NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 13

Suasana di dalam ruang rapat utama terasa begitu pengap. Yevone berdiri menunduk di ujung meja, menggigit bibir bawahnya menahan air mata yang mendesak keluar. Di hadapannya, Rendi dan Kevin tersenyum puas melihat mangsa mereka sudah tak berdaya, sementara Kakek Surya memijat pelipisnya dengan raut wajah penuh amarah.

Ceklek.

Pintu ruang rapat yang terbuat dari kaca buram itu tiba-tiba terbuka. Semua kepala serentak menoleh.

Theodore melangkah masuk dengan tenang. Pakaiannya masih sama lusuhnya dengan tadi pagi. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah kotak bekal plastik berwarna biru muda. Ia berjalan santai melewati para direksi yang menatapnya dengan pandangan merendahkan, langsung menuju ke arah Yevone.

"Ngapain kamu ke sini, gembel?! Ini rapat direksi internal Keluarga Mahendra! Keluar sana!" bentak Rendi sambil menggebrak meja, merasa momen kemenangannya diganggu oleh seekor lalat.

"Bekal Yevone ketinggalan di meja makan tadi pagi. Dia belum sarapan," jawab Theodore dengan ekspresi datar tanpa dosa, menyodorkan kotak plastik itu ke tangan istrinya.

Yevone menatap suaminya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa malu karena Theodore muncul di saat ia sedang dipermalukan habis-habisan, tapi di sisi lain, kehadiran pria ini entah kenapa selalu memberinya sedikit rasa aman.

"Theo, kamu pulang aja dulu ya. Aku masih ada urusan," bisik Yevone pelan sambil menerima kotak bekal itu.

"Alah, drama murahan! Suami istri sama-sama nggak tahu malu!" cibir Kevin dari kursinya. Ia menoleh ke arah kakeknya. "Kek, suruh sekuriti seret benalu ini keluar aja. Rapat kita harus segera dilanjut buat nentuin hukuman Yevone."

"Biarkan saja dia di situ," sela Rendi dengan senyum culas. Ia merapikan jasnya lalu menatap Theodore dengan pandangan mengejek. "Biar si gembel ini lihat langsung betapa busuknya kelakuan istri yang selama ini dia bangga-banggakan. Biar dia tahu kalau istrinya ini maling uang keluarga."

Theodore tidak membalas. Ia hanya bergeser satu langkah ke belakang Yevone, berdiri diam menyilangkan tangan di dada. Namun, di balik saku celananya, jempol kanannya menekan tombol 'Enter' pada layar ponsel yang sejak tadi sudah ia siapkan untuk memberi aba-aba pada Leo.

"Kek, mari kita sudahi rapat ini. Saya akan tunjukkan rincian log transfer ilegal dari server pusat ke rekening bayangan Yevone," ucap Rendi lantang.

Ia mengambil *remote* proyektor di atas meja, lalu menekannya dengan penuh percaya diri.

Layar putih besar di ujung ruangan langsung menyala. Namun, alih-alih menampilkan *spreadsheet* laporan audit keuangan seperti yang Rendi harapkan, layar itu mendadak berkedip-kedip hijau. Terdengar suara dengungan statis yang cukup keras dari *speaker* ruangan.

"Loh, kenapa ini? Proyektornya rusak ya?" gumam Rendi panik, menekan-nekan tombol *remote* itu berkali-kali.

"Bisa becus sedikit nggak sih presentasinya, Rendi?!" tegur Kakek Surya mulai tidak sabar.

*Bip!*

Layar kembali menyala terang. Semua mata langsung tertuju ke sana. Bukannya menampilkan laporan, proyektor itu justru memutar sebuah video rekaman CCTV berwarna. Keterangan waktu di sudut video menunjukkan pukul 02:15 dini hari, tepat pada hari ini.

Di dalam video itu, terlihat jelas sosok Rendi sedang menyelinap masuk ke dalam ruang server utama perusahaan. Ia menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan aman, lalu mencolokkan sebuah *flash drive* merah ke komputer server. Tangannya mengetik dengan sangat cepat. Tampilan layar komputernya di-*zoom* oleh sistem secara otomatis, memperlihatkan bagaimana Rendi memanipulasi log transfer dan mengetik nama 'PT Bina Karya' serta nama 'Yevone' sebagai penerima dana fiktif.

Hening. Ruang rapat itu seketika sunyi senyap seakan ada malaikat maut yang baru saja lewat.

Wajah Rendi langsung pucat pasi, persis seperti mayat. Mulutnya terbuka lebar namun tak ada suara yang keluar. *Remote* proyektor di tangannya merosot jatuh ke lantai dengan bunyi gemeretak.

"I-itu... itu bukan aku! I-itu pasti editan! Ada yang meretas komputerku!" teriak Rendi terbata-bata, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Belum sempat Kakek Surya mencerna video tersebut, layar proyektor berganti menampilkan deretan mutasi rekening bank internasional. Logo Bank of Macau terpampang jelas di pojok atas.

