Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bioskop
Melihat mobil Diaz terparkir di depan garasi yang pintu besinya terbuka setengah, bisa dipastikan jika Diaz sudah pulang. Tya berjalan cepat memasuki rumah yang luas dan lengang. Mencari keberadaan sang suami sebelum mengarah menuju tangga. Sayup-sayup terdengar suara yang dikenalnya berasal dari ruang kerja yang pintunya terbuka lebar. Langkahnya kini pasti menuju ke sana.
Diaz melambaikan tangan ke arah Tya yang berdiri di ambang pintu. Tangan kanannya masih menggenggam ponsel yang melekat di telinga. Kaki kanannya yang bersilang di paha kiri diturunkan. Ia menepuk pahanya saat Tya menghampiri.
"Gue mau laporannya paling lambat lusa, Jo. Sebelum gue berangkat liburan." Diaz menyudahi sambungan telepon tanpa basa-basi. Beralih menarik pinggang Tya hingga duduk menyamping di pangkuannya. "Baru pulang?" tanyanya. Bibirnya dimanyunkan meminta dicium.
"Iya. Abey pulang jam berapa?" Tya mengusap bibirnya yang basah setelah dipagut hingga kehabisan pasokan oksigen. Sudah diduga tak mungkin Diaz mau menerima ciuman singkat, pasti diperdalam.
"Jam dua lewat. Happy mainnya?"
"Happy di awal, endingnya rada ambyar."
"Kenapa?" Diaz berhenti memainkan jemari lentik Tya. Beralih menatap serius.
Giliran Tya yang menggerakkan telunjuk dan jari tengahnya di leher Diaz, merayap-rayap. Ia memulai cerita saat melihat Leony begitu akan ke toilet. "Aku menghindar bukannya takut, tapi malas berurusan aja. Eh malah dia yang lihat aku lagi makan bareng Sonya. Terus mulutnya pedes level 10."
"Dia ngomong apa? Ceritain semuanya jangan ada yang di skip, Yang."
Tya lebih dulu memperhatikan ekspresi Diaz yang semakin serius dan menatap tajam. Ada kemarahan yang terpancar pada sepasang netra yang sepertinya siap meledak. Meski tentu saja bukan ditujukan padanya tetapi tetap saja bulu kuduknya merinding.
"Awal datang dia bilang wow wow sambil tepuk tangan. Katanya, biasa makan di kaki lima sekarang di bintang lima, welcome OKB. Sampai bikin Anya kaget dan tanya siapa dia.
Maaf, Abey. Aku keceplosan bilang kalau dia itu adiknya Mas Diaz tapi udah ku jelasin beda ibu. Kubilang harap maklum otaknya kurang se ons jadi saraf yang mengatur attitude terganggu. Eh si Leon marah terus mau gampar pipi tapi aku sigap tangkap tangannya.
Aku kasih peringatan kalau tetap kurang ajar bakal lapor ke Kak Diaz biar dihukum sama Ayah, eh dia bukannya takut malah nantangin suruh laporin aja. Dan... spaghetti carbonara ku disiram sama minuman yang dia bawa sebelum dia pergi," pungkas Tya diiringi menghela napas panjang.
"Kurang ajar!" diaz menunjukkan kemarahan yang ditahan dengan menggeram dan mengeratkan gigi. Diraihnya ponsel yang disimpan di meja. Tak perlu lama hingga panggilan keluar itu tersambung.
"Jo, si Leon makin kurang ajar sama istri gue. Majukan eksekusi malam ini!"
Mata Tya membulat mendengar instruksi bernada dingin yang hanya hitungan detik itu. Ponsel Diaz kembali disimpan di meja lalu mengusap muka. "Bey, eksekusi gimana maksudnya?"
Diaz mengembuskan napas dari mulut sebagai cara mengusir amarah. Setelah sekali mengerjapkan mata, bibirnya mengulas senyum tipis. "Lempar bom itu, sayang. Tadinya mau nanti tanggal 27 pas kita lagi holiday. Ada bagusnya dimajuin, biar dia batal ke bali."
Tya diam dengan pikiran menerawang. Kembali mengingat video durasi masing-masing dua dan empat menit yang pernah ditontonnya, total dua video yang pemainnya adalah Leony dengan pria dewasa yang terdengar dipanggil om. Seketika bahunya bergidik.
"Jangan dibayangkan, Yang. Kelakuan dia menurun dari ibunya."
Tya mengerjap. Tatapannya kembali fokus pada wajah Diaz yang sangat akurat menebak isi pemikirannya. "Jijik tapi juga miris. Dia baru umur 17. Kalau Ayah udah lihat, kemungkinan gimana reaksinya ya."
"Kita lihat saja nanti. Aku gregetan sama Ayah yang belum juga lakukan tes DNA. Pengen ku bilang 'najis' punya saudara macam si Boby dan si Leon."
Tya memeluk Diaz untuk meredam kemarahan yang kembali tersulut itu. Ia pun berharap yang sama seperti Diaz. Terbawa malu saat harus menjelaskan di depan Anya jika Leony hanyalah saudara seayah. Beda ibu beda didikan. Untungnya, Anya bukan tipe orang yang kepo dengan kehidupan orang lain. Saat pembahasan dialihkan, ia tak mengorek-ngorek lagi.
