Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merekam Wajah Ayyana
Di Markas Besar Komando, Chester berdiri mematung di tengah ruang kerja taktisnya yang temaram. Earpiece yang terpasang di telinga kirinya masih menyalurkan audio jernih dari transmitter Ocla di rumah dinas.
Beberapa perwira yang berada di ruangan itu mendadak menghentikan obrolan. Atmosfer di sekitar sang Kapten yang biasanya kaku dan dingin, mendadak berubah menjadi hening yang mencekam.
"Menyentuh seujung kuku pun... Chester nggak akan pernah lakukan itu tanpa persetujuan Ayyana."
Suara tenang dan mantap milik Ayyana yang terngiang langsung melalui saluran terenkripsi itu membuat gerak jemari Chester di atas meja kerja terhenti seketika. Berkas laporan perimeter yang sedang ia pegang luput dari genggamannya.
Zack, yang duduk di depan jajaran layar monitor siber dan mengawasi lalu lintas sinyal audio, menoleh pelan ke arah atasannya. Ia menangkap perubahan tipis pada raut wajah Chester—rahang pria itu mengeras, namun ada tatapan rumit yang sulit diartikan di balik mata hitamnya yang selalu tajam.
"Kapten?" panggil Zack pelan, menguji kesadaran komandannya. "Sinyal audio dari unit Ocla masih aktif. Perlu saya putus sambungannya?"
Chester tidak langsung menjawab. Pria itu menghembuskan napas pelan, mengusap tengkuknya yang tegang sebelum menatap layar pemantau yang menampilkan peta lokasi rumah dinasnya.
"Biarkan tetap terhubung," perintah Chester pendek, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. "Pastikan tim Flyn memperketat penjagaan di sektor luar selama kendaraan Dex Sanders ada di lokasi. Jangan sampai ada tim pemantau Harris yang memanfaatkan kedatangan mereka."
......................
Panggilan mendadak dari ruang kerja Laksamana Muda Harris terasa bagai jebakan yang sudah disiapkan dengan matang.
Di balik meja kerjanya yang megah, Harris menyerahkan sebuah map dokumen rahasia berlogo merah membara. "Operasi Pembebasan Sandera di Sektor Bravo. Area konflik garis keras," ucap Harris dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Hanya Team Eclipse yang memiliki spesifikasi untuk misi tingkat tinggi ini, Kapten Sinclair. Helikopter penjemputan akan mendarat di helipad markas pukul 22.00 malam ini."
Chester menerima dokumen itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya, namun jemarinya mengepal kuat di balik map.
Ini bukan sekadar tugas negara—ini adalah taktik Harris untuk memisahkan Chester dari Ayyana, mengosongkan benteng pertahanannya, dan mengekspos rumah dinas itu saat Chester berada di luar jangkauan radar.
Misi pembebasan di area konflik tidak pernah berlangsung cepat.
Chester tahu betul, ia harus pergi minimal satu minggu, atau bahkan lebih, meninggalkan Ayyana sepenuhnya. Dan yang paling buruk: ia harus membawa Ocla, Flyn, Zack, serta Rowan bersama dirinya.
Ayyana akan ditinggalkan tanpa dirinya. Tanpa perisai utamanya.
"Siap, Laksamana. Instruksi dilaksanakan," sahut Chester dingin sebelum melakukan penghormatan kaku dan memutar tumitnya keluar dari ruangan.
Begitu keluar dari koridor utama, Chester langsung menyalakan saluran enkripsi khusus Team Eclipse. Suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya di balik kom.
"Zack, kunci seluruh protokol pertahanan rumah dinas sekarang. Ocla, Flyn, bersiap. Kita berangkat malam ini."
Suara raungan mesin mobil dinas Chester terdengar membelah halaman persis saat Dex Sanders dan Ciara melangkah keluar dari pintu depan.
Chester turun dari kendaraan, seragam dinasnya tampak rapi namun aura dingin di sekelilingnya terasa jauh lebih pekat dari biasanya.
Pria itu menyempatkan diri mengangguk hormat pada Dex Sanders, sebelum tatapannya bertubrukan dengan Ciara.
Langkah Ciara terhenti di hadapan Chester. Tanpa ragu, wanita berkelas itu menatap tajam langsung ke mata sang Kapten, memancarkan amarah dan ketidakrelaan seorang ibu yang mendapati putrinya hidup dalam keterbatasan.
"Putriku bukan tentara, Chester," tegur Ciara dengan suara rendah namun sarat penekanan yang menembus keheningan halaman. "Jika kamu tidak mampu memberikannya tempat tinggal yang setara dengan apa yang selalu saya berikan sejak dia lahir, minimal beri dia makanan yang layak. Jangan beri dia makanan kemasan militer seolah-olah dia adalah prajuritmu di barak."
Dex Sanders memegang lembut lengan istrinya, mencoba meredam ketegangan, meski matanya sendiri menatap Chester dengan pandangan menilai yang menuntut jawaban.
Chester tetap berdiri tegap, tidak menunjukkan gestur tersinggung atau defensif sedikit pun. Tangannya terkepal rapi di belakang punggung.
"Saya mengerti kekhawatiran Tante," sahut Chester datar namun bernada sungguh-sungguh. "Ayyana akan mendapatkan katering khusus bernutrisi tinggi setiap harinya. Semua kebutuhan dasarnya adalah prioritas saya."
"Kulkas di rumah kami itu sebesar lemari dua pintu, Chester! Semuanya penuh dengan makanan kesukaannya—ice cream, cake, camilan impor!" sergah Ciara lagi, emosinya tak terbendung membayangkan Ayyana yang terbiasa hidup dimanja kini harus menyantap makanan katering dingin. "Dia tidak pernah kekurangan makanan manis satu kali pun seumur hidupnya!"
