Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.
Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.
Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.
Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.
Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.
Namun Noah bukan anak biasa.
Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.
Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?
Dan sebenarnya...
siapa Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HASIL DNA
Malam itu, setelah percakapan panjang yang dipenuhi keheningan canggung dan kata-kata yang dipilih dengan sangat hati-hati, Adrian meminta satu hal kepada Althea sebelum dia pergi.
"Aku perlu kepastian," katanya, matanya menatap lurus ke mata Althea, mencari kejujuran yang bisa dia percaya sepenuhnya. "Bukan karena aku meragukanmu. Tapi karena aku perlu tahu, dengan cara yang tidak bisa disangkal siapa pun."
Althea mengerti maksudnya tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Dia mengangguk pelan, meski ada sesuatu yang terasa berat di dadanya, ketakutan yang sudah lama dia coba tekan sejak malam dia memutuskan untuk melahirkan Noah sendirian.
Tiga hari kemudian, sampel yang diambil secara diam-diam, sehelai rambut Noah yang jatuh di bantal dan sedikit air liur dari sikat gigi kecilnya yang dikumpulkan Althea sendiri dengan tangan gemetar, dikirim ke laboratorium swasta yang biasa digunakan keluarga Virell untuk urusan-urusan yang membutuhkan kerahasiaan mutlak.
Adrian menghabiskan tiga hari itu dengan cara yang tidak pernah dia alami sebelumnya dalam hidupnya. Rapat-rapat penting yang biasanya menyita seluruh perhatiannya terasa jauh lebih sulit untuk dia fokuskan. Dia mendapati dirinya berkali-kali menatap ponselnya, menunggu pesan yang belum juga datang, sebuah kebiasaan yang jauh dari citra dirinya yang selalu tenang dan terkendali di hadapan siapa pun.
Marcus, kepala keamanannya, memperhatikan perubahan itu tanpa berani bertanya secara langsung, hanya memastikan jadwal Adrian lebih longgar dari biasanya tanpa penjelasan yang diminta.
Ketika akhirnya laporan itu tiba, dikirim melalui kurir khusus dalam amplop cokelat sederhana tanpa logo apa pun yang bisa mengungkap isinya, Adrian mengunci diri di ruang kerjanya, meminta semua orang untuk tidak mengganggunya dalam bentuk apa pun.
Dia duduk lama menatap amplop itu sebelum akhirnya membukanya, tangannya, yang biasanya begitu mantap bahkan ketika menandatangani kesepakatan bernilai miliaran, terasa tidak stabil saat merobek sisi amplop.
Angka-angka di lembar laporan itu berbaris rapi, istilah-istilah ilmiah yang membutuhkan waktu sejenak untuk dia pahami sepenuhnya, sampai akhirnya matanya menemukan satu baris kesimpulan yang ditulis dengan huruf tebal di bagian bawah halaman.
Probabilitas hubungan biologis ayah dan anak: 99.99 persen.
Adrian menatap kalimat itu untuk waktu yang sangat lama, dunianya terasa berhenti sejenak, meski di luar jendela kantornya kehidupan kota terus berjalan seperti biasa, tanpa menyadari betapa besar sebuah kebenaran kecil bisa mengubah seluruh arah hidup seseorang.
Noah adalah putranya.
Untuk pertama kalinya, pria yang tidak takut kepada siapa pun, yang sudah menghancurkan pesaing bisnis paling berbahaya sekalipun tanpa sedikit pun keraguan, yang tumbuh dengan didikan bahwa rasa takut adalah kelemahan yang tidak boleh dia tunjukkan kepada siapa pun, merasa takut dengan cara yang sama sekali baru baginya.
Bukan takut kepada musuh yang mengincar nyawanya. Bukan takut kehilangan kekuasaan yang sudah dia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun. Tetapi takut kehilangan anak yang bahkan baru dikenalnya, anak yang baru dua kali dia temui, namun sudah berhasil menembus pertahanan yang selama ini dia bangun begitu kokoh di sekitar hatinya.
Sore itu juga, tanpa mengabari terlebih dahulu, Adrian kembali ke apartemen kecil Althea, laporan itu terselip di dalam jasnya, wajahnya menyimpan campuran emosi yang bahkan dia sendiri kesulitan mengartikulasikannya dengan jelas.
Althea membukakan pintu, dan begitu melihat wajah Adrian, dia langsung tahu apa yang dibawa pria itu.
"Kau tahu jawabannya," kata Althea pelan, lebih pernyataan daripada pertanyaan.
Adrian mengangguk, namun alih-alih kemarahan yang mungkin diperkirakan Althea, yang muncul dari wajahnya adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks, campuran antara terluka dan bertekad.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanyanya, suaranya bergetar meski dia berusaha keras menjaganya tetap tenang. "Lima tahun, Althea. Lima tahun aku bisa saja mengenal putraku sejak dia bayi."
Althea menutup pintu di belakangnya, memastikan Noah yang sedang bermain di kamarnya tidak mendengar percakapan ini. Dia menatap Adrian dengan mata yang penuh emosi yang selama ini dia tahan begitu dalam.
"Aku tidak menyembunyikannya karena aku membencimu," katanya akhirnya, suaranya bergetar namun jujur, sejujur yang belum pernah dia ucapkan kepada siapa pun sejak malam itu lima tahun lalu.
"Lalu kenapa?" Adrian mendesak, matanya penuh dengan pertanyaan yang sudah lama dia simpan.
"Karena aku takut kau akan mengambilnya dariku," jawab Althea, air matanya akhirnya jatuh, sesuatu yang jarang sekali terjadi sepanjang hidupnya yang penuh disiplin dan kendali diri. "Aku tahu siapa keluargamu, Adrian. Aku tahu kekuatan yang kau miliki. Jika kau tahu tentang Noah sejak awal, apa yang menghalangimu untuk mengambilnya dariku dan membesarkannya sesuai caramu sendiri, dengan segala sumber daya yang aku tidak pernah bisa berikan?"
Adrian terdiam mendengar kejujuran itu, menyadari untuk pertama kalinya betapa dalam ketakutan yang selama ini dipendam Althea, ketakutan yang lahir bukan dari kebencian, melainkan dari cinta seorang ibu yang sudah kehilangan segalanya sekali dalam hidupnya dan bersumpah tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi lagi.
"Aku tidak akan mengambil Noah darimu," katanya akhirnya, suaranya melembut, mendekat selangkah lebih dekat kepada Althea. "Aku tidak seperti itu, dan aku tidak akan pernah seperti itu."
Dia menatap mata Althea dalam-dalam, memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya benar-benar dia maksudkan.
"Aku hanya ingin kesempatan menjadi ayahnya," katanya pelan, kata-kata yang sudah lama dia simpan sejak melihat laporan itu di ruang kerjanya sore tadi, kata-kata yang mengubah segalanya bagi mereka bertiga.