. Aku memang bukan Naya, tapi di tubuh ini akulah Naya. Apa yang disembunyikan Hans selama ini akan aku ungkap dan cari kebenarannya.

Jika Alea tahu semuanya, kenapa dia tidak menemuiku? Mungkinkah Alea mengetahui semuanya? Pengacara Frans, orang yang dihubungi Alea untuk membantuku... siapa kau sebenarnya, Alea?

"Aku akan menemui Alea sebelum semuanya terbongkar. Alea harus disingkirkan," terdengar suara Hans seraya meletakkan gelas.

"Baiklah Hans, aku akan tetap bersamamu," terdengar suara langkah kaki Mely beranjak pergi.

Puri dan Alex menatapku.

"Naya, kami akan selalu bersamamu," ucap Puri sambil menggenggam tanganku, dan Alex menepuk pundakku.

Waktu menunjukkan jam 11 malam. Langit gelap membuat bulan perlahan naik, menandakan waktu sudah hampir tengah malam.

Kami beranjak untuk tidur. Puri dan Alex harus bekerja seperti biasa, Puri menjadi bawahan Hans sebagai staf dan Alex sebagai tim kreatif acara Mely.

Puri dan aku mulai membaringkan tubuh di atas empuknya kasur yang terbalut kain bermotif buah ceri. Puri mendengkur, menandakan tubuhnya yang lelah terbalut kain tebal yang serasi dengan motif kasur.

Suasana mulai terasa hening seperti biasa, hanya ada suara detik jam dan alunan angin yang menyapu dedaunan. Aku tidak bisa memejamkan mata karena banyak sekali pertanyaan di dalam otakku. Tak terasa, tubuhku yang lelah mengontrol kesadaranku, mataku mulai terpejam mengikuti sinyal tubuh.

Fajar mulai bertamu, tapi mentari tidak ramah seperti biasanya. Puri sudah tidak ada di sebelahku, pintu kamar sudah sedikit terbuka.

Aku beranjak ke ruang tengah. Ruang tengah adalah tempat ternyaman di dalam rumah ini. Naya yang sedang menyiapkan sarapan, Alex yang masih membersihkan diri. Aku membantu Naya menyiapkan sarapan dan membersihkan piring. Aroma masakan Naya berlawanan dengan aroma bunga yang menempel di tubuh Alex.

Semua telah selesai, kami makan bersama sambil berbincang dan bercanda, melupakan masalahku dengan Alex. Rintik hujan mulai jatuh membasahi bumi. Sarapan selesai, Puri dan Alex beranjak pergi bekerja. Hanya aku dan Choco saat Alex dan Puri kerja.

Aku membersihkan sisa sarapan dan merapikan rumah.

Drrr... drrr... suara telepon berdering.

Telepon dari Alea...

"Halo, Alea..." Tidak ada suara, hanya terdengar suara pecahan dan rintihan.

Aku terus memanggil Alea, tapi tetap tidak ada jawaban. Teringat pembicaraan Hans dan Mely semalam membuatku cemas pada Alea.

Aku terus memanggil Alea seraya memakai hoodie. Aku langsung pergi keluar, berlari di tengah rintik hujan seraya mencari taksi, tapi kenapa aku tidak menemukan taksi. Dadaku berdegup, terbayang hal buruk terjadi pada Alea. Aku berlari terus mencari taksi, jarak rumahku dan perumahan Hans cukup jauh, tidak mungkin jika aku hanya menggunakan kaki.

Tiba-tiba ada taksi lewat di depanku. Aku langsung menghadangnya, taksi itu berhenti, aku masuk ke dalam dengan tubuh yang basah.

"Pak, tolong antar ke Perumahan Tangong, tolong cepat, Pak." Taksi melaju dengan cepat, 35 menit perjalanan sampai di perumahan Hans.

Aku langsung keluar dari taksi dan berlari ke rumah Hans. Pintu pagar seperti sudah terbuka, aku masuk ke dalam seraya memanggil Alea, "Alea... Alea..." Pintu rumah tertutup. Aku mendorong pintu, ternyata tidak terkunci. Pecahan kaca dan guci menghiasi lantai rumah. Perasaanku makin tidak karuan, aku terus memanggil Alea.

