Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05. Kecoa
Elang membaringkan tubuh Valeska dengan hati-hati di sofa belakang mobilnya, lalu menyuruh Bi Sumi—yang alamat dan nomor kontaknya dia temukan di ponsel Valeska—untuk menunggu di depan gerbang rumah mewah tersebut. Setelah proses serah terima yang diwarnai kepanikan Bi Sumi, Elang langsung pamit pulang tanpa mau berlama-lama.
***
Matahari pagi menembus celah-celah gorden kamar yang megah. Cahaya terangnya yang menyengat langsung mengenai wajah Valeska, memaksa mata cewek itu terbuka perlahan.
Sensasi pertama yang merayapi tubuhnya adalah rasa pening yang luar biasa hebat. Kepalanya terasa berat bagaikan dihantam benda tumpul berkali-kali. Valeska memegang pelipisnya, meringis kesakitan, lalu mencoba memposisikan duduknya di atas tempat tidur empuk.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dinding berwallpaper emas, gorden kain sutra, dan lampu gantung kristal di langit-langit. Ini adalah kamarnya sendiri.
"Hah? Kok..." Valeska mengernyit heran, ingatan malam sebelumnya masih samar-samar di dalam kepalanya. Seingatnya, dia sedang berada di kelab malam, minum-minum sendirian, lalu... bertemu dengan si kecoa sekolah, Elang. Setelah itu semuanya gelap.
Kesadaran dan rasa paniknya mendadak bangkit seketika. Valeska langsung berteriak dengan suara serak khas bangun tidur.
"BI SUMI! BI SUMI!" pekik Valeska kencang dari atas kasurnya. "BI SUMI, SINI GAK?!"
Pintu kamar terdorong cepat dari luar. Bi Sumi masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya menyiratkan rasa khawatir sekaligus lega melihat anak majikannya sudah siuman.
"I-iya, Non Valeska! Ada apa, Non? Ada yang sakit?" tanya Bi Sumi panik sambil mendekat ke pinggir ranjang.
Valeska menunjuk-nunjuk sekeliling kamarnya dengan raut wajah bingung bercampur kesal.
"Kok gue bisa ada di kamar sih, Bi?!" ceracau Valeska sambil mengusap kepalanya yang masih cenut-cenut. "Siapa yang bawa gue pulang semalam?! Kan gue lagi di kelab!"
"Semalam itu ada tiga anak seragam SMA yang nganterin Non naik mobil," terang Bi Sumi pelan, tangannya saling meremas di depan celemek. "Yang satu tinggi ganteng gitu membopong Non dari mobil sampai ke dalam. Bibi enggak sempat nanya namanya siapa, Non, soalnya masnya terburu-buru langsung pamit."
Mendengar penjelasan itu, ingatan samar-samar Valeska tentang wajah Elang, Marco, dan Leo di kelab malam mendadak terputar kembali di kepalanya. Bola mata Valeska membelalak sempurna.
"Tiga cowok?!" pekik Valeska histeris, rasa pusing di kepalanya mendadak hilang berganti emosi yang meluap-luap. "Bibi gila, ya?! Kenapa Bibi biarin gue dianterin sama mereka?! Kenapa Bibi enggak nolak atau panggil sekuriti kompleks?!"
"A-anu, Non... Bibi panik banget ngeliat Non udah pingsan lemes gitu..." Bi Sumi menunduk dalam-dalam, meremas ujung bajunya, tidak berani membalas lagi karena takut makin menyulut kemarahan Valeska.
"Agh, tau ah! Bibi bener-bener enggak bisa diandelin!" semprot Valeska dengan napas memburu.
Tanpa membuang waktu lagi, Valeska melempar selimutnya kasar, melompat dari tempat tidur, dan berderap kencang menuju kamar mandi mewahnya. Pintu kamar mandi dibanting keras hingga memantulkan suara dentuman nyaring ke seisi ruangan.
Di dalam kamar mandi, Valeska langsung memutar kran bathtub berukuran besar itu sampai maksimal. Sambil menunggu air hangat memenuhi bak mandi, dia melucuti bajunya dan melemparkannya sembarangan ke lantai.
Srrr...
Valeska melangkahkan kakinya masuk dan menenggelamkan separuh tubuhnya ke dalam busa sabun beraroma mawar. Dia menyandarkan kepala di pinggir bathtub, memejamkan mata erat-erat sambil mengusap wajahnya kasar.
"Gila! Gila! Gila!" racau Valeska emosi, suaranya bergema di dinding kaca kamar mandi. "Kenapa harus si kecoa itu sih yang nemuin gue?! Mana semalem gue pake meluk-meluk dia lagi... Arghhh, bangsat banget!"
Valeska menepuk-nepuk air busa di sekitarnya hingga terpercik ke mana-mana.
"Pasti sekarang dia mikir gue cewek gampang! Awas aja ya lo, Elang. Kalau sampai lo berani bocorin kejadian semalam ke anak-anak sekolah, gue pastikan hidup lo enggak bakal tenang di SMA Nusantara!" omel Valeska panjang lebar, mukanya memerah menahan malu sekaligus kesal yang membakar dadanya.
Selesai mandi berendam dan memoles makeup tebal untuk menutupi wajah pucatnya, Valeska meluncur ke sekolah menggunakan Porsche merahnya. Pukul delapan pagi lewat lima belas menit. Gerbang besi SMA Nusantara sudah tertutup rapat.
Brak! Brak! Brak!
Valeska memukul-mukul besi gerbang dengan tangan yang dipenuhi cincin berliannya, membuat suara bising yang memekakkan telinga di sepanjang area parkir depan.
