NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

"Mama?"

Seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun berdiri di dekat meja nakas. Napasnya terengah-engah kecil, matanya memerah penuh amarah yang menahan letupan emosi.

Mama Arya, Wanita nomor satu di keluarga Bratadikara itu melangkah mendekat dengan tatapan menajam. Tanpa aba-aba, ia memukul lengan putra tunggalnya itu menggunakan tas tangan yang dipegangnya.

"Kamu ini gimana, sih?!" omel Mamanya dengan nada tinggi, tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kecewanya. "Punya istri kenapa nggak bilang-bilang ke Mama? Kenapa harus disembunyikan sampai seperti ini? Kamu maksa dia nikah ya?"

Bukan nya menjawab, Arya menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang kosong. Tempat tidur Gendis masih rapi, tak ada sosok Gendis di sana. Kepalanya kian berdenyut hebat.

"Mama kok bisa ada di sini? Dan... dari mana Mama tahu soal—"

"Kamu pikir mama mu ini sekudet itu, ada orang yang mengirimkan foto pernikahan dadakan kalian ke sekretaris Mama tadi siang!" potong Sang Mama cepat, dadanya kembang-kempis.

"Mama sampai nggak percaya kamu nikah, Arya. Kamu sembunyikan pernikahan sebesar ini dari keluarga sendiri, kenapa? Mama pikir selama ini kamu masih berhubungan dan pacaran dengan si Gea itu!"

Nama Gea yang tersebut dari mulut Mamanya serasa menjadi pukulan telak lain bagi Arya. Dari dulu, keluarga besar nya tidak pernah suka dengan Gea, meski gadis itu sudah berbaik-baik pada mereka.

Arya menelan ludah pahit, berusaha menguasai dirinya di tengah kepanikan yang membakar.

"Aku sudah putus dengan Gea, Ma, soal kerahasiaan hubungan kami, aku takut mama juga nggak setuju sama Gendis." potong Arya cepat, suaranya gemetar namun tegas. Ia tak ingin lagi mengaitkan dirinya dengan wanita manja yang hampir menghancurkan reputasi istrinya sendiri.

"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Gea."

Sang Mama menghela napas panjang, meredakan emosinya sejenak setelah mendengar pengakuan Arya. Setidak nya ada raut wajah lega disana. Namun raut cemas di wajah wanita paruh baya itu sama sekali tidak memudar.

"Lalu kenapa kamu meninggalkan istrimu sendirian dalam kondisi seperti itu?" suara Mamanya melemah, berganti menjadi nada penuh kekhawatiran.

Jantung Arya serasa berhenti berdetak. "Maksud Mama apa? Gendis di mana sekarang, Ma?"

"Gendis pingsan!" seru Mamanya, menatap Arya dengan tatapan tak percaya. "Tadi sore Mama datang ke sini karena ingin konfirmasi langsung tentang pernikahan itu, Tapi waktu Mama masuk ke kamar ini, Gendis sudah tergeletak di lantai, tak sadarkan diri! Wajahnya pucat sekali, Arya... bahkan ada bekas darah yang mengering di hidungnya!"

Darah...

Arya terkejut, Bayangan tuduhan-tuduhan beracun yang ia lemparkan pada Gendis kemarin malam kembali berputar liar di kepalanya.

"Mama panik sekali," lanjut Sang Mama dengan suara bergetar. "Jadi Mama langsung panggil sopir dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Waktu sampai sana, ada Dokter namanya Alex yang langsung mengambil alih penanganannya."

"Rumah sakit? Sekarang dia di rumah sakit mana, Ma?!" cercah Arya, mencengkeram kedua bahu Mamanya dengan napas memburu.

"Di Rumah Sakit Utama Medika! Mama baru saja kembali ke sini untuk mengambil berkas identitasnya yang tertinggal—"

Tanpa menunggu Mamanya menyelesaikan kalimatnya, Arya berbalik arah. Ia berlari kencang menyusuri koridor, melompati anak tangga dua sekaligus tanpa peduli teriakan panggilan dari sang ibu yang menggema di belakangnya.

