Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERCERITA
Dengan satu gerakan lincah, Xiao Luo menuruni dinding batu sumur tua yang dingin dan lembap. Suara langkah kakinya perlahan menghilang ditelan kegelapan dasar sumur.
Nyonya Shen dan Pelayan Ma berdiri mematung di bibir sumur selama beberapa saat, menahan napas hingga pendar cahaya senter gawai Xiao Luo benar-benar padam—menandakan gadis itu telah melintasi celah dimensi kembali ke dunianya.
"Nyonya... apakah ini sungguh nyata?" bisik Pelayan Ma seraya meremas kain celemeknya yang lusuh. "Atau hamba hanya sedang bermimpi dalam kelaparan?"
Nyonya Shen menarik napas panjang, meresapi udara malam yang tak lagi terasa begitu mencekam. "Ini nyata, Bi Ma. Langit belum benar-benar membutakan matanya atas penderitaan kita. Mari masuk, kita tutup pintu rapat-rapat."
Keduanya kembali ke dalam rumah dengan langkah seringan angin. Di ruang tengah, Shen Tingting sedang duduk di tepi pembaringan kayu, mengusap lembut pipinya yang kini tak lagi berdenyut sakit berkat salep ajaib Xiao Luo. Di sampingnya, Yujin tertidur begitu lelap di atas selimut tebal yang empuk, napasnya teratur tanpa ada keluhan dingin sedikit pun.
Nyonya Shen duduk di samping anak dan cucunya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, malam di pulau pengasingan terasa dipenuhi kehangatan dan rasa aman. Namun, benak Nyonya Shen tetap bekerja keras. Janjinya pada Xiao Luo untuk berbicara dengan keluarga Xin—keluarga besannya—harus dirancang dengan sangat hati-hati.
Keesokan paginya, embun dingin masih membungkus tanah pulau pengasingan. Langit abu-abu menandakan fajar baru saja menyingsing.
Nyonya Shen bangkit lebih awal dari biasanya. Setelah menyembunyikan sisa makanan dan barang-barang pemberian Xiao Luo di bawah papan lantai yang longgar, ia merapikan pakaian kusamnya dan melangkah keluar rumah menuju kediaman keluarga Xin.
Rumah keluarga Xin berjarak sekitar dua ratus meter dari kediaman keluarga Shen, sebuah pondok kayu reot yang hampir roboh diterpa angin laut. Saat Nyonya Shen mendekat, terlihat seorang pria paruh baya bertubuh kurus sedang membelah kayu bakar di halaman depan dengan sisa-sisa tenaganya. Pria itu adalah Tuan Xin, mantan pejabat istana yang jujur, kini harus bernasib sama mengenaskan.
"Besan Shen?" Tuan Xin menghentikan kapaknya, menatap Nyonya Shen dengan raut terkejut sekaligus cemas. "Pagi-pagi begini... apakah ada masalah dengan Yujin atau Tingting?"
Dari dalam rumah, seorang wanita paruh baya dengan raut wajah lembut namun pucat bergegas keluar. Itu adalah Nyonya Xin, ibu kandung dari mendiang Nian-nian. "Nyonya Shen! Mari masuk dulu. Kami baru saja hendak mengantarkan sedikit bubur gandum encer untuk kalian..."
Melihat ketulusan di mata pasangan suami istri yang telah kehilangan putri mereka tersebut, dada Nyonya Shen berdesir hangat. Dugaan Xiao Luo benar, keluarga Xin adalah orang-orang berhati emas yang layak dipercaya.
Nyonya Shen melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Xin yang dingin. Di dalam rumah, keluarga Xin yang lain sedang berkumpul untuk sarapan.
Selain Xin Nian, hanya Xin Mengyu yang sudah berkeluarga. Istri dan kedua anaknya juga ikut diasingkan bersama mereka.
Sedangkan Xin Feng dan Xin Mo belum ada yang berkeluarga.
"Besan Xin... ada hal sangat penting yang harus kusampaikan," ujar Nyonya Shen dengan nada berbisik, matanya menatap tajam ke arah anggota keluarga Xin yang lain.
"Ini berkaitan dengan Nian-nian... dan masa depan kita semua di tempat ini."
Nyonya Xin terenyuh, air matanya menetes teringat sang putri. "Nian-nian lama pergi Nyonya Shen... Kami bahkan tak sanggup memberinya peti mati yang layak..."
