Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Tepat setelah panggilan diputuskan begitu saja, tiga orang saling menatap dalam diam.
Loud speaker yang terdengar keras selama panggilan berlangsung justru semakin memperjelas apa yang terjadi di ujung sana.
“Soraya? Kakak ada di apartemen perempuan bernama Soraya? Iya, kan?” Patris masih syok karena Ayah dan Ibunya sama sekali tidak memberikan tanggapan.
Cukup lama menunggu tanpa mendapatkan reaksi, Patris menutup mulut dengan satu tangan, benar-benar kebingungan.
“Ayah? Ayah serius diam saja? Maksudku, bagaimana bisa? Situasi Kakak tadi sangat aneh. Bagaimana bisa dia ada di apartemen seorang perempuan, kecuali….”
“Shh! Patricia, jangan sembarangan bicara. Nanti bisa didengar orang,” peringat Jiah.
Namun, peringatan Ibunya justru terdengar seperti teguran bagi Patris dan membuatnya semakin tidak percaya.
“Hello? Bagaimana bisa aku sembarangan bicara, Bu? Memangnya aku tuli atau semacamnya sampai tidak bisa mendengar kalau Kakak ada di apartemen perempuan bernama Soraya, yang juga diisi suara perempuan-perempuan lain?”
“Patricia.”
“Ibu… Kakak memang Kakakku, tapi Hana juga sahabatku. Wajarlah kalau aku mempertanyakan apa yang terjadi.”
Tidak sabar menunggu Ayah dan Ibunya, Patris tiba-tiba mengambil ponsel dan hendak menghubungi Alexander. Namun, tindakannya segera dihentikan sang Ayah dengan teguran yang tidak bisa dibantah.
“Kakakmu mengatakan akan menghubungi kita kembali, jadi mari tunggu saja. Jangan gegabah dan berasumsi. Kita harus mempercayai Kakakmu.”
Mendengar itu, Patris memutar bola matanya tidak percaya. Dengan melengos, ia menyandarkan tubuhnya. Ia tidak menyangka ulahnya melaporkan sang Kakak justru akan membawa beban sebesar ini untuk dirinya sendiri.
“Ya, mari tunggu saja. Tapi kalau sampai Kakak melakukan sesuatu yang tidak-tidak… Oh, gosh. Aku bahkan tidak bisa membayangkannya.”
•
•
Kembali pada Alexander, dia yang terhimpit oleh keadaan, hanya bisa mengangkat kedua tangan seolah-olah tanda menyerah—entah kepada siapa dan untuk apa.
“Anda siapa?” tanya Julia waswas.
Saat ini, mereka bertiga duduk saling berhadapan di ruang tamu. Alexander sempat kesulitan menenangkan dua gadis yang merupakan sahabat Soraya.
“Saya memiliki hubungan dengan Soraya, tapi biarkan Soraya sendiri yang menjelaskannya.”
“Hubungan? Hubungan apa? Jangan mengaku-ngaku sebagai kakak atau pamannya, ya. Kami mengenal anggota keluarga Soraya, dan tidak ada satu pun yang ber-ras sepertimu.”
Membicarakan ras, Alexander hanya mengangguk-angguk. Ia juga tidak berniat berpura-pura menjadi saudara Soraya. Lagi pula, siapa pun yang melihat mereka tidak mungkin menemukan kesamaan.
Soraya memiliki mata bulat besar dengan bulu mata lentik, sementara Alexander memiliki mata yang sedikit monolid.
“Nes, coba telepon si Sor,” suruh Julia sambil berbisik.
Alexander memilih tidak berkata lebih banyak. Ia hanya terus meminta keduanya menunggu Soraya karena tidak ingin melewati batas tanpa seizin perempuan itu.
Beruntung, panggilan segera tersambung. Lebih beruntung lagi, Soraya ternyata sudah berada di depan apartemen.
Mendengar kabar bahwa Ines dan Julia datang tanpa memberi tahu, Soraya langsung berlari masuk. Ia bahkan lupa bahwa dirinya sedang hamil.
KLEK.
Pintu terbuka dengan terburu-buru, menampakkan Soraya yang tangannya penuh dengan kantong belanjaan.
“Kalian datang kok nggak bilang-bilang?” protesnya.
Namun, alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru menerima tatapan aneh dari kedua sahabatnya. Keduanya tidak bisa berhenti memperhatikan penampilan Soraya yang mengenakan pakaian serba tertutup di tengah musim panas.
“Lah, Sor, kau—”
Perkataan Ines terhenti di udara ketika Alexander tiba-tiba mendekati Soraya dan mengusap wajahnya dengan sapu tangan.
“Kamu berlari sampai pucat, hah?”
Ada nada teguran dalam suaranya, membuat Ines dan Julia saling berpandangan dengan mata hampir melompat keluar.
Soraya yang diperlakukan seperti itu tidak bisa menahan rasa salah tingkah di depan kedua sahabatnya.
“Duh, Kak Alexander, apaan sih….” Ia segera melepaskan tangan Alexander.
“Kak? Kakaknya?”
“Weleh, anak istri ke berapa?”
“Mamanya pasti orang luar negeri.”
Bisik-bisik Julia dan Ines masih terdengar jelas oleh Soraya dan Alexander.
Alexander yang mendengarnya hanya kebingungan. Sementara itu, Soraya justru kesal bukan main. Kalau saja ini seperti adegan di film-film, mungkin asap sudah keluar dari kepalanya karena menahan emosi.
“Kak Alexander, sebentar ya. Aku mau bicara sama mereka.”
Setelah meminta izin, Soraya langsung menarik Ines dan Julia keluar.
Ketiganya berbicara di luar setelah pintu apartemen ditutup. Namun, Alexander yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya tentang Soraya—terlebih setelah mendengar pembicaraan random kedua sahabatnya yang sama sekali tidak masuk akal—semakin ingin tahu.
Akhirnya, ia melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak terpuji, yakni berusaha sebaik mungkin untuk menguping.
“Duh, kalian kok bisa ke sini nggak bilang-bilang?”
“Helah, Sor! Kau ini kenapa, sih? Baru sekarang kita mau datang harus lapor dulu. Iya nggak, Nes?”
Ines mengangguk dengan kedua tangan terlipat di dada dan alis terangkat penuh kecurigaan.
“Sor, Kakakmu yang ini anak haram Ayahmu, ya?”
“Eh, buset! Mulutmu!”
Namun, Ines masih mempertahankan wajah seriusnya.
“Kalau begitu, pasti anak dari Ibumu?”
“Oh, astaga….”
Soraya mengusap wajah dengan kedua tangan, tidak percaya. Ia baru sadar bahwa tubuhnya memang berkeringat dingin meskipun udara sedang hangat.
Namun, mau bagaimana lagi? Pohon keluarganya memang kacau dan tidak seperti keluarga kebanyakan. Wajar jika kedua sahabatnya mengira Alexander adalah anak haram Ayah atau Ibunya.
“Tunggu deh, Nes. Soraya, kau sakit, ya?” tanya Julia akhirnya, setelah menyadari kondisi sahabatnya.
Soraya yang ditanya seperti itu hanya memegang kepalanya cukup lama sambil berpikir. Ia merasa perlu mengatakan yang sebenarnya karena dirinya juga membutuhkan dukungan emosional dari kedua sahabatnya.
“Ines, Julia...”
“Hmmm,” jawab keduanya serentak.
Entah bagaimana, suasana tiba-tiba berubah serius.
“Ada yang ingin aku katakan, tapi berjanjilah untuk tidak membuat kehebohan.”
Julia dan Ines langsung berpandangan dengan gugup. Keduanya bahkan refleks menegakkan punggung.
“Ya, katakan saja, Sor. Yang penting jangan bilang kau habis merampok bank.”
Ines langsung mendapatkan toyoran dari Julia.
“Aku serius, nih….”
“Iya, sudah. Oke. Katakan.”
Soraya menarik napas panjang dalam-dalam sebelum akhirnya mengatakannya sekaligus.
“Aku hamil.”
“APAAAAAA?”
“SHUTTTTTT!”
Soraya berusaha menahan kedua sahabatnya agar tidak membuat keributan, tetapi keduanya tetap tidak bisa menahan diri.
“Kau kan mandul? Gimana bisa?! Cangkok?”
Julia lagi-lagi tidak tahan untuk menggetok kepala Ines. Tidak heran gadis itu tidak mendapatkan beasiswa.
Soraya memutar bola mata dengan jengah. Ia menolak berbicara lebih lanjut kecuali kedua sahabatnya bersedia bersikap kondusif.
Karena terlalu penasaran, Ines dan Julia akhirnya patuh untuk diam. Meski begitu, setiap penjelasan yang keluar dari mulut Soraya tetap membuat keduanya ternganga tidak percaya.
“Tapi, Sor… dia mau bertanggung jawab, kan?”
Soraya mengangguk, sebelum tiba-tiba menggeleng cepat.
“Dia tidak bersedia kalau hanya memberikan uang. Maunya menikah juga. Kek apa sih maksudnya, kan?” keluh Soraya, yang membuat Julia ingin menggetok kepala Soraya.
“Tapi, Sor, Kakakmu Laith sudah tahu belum?” tanya Ines.
Mendengar nama Laith, Soraya tampak sedikit tidak nyaman sebelum akhirnya menggeleng pelan.
“Wih, gila. Masa Kakakmu belum diberi tahu?”
Soraya menggigit kuku sambil membayangkan bagaimana dirinya harus memberi tahu Laith.
“Gimana, ya? Nanti dimarahi….”
“Iya, lah, dimarahi. Masa dinikahi,” sambung Julia.
“Ya, nggak apa-apa juga kalau dinikahi. Dalam budaya kalian, sepupu jauh bisa menikah. Iya kan?”