Sementara itu, di dalam ruang IGD Rumah Sakit Utama Medika.

Gendis perlahan membuka matanya. Pandangannya yang buram menyapu langit-langit ruangan yang serba putih. Di samping ranjangnya, Alex sedang berbisik serius dengan penanggung jawab medis rumah sakit tersebut.

"Kak Alex..." panggil Gendis lirih, suaranya amat serak.

Alex seketika menoleh, memasang raut lega lalu mendekat. "Dis... Kamu sudah sadar? Jangan banyak gerak dulu, infus mu baru terpasang."

"Kak... Siapa yang membawa ku kesini, apa Arya?"

"Bukan, mertuamu. Bu Sonya." Jawab Alex apa adanya.

 Gendis agak terkejut , lalu dia memegang ujung lengan jas medis Alex dengan jemarinya yang gemetar. "Kak, aku mohon... jangan beri tahu keluarga Arya atau siapa pun soal kanker ini. Tolong sembunyikan hasil tes labku."

Alex terbelalak, menggeleng tegas. "Kamu gila?! Kondisimu ini kritis, kamu hampir pingsan total karena trombosit mu anjlok hebat! Mereka harus tahu agar siap—"

"Aku nggak mau dikasihani oleh orang yang menganggap ku sampah, Kak!" potong Gendis dengan tatapan mata yang begitu dalam dan penuh desakan mendalam. "Aku punya harga diri. Tolong... bantu aku bicara dengan dokter rumah sakit ini. Katakan saja aku hanya demam biasa atau kelelahan, lalu trombosit ku sedang turun karena gejala tipes atau demam berdarah. Tolong, Kak... anggap ini permintaan terakhirku."

Alex mengepalkan tangannya rapat-rapat. Hatinya teriris melihat keteguhan dan kepedihan di mata Gendis. Setelah hening yang panjang, Alex akhirnya menghela napas berat, menatap dokter penanggung jawab ruangan yang mengangguk memahami situasi rumit pasiennya.

"Baiklah," bisik Alex pasrah. "Aku akan atur rekam medis luarnya. Tapi kamu harus janji ikut perawatan denganku secara diam-diam!"

Gendis mengangguk lemah, memejamkan matanya lega.

Beberapa menit kemudian, derit pintu IGD terdorong kasar. Arya berlari masuk dengan napas memburu, wajahnya pucat pasi dan pakaian kantornya sudah berantakan.

Ia menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar rawat Gendis. Melalui kaca transparan, ia melihat Gendis terbaring lemah dengan selang infus menancap di tangannya.

Alex melangkah keluar dari kamar rawat, menutup pintu pelan. Tatapannya dingin saat mendapati Arya yang berdiri gemetar di hadapannya.

"Dokter Alex..." Arya mendekat dengan raut wajah penuh penyesalan dan kepanikan yang luar biasa. "Bagaimana keadaan istri saya? Dia... dia kenapa?!"

Alex mengamati Arya sejenak, mengingat pesan Gendis. Ia menahan emosinya kencang-kencang, lalu bersikap sebisa mungkin agar Arya tidak curiga.

"Dia pingsan karena kelelahan dan demam tinggi," jawab Alex datar, menyembunyikan kebenaran pahit di balik dinding kebohongannya. "Trombositnya turun drastis akibat stres berat dan kurang istirahat. Tipes nya jadi kambuh. Dia butuh istirahat total, satu atau dua hari disini sampai keadaannya normal kembali."

Arya menghembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot. Ada rasa lega yang amat besar menjalar di dadanya, mengetahui bahwa kondisi wanita itu tidak mematikan atau begitulah yang ia percayai saat ini.

Namun, lega itu seketika berganti menjadi rasa bersalah yang teramat pekat.

Arya teringat percakapannya dengan Bramantyo. Teringat fakta bahwa Gendis adalah wanita yang menyelamatkan nyawanya malam itu, wanita yang terfitnah, dan wanita yang selama ini ia siksa batinnya di rumah.

"Boleh saya masuk melihatnya?"

Alex menatap Arya dengan raut tajam. "Silakan. Tapi