"Dengarkan aku dulu, Nyonya Xin," potong Nyonya Shen lembut seraya memegang tangan Nyonya Xin.
"Nian-nian memang telah tiada. Namun... kemarin, seseorang yang sangat ajaib datang ke rumah kami. Wajahnya... sangat mirip dengan Nian-nian. Seperti pinang dibelah dua."
Tuan Xin dan yang yang lain saling pandang dengan dahi berkerut. "Maksud Anda? Apakah ada kerabat jauh keluarga kami yang menyusul ke pulau ini?" tanya Tuan Xin bingung.
"Bukan," jawab Nyonya Shen mantap. "Gadis ini bernama Xiao Luo. Dia bukan orang dari zaman kita, melainkan sosok penyelamat yang dikirimkan oleh Langit melalui jalan misterius di rumah kami. Dia membawa makanan hangat, obat-obatan modern, dan bantuan yang bisa menyelamatkan nyawa kita semua dari kelaparan."
Sontak keluarga Xin terperanjat. Xin Feng bahkan hampir berdiri karena mengira Nyonya Shen telah kehilangan akal sehatnya akibat berduka dan kelaparan. "Nyonya Shen, apa yang Anda katakan? Mana mungkin ada hal aneh seperti itu—"
Nyonya Shen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan dua buah vitamin berbentuk tablet cair dan seperempat potong roti manis beraroma harum yang sengaja ia sisakan tadi malam sebagai bukti.
Bau harum roti yang belum pernah mereka cium seumur hidup menyeruak di dalam ruangan sempit itu. Mata ketiga anggota keluarga Xin membelalak tak percaya.
"Ini... benda apa ini?" bisik Tuan Xin gemetar.
"Ini makanan dan obat dari dunia Xiao Luo," jelas Nyonya Shen. "Xiao Luo ingin membantu kita, tetapi keberadaannya sangat berbahaya jika diketahui penjaga pulau atau enam keluarga lainnya. Jika mereka melihat wajahnya yang mirip Nian-nian, akan timbul kekacauan. Oleh karena itu, kami sepakat untuk membuat identitas rahasia baginya."
Nyonya Shen menatap Nyonya Xin dan Tuan Xin bergantian. "Kami berniat mengakui Xiao Luo sebagai kerabat jauh atau saudara sepupu dari garis keluarga ibu Nian-nian yang berhasil menyelinap ke pulau ini untuk mencari kita. Namun, skenario ini hanya bisa berhasil jika keluarga Xin ikut mendukung dan mengonfirmasinya jika ada orang luar yang bertanya."
Nyonya Xin memegang potongan roti harum itu dengan tangan gemetar. Air matanya menetes deras, bukan hanya karena aroma makanan yang sudah lama tak dinikmatinya, tetapi juga karena pendar harapan baru yang kini menerangi kegelapan hidup mereka.
"Jika gadis itu memiliki wajah yang mirip dengan putriku... dan dia bersedia menolong keluarga kita yang sekarat ini," bisik Nyonya Xin dengan suara serak namun mantap, "maka dia adalah putri kami juga. Kami akan melindunginya dengan nyawa kami."
Tuan Xin mengangguk tegas, mengepalkan tangannya. "Sebutkan apa yang harus kami lakukan, Besan Shen. Keluarga Xin tidak akan pernah membocorkan rahasia ini, walau pedang berada di leher kami sekalipun."
"Terima kasih... terima kasih banyak," tutur Nyonya Shen lega. "Malam ini, jika tidak ada halangan, Xiao Luo akan kembali melintasi jalan rahasia itu. Saya ingin kalian datang ke rumah kami secara sembunyi-sembunyi untuk bertemu langsung dengannya dan menyusun langkah kita selanjutnya."
Sementara itu, di dunia modern...
Sinar matahari pagi menembus jendela apartemen Xiao Luo. Alarm ponselnya berdering keras menunjukkan pukul 06.30 pagi. Xiao Luo terbangun dari tempat tidur tebalnya, mengusap matanya yang masih terasa berat.
Ia berdiri dan berjalan menuju cermin besar di kamarnya. Melihat bayangan dirinya sendiri yang mengenakan piyama modern, ia hampir tersenyum getir. Hanya beberapa jam yang lalu, ia berada di sebuah pondok reot di dimensi lain, menyaksikan penderitaan sebuah keluarga yang dibuang dan dihina.
"Ngantuk banget. Tapi Aku tetap harus bekerja. Semangat Xiao Luo! "