NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:56.2k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Leonardo masih memeluk Zaira dalam dekapannya, seolah melepaskannya adalah sebuah penistaan. Napas mereka yang tersengal saling berbaur, hangat, pekat, lengket oleh hasrat yang terpuaskan... namun belum kenyang. Udara di antara mereka bergetar, sarat listrik erotis, seakan dunia berhenti berputar dan yang tersisa hanyalah debar liar jantung mereka.

Zaira mencoba bergerak, masih gemetar, kulitnya meremang dan kakinya lemas, tapi pria itu tak mengizinkannya. Ia mencengkeramnya lebih kuat, bagai hewan yang masih menjaga mangsanya. Tatapan gelapnya menghunjam mata Zaira, tajam, membara, berbahaya.

"Ini tidak cukup," geramnya dengan suara serak, kasar oleh kenikmatan yang ditahan. "Sekali saja tidak cukup bagiku. Tidak denganmu."

Kalimat itu menembus Zaira bagai kilat, merampas udara dari paru-parunya. Perutnya berdenyut oleh gelombang hasrat yang baru, sementara panas di antara pahanya kembali menyala. Ia merasakan pria itu mengeras lagi menekan perutnya, berdenyut, mendesak.

"Tunggu..."

Ia tak sempat berkata lebih banyak. Leonardo mengangkatnya dengan kemudahan yang membingungkan, seakan tubuh Zaira sudah menjadi bagian dari tubuhnya. Ia melangkah menyusuri lorong dengan langkah tegas dan mantap, lantai dingin menyentuh telapak kaki telanjang Zaira sementara gadis itu berpegangan pada bahunya dengan jantung berpacu.

Ia mendorong pintu kamar mandi dengan bahu dan masuk tanpa berhenti. Ruangan itu remang, hanya diterangi cahaya hangat dari cermin yang memantulkan kilau keemasan pada marmer putih dan kaca. Udaranya beraroma sabun, uap, dan kini juga aroma mereka... seks yang baru saja terjadi, keringat, hasrat.

Ia mendudukkan Zaira di atas wastafel marmer, dan dingin yang menyentuh kulitnya yang membara membuat gadis itu terengah, melengkung, dengan getaran yang naik menyusuri tulang belakang hingga tertancap di tengkuknya. Cermin di hadapannya memantulkan gambaran yang memporak-porandakan: bibir yang masih bengkak oleh ciuman, rambut kusut, pipi merona, dan mata yang membesar oleh hasrat.

Leonardo membuka keran pancuran dan suara air memenuhi ruangan bagai air terjun yang menyelimuti. Uap mulai naik perlahan, membelai tubuh mereka. Ia mengambil spons basah dan menyabuninya dengan kelembutan yang berdosa, menelusuri setiap senti kulit Zaira. Ia melewati leher, tulang selangka, payudara, perutnya... hingga tiba di pusat kewanitaannya.

"Jangan..." bisik Zaira, merapatkan pahanya karena malu, tapi tubuhnya sudah mengkhianatinya, memohon, basah kuyup.

"Ssst..." gumam Leonardo, membelainya dengan spons lalu dengan telapak tangan terbuka, menyentuhnya dengan kelembutan erotis yang melucuti pertahanannya. "Aku suka melihatmu begini... begitu nyata, begitu berserah."

Ketika ia membalik tubuh Zaira dan menempelkannya ke dinding, kulitnya yang panas berkontras dengan keramik yang dingin, memancing erangan lagi. Pria itu merapat ke punggungnya, ereksinya menyelinap di antara pantatnya yang basah, satu tangan mencengkeram pinggul Zaira sementara tangan yang lain menyibakkan rambutnya untuk mencium lehernya.

"Lihat dirimu," bisiknya, napasnya menyusuri telinga Zaira sambil membelainya. "Cantik luar biasa. Begitu milikku."

Zaira memiringkan kepala sedikit dan menatap dirinya di cermin samping. Gambaran yang dilihatnya liar, mentah, penuh daya. Telanjang, basah, punggung melengkung, dan bibir setengah terbuka... mendambakan sesuatu yang mustahil sekali lagi.

"Kamu gila..." gumamnya, nyaris tak terdengar.

"Untukmu, semua itu sepadan."

Leonardo berlutut di belakangnya, dan bibirnya mulai melukis jejak membara di sisi dalam paha Zaira. Uap kamar mandi mengembun menjadi tetesan di tubuh mereka, membuat keduanya saling meluncur. Ketika lidahnya menyentuh pusat kewanitaannya, Zaira mencengkeram tepi wastafel dengan jeritan tertahan.

"Oh... Leo..."

Lidah pria itu bergerak dengan irama yang sabar dan kejam, menikmatinya seolah gadis itu adalah santapannya. Bunyi-bunyi basah memenuhi kamar mandi, berbaur dengan napas terengah Zaira, deras air, dan gema intim penyerahan dirinya. Jari-jari Zaira menyusup ke rambut basah Leonardo, memandunya tanpa sadar sementara pinggulnya gemetar menekan mulut pria itu.

Dan tepat ketika orgasme mendekat bagai badai, Leonardo berhenti.

"Jangan... jangan berhenti," rintihnya putus asa.

Leonardo bangkit, bibirnya berkilau, matanya membara bagai bara.

"Sekarang," gumamnya menempel bibir Zaira. "Aku ingin melihatmu hancur dengan menyebut namaku sekali lagi."

Tanpa peringatan, ia menembus Zaira dengan hentakan mantap dan dalam, membuat gadis itu terengah seketika. Punggungnya menghantam lembut dinding setiap kali pria itu menghunjam, sementara uap air menyelimuti tubuh mereka bagai kabut tebal. Marmer yang dingin tak lagi berarti di hadapan api yang membakar di dalam diri mereka.

"Kamu begitu rapat, Zaira... begitu sempurna sialan untukku," gumam Leonardo dengan suara pecah, mencium tengkuk gadis itu sambil menghunjam lebih cepat.

Zaira hanya sanggup merintih, menyebut namanya, menancapkan kuku ke lengan pria itu. Ia hancur, remuk menjadi abu, dan pada saat yang sama lebih hidup dari sebelumnya.

Leonardo mengangkat Zaira tanpa melepaskan diri dari tubuhnya, membawanya ke ranjang. Kamar itu dipenuhi kelembapan, uap, dan hasrat yang menggetarkan.

Ia membaringkan Zaira membelakanginya, dengan lutut terbuka. Ia menghunjamnya kuat sementara kedua tangannya menangkup payudara gadis itu dan mulutnya membisikkan kekotoran yang manis ke telinganya.

"Begini aku menyukaimu... berserah... hilang karenaku..."

"Terus... kumohon... jangan berhenti..."

Sensasi penuh itu tak tertahankan. Zaira menjerit menyebut nama Leonardo ketika orgasme kedua meremukkannya, tubuhnya berguncang bagai dawai tegang yang akhirnya terlepas.

Leonardo menyusul beberapa detik kemudian, terbenam sampai ke pangkal, mengaumkan kenikmatannya bagai binatang buas yang menandai wilayahnya.

Mereka terdiam, hanya bunyi napas berat yang memenuhi kamar. Tubuh mereka yang basah menempel di ranjang, tak peduli pada kelembapan, tak peduli pada dunia luar.

Leonardo menyandarkan Zaira ke dadanya, seakan ingin menyimpannya di dalam dirinya.

"Kali ini..." bisiknya akhirnya, suaranya masih serak, napasnya membelit rambut Zaira. "Kali ini kamu tidak akan kabur dariku."

Zaira tak menjawab. Ia tak sanggup. Ia hanya mempererat pelukannya pada pria itu, dengan mata terpejam, jantung berdegup bagai genderang perang.

Karena jauh di lubuk hatinya... ia tahu dirinya sudah tak ingin lari lagi.

Dan tubuhnya... sudah menentukan pilihan.

1
Rinh@ Ayong
ke giliran c ziara hamil maneh embung tanggung jawab, trus malah nyudutkeun lain benih maneh.
biasana Kitu wae geura konflik na teh
Enik Ulandari
aku suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!