Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Wanita Bergaun Hitam dan Pintu Terkunci
Hembusan angin dingin di balkon lantai dua kediaman Lord Sterling membawakan kepulan uap napas ke udara malam Mayfair. Hans Lorte menatap Lady Evelyn Finch dari balik keremangan tirai balkon, matanya yang kelabu merekam setiap perubahan ekspresi pada wajah pucat wanita muda itu.
"Ceritakan dari awal, Lady Finch," kata Hans datar seraya mengibaskan abu rokok gulungnya ke balik pagar balkon. "Kapan tepatnya ayah Anda menghilang?"
Evelyn merapatkan selendang bulu hitam di bahunya, matanya yang sembab menatap lurus ke dalam pupil mata Hans.
"Tiga hari lalu, Tuan Lorte," bisik Evelyn, suaranya gemetar menahan getaran emosi. "Ayah mengunci dirinya di laboratorium bawah tanah pribadi milik beliau di kawasan gudang tua Rotherhithe. Beliau sedang mengerjakan terjemahan prasasti dan spesimen dari ekspedisi Atlantik. Namun, ketika saya mendatangi gudang itu kemarin pagi, pintu besi utama laboratorium masih terkunci rapat dari dalam, dan ayah tidak menyahut panggilan saya."
"Apakah pintu itu memiliki tanda-tanda kerusakan atau pengerusakan paksa?" tanya Hans.
"Tidak ada sedikit pun," sahut Evelyn cepat seraya menggelengkan kepala. "Pintu besi buatan Jerman itu tebal dan hanya bisa dikunci menggunakan selot putar besar dari dalam ruangan. Saya menggedor pintu itu berulang kali sampai tangan saya memar, tetapi tidak ada suara apa pun dari dalam. Hampa."
Hans memiringkan kepalanya sedikit, meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya. * Sebuah laboratorium yang terkunci rapat dari dalam tanpa celah ventilasi udara besar. * batin Hans mencatat kalkulasi spasial tersebut.
"Apakah Anda sudah melaporkan kejadian ini ke kepolisian Scotland Yard?" lanjut Hans.
Evelyn menyapukan saputangan sutranya ke sudut matanya dengan jemari yang gemetar. "Saya mendatangi kantor kepolisian distrik kemarin sore. Namun, Inspektur Hallowell menolak membuka penyelidikan resmi. Dia mengklaim ayah saya sengaja melarikan diri untuk menghindari utang riset kepada Lord Sterling dan para penyandang dana di Mayfair."
Hans menghembuskan asap rokoknya pelan ke udara dingin. * Hallowell sengaja menutupi kasus hilangnya Finch untuk memberi waktu bagi Lord Sterling menekan sang ilmuwan dan merebut risetnya. *
"Hallowell bekerja untuk kepentingan Lord Sterling," kata Hans dingin. "Apa yang membuat Anda yakin ayah Anda tidak sekadar melarikan diri?"
Evelyn merogoh tas tangan kecil berenda beludru di pinggangnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal bertali kain merah dan sebilah kunci tembaga kuno bersimpul berat.
"Karena ayah tidak pernah meninggalkan catatan riset utamanya jika beliau pergi atas kemauannya sendiri," tegas Evelyn, menatap Hans dengan ketetapan hati yang bulat. "Di dalam amplop ini ada uang muka 50 sovereign emas untuk jasa Anda. Dan kunci tembaga ini adalah kunci rahasia menuju pintu belakang laboratorium bawah tanah ayah di Rotherhithe. Kunci ini hanya dipegang oleh beliau dan saya."
Hans menerima amplop tebal dan kunci tembaga dingin itu. Berat kunci tembaga tersebut terasa mantap di telapak tangannya.
"50 sovereign emas adalah imbalan yang sangat besar untuk seorang detektif swasta dari East End, Lady Finch," ujar Hans.
"Saya tidak peduli berapa pun harganya," bisik Evelyn, air mata menetes pelan di pipinya yang pucat. "Tolong... temukan ayah saya dan bawa beliau kembali hidup-hidup sebelum orang-orang Lord Sterling menemukan laboratorium itu."
Hans memasukkan amplop dan kunci tembaga tersebut ke dalam saku dalam mantel kusamnya. Ia menatap wajah wanita muda itu dengan ketelitian yang dingin.
"Aku akan memeriksa laboratorium itu malam ini juga," kata Hans. "Namun, Anda harus berjanji satu hal: tetap tinggal di kediaman Anda di Mayfair dan jangan pernah mencoba menyusul ke Rotherhithe. Kawasan dermaga tua malam hari bukan tempat untuk seorang putri akademisi."
