Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Namun diluar dugaan Carol malah menarik Andrew untuk kembali mendekat sampai bibir merekapun kembali bertemu.
Hanya kecupan yang berubah menjadi ciuman menyalurkan sesuatu yang selama ini sangat terpendam.
Ciuman lembut itu berubah panas, saat tangan Andrew menekan tubuh Carol ke pelukannya.
"Awwhh.." Carol meringis di sela ciuman yang akhirnya membuat Andrew berhenti.
"Kenapa? Apa yang sakit?" tanyanya khawatir.
Gadis itu memalingkan wajahnya karena malu, dia yakin saat ini kedua pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Selangnya, ketarik." cicit Carol.
"Astaga maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu."
Andrew langsung mengecek tangan Carol yang tertancap jarum infus.
"Aku tidak apa-apa."
"I'm so sorry." pria dewasa itu mengusap tangan mulus yang berada di genggamannya.
"No. Ini tidak seberapa sakit dibandingkan dengan penolakan itu."
Andrew tersenyum tipis, mata yang selalu terlihat tajam itu kini terlihat teduh.
"Untuk itu aku juga minta maaf."
"Selama ini aku sudah menyangkal perasaan ini berkali-kali."
"Tapi sekarang aku menyerah. Hari itu saat aku tahu kamu pergi dengan pria lain, aku sangat marah. Setiap kali aku melihat kekecewaan dari matamu aku juga sangat sakit Carl. Lalu melihat keadaanmu kemarin duniaku terasa runtuh dan akhirnya aku sadar bahwa aku ingin bersamamu. Aku takut, aku takut kehilanganmu. Aku.. tidak sanggup."
"Kumohon, jangan seperti itu lagi."
Senyum Carol tertahan, akhirnya setelah pre order bertahun-tahun sejak masih menjadi suami kakaknya sampai menjadi duda pertahanan seorang Andrew runtuh juga.
Meskipun harus bersakit-sakit dahulu tetapi tidak apa, dan sepertinya Carol juga akan sedikit berterima kasih pada j4lang kantor itu karena secara tidak langsung dia sudah membantu perjuangan cintanya.
"Kenapa diam? Kenapa cuma senyum-senyum?" tanya Andrew keheranan.
"H-hah? tidak tidak." jawab Carol yang ketahuan sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu mendengar apa yang aku bicarakan kan?"
"Aku dengar kok."
"Lalu kenapa responmu seperti itu?"
"Aku hanya tidak percaya saja akhirnya kamu mengakuinya."
"Maaf." cicit Andrew pelan.
"Jadi kita.."
"Kita jalani dulu, berdua saja. Aku minta waktu untuk menghadapi keluargamu."
Carol terdiam kemudian mengangguk tanda mengerti, "Baiklah, aku paham."
"Good girl!" Andrew mencolek hidung Carol dengan gemas.
Dalam hatinya Andrew berperang dengan dirinya sendiri, hatinya mengatakan iya sementara otaknya tidak. Benar kata orang jika hati tidak pernah bisa dibohongi.
Andrew tidak tahu apakah keputusannya saat ini sudah benar atau tidak, yang terpenting sekarang adalah hatinya merasa nyaman dan lega setelah mengutarakan semua yang ia tahan selama ini. Dia tidak perlu menyangkal apapun lagi.
...----------------...
Hari berganti, sudah tiga hari Carol dirawat tapi dokter belum memperbolehkannya untuk pulang. Perban di kepalanya juga masih belum bisa dibuka.
Andrew yang saat itu pamit keluar untuk mencari kopi malah kecolongan.
Lucas datang ke rumah sakit. Sudah tiga hari dia mencoba menghubungi gadis itu tapi tidak kunjung mendapat jawaban jadi dia datang ke kantor Carol dan mendapat kabar jika dia jatuh sakit.
Dia datang kesana dengan buah tangan yang manis, yaitu satu parsel buah-buahan dan satu buket bunga yang cantik. Setelah mendapat nomor kamar dari resepsionis Lucas langsung bergegas kesana.
Di dalam ruangan Carol sedang asyik menonton film dari layar tv, saat pintu terbuka senyumnya merekah karena dia kira Andrew yang datang.
"Kamu.." ucapannya tergantung saat mendapati Lucas yang berdiri di ambang pintu.
"Hai!" sapa pemuda itu, sangat ramah.