Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
"Mirella, pergilah ke kamarmu di lantai dua. Antar nona Mirella ke kamarnya." Zavian menatap Mirella, lalu memberi perintah ke pelayan yang berdiri di dekat situ. Mirella menurut saja. Dia tidak mau mendengar pembahasan kedua orang dewasa yang baru saja menikah itu.
Mirella langsung berdiri dari kursinya, kepalanya tertunduk dalam. Ia tidak berani menatap siapapun, terutama Zavian yang tiba-tiba terlihat begitu serius dan dingin. Langkahnya sedikit cepat saat ia berjalan menjauh dari meja makan, diikuti oleh pelayan yang membimbingnya naik ke lantai dua.
Sesampainya di kamar, pintu tertutup rapat di belakangnya, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa bisa bernapas sedikit lebih lega, meski hatinya masih berdebar cemas memikirkan apa yang akan dibicarakan di bawah sana.
Di ruang makan, keheningan yang berat langsung menyelimuti ruangan begitu langkah kaki Mirella menghilang. Zavian menatap Viona dengan tatapan yang begitu tajam, seakan sedang menilai sesuatu yang tidak berharga di hadapannya. Ia meletakkan serbetnya di atas meja dengan gerakan tegas, lalu bersandar pada kursinya, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Cukup, Viona." suaranya rendah, namun terdengar sangat berwibawa dan menekan.
"Jangan pernah membahas hal seperti itu di depan Mirella lagi. Dia adalah putrimu, dan dia masih anak-anak. Dia tidak pantas menjadi bahan pembicaraan kotor di meja makan."
Viona tertawa kecil, namun tawanya sama sekali tidak terasa hangat. Ia menyesap kopinya perlahan, seakan kata-kata Zavian hanyalah angin lalu yang tidak berarti.
"Anak-anak? Dia sudah cukup besar untuk mengandung anakmu, Zavian. Kau menandatangani perjanjian itu, menikah denganku secara kontrak dan memberikan bayi untukku. Aku berhak mencari perempuan yang akan kau tiduri. Sekarang bertingkahlah seperti suami yang benar. Aku memberikan putriku sendiri padamu, harusnya kau senang. Dia belum tersentuh, masih polos dan suci. Kau kalau menyentuhnya, kau tidak rugi sama sekali, malah beruntung."
Zavian tidak terpancing emosi. Ia menatap lurus ke mata wanita itu, tanpa sedikit pun terlihat goyah.
"Aku menikah denganmu, itu urusan kita berdua. Jangan libatkan anak yang tidak bersalah. Dan jangan coba-coba kau sodorkan putrimu lagi padaku. Ingat itu baik-baik."
Zavian hendak pergi dari sana, tapi ucapa Viona selanjutnya menghentikan kembali langkahnya.
"Kau tidak takut akan bilang yang tidak-tidak pada ibumu? Mau dia kena stroke atau serangan jantung?"
Ancaman tersebut membuat Zavian berbalik dan langsung mencekik leher Viona. Tatapannya begitu tajam dan amat menusuk.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan ibuku karena ulahmu, lihat saja bagaimana aku menghancurkan hidupmu. Lebih baik fokus dengan urusan masing-masing, dan jangan libatkan semua orang yang tidak bersalah." Zavian lalu menghempas kasar Viona ke lantai. Wanita itu sampai terbatuk-batuk. Matanya mengeluarkan air.
Ia menatap kepergian Zavian dengan senyuman kebencian. Laki-laki sialan. Jangan harap dia takut.
"Mau coba-coba menakutiku rupanya. Kau lihat saja siapa yang hancur duluan, kau ... Atau aku." katanya tersenyum sinis.
Viona bangkit perlahan dari lantai, mengusap bibirnya yang sedikit bergetar, senyum sinis itu masih terukir di wajahnya meski matanya menyala penuh amarah. Ia merapikan pakaiannya dengan gerakan gemas, menatap pintu yang baru saja dilewati Zavian seakan di sana berdiri musuh terbesarnya.