"Ciara, sudah..." sela Dex cepat, memegang kedua bahu istrinya untuk meredakan luapan emosi yang makin tak terkontrol di depan menantu mereka.
Melihat situasi makin memanas, Ayyana yang berdiri tak jauh di belakang langsung melangkah maju. Ia meraih dan menarik lengan seragam dinas Chester, menyela di antara ketegangan itu sembari menatap ibunya dengan tatapan memohon.
"Ma, udah... Ayyana nggak apa-apa, sungguh," sela Ayyana lembut namun tegas, tangannya masih mencengkeram kain tebal di lengan Chester, mencoba menghentikan amukan ibunya sekaligus memberi sinyal pada pria kaku itu agar tidak perlu memperpanjang perdebatan.
Ciara menarik napas panjang, menatap putrinya yang tampak gigih membela Chester, lalu mendengus pelan sebelum akhirnya mengalah dan membiarkan Dex menuntunnya masuk ke dalam mobil mewah mereka.
"Saya pegang janjimu," balas Ciara dingin sebelum memutar badan dan masuk ke dalam mobil mewah mereka.
Begitu mobil mewah orang tuanya menghilang di balik gerbang perimeter, Ayyana perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan seragam Chester, masuk kembali kedalam rumah menyusul Chaster.
Keheningan yang canggung mendadak menyelimuti halaman rumah dinas.
Chester memutar tubuhnya, menatap Ayyana lurus-lurus. Tatapan matanya yang tajam dan tak terbaca kini menyimpan ketegangan berbeda dari biasanya.
"Pukul sepuluh malam ini, saya berangkat," ucap Chester tanpa basa-basi.
Ayyana tertegun, mendongak menatap wajah kaku suaminya. "Berangkat? Ke mana?"
"Area konflik. Misi pembebasan sandera," jawab Chester pendek. Tangannya terangkat, membuka dua kancing atas seragam dinasnya seolah udara di sekitar mereka mendadak menyempit. "Saya harus membawa seluruh Team Eclipse. Ocla, Flyn, Zack, dan Rowan."
Langkah Ayyana tertahan. Intuisi dan analisis cepatnya langsung bekerja. "Kamu membawa seluruh timmu? Semua?"
"Ya."
"Berapa lama?"
"Satu minggu. Bisa lebih," balas Chester, suaranya sangat rendah. "Harris yang mengatur disposisi tugas ini. Dia memanfaatkan wewenangnya untuk mengosongkan pengawasan fisik saya di rumah ini."
Ayyana menghembuskan napas pelan, menyilangkan tangan di dada. "Jadi ini jebakan? Dia mau memancingku keluar atau menyusupkan orang begitu kamu pergi?"
"Tepat," Chester memotong jarak, berdiri persis di hadapan Ayyana hingga bayangannya menutupi tubuh wanita itu. "Sistem keamanan siber dan pengunci otomatis rumah ini sudah dikunci penuh oleh Zack. Bahan makanan, pasokan air, dan jaringan komunikasi terenkripsi sudah disiapkan. Kamu dilarang keras melangkah melewati pintu depan sampai saya kembali."
Ayyana menatap mata hitam Chester yang penuh dengan kecemasan terselubung. Di balik sifat kaku dan aturan kediktatorannya, Ayyana tahu pria ini sedang bertaruh besar demi memastikannya tetap selamat.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Chester," bisik Ayyana halus, sedikit mengikis kesan defensif di antara mereka. "Aku tahu cara bertahan."
Chester menatap bibir Ayyana sejenak sebelum kembali mengunci tatapan matanya. Tangannya bergerak ragu, hampir terangkat untuk menyentuh pipi wanita itu, namun ia menahannya kembali di samping tubuh.
"Saya tahu kamu cerdas, Ayyana," bisik Chester dengan nada mengikat yang dalam. "Tapi di medan ini, taruhannya adalah nyawamu. Jangan buat saya kehilangan fokus di medan tempur hanya karena memikirkan keselamatanmu di rumah ini."
Chester melangkah naik ke lantai dua, menembus lorong yang sepi menuju kamar utama.
Langkah kakinya yang mantap berhenti di depan pintu baja yang sempat dibanting Ayyana.
Tanpa suara, ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, lalu berjalan lurus menuju lemari pakaian.
Dengan gerakan cepat, cekatan, dan teratur khas prajurit, Chester mengambil beberapa pasang pakaian serba hitam, perlengkapan taktis cadangan, serta dokumen penting, lalu mengemasnya sendiri ke dalam duffel bag militer besar yang ia letakkan di atas tempat tidur.
Ayyana menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, memperhatikan jemari terampil pria itu yang melipat pakaian dengan presisi sempurna tanpa cela.
"Apa ada yang perlu aku bantu?" tanya Ayyana pelan, memecah keheningan kamar.
Gerakan tangan Chester yang sedang merapikan tali koper langsung terhenti.
Chester perlahan menegakkan tubuhnya, memutar badan, dan menatap Ayyana lurus-lurus.
Pandangannya mengunci mata cokelat wanita itu dengan intensitas yang begitu pekat dan dalam—seolah merekam setiap detail wajah Ayyana sebelum ia harus meninggalkannya menuju garis depan pertempuran.
"Cukup tetap hidup dan jangan buka pintu untuk siapa pun," jawab Chester, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam. "Itu bantuan terbesar yang bisa kamu berikan untuk saya."