Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bruk.
Tubuh pemimpin Kultus Bayangan itu dilemparkan dengan kasar ke atas lantai marmer aula utama istana.
Pria berjubah hitam itu mengerang kesakitan saat tulang rusuknya membentur lantai yang keras tersebut.
Tap tap tap.
Wang Hao dan Mulan berjalan memasuki ruangan dengan sisa-sisa embun pagi menempel di pakaian mereka.
Mereka baru saja kembali dari perbatasan setelah melakukan pembantaian bersih di area tambang spiritual.
"Kami membawa oleh-oleh dari tambang spiritual batu hitam, Bos," lapor Wang Hao dengan suara lantang.
"Orang ini tahu persis apa yang sedang direncanakan oleh sekte besar di ibu kota provinsi."
Di ujung aula, Yang Zhen sedang duduk santai menikmati teh paginya di atas singgasana penguasa kota.
Su Lin duduk dengan anggun di sebelahnya sambil membaca sebuah gulungan bambu kuno peninggalan istana.
Di sudut meja, sebuah golem baja setinggi manusia berdiri kaku memegang nampan berisi buah-buahan segar.
Itu adalah Leluhur Ye Chen yang kini harus menjalani kehidupan abadi barunya sebagai pelayan pengantar makanan.
"Kalian kembali lebih cepat dari perkiraanku," sambut Yang Zhen meletakkan cangkir tehnya perlahan.
"Jadi, apa rencana hebat yang disembunyikan oleh sekte arogan dari ibu kota itu?"
Mulan melangkah maju dan menundukkan kepalanya memberi hormat kepada gurunya.
"Mereka tidak mengirim pasukan biasa untuk membalas dendam kematian utusan mereka, Guru," jelas Mulan dengan ekspresi serius.
Gadis tomboi itu melirik tajam ke arah tawanan yang masih gemetar di lantai.
"Sekte Pedang Langit mengirim tiga Tetua Inti tingkat Langit sekaligus untuk menyerbu kota kita besok pagi."
Leluhur Ye yang berwujud golem baja langsung menjatuhkan nampan buahnya ke lantai akibat terkejut.
Klotang.
Buah anggur dan apel menggelinding berantakan ke segala arah di atas lantai marmer.
Tentu saja sebuah invasi besar dari ibu kota sangat mengagetkan jiwa pendiri kota tersebut.
"Tiga Tetua Inti Tahap Langit?! Ini adalah bencana kiamat bagi Kota Awan Merah!" seru Leluhur Ye dengan suara logamnya yang bergema panik.
"Satu petarung Tahap Langit saja sudah cukup untuk meratakan satu gunung kecil, apalagi tiga orang sekaligus!"
Yang Zhen menatap tajam ke arah pelayan kalengnya itu dengan pandangan yang sangat menusuk.
"Pungut kembali buah-buah itu, Pelayan Ye," perintah Yang Zhen dengan nada sedingin es.
Golem baja itu langsung menunduk dan mulai memunguti buah-buahan tersebut dengan tangan gemetar.
Harga dirinya sebagai pendiri kota benar-benar tidak tersisa sedikit pun di hadapan pemuda lalim ini.
Yang Zhen kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tawanan Kultus Bayangan yang masih berlutut ketakutan.
"Tiga orang tua bangka tidak akan turun gunung hanya untuk membalaskan dendam seorang murid rendahan," analisis Yang Zhen dengan cerdas.
Pemuda itu menopang dagunya menggunakan tangan kanan dan tersenyum sinis.
"Apa tujuan asli mereka datang ke mari, Tuan Kultus?" interogasi Yang Zhen dengan suara rendah yang mengancam.
Pria berjubah hitam itu menelan ludahnya, matanya melirik liar ke arah golem baja dan pemuda di singgasana.
Ia merasa aura di dalam ruangan ini jauh lebih mengerikan daripada ruang penyiksaan sektenya sendiri.
"M-mereka mengincar energi prasejarah yang tertidur di bawah istana ini," jawab pria itu dengan suara serak.
"Mata-mata sekte berhasil mendeteksi adanya lonjakan energi iblis yang sangat murni saat formasi pelindung istana ini hancur."
Su Lin menutup gulungan bambunya dan mendengus pelan mendengar alasan tersebut.
"Rupanya tikus-tikus dari ibu kota mencium aroma darah dari kebocoran energi semalam," komentar Su Lin dengan wajah datar.
"Mereka ingin merampas Jiwa Iblis Darah Kuno itu untuk dijadikan inti formasi baru di sekte mereka," lanjut tawanan itu terbata-bata.
"Jika mereka berhasil menyerap energi itu, Sekte Pedang Langit akan menjadi penguasa mutlak di seluruh kekaisaran."
Yang Zhen justru tertawa pelan mendengar ambisi besar dari musuh-musuhnya tersebut.
Hahaha.
Tawa itu menggema di aula utama, membuat semua orang di ruangan itu merasakan hawa dingin merayap di punggung mereka.
Pemuda itu sama sekali tidak merasa terancam, melainkan merasa sangat dihibur oleh keserakahan manusia.
"Mereka ingin mengambil peliharaanku untuk dijadikan baterai formasi mereka?" ucap Yang Zhen menggelengkan kepalanya.
"Orang-orang tua itu benar-benar tidak tahu malu."