"Pak! Pak Udin! Bukain gerbangnya sekarang!" teriak Valeska kasar, suaranya melengking menembus pos satpam.
Pak Udin, satpam berbadan subur yang sudah hafal luar kepala dengan tabiat Valeska, keluar dari pos sambil membawa segelas teh hangat. Beliau berjalan sangat santai, sama sekali tidak merasa terburu-buru.
"Aduh, Non Valeska... Ini sudah jam berapa coba?" sindir Pak Udin sambil menyedot tehnya pelan. "Aturan sekolah kan jelas, gerbang ditutup rapat jam delapan pas. Enggak ada bisik-bisik bukain gerbang lagi."
"Duh, Pak! Enggak usah ceramah deh, saya ini udah pusing dari pagi!" Valeska menghentakkan kaki dengan high heels-nya ke lantai. "Tinggal geser ini gerbang apa susahnya sih?! Nanti denda telat saya transfer dua kali lipat ke rekening Bapak!"
Pak Udin melipat kedua tangannya di dada, menggeleng santai. "Maaf ya, Non. Mau transfer sepuluh kali lipat juga kunci gerbangnya udah dibawa Pak Bambang ke dalam. Kalau mau masuk, ya silakan terbang aja."
"Pak Udin!" pekik Valeska emosi, wajahnya memerah padam. Dia mengepalkan tangan lalu menendang bagian bawah gerbang besi itu kencang-kencang.
KLAANG!
"Setan banget sih ini sekolah! Gerbang murahan kayak gini aja pake dikunci segala!" seru Valeska tantrum, siap mengayunkan kakinya lagi buat menendang gerbang untuk kedua kalinya.
"Jangan ngerusak fasilitas," sebuah suara bass yang familiar mendadak terdengar dari arah belakangnya, bernada santai namun sangat menusuk. "Cukup moral lo aja yang rusak."
Valeska membeku. Dia langsung berbalik cepat dan mendapati Elang berdiri hanya dua langkah di belakangnya. Cowok itu menyandarkan satu bahunya di tembok pagar luar, menyilangkan dada sambil menatap Valeska dengan senyum sinis yang sangat menyebalkan.
Mata Valeska membelalak sempurna, nyaris melompat keluar dari tempatnya. Rasa malu kejadian semalam dan emosi pagi ini menyatu, membuat dadanya kembang-kempis.
"Lo ngomong apa tadi?!" semprot Valeska, menunjuk muka Elang dengan telunjuknya yang dipasangi nail art merah menyala. "Mulut lo bisa dijaga enggak?! Siapa yang moralnya rusak, hah?!"
Elang cuma menaikkan sebelah alisnya, sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan Valeska. Dia mengikis jarak satu langkah, menyuntikkan tatapan intimidasi yang membuat Valeska refleks mundur setengah langkah.
"Lo," jawab Elang singkat, lugas, dan santai. "Datang telat tiap hari, ngerusak gerbang sekolah, bentak-bentak Pak Udin, terus semalem—"
"Diem lo! Enggak usah bahas semalem!" potong Valeska cepat dengan nada panik, matanya melirik liar ke arah Pak Udin yang masih menonton drama mereka dari balik pagar. "Lo sendiri ngapain di sini, hah?! Ngintip-ngintip gue?! Dasar cowok mesum!"
Elang terkekeh sinis, menyibakkan rambut depannya yang sedikit berantakan. "Pede lo ketinggian. Gue juga telat, bedanya gue enggak pake tantrum kayak anak TK kehilangan mainan."
Valeska mendengus keras, melipat kedua tangannya di dada sambil memasang raut muka paling merendahkan. "Oh, si sok suci ini telat juga? Lucu banget. Cowok teladan versi SMA Nusantara ternyata langganan kesiangan juga. Habis ngapain lo semalam? Keluyuran di kelab malam kan?"
"Gue telat gara-gara ngurusin cewek mabuk yang baunya kayak tong sampah dan enggak tahu diri," tembak Elang pedas, menatap lurus ke dalam mata Valeska. "Harusnya gue biarin aja lo tergeletak di jalanan semalam."
Wajah Valeska mendadak memerah sampai ke telinga. Campuran antara gengsi, malu, dan emosi membuat suaranya makin melengking.
"Gue enggak pernah minta tolong sama lo ya, Kecoa!" pekik Valeska tak mau kalah. "Lagian siapa suruh lo bawa gue pulang?! Gue bisa bayar orang buat bawa gue pulang! Uang gue melimpah, enggak butuh bantuan cowok miskin kayak lo!"
"Bagus kalau gitu," sahut Elang dingin. "Lain kali kalau lo pingsan lagi di depan gue, bakal gue tendang ke pinggir jalan biar diangkut truk sampah. Biar uang lo yang melimpah itu yang nyelamatin lo."
"Elang bangsat!" teriak Valeska, siap melayangkan tamparan, tapi Elang dengan sigap menahan pergelangan tangan Valeska di udara.
Cengkeraman tangan Elang kuat tapi tidak menyakiti. Dia menatap Valeska dari dekat, napas mereka beradu di udara pagi yang makin panas.
"Simpan tenaga lo, Valeska," bisik Elang penuh penekanan, lalu menghempaskan tangan cewek itu pelan. "Pak Bambang udah jalan ke sini. Mending lo pikirin alasan apa lagi yang mau lo pakai buat bayar hukuman lo hari ini."
Valeska menoleh cepat ke arah dalam lapangan. Dari kejauhan, sosok Pak Bambang dengan kumis tebal dan mistar kayu panjangnya sudah berjalan terburu-buru menuju gerbang dengan wajah semerah kepiting rebus.