Evelyn mengangguk cepat seraya menurunkan kembali tirai hitam topinya. "Saya berjanji, Tuan Lorte."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, wanita itu berbalik dan menghilang secara tergesa-gesa ke balik tirai balkon, kembali menyatu dengan keriuhan para tamu di dalam aula pelelangan.
Pukul 01.00 dini hari.
Hujan gerimis kembali mengguyur kawasan Limehouse Cut ketika kereta kuda sewaan mengantarkan Hans kembali ke depan bangunan kayu tua tempat kantor dan tempat tinggalnya berada.
Hans melangkah menaiki anak tangga kayu yang berderit teratur. Tubuhnya terasa lelah setelah perjalanan panjang dari Mayfair, tetapi otaknya enggan beristirahat. Berbagai potongan teka-teki yang ditemukannya sepanjang hari ini berputar cepat dalam pikirannya: jam saku emas berukir simbol * The Abyssal Order *, peti besi berisi spesimen dan peralatan selam yang hilang dari Dermaga No. 9, pelelangan rahasia Lord Sterling di Mayfair, dan hilangnya Dr. Alistair Finch di dalam laboratorium yang terkunci rapat dari dalam.
Hans mendorong pintu kayu beratap kaca buram kantornya, lalu melangkah masuk.
Ruang kerja sempit itu dingin dan sepi. Hans menyalakan lampu minyak tanah di atas meja kerja, membiarkan pendaran cahaya kuning redup mengusir kegelapan ruangan. Ia melepaskan topi pet kusamnya dan meletakkannya di samping tongkat jalan berkepala besi.
Hans duduk di kursi kayunya yang berderit. Ia mengeluarkan kunci tembaga kuno milik Dr. Finch dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping cangkir kaleng berisi sisa air teh dingin dari tadi siang.
Hans meraba anting perak bulan sabitnya, menatap kunci tembaga itu dalam diam.
* Seseorang sengaja merebut peti kargo di pelabuhan untuk memaksa Finch menyelesaikan terjemahan segel kuno samudra, * analisis Hans di dalam kepalanya. * Namun jika Finch terkunci di dalam laboratoriumnya tanpa celah keluar, bagaimana peti seberat 300 kg itu bisa terhubung dengan keberadaannya di Rotherhithe? *
Mendadak, mata kelabu Hans memicing tajam.
Di bawah pendaran lampu minyak tanah yang redup, permukaan air teh dingin di dalam cangkir kaleng di atas mejanya mulai bergetar.
Getaran itu bukan berasal dari guncangan meja atau derit lantai kayu. Tidak ada kereta kuda yang melintas di jalanan basah di luar. Namun, permukaan air teh di dalam cangkir itu membentuk gelombang konsentris melingkar secara teratur—bergetar dari tengah menuju tepi cangkir dengan frekuensi yang kian cepat.
* Tuk... tuk... *
Tepat di saat yang sama, bunyi derit pelan lantai kayu terdengar dari balik pintu luar kantornya.
Hans seketika berdiri dari kursinya tanpa suara. Tangan kanannya menjangkau gagang tongkat jalan berkepala besi di meja, sementara mata kelabu nya mengunci celah bawah pintu kayu buramnya.
Di balik celah bawah pintu yang remang, sesosok bayangan gelap melintas cepat di koridor luar. Sebelum Hans sempat melangkah mendekat menuju pintu, selembar kertas tebal terlipat dua diselipkan dari luar, meluncur pelan di atas lantai kayu kantornya.
* Sret... *
Langkah kaki asing di koridor luar seketika menghilang dengan kecepatan yang tidak wajar, meninggalkan keheningan malam yang mencekam.
Hans melangkah mendekati pintu dengan tongkat siap di genggaman. Ia tidak mengejar sosok di luar, melainkan berjongkok dan memungut kertas tebal tersebut dengan saputangannya.
Kertas itu terasa dingin saat disentuh, terlapisi pendaran tipis cairan bening yang beraroma amis ozon kental—cairan yang sama persis dengan yang ditemukannya pada manifes kargo di Dermaga No. 9.
Hans membuka lipatan kertas tebal tersebut di bawah pendaran lampu minyak. Di atas lembaran kertas basah itu, tertera sebuah pesan singkat yang ditulis menggunakan tinta berwarna merah pekat yang masih agak basah:
* Hentikan pencarian Dr. Finch jika Anda masih ingin bernapas dengan logika. *
Hans menatap baris tulisan di tangannya seraya menghembuskan napas panjang. Asap rokok gulung yang baru dinyalakannya membumbung tinggi, terurai samar di tengah pendaran gelombang air teh yang perlahan tenang kembali di atas mejanya.
Kalkulasi rasionalnya menegaskan satu hal: konspirasi ini tidak lagi sekadar bersembunyi di balik bayangan Mayfair. Bahaya nyata telah sampai di ambang pintu kantornya.