Amanda anak sekolah yang ingin menggapai cita-cita, kisah anak kampung yang ingin sukses di tengah konflik keluarga.
Cerita ini di bumbui dengan kisah komedi. Yang penting dibaca dulu aja, super thanks🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Belas
“Mak, Amanda ke simpangan Mang Udin dulu ya” kata Amanda ngebangunin emak yang lagi tiduran.
“Ngecek motor?” tanya Emak.
“Iya…” jawab Amanda.
“Tapi jauh mutar, lo jalan kaki?” tanya Emak.
“Iya mak, sekalian Manda bawa kesini kalo nggak kepenuhan” kata Amanda.
“Di depan parkiran udah semata kaki, lo lewat jalan tadi udah sepinggang, nggak apa-apa ntar aja” kata Emak.
“Nggak ah mak, nggak apa-apa Manda mutar aja lewat jalan nembus jalan raya” kata Amanda
“Iya, emak disini aja jaga barang-barang” kata Emak.
Amanda keluar tenda.
“Neng, udah ambil nasi kotakan” kata Enyak Rizal ketemu di depan pake baju batik PKK.
“Belum ncing…, Amanda mau ke perempatan dulu ngambil motor” kata Amanda
“Jangan lewat situ…” Enyak Rizal, nunjukin jalan.
“Udah se-leher, mending mutar sono” kata Enyak Rizal nunjukin jalan mutar.
“Iya Ncing..” jawab Amanda ngikutin arah,
“Amanda, tunggu…” kata Enyak Rizal.
Amanda noleh, “Zal….Rizal….” Enyak Amanda manggil Rizal lagi duduk sama teman-temannya di teras Balai Kelurahan.
“Kenapa Nyak?” Rizal datang.
“Nih, anterin Amanda ambil motor di perempatan” kata Enyaknya Rizal.
Amanda jadi nggak enak hati, “Nggak usah ncing..biar Amanda jalan aja” kata Amanda.
Rizal liatin sambil bengong, “Eh, buruan” kata Nyak Rizal dorong bahu Rizal.
“Nggak usah Zal, gua jalan aja” kata Amanda. Buru-buru jalan.
Rizal malah ngikutin dari belakang ngambil motor, “Buruan naik..” kata Rizal.
Amanda malu-malu mana dilihatin temen-temen Rizal.
Amanda akhirnya naik motor rizal, di bonceng.
“Lo ngapain juga nitip motor di simpangan” kata Rizal.
“Ya, kalau ke balai kan jauh zal” kata Amanda.
Sampai ke trotoar, jalan raya sudah tinggi air se-mata kaki.
Amanda ngengkolin motornya, hidup.
“Sepeda listrik lo mana?” kata Rizal.
“Nitip di Rumah Ali” kata Amanda nunduk malu-malu.
“Cie….bisa-bisanya…ckckckck” Rizal geleng-geleng ketawa ngejek kayak biasanya.
“heh!” kata Amanda sambil manasin motor, muka Amanda kerasa kenang banget malu, mukanya jadi merah.
“Cie..merah tuh muka sekuping-kuping” kata Rizal.
“Nanggung banget lo, motor nggak nitip juga” kata Rizal.
“kemaren nitip situ cuman kan kalo nitip situ nggak bisa keluar juga” kata Amanda
“Oh udah nitip situ, pantesan tadi pagi lo bawa motor dimari” kata Rizal
“Nah, udah tau lo..” kata Amanda.
Amanda sama Rizal mandangin jalan yang udah kemasukan banjir.
Rumah Ali dikepung air, jalan keluar naik perahu.
“Yuk, balik” ajak Rizal.
“Iya..” Kata Amanda, Rizal bantuin Amanda nurunin motor dari trotoar, Rizal mandu jalan.
“Lo nitip di halaman rumah aje” kata Rizal.
Amanda ngikut aja di belakang, nggak jauh dari balai tempatnya kering halaman luas, ada beberapa motor parkir di halaman Rumah Rizal yang gede juga, seberang Rumah Jabatan Lurah.
Rumah Rizal emang disini, dari kecil Amanda juga sering main metik mangga depan rumah diajak emak.