"Kau pikir kau sudah menang?" gumamnya pelan, suaranya bergetar karena kemarahan yang ditahan. "Kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan, Zavian. Kau belum melihat apa-apa."
Sementara itu, di lantai dua, Mirella duduk di tepi tempat tidur, kedua telapak tangannya menutup telinga, namun ia tetap mendengar suara bentakan samar dari bawah. Jantungnya berpacu cepat, rasa takut yang akrab kembali menyelimuti hatinya. Ia tahu ibunya tidak akan diam saja. Ia tahu pertengkaran ini baru permulaan.
Belum lama berlalu, pintu kamarnya terbuka tiba-tiba tanpa diketuk keras. Viona masuk dengan wajah yang keras, matanya menyala penuh kemarahan yang belum tersalurkan.
"Kau yang membuatnya begitu, bukan?" tuduhnya tajam, menunjuk jari telunjuk ke arah putrinya.
"Karena kau tidak berguna, karena kau tidak bisa menarik hatinya, sekarang dia berani menentangku. Semua ini salahmu, anak bodoh. Salahmu!"
Mirella mundur hingga punggungnya menabrak dinding kepala tempat tidur, tubuhnya gemetar hebat.
"Bu-bunda... Rella nggak melakukan apa-apa..."
"Diam! Jangan berani membela dirimu!" Viona melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan dan menarik kasar pergelangan tangan putrinya. Kuku-kukunya terasa menancap di kulit Mirella.
Ia lalu menarik gadis itu ke kamar mandi, memutar keran di wastafle, memasukan kepala Mirella ke sana hingga rambut dan wajahnya basah kuyup. Seperti biasa, Mirella akan selalu menjadi tempat pelampiasan Viona kalau marah. Seakan sang putrilah penyebab semua masalah dalam hidupnya.
Air dingin itu membasahi wajah dan rambut Mirella, masuk ke hidung dan mulutnya, membuatnya terbatuk-batuk dan tersedak. Ia mencoba menarik kepalanya keluar, namun tangan ibunya menahan dengan kuat, tidak memberi ruang sedikit pun untuk bernapas.
"Belajarlah jadi anak yang patuh!" bentak Viona, suaranya nyaris tertutup suara gemuruh air.
"Kalau kau saja tidak bisa kau kendalikan, untuk apa aku memelihara kau? Katakan pada pria itu malam ini, kau ingin tidur di kamarnya. Katakan kau takut gelap. Lakukan itu, atau besok pagi aku kirim kau ke Austria sekarang juga!"
Baru setelah beberapa detik yang terasa lama sekali, Viona melepaskan cengkeramannya. Mirella terhuyung mundur, terbatuk hebat, air menetes dari rambutnya ke lantai dan ke lehernya yang terasa dingin hingga ke tulang. Ia memeluk tubuhnya yang menggigil, menatap ibunya dengan mata yang terbelalak dan penuh air mata.
Viona menyambar handuk kecil, melemparkannya kasar ke wajah putrinya.
"Keringkan dirimu. Jangan sampai terlihat seperti anak malang di depan dia. Pakai gaun yang cantik, yang aku belikan di lemari. Dan ingat apa yang kukatakan. Jangan sampai aku kecewa lagi."
Wanita itu berbalik dan keluar dari kamar mandi, membanting pintu hingga dinding kamar sedikit bergetar. Mirella jatuh berlutut di lantai yang basah, memegangi pinggiran wastafel dengan tangan gemetar. Napasnya masih tersengal-sengal, perih di dadanya terasa begitu nyata. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun, wajahnya pucat, rambutnya berantakan menempel di dahi, matanya merah dan bengkak.
Ia tidak punya pilihan. Atau setidaknya, begitu pikirnya. Apa ... Dia kabur saja dari rumah ini? Tapi ... Kalau kabur, dia mau ke mana? Dari kecil dia selalu terisolasi dalam rumah. Tempat terjauh dirinya pergi hanyalah sekolah. Pernah sekali dia kabur, dan ibunya tetap menemukannya. Waktu itu dia langsung di siksa dan di kurung di tempat gelap berhari-hari. Makanannya hanya nasi dan air.
apa ada yang sabotase ...