NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 12] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Deru mesin SUV premium itu terdengar sangat halus, membelah keheningan malam yang merayap di sepanjang jalan kota. Cahaya lampu jalanan menyusup berkala melewati kaca mobil, memendar singkat di paras Anisa yang malam ini terlihat hidup.

Kehangatan yang menular memancar dari binar matanya, meluluhkembangkan kekakuan yang selama ini mengikat dirinya.

"Ternyata Kak Dereta dan Kak Morgan itu beragama Katolik," celetuk Anisa tiba-tiba, memecah kesunyian dengan antusiasme yang membuncah. Jemarinya yang menaut di pangkuan meremas kain roknya pelan, menandakan lonjakan emosi yang tak bisa ia bendung.

"Lalu Kak Azy ternyata menganut kepercayaan Tionghoa kuno, sementara sayadi sana satu-satunya yang beragama Islam. saya sempat kaget waktu tahu Kak Barbara ternyata Kristen Protestan. Hampir saja saya salah berucap tadi! Dan Tuan Oscar tahu? Tadi di ruang tamu..."

Anisa terus mengoceh, gesture tubuhnya bergerak ikhlas, terkadang tangannya melambai kecil menekankan kekagumannya. Oscar tetap meremas lingkar kemudi berkulit halus itu. Pria itu menyimak dalam diam, sesekali matanya melirik wanita di sampingnya lewat sudut mata. Nada bicaranya yang kekanak-kanakan membentur dinding kabin mobil yang elegan, menghadirkan kontras yang asing namun menghangatkan.

"Mereka usianya masih enam belas tahun dan sungguh tidak disangka sebelumnya, padahal saya kira lebih muda," sambung Anisa lagi, merujuk pada si kembar Arlota dan Alexis. Napasnya sedikit memburu karena kalimatnya yang meluncur tanpa jeda. "Lalu satu hal lagi, tadi..."

"Lalu?" pancing Oscar lirih. Sudut bibirnya terangkat tipis, menyembunyikan keterkejutannya. Wanita di sampingnya ini—yang dulu ia kenal amat dingin, pendiam, dan membatu bagai patung porselen—ternyata mampu melepas seluruh pertahanannya hanya dalam satu malam.

"Mereka berduaan benar-benar melakukannya, Tuan! Kak Dereta dan Kak Morgan benar-benar pandai memasak! Kak Azy juga... Pertarungan masak-memasak tadi benar-benar menegangkan!" Anisa berseru kencang, tawanya lepas. Wajahnya berseri penuh kepuasan yang murni.

Napas Anisa perlahan melambat saat energinya terkuras habis. Ia akhirnya merebahkan punggungnya, bersandar sepenuhnya pada jok kulit SUV yang empuk, menikmati rasa lelah yang menenangkan.

Oscar memelankan laju kendaraan, menyelaraskan suasana hatinya yang makin intens. "Sudah selesai ceritanya?" tanyanya memastikan.

Anisa mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis seraya menatap jalanan yang lengang.

"Ternyata kamu bisa menjadi perempuan cerewet juga, ya?" sindir Oscar, diiringi nada menggoda yang jarang ia perlihatkan.

Wajah Anisa seketika memanas. Ia memperbaiki posisi duduknya, menutupi kecanggungannya dengan membuang muka ke arah jendela. "Sa-saya bukan perempuan cerewet kok. Saya cuma..." Anisa tertahan. Jemarinya sibuk memilin ujung bajunya. Ia terlalu malu untuk mengakui betapa bahagianya ia malam ini bisa diterima di lingkaran keluarga itu.

Oscar menarik napas dalam, membiarkan keheningan mengambil alih sejenak sebelum berucap datar, "Kalau begitu, sepertinya baik-baik saja jika aku meninggalkanmu dengan mereka."

Deg.

Sensor emosi Anisa langsung menangkap dinginnya nada itu. Sentakan kecil menghantam dadanya, melenyapkan sisa tawa yang baru saja mengudara.

"Memangnya Tuan Oscar mau pergi ke mana?"

Oscar menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang menyembunyikan kejengkelan tak kasatmata. Panggilan itu lagi. "Kamu bisa berhenti panggil Tuan,Dan...Kakak?" Nada suara Oscar terdengar lebih dalam.

Ada desakan ego dan cemburu menyelinap di sana ketika membayangkan bagaimana wanita lain memanggil suami mereka dengan nada hangat penuh keharmonisan, sementara istrinya sendiri menciptakan jarak selebar jurang dengannya.

Anisa menatap Oscar polos, keningnya berkerut halus. "Lalu panggil apa, Tuan?"