“Eh melamun aja liat pohon mangga?” kata Rizal ngagetin.
“belum bebuah itu, jangan-jangan lo mau makan daunya juga” kata Rizal.
“Ngaco!” kata Amanda.
Tiba-tiba pintu Rumah kebuka, ada Kakaknya Rizal yang paling tua si Gadis.
“Amanda, kok lama nggak keliatan” kata Gadis.
“Eh, iya kak” Amanda malah garuk-garuk kepala padahal nggak gatal, kepergok berdua sama Rizal, alamat di gosipin apa lagi.
“Iya main kesini sering-sering…” kata Gadis.
“Iya, ngungsi di sebelah” kata Amanda nunjuk lapangan Balai Kelurahan.
“Iya, banjir nya parah banget ya..” kata Gadis berdiri di teras rumah.
“Iya kak…, se-leher” kata Amanda.
“Ya ampun nda…, bener mending ngungsi aja, bahaya apalagi nih mau hujan lagi” kata Gadis nengok liatin awan, bener banget awannya pada hitam.
Amanda ngangguk,
“Nda, lo di cari emak lo lagi kelamaan” kata Rizal, ngagetin rupanya dari tadi masih di samping.
“Kak, ke sebelah dulu” kata Amanda.
“Iya, kalo disana penuh ikutan nginap di sini aja” kata Gadis.
Amanda melirik muka Rizal melotot liatin kakaknya.
**
“Udah ke Perempatannya?” kata Emak.
“Udah mak…” kata Amanda sambil ngerpihin bale-bale ada nasi kotak, pengungsi pada makan.
“Emak udah makan” kata Amanda.
“Udah…nih kotakan lo, makan dulu, cepat juga ngambil motornya” kata Emak.
Amanda nyaris keseleg nasi.
“Minum dulu pelan-pelan makannya neng..” kata Emak.
“Mak, ngomongnya pelan, kita nggak di rumah tau..ini banyak orang, malu” kata Amanda.
Emaknya senyum baring sambil nonton HP,
“Diluar bentar lagi mau hujan lagi mak” kata Amanda sambil nyuap nasi.
Emak buka tirai tenda dikit, “Mudahan nggak nyampe kesini banjirnya” kata Emak.
“Iya…” kata Amanda sambil makan melamun mikirin rumah juga.
“Depan rumah si Ali udah sampai mana tinggi airnya?” kata Emak.
“ Se-Leher mak..” kata Amanda.
“Ya Allah… tinggi banget dah” kata Emak.
“Tapi kayaknya nggak bakalan masuk ke halaman, soalnya rumahnya kan tinggi banget Mak” kata Amanda.
“Iya tinggi tapi gimana yak, dia keluar cari makan” kata Emak.
“Lah, orang kaya udah biasa nyetok makanan banyak mak” kata Amanda.
“Bener juga dia di dalem kering, apalagi kalo mau keluar tinggal pake karpet terbang aje tuh keluarga enak bener” kata Emak sambil berhayal natap langit-langit.
“Lah, emak kira Aladin…” kata Amanda ketawa.
Nora di samping yang ikutan denger juga nggak tahan ketawa.
“Ya bisa-bisa aja, Manda” kata Emak, kadang ya gitu norak khayalannya.
“Pake helicopter Mak..masa karpet terbang” kata Amanda.
“Nor, kan Babanya Ali jualan karpet masa pake heli nggak keren” kata Emak ngajak-ngajak ngobrol Nora.
“Iya ncing bener, kalau ada karpet terbang nora juga mau beli satu buat ngecek rumah” kata Nora.
Nyambung nih orang bedua kata Amanda dalam hati.
**
Hujan turun juga, untung tendanya aman, satu-satu anggota keluarga di data sama pegawai kelurahan.
Hujannya lebat banget.
SMS Amanda bunyi,
“Manda, motor lo gua masukin di garasi basah di bawah pohon mangga” kata Rizal.
“Makasih Zal” balas Amanda.
“Eh, stangnya kekunci” kata Amanda.
Amanda sibuk nyari kunci motor nggak ada, panic bolak balik bantal juga nggak ada.
