Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Aroma antiseptik yang pekat memenuhi setiap sudut ruang ICU yang hening, hanya diselingi oleh bunyi bip teratur dari monitor detak jantung yang memantau kondisi vital Hazel.
Arlend menarik sebuah kursi dan duduk tepat di samping ranjang medis. Pria tegap yang biasanya tak tersentuh oleh emosi itu kini duduk menunduk. Dengan kedua tangannya yang gemetar, ia meraih jemari mungil Hazel yang terbebas dari jarum infus, menggenggamnya erat-erat lalu menempelkan telapak tangan dingin itu ke pipinya.
"Hazel..." bisik Arlend. Suaranya pecah, serak, dan sarat akan penyesalan yang membakar dadanya.
Arlend memejamkan mata erat-erat, membiarkan setetes air mata hangat menetes membasahi jemari Hazel. "Maafkan aku... Aku telat mengingatmu, Hazel. Aku sangat telat..."
Pria itu meremas lembut jemari Hazel, mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibujarinya. "Aku yang bodoh ini menyakitimu saat kau justru berjuang mati-matian menyelamatkanku. Aku melupakan wajah orang yang paling tulus dalam hidupku. Tolong bangun, Hazel... Biarkan aku membayar semua rasa sakit yang kubuat. Bangunlah..."
Sepanjang malam, Arlend tidak memejamkan matanya sedikit pun. Ia terus menggenggam tangan Hazel, menjaga gadis itu di tengah masa kritisnya yang membahayakan nyawa.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden ruang perawatan VIP.
Monitor detak jantung yang tadinya berbunyi cepat kini berangsur stabil. Kelopak mata Hazel yang pucat mulai bergerak pelan. Dengan sisa tenaga yang amat terbatas, Hazel perlahan membuka matanya. Pandangannya buram dan berasap, namun hal pertama yang ditangkap oleh inderanya adalah kehangatan genggaman tangan di jemarinya.
Hazel menolehkan kepalanya secara perlahan. Di samping ranjangnya, Arlend sedang terduduk kaku dengan mata merah, lingkaran hitam menghiasi bawah matanya, dan raut wajah yang dipenuhi rasa cemas yang amat dalam.
Melihat mata Hazel terbuka, Arlend tersentak. Pria itu langsung berdiri tegak, mendekatkan wajahnya dengan binar mata yang dipenuhi keharuan luar biasa.
"Hazel... Kau... kau sudah sadar?" bisik Arlend dengan suara bergetar, jemarinya mempererat genggaman pada tangan Hazel tanpa menyakitinya. "Tunggu, aku panggilkan dokter—"
"Kak..." panggil Hazel dengan suara yang teramat lirih, hampir tenggelam oleh bunyi alat bantu pernapasan yang terpasang di mulut dan hidungnya.
Langkah Arlend membeku. Ia menundukkan badannya kembali, mendekatkan telinganya ke bibir Hazel. "Ya, Hazel? Aku di sini. Kakak di sini..."
Hazel menatap iris mata Arlend yang kini tidak lagi dingin atau asing. Pendar kehangatan, kepolosan, sekaligus rasa bersalah yang teramat besar terpancar jelas di mata pria itu—pendar yang sama saat pria ini masih bernama Sagara.
"Kau... benar-benar sudah ingat?" bisik Hazel pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
Arlend mengangguk cepat. Air mata kembali menetes di pipi sang Raja Mafia, jatuh menimpa selimut rumah sakit yang mengenakan Hazel. "Aku ingat semuanya, Hazel. Aku ingat caramu merawat lukaku, caramu menggenggam tanganku saat berlari di hutan, dan caramu pasang badan membela pria bodoh ini di hadapan keluarga Adeline... Aku ingat semuanya."
Hazel memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas lega yang sangat tipis. Rasa sakit membakar di punggungnya seolah berkurang sedikit saat mendengar pengakuan itu.
"Lalu... kenapa Kakak... mencambukku kemarin?" tanya Hazel lirih. Tidak ada nada marah dalam suaranya, hanya ada rasa terluka dan kebingungan yang mendalam. "Kenapa Kakak... membiarkan mereka membuangku ke laut?"
Dada Arlend serasa dihantam godam besar mendengar pertanyaan polos itu. Penyesalan tak bertepi merayapi jiwanya.
"Maafkan aku, Hazel..." erang Arlend, menempelkan dahi tegapnya pada punggung tangan Hazel yang berada dalam genggamannya. "Saat aku terbangun di dasar jurang, benturan keras itu merusak ingatanku lagi. Aku hanya mengingat kekejaman Cateline dan Helena... tapi otaknya yang bodoh ini menghapus seluruh kenangan indah tentangmu."
Arlend mendongak, menatap Hazel dengan pandangan memohon yang amat pilu. "Aku berpikir kau adalah bagian dari rencana jahat mereka. Tapi begitu melihat pecahan gelas di markas... seluruh memoriku tentangmu kembali. Aku langsung mengejarmu, Hazel. Aku melompat ke laut untuk mencarimu..."
Hazel menatap Arlend diam. Ia bisa melihat guratan luka, basah pakaian yang belum sepenuhnya kering, serta kepanikan yang masih tersisa di wajah pria yang kini dikenal sebagai penguasa dunia gelap itu.
"Jadi... Kakak bukan lagi Sagara yang polos?" gumam Hazel pelan.
Arlend menggeleng lembut, lalu menyunggingkan senyum tipis yang penuh kehangatan hanya untuk Hazel. "Di hadapan dunia, aku adalah Arlend Kyren Victor. Tapi di hadapanmu... aku tetaplah Sagara-mu, Hazel. Pria yang akan selalu berutang nyawa dan pelindung bagimu."
Arlend memajukan tubuhnya, mengecup dahi Hazel dengan teramat lembut dan lama, menyalurkan seluruh kehangatan dan rasa penyesalan yang tak terhingga.
"Istirahatlah," bisik Arlend lembut di dekat telinga Hazel. "Mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menyakitimu lagi. Kakak yang akan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuhmu."
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...