***
Sesuai janji, Diaz mengajak Tya memakai mobil baru untuk jalan-jalan sore sekalian malam mingguan. Memperkenalkan fitur sambil mobil melaju dikemudikan oleh Tya. Dari yang disaksikannya, sang istri hanya belum percaya diri jika membawa mobil seorang diri. Buktinya tak butuh waktu lama untuk paham semua fitur.
Mobil masuk ke parkiran mall begitu tiba waktu magrib. Mall yang berbeda dengan yang didatangi Tya siang tadi. Keduanya sepakat akan menonton bioskop yang tayangnya pukul tujuh. Masa tunggu akan diisi dengan makan malam. Tya menunggu di dalam restoran selama Diaz berada di mushola. Matanya berbinar. Senangnya bisa berkencan. Jika pasangan lain berkencan dalam status pacaran. Ia berkencannya dengan pacar halal.
Diaz menempati kursi saat pesanan sudah tersaji di meja. Lupakan dulu masalah keluarga, saatnya menikmati waktu berdua. Ibu yang baru pulang sore pun mendukung dan mengucapkan 'have fun' dengan ceria.
"Udah jam tujuh kurang sepuluh, Bey. Makanku belum abis."
"Santai aja. Nggak apa-apa telat juga, Yang."
Seandainya Tya tahu alasan Diaz yang sebenarnya mengajak ke bioskop bukan untuk menikmati film. Diaz pernah memergoki pasangan yang mesum di dalam bioskop, bukannya menikmati film. Dan itu sangat melukai harga dirinya yang dulu masih jomlo. Sekarang waktunya balas dendam dengan menang poin sebagai pasangan halal.
Jemari saling bertaut selama berjalan meninggalkan restoran sampai memasuki bioskop. Film sudah berjalan 12 menit saat memasuki pintu theater 2. Sesuai nomor yang dipilih Diaz, keduanya duduk di jajaran kursi paling atas dan paling sisi.
"Kenapa nggak di tengah-tengah sih, Bey. Kan kosong," bisik Tya yang menempati kursi paling ujung.
"Enakan mojok," sahut Diaz santai. Mulai meluruskan pandangan pada layar yang menampilkan cuplikan pocong yang mengintip pasien rawat inap di balik kelambu. Yang memilih film horor adalah Tya. Ia manut meski sebenarnya tidak suka. Justru mau memanfaatkan back song horor untuk memuluskan misinya.
Beberapa menit kemudian jeritan penonton yang ketakutan mulai terdengar, termasuk pula Tya. Tangannya spontan meremas paha Diaz dengan punggung menegang. Dengan iseng, Diaz menaikkan tangan Tya itu ke pangkal pahanya.
Membuat Tya menoleh dan melotot. Matanya semakin membelalak saat Diaz menarik bahunya lalu melumat bibirnya di tengah musik menegangkan menggema.
***
Sejak keluar dari bioskop hingga masuk ke dalam mobil, Tya diam seribu bahasa dengan wajah masam. Diaz menyadari itu. Berulang kali melirik mencuri pandang lalu berpaling berlawanan arah untuk menyembunyikan senyumnya.
"Yang, mau ke mana lagi sekarang?" tanya Diaz memecah kebisuan setelah sama-sama mengenakan sabuk keselamatan.
"Pulang. Udah malam."
"Baru jam sembilan. Pulang tengah malam juga no problem. Ke cafe, mau?" Mesin sudah menyala, AC sudah dingin, tetapi Diaz masih menatap Tya yang menatap lurus ke depan.
"Aku udah ngantuk. Mending pulang aja."
"Sayang, kenapa kayak bete. Kan abis nonton genre kesukaan. Harusnya happy dong. Seru kan ceritanya."
Kali ini Tya menoleh dengan wajah memberengut ia berkata, "Harusnya iya happy kalau iya nonton. Tapi Abey malah gangguin terus. Cium-cium tak tahu tempat, grepe-grepe kayak pasangan mesum sampai filmnya tamat dan bibirku dower nih lihat."
Diaz melipat bibir menahan senyum melihat Tya ngambek dan cemberut. Ah iya baru sadar jika bibir bawah Tya memang menebal. "Karna aku takut jadi mending ciuman aja," alibinya.
"Nggak percaya. Aku tuh malu, Abey. Ada yang berdehem sepertinya negur kita itu. Baru sadar, pantesan milih kursi paling atas di pojokan." Tya mendecak.
"Sebenarnya Abey niat nonton nggak sih. Kalau mau bermesraan kan bisa di rumah. Lebih leluasa, lebih privasi." Tya masih berlanjut meluapkan kekesalannya. Karena Diaz menciumnya berulang kali hingga lupa jalan cerita film bagaimana.
"Niat dong. Cuma waktu Ayang pegang paha, burungku jadi bangun. Maklum, sayang...baru juga berhasil buka segel malah dihukum puasa jadi bawaannya mudah on. Jadinya sakaw deh. Maafin ya...istriku."
Rasanya kekesalannya mencair begitu saja begitu mendengar kalimat terakhir Diaz yang lembut dan penuh perasaan. Ditambah Diaz mengulurkan telapak tangannya yang tidak kosong. Seuntai gelang cantik tampak berkilau terkena pantulan pencahayaan dari luar.
"Mau dipakai di kiri atau kanan?"
"Kanan." Kali ini Tya mendecak dalam hati karena bisa-bisanya bibirnya spontan tersenyum lebar.
Sehat selalu 🤲🏻
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