*Nama Rekening: Rendi Mahendra.*

*Total Deposit Kasino VIP: -12.450.000.000 IDR.*

Rincian mutasi itu memperlihatkan puluhan kali transfer keluar masuk ke sebuah kasino bawah tanah di Makau selama satu tahun terakhir. Angkanya luar biasa fantastis, persis sesuai dengan jumlah dana perusahaan pusat yang hilang.

"Rendi... apa-apaan ini?!" Kakek Surya bangkit berdiri dari kursinya. Urat di pelipis pria tua itu menonjol saking marahnya. Tongkat naganya bergetar hebat di tangannya.

"Kek, sumpah, Kek! Ini fitnah! Siapa pun yang bikin presentasi ini pasti sengaja mau ngejatuhin saya!" Rendi mundur beberapa langkah, menatap kakeknya dengan raut ketakutan yang tak dibuat-buat.

"Fitnah matamu!" maki Kakek Surya. Ia melemparkan asbak kaca dari atas meja hingga pecah berantakan di dekat kaki Rendi. "Pantas saja neraca keuangan pusat selalu defisit setahun ini! Kamu pakai uang perusahaan buat judi di Makau, lalu kamu manipulasi laporannya buat numbalin Yevone?!"

"Mas Rendi... kamu tega ngelakuin ini ke keluargamu sendiri?" Yevone bersuara, matanya menatap tajam pria yang tadi nyaris menghancurkan hidupnya itu. Rasa takutnya lenyap seketika berganti dengan rasa jijik. "Kamu mau laporin aku ke polisi buat nutupin kebusukanmu sendiri?"

Kevin yang tadinya ikut menuduh Yevone kini hanya bisa diam membisu. Ia menelan ludah, tak berani menatap Kakek Surya apalagi membela kakak kandungnya. Bukti di layar itu terlalu telak dan nyata.

"Kek, tolong dengar penjelasan saya dulu..." Rendi merengek, menjatuhkan dirinya ke lantai, mencoba memegang kaki kakeknya.

"Panggil sekuriti! Seret bajingan ini ke ruanganku! Aku sendiri yang akan mematahkan kakinya sebelum menyerahkannya ke polisi!" raung Kakek Surya dengan suara serak. "Dan kamu, Kevin! Bekukan semua aset Rendi detik ini juga!"

Ruang rapat itu seketika berubah menjadi arena kekacauan. Beberapa direktur lain saling berbisik panik, sementara dua petugas sekuriti berbadan besar masuk dan langsung menyeret Rendi yang terus memberontak dan menangis meminta ampun.

Dalam hiruk-pikuk yang melegakan itu, Yevone masih berdiri terpaku di tempatnya. Ia menatap layar proyektor yang kini kembali hitam kosong. Otaknya bekerja keras. Siapa yang membantunya? Siapa yang meretas sistem keamanan perusahaan sekelas Mahendra Grup hanya untuk membersihkan namanya dalam hitungan menit?

Ia menoleh ke belakang, menatap Theodore yang masih berdiri santai menyilangkan tangan.

"Theo... kamu lihat tadi? Ada yang sengaja ngebantu aku ngebongkar kejahatan Mas Rendi," bisik Yevone dengan mata berbinar-binar penuh ketidakpercayaan.

"Ya, aku lihat. Syukurlah kebenaran terungkap. Orang jahat pasti kena batunya," jawab Theodore dengan nada sedatar jalanan aspal, sama sekali tidak menunjukkan raut terkejut.

"Tapi... siapa? Kemarin dana lima puluh miliar misterius, sekarang peretas misterius," Yevone memegang kepalanya yang mulai pening memikirkan serangkaian keajaiban ini.

"Mungkin kamu memang punya malaikat pelindung dari surga," Theodore tersenyum tipis, sangat tipis. Ia menepuk pelan pundak Yevone. "Sudah, jangan dipikirkan. Rapatnya sudah bubar. Makan siang dulu, bekalmu nanti keburu dingin."

Yevone menatap kotak bekal biru di tangannya, lalu kembali menatap wajah suaminya. Pria ini terlihat sangat sederhana, bodoh, dan tidak punya ambisi. Tidak mungkin Theodore yang melakukan semua hal gila ini. Tapi entah kenapa, setiap kali Theodore ada di dekatnya, masalah seberat apa pun rasanya selalu selesai dengan sendirinya.

Di balik wajah bodoh dan sikap acuhnya, Yevone tidak tahu bahwa malaikat pelindung bersayap maut yang ia cari selama ini sedang berdiri tepat di hadapannya.

1
Florist
sebenernya penulisanya bagus banget, kata2 mudah dipahami, kosa kata bagus, tanda baca juga bagus. tapi jujur alur cerita terlalu lambat, ada banyak hal yg sering di ulang, dewa perang, aura dingin, penguasa, trilyunan, intinya semua itu hanya untuk menekankan sosok MC yg over power. padahal cukup di selipkan sedikit kata penekanan saja, karna dr awal juga sudah dijelaskan kalau MC ini memang penguasa yg menyamar, dan kami belum lupa tentang siapa MC ini walau sudah 30 bab, kami masih sangat ingan MC ini orang hebat. jadi gak perlu dijelaskan lagi tiap bab.
Purnama
lucu
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!