Melihat sepasang kaki di balik dapur, aku menghampirinya. Ternyata bukan Alea, dia adalah ART di rumah Hans. Tubuhnya sudah bersimbah darah dengan tusukan di perut dan dada.

Terdengar suara benda jatuh yang berasal dari lantai atas. Aku berlari menuju lantai atas, satu per satu kamar ku buka, aku tidak menemukan Alea. Satu kamar lagi yang masih tertutup dan belum aku buka. Di kamar terakhir, aku menaruh harapan besar.

"Semoga Alea ada di dalam." Memegang gagang pintu, kreekk... pintu terbuka.

Aku terkejut dan jantungku seperti sesak melihat Alea terbaring lemas, mata terpejam bersimbah darah. Tubuhku berjalan lunglai menghampiri Alea, aku mengangkat kepala Alea, meletakkannya di pangkuanku.

"Alea bangun, Alea..." Tanpa disadari air mataku menetes.

Alea membuka mata secara perlahan dan berbicara dengan sangat pelan. Alea merogoh kantong bajunya, mengambil amplop coklat yang masih tersegel.

"Naya, lihat ini ketika kau sampai di rumah. Jaga dirimu baik-baik, Naya. Maafkan aku. Aku titip Velyn padamu, tolong selamatkan sepupumu," ucap Alea dengan suara lirih dan napasnya terhenti.

"Aleaaa... Alea bangun, Alea!" seraya menggoyangkan tubuh Alea.

Terdengar suara mobil di luar. Aku bergegas mengintip dari jendela, ada 2 mobil terparkir di depan rumah Hans.

"Siapa mereka? Apa mungkin mereka anak buah Hans?"

Suara mereka berada di lantai bawah seperti ingin membersihkan kejahatan Hans. Suara langkah kaki menaiki tangga menuju lantai atas. Aku panik mencari tempat persembunyian, jika anak buah Hans melihatku mereka akan membunuh atau membawaku.

Aku melihat ada lemari yang cukup besar, aku masuk ke dalam lemari.

Mereka menarik seprai yang ada di kasur dan membalut tubuh Alea menggunakan kain seprai putih. Aku mengintip dari balik pintu lemari yang terbuka hanya 1 inci. Dadaku sangat sesak melihat Alea diperlakukan dengan keji oleh Hans.

Mereka membawa mayat Alea ke bawah dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Aku bergegas keluar melihat mereka pergi, melihat lantai bawah sudah rapi, tidak ada lagi pecahan kaca dan guci yang menghiasi lantai.

Aku berjalan dengan tubuh lunglai, dadaku terasa sesak, air mataku menetes di bawah derasnya hujan seraya menyusuri jalan.

"Apa semua ini?!" Aku berteriak seiring dengan suara petir.

Terdengar suara mobil berhenti di hadapanku, seseorang keluar dari dalam mobil membawa payung bermotif bunga sakura. Wajahnya tidak terlalu jelas, kulihat dengan mata yang berembun di bawah rintiknya hujan. Dia menghampiriku dan memayungiku. Aku melihat ke atas dengan tubuh mungil yang berhadapan dengan pria berbadan tinggi. Aku terkejut saat melihat wajahnya.

"Wajah ini... pria yang aku tuduh mencuri Choco anjingku dan ku tuduh mesum," gumamku dalam hati.

"Hei, sedang apa kau hujan-hujanan?" ujarnya seraya menarikku ke dalam mobilnya.

Mobil berjalan melintasi aspal yang basah, menerobos derasnya hujan. Aku hanya diam di dalam mobil, rasanya ingin bicara pun tenggorokanku tercekat.

"Hei, aku akan mengantarmu. Di mana rumahmu?" tanya pria itu.

"Turunkan aku di belakang taman olahraga," jawabku. Seraya keluar dari mobil, pria itu memanggilku dan menyebutkan namanya.

"Hei, namaku Vanka," ujarnya.

Aku hanya tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.

"Terima kasih tumpangannya." Aku menutup pintu mobil.

Kreek... pintu rumah terbuka, aku masuk ke dalam rumah dengan pakaian basah kuyup. Aku duduk di meja lalu mengambil amplop coklat yang diberikan Alea.

*Bersambung...

1
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!