"Ya... entahlah. Di luar kamu malah memanggilku Tuan, sementara di hadapan mereka kamu malah memanggilku dengan sebutan Kakak. Jadi rasanya kamu perlu menggantinya, bukan?" Oscar mengetuk jemarinya di setir, matanya lurus menatap jalanan. "Kamu juga salah memanggil mereka. Seharusnya langsung saja panggil Dereta, Morgan, dan Azy itu dengan nama... karena meskipun umurmu terbilang paling muda, tetap saja kamu adalah istriku."

"Jadi panggilannya bagaimana?" Anisa mengedipkan mata, benar-benar tidak paham ke mana arah pembicaraan suaminya.

Oscar menoleh sejenak saat mobil berhenti di lampu merah. Sorot matanya mengunci Anisa. "Panggil sayadengan sebutan manja? Misalnya baby, atau mungkin... sayang?" godanya dengan intonasi rendah yang menggantung di udara.

Blus! Darah berdesir cepat menuju wajah Anisa. Pipinya memerah padam hingga ke ujung telinga. Ia menunduk dalam-dalam, mengutuk detak jantungnya yang mendadak berpacu liar.

Apakah dia biasa mengucapkan kata-kata manis ini pada wanita lain di luar sana? Anisa meragu. Rasa tidak nyaman yang asing menyusup—sebuah kecemburuan kecil yang tak diundangnya hadir.

"Kenapa nunduk-nunduk begitu? Kamu kepikiran aku, ya?" Oscar mengikis jarak, menatapnya jahil, menikmati pemandangan istrinya yang salah tingkah.

"Eng-enggak kok! Saya gak malu kok..." gumam Anisa sangat pelan, suaranya hampir hilang terhisap deburan pendingin udara mobil.

"Jangan terlalu formal, Anisa. Panggil saja sayadengan sebutan Mas, sama seperti Azy memanggil suaminya. Dan jangan kaku padaku seperti itu" potong Oscar tegas namun lembut saat menangkap anggukan pasrah istrinya.

Anisa mendongak ragu. "Ehh... tunggu dulu, Mas?"

"Iya?" Oscar menyahut cepat, ada rasa puas yang aneh saat kata itu akhirnya meluncur dari bibir Anisa.

"Mas belum lanjutkan tadi. Sebenarnya Mas mau pergi ke mana?" Anisa memberanikan diri menatap mata pria di sampingnya.

Oscar mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Ada hembusan napas samar yang ia sembunyikan. Tak mungkin ia membeberkan urusan kelam yang belum saatnya wanita polos ini ketahui.

"Ya... itu sebenarnya rencana pengiriman pasokan properti, untuk ekspor ke negara tetangga," jawabnya santai, merangkai alibi dengan wajah tenang.

"Sampai kapan?" tanya Anisa, raut cemas menyorot jelas dari matanya.

"Hanya tiga hari saja kok. Setelahnya aku akan pulang."

Anisa mengangguk pelan, walau hatinya tetap merasa sesak. Sebagai pengantin baru, ditinggalkan secara mendadak tentu memberi rasa hampa yang tak menyenangkan.

"Jangan khawatir, aku terbiasa melakukan perjalanan seperti ini," tambah Oscar berusaha menenangkan.

Tak lama kemudian, mobil mewah itu berbelok memasuki pekarangan kediaman utama. Sebuah bangunan megah yang malam ini tampak terang dan hangat. Oscar mematikan mesin, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya yang mantap diiringi Anisa yang mengekor tegang di belakangnya. pikiran pria itu berkecamuk.

(Apa yang sebenarnya aku lakukan sekarang? Kenapa rasanya hatiku tidak nyaman meninggalkannya sendiri?) batin Oscar membakar ketenangannya sendiri. Keraguan menguasai dadanya hingga saat berada di lorong remang-remang yang memisahkan kamar mereka, Oscar mendadak memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat.

Brukh!

Anisa yang berjalan sembari melamun tak sempat mengerem langkahnya. Wajahnya menabrak dada bidang Oscar yang keras. Senyap menguasai lorong itu seketika.

Napas Anisa tercekat. Jarak mereka mengikis habis. Kedua mata mereka bertautan rapat. Di balik ketegasan iris mata Oscar, ada gelombang gelisah dan kebingungan yang tak bisa disembunyikan.

"Kenapa malah diam?" suara Oscar terdengar serak, sedikit menuntut. "Apa kamu tidak penasaran mengapa aku pergi? Atau tentang apa saja yang nantinya akan aku bawa? Mungkin sesuatu tentang bagaimana di sana? Dengan siapa aku di sana? Kamu yakin tidak penasaran?" Oscar menatapnya tajam, ada desakan khawatir yang bertopeng amarah halus.