“Lo kenapa?” Kata Emak.
“Kunci motor” kata Amanda.
Amanda balik lagi baca SMS.
“Udah, orang motornya kuncinya kegantung” balas Rizal.
Amanda lega ngusap dada.
“Dimane?”Emak malah sibuk bongkar ember sama mau bongkar tas.
“Udah ada, ketinggalan di motor” kata Amanda.
“Emang siapa yang bilang, ambil…” kata Emak.
“Masih hujan ntar aja” kata Amanda duduk lagi.
“Sama siape?” kata Emak.
“Ri..zal…” kata Amanda pelan.
“Hah, siape?” Emak nyaring.
“RIZAL” jawab Amanda kesal.
Emak nggak kira-kira nanya nyaring, Nora, Bapak sama Ibunya pada noleh.
Amanda jadi nggak enak hati, Nora dan Rizal kan pernah pacaran, kayaknya Rizal masih suka sama Nora.
Nora anaknya kalem, cantik, putih, seingat Amanda Nora sama Rizal pacarannya lama, nggak tau putus kenapa juga, tau-tau putus aja kabarnya.
Amanda baru berteman baik sama Rizal semenjak sekelas SMA, dulu-dulu temenan biasa aja, malah kesannya suka saling ejek bikin Amanda marah.
Amanda noleh ke Nora, Nora senyum-senyum aja, sambil main sama ade-adenya.
Nora keibuan banget, semua adenya di urusin sama dia, bapak sama emaknya malah bebas kemana aja pergi.
Bapaknya masih kerja di bengkel soalnya motor banyak yang rusak kemasukan banjir, emaknya malah sibuk bantuin ibu-ibu PKK di dapur umum, cuma Emak Amanda hari ini kayak Princess mager banget di Kasur bantuan.
“Mak lapar lagi?” kata Amanda, liatin emaknya nyeduh mie gelas.
“Iya, lo mau?” kata Emak.
Amanda geleng kepala.
Adeknya Nora deketin, “Lo mau bocah?” tanya Emak.
Adeknya Nora ngangguk-ngangguk.
“Nggak usah ncing…punya kita ada” kata Nora ngambilin adenya, yang jalan dekat emak.
“Ya nggak apa-apa dia mau yang ini” kata Emak, emak buatin satu mie gelas buat adenya nora yang nomor dua.
“Makasih ncing..” kata adenya Nora.
“cakep banget lo, pinter lagi bocah..” Emak ngelusin kepala Adenya Nora.
“Makasih Ncing..” kata Nora dari sebelah.
“Iya..” kata Emak Amanda.
**
Hari sudah menjelang sore, antrian mandi, Amanda sama emaknya gentian jaga barang-barang di tenda.
Bantuan nasi kotak udah ada di bale-bale masing-masing.
Rizal bantuin bagi kotakan.
“Nih, kuncinya” kata Rizal ngeluarin kunci dari kantong jaketnya.
Isi kresekan makanan masih banyak yang dibagi.
“Mau di bantuin nggak?” kata Amanda.
“Ya bantuin buruan” kata Rizal.
Emak masuk habis mandi.
“Mak, Amanda bantuin bagi kotakan dulu ya..” kata Amanda minta izin.
“Iya buruan bantuin” Kata Emak, bahu Amanda malah di dorong-dorong.
“Iya sabar mak” kata Amanda.
Nora datang gendong adenya sama calon suaminya masuk tenda, Rizal nunduk.
“Manda, kaki liat-liat” kata Rizal berbisik.
“Apa?” diluar masih hujan, kalo suara pelan nggak kedengaran.
“Kaki lo tuh nginjak!” Rizal teriak.
Rupanya Kaki Amanda nginjak Kakinya Rizal.
Amanda cengengesan,senyum malu “Maaf zal..” kata Amanda pelan.
“Ribut terosssss” kata Emak ngasih komentar dari pojokan.
Nora sama calon suaminya yang duduk di bale-bale ngeliatin.
Amanda bagi-bagikan kotakan, Rizal yang megang’in kantong plastik buat ngangkat kotakan.