Wang Hao mengepalkan kedua tangannya hingga terdengar suara tulang yang saling bergesekan.
Krak krak.
"Bos, izinkan aku berdiri di barisan depan untuk menyambut tiga kakek tua itu besok pagi," pinta Wang Hao dengan penuh semangat tempur.
"Aku ingin melihat apakah kulit bajaku bisa mematahkan pedang terbang mereka."
Mulan segera memukul lengan perunggu rekannya itu dengan pedang kayunya.
Tuk.
"Jangan bodoh, Hao. Petarung Tahap Langit bisa memotong udara dan menghancurkan organ dalammu tanpa perlu menyentuh kulit bajamu," tegur Mulan secara rasional.
Yang Zhen berdiri dari singgasananya dan melangkah menuruni tangga pualam dengan sangat anggun.
"Mulan benar, kita tidak akan mengorbankan kalian untuk melawan monster-monster tua itu dalam pertarungan jarak dekat," setuju Yang Zhen.
Pemuda berpakaian putih itu berjalan mendekati Leluhur Ye yang baru saja selesai memungut buah terakhir.
"Pelayan Ye, kau adalah arsitek asli dari istana ini," sapa Yang Zhen menepuk bahu logam golem tersebut.
Teng.
Suara tepukan tangan pada baja murni itu terdengar nyaring di ruangan sunyi tersebut.
"Berapa banyak batu spiritual yang dibutuhkan untuk mengaktifkan seluruh jaringan sirkuit di bawah halaman depan?" tanya Yang Zhen langsung pada intinya.
Leluhur Ye terdiam sejenak, mata birunya berkedip-kedip mencoba mengingat cetak biru istananya.
"Sekitar seratus ribu batu spiritual tingkat menengah, Tuan Yang," jawab sang golem dengan nada hormat.
Sisa jiwa itu mulai menjelaskan keterbatasan dari bangunan yang ia buat ratusan tahun lalu.
"Tapi sirkuit itu sudah lama rusak dan formasinya tidak lagi relevan untuk pertarungan zaman sekarang."
Yang Zhen tersenyum iblis dan mengeluarkan sebuah gulungan perkamen kosong dari cincin dimensinya.
"Kau tidak perlu memikirkan formasinya, Pelayan Ye. Aku yang akan merancang sistemnya," balas Yang Zhen menempelkan perkamen itu di atas meja.
"Aku hanya membutuhkan tangan logammu yang tidak pernah kenal lelah untuk menggali dan menanamkan sirkuit baru di halaman depan malam ini juga."
Leluhur Ye menganggukkan kepala logamnya tanpa berani membantah sedikit pun.
"Sesuai perintahmu. Saya akan membongkar seluruh pelataran depan jika itu yang Tuan inginkan," patuh sang golem kuno.
Yang Zhen kemudian menoleh ke arah pemimpin Kultus Bayangan yang masih terduduk lemas di lantai.
"Dan untukmu, pembawa pesan yang sangat kooperatif," ucap Yang Zhen dengan suara lembut yang mematikan.
Pria itu mengangkat kepalanya dengan secercah harapan palsu di matanya.
"A-apakah kau akan melepaskanku sekarang?" tawar pria itu dengan suara bergetar.
Syuut.
Yang Zhen mengayunkan tangannya dengan ringan, menciptakan sebuah pisau angin yang melesat membelah udara.
Cras.
Kepala pria berjubah hitam itu langsung terpisah dari tubuhnya dengan potongan yang sangat halus dan rapi.
Darah segar mengalir membasahi lantai marmer yang baru saja dibersihkan tadi pagi.
"Aku membebaskanmu dari rasa takutmu," jawab Yang Zhen menatap mayat tanpa kepala itu dengan pandangan sedingin es.
Pemuda itu mengibaskan tangannya untuk menghilangkan sisa elemen angin yang tajam.
"Hao, buang sampah ini ke luar tembok istana," perintah Yang Zhen berjalan kembali ke mejanya.
"Jangan sampai darah kotornya merusak pemandangan halaman depan yang akan segera kita pugar."
Wang Hao segera menyeret mayat itu keluar ruangan tanpa banyak bertanya.
"Siap, Bos! Aku akan melemparkannya ke selokan kota!" sahut pemuda botak itu dengan ceria.
Su Lin melangkah mendekati meja Yang Zhen dan melihat perkamen kosong tersebut.
"Kau tidak terlihat khawatir sedikit pun menghadapi invasi skala besar besok, Yang Zhen," komentar Su Lin menyandarkan tubuhnya ke meja.
Yang Zhen mengambil sebuah kuas tinta dan mulai menggoreskan garis-garis rumit di atas perkamen itu.
"Kekhawatiran adalah emosi yang hanya dimiliki oleh orang miskin dan orang bodoh, Istriku," jawab Yang Zhen dengan sangat sombong.
Pemuda itu mencelupkan kembali kuasnya ke dalam mangkuk tinta.
"Kita baru saja memeras ratusan juta koin emas dari kota tetangga. Ini adalah saat yang tepat untuk menghamburkan uang itu demi sebuah pertunjukan kembang api berdarah."
Rancangan jebakan mematikan bagi para petarung Tahap Langit mulai digambar dengan sangat presisi.
Kota Awan Merah tidak akan gentar menyambut perang, karena penguasa barunya telah mempersiapkan ladang pembantaian yang mustahil ditembus oleh siapa pun.