Anisa menatap mata suaminya, mencari pegangan di tengah kebingungannya. "Mas bilang... saya harus tenang karena Mas terbiasa melakukan perjalanan ini?"

"Ya... Habisnya, kamu terlihat seperti tidak peduli!" Oscar melangkah maju, memojokkan Anisa hingga punggung wanita itu menyentuh dinding lorong yang dingin. "Atau kamu belum mengerti jelasnya tentang pekerjaanku? Perlu aku jelaskan semuanya? Atau kamu perlu melihat jadwalnya saja?"

Anisa makin merapat ke dinding, napasnya naik turun kebingungan melihat perubahan emosi Oscar yang drastis. "Ah... tu-tunggu dulu, Mas. Anu, itu..."

"Lagipula... Mas sendiri yang bilang kalau saya tidak seharusnya tahu atau ikut campur segala jenis urusan kerjanya Mas Oscar?" potong Anisa. Suaranya terdengar sangat jujur, polos, tanpa ada nada protes sedikit pun. "Mas... kewajiban saya di sini adalah menurutimu, Mas. Dan saya tidak punya hak lebih terhadap Mas, atau tentang pekerjaan Mas... Karena saya tidak ingin mengganggumu, Mas..."

Hening.

Kalimat tulus itu menghantam Oscar tepat di dadanya. Kata-katanya sendiri di masa lalu kini berbalik menyerang pertahanannya. Pria itu terpaku, kehabisan kata-kata. Niat hati ingin menuntut kepedulian dari Anisa, namun kenyataan memukulnya telak: mereka hanyalah pasangan terikat kontrak. Lantas atas dasar apa ia mengharapkan cinta dan kecemburuan dari wanita ini?

Kenapa hatinya kian tidak tenang? Apakah karena benteng pertahanannya mulai runtuh dan ia mendapati dirinya mulai menginginkan Anisa sepenuhnya? Oscar merasa liar, tak terkendali.

"O-oke... Baiklah," gumam Oscar terbata, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang remuk.

"Anu... Mas?" panggil Anisa pelan.

"Iya?"

"Ini... kamar saya," tunjuk Anisa pada pintu di samping mereka. Kata-kata itu begitu lembut, namun bertindak bagai sembilu yang menyadarkan Oscar bahwa dialah yang pertama kali menetapkan batas untuk memisahkan kamar tidur mereka.

Oscar tertegun. Tatapannya jatuh menatap lantai marmer yang dingin. Hembusan napasnya terdengar amat berat dan sarat penyesalan. Ia menggeser tubuhnya pelan, memberi jalan dan mempersilakan Anisa masuk terlebih dahulu.

"Tidurlah yang nyenyak," setelah mengucapkan Oscar tersenyum pelan Oscar tanpa berani menatap mata Anisa lagi. Sebelum Anisa sempat membalas, pria itu sudah balik badan dan melangkah pergi membelakangi lorong.

Langkah kaki Oscar terasa berat. Dadanya dihantam perpaduan rasa malu, tegang, dan penyesalan yang membakar. Ia, pria yang tak pernah membiarkan emosi menguasai logikanya, kini hancur hanya karena tatapan polos seorang wanita. Senyum sinis tertuju pada dirinya sendiri—sebuah senyuman pasrah atas kebodohannya. Untuk apa ia berharap lebih? Bukankah pada akhirnya semua wanita sama saja?

Dalam benaknya yang mulai menggelap malam itu, doktrin lama kembali membisikkan prasangka. Bagi Oscar, wanita hanya tertarik pada harta dan kekuasaannya, bukan cinta yang tulus. Seorang wanita yang tidak bisa menerima sisi terburuk seorang pria, tidak akan pernah pantas mendapatkan sisi terbaiknya.

Pandangannya tertuju keluar jendela besar tempat rembulan malam memancarkan cahaya dinginnya. Bayangan Anisa terus menari di benaknya, namun perlahan berubah menjadi kekhawatiran yang meracuni pikiran. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.

(Dia bisa saja mengkhianatiku saat aku mulai menyerahkan hatiku padanya)batin Oscar dingin.

Di bawah naungan malam yang membeku, Oscar memantapkan hatinya. Keputusannya sudah bulat. Cukup. Tidak ada lagi sikap baik.

Sudah cukup!

Benteng itu harus ditegakkan kembali, lebih kokoh dari sebelumnya.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!