Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Meja Makan
Kirana membungkukkan tubuhnya sedikit dengan penuh kesantunan, memberikan penghormatan tulus di hadapan wanita sepuh yang amat dipatuhi oleh seluruh klan Wijaya tersebut. "Selamat malam, Eyang," bisiknya lembut dengan nada suara yang jernih dan tenang.
Eyang memandangi Kirana lebih dekat. Kerutan di sudut mata senjanya perlahan memudar, berganti menjadi seulas senyuman hangat yang jarang sekali diperlihatkan kepada siapapun di mansion ini. Tangan renjatnya yang dihiasi cincin giok kuno terangkat perlahan, mengusap lembut jemari Kirana.
"Kamu cantik sekali, Nak," ucap wanita sepuh itu tulus, suaranya mengalun hangat menembus keheningan ruangan.
Suasana di aula utama seketika membeku. Shinta, ibu tiri Rian, beserta para sepupu yang tadinya bersiap menyaksikan Kirana dipojokkan, membelalakkan mata tak percaya. Sang matriark yang biasanya sangat dingin dan selektif terhadap orang asing, kini menatap Kirana dengan binar kebanggaan yang tak tertutupi.
"Eyang yakin kamu punya kelebihan yang tidak semua wanita punya... Makanya Rian sangat tertarik padamu," tambah sang Eyang seraya melirik lembut ke arah cucu kesayangannya. "Pria seperti Rian tidak pernah memilih pendamping hanya dari sekadar rupa, tapi dari keteguhan hati dan ketulusan jiwanya."
Rian mendongak menatap neneknya dari atas kursi roda, mengulas senyum tipis yang penuh kepuasan. "Pilihan Rian tidak pernah salah, Eyang."
"Bagus... sangat bagus," ujar Eyang seraya mengetukkan tongkatnya pelan ke lantai, lalu mengandeng tangan Kirana untuk berjalan di sampingnya. "Mari ke meja makan. Malam ini, Eyang ingin berbincang banyak dengan cucu menantu Eyang yang baru ini."
Kirana menoleh sekilas ke arah Rian. Di balik sandiwara kursi roda dan intrik keluarga besar yang mengintai di sekeliling mereka, Kirana tahu bahwa restu tulus dari Eyang adalah langkah besar pertamanya untuk berdiri tegak di dalam klan Wijaya.
Langkah Eyang yang tadinya hendak menuntun Kirana menuju ruang makan mendadak terhenti. Suasana yang tadinya diwarnai kehangatan seketika membeku kembali.
Di sudut ruang keluarga, Arsyila—sepupu Rian yang merupakan anak dari paman Rian—berdiri bersedekah tangan dengan wajah menyeringai penuh cemooh. Gaya pakaiannya dipenuhi barang-barang bermerek yang mencolok, namun tatapan matanya terpancar dengki dan rasa tidak puas.
"Huh... pasti dia gadis murahan yang ditemukan Rian di jalanan," celetuk Arsyila tanpa rasa bersalah, suaranya sengaja dikencangkan agar terdengar oleh seluruh anggota keluarga. "Dari penampilannya saja sangat tidak mencerminkan aura orang kaya. Entah pelet apa yang dia pakai sampai bisa masuk ke rumah ini."
Bisik-bisik riuh langsung menjalar di antara beberapa kerabat lain. Shinta, ibu tiri Rian, hanya tersenyum tipis menyembunyikan kepuasan di balik cangkir tehnya, sengaja membiarkan Arsyila memojokkan Kirana.
Kirana merasakan jemarinya sedikit gemetar. Namun, ketimbang membalas dengan amarah atau menunduk lemah menangis, Kirana justru berdiri tegak. Pengalaman hidupnya yang keras di panti asuhan serta luka pengusiran dari keluarganya sendiri telah menempa jiwanya menjadi sangat tangguh. Ia menatap Arsyila dengan sorot mata yang tetap jernih dan tenang.
"Arsyila!" bentak sang Eyang seraya menghentakkan tongkat kayunya keras-keras ke lantai marmer. Suara dentuman itu bergema, seketika membungkam seluruh ruangan. "Jaga mulutmu! Siapa yang mengajarkanmu bersikap tidak sopan pada keluarga sendiri?"
Sebelum Arsyila sempat membela diri, Rian yang duduk di atas kursi roda memutar posisinya. Aura dingin dari tubuh Rian mendadak memancar sangat kuat, mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya. Matanya yang tajam bak elang mengunci wajah sepupunya itu tanpa ampun.
"Aura orang kaya mungkin bisa dibeli dengan uang orang tuamu, Arsyila," ujar Rian dengan suara bariton yang berat, dalam, dan penuh penekanan yang menusuk. "Tapi harga diri, kecerdasan, dan tata krama tidak bisa dibeli. Kirana adalah istri sahku, pilihan hidupku, dan Nyonya Muda Wijaya. Sekali lagi aku mendengar ucapan lancang seperti itu keluar dari mulutmu atau siapa pun di ruangan ini, aku pastikan seluruh tunjangan dan posisi keluargamu di Wijaya Group dicabut malam ini juga."
Wajah Arsyila seketika pucat pasi. Ayah Arsyila—paman Rian yang bergantung hidup pada saham perusahaan—langsung melotot pada anaknya dan menarik lengan Arsyila agar menunduk minta maaf.
"M... maafkan aku, Rian... maaf, Eyang..." bisik Arsyila terbata-bata dengan ketakutan luar biasa.
Rian tak memedulikannya lagi. Ia menoleh ke arah Kirana, memberikan tatapan lembut yang menyiratkan perlindungan mutlak. Kirana mengangguk pelan, menyenggol lembut tangan suaminya sebagai tanda terima kasih. Di hadapan klan besar Wijaya, Kirana membuktikan bahwa ia tidak mudah ditindas, dan Rian menegaskan bahwa siapa pun yang mengusik Kirana, sama saja memancing kemarahan sang penguasa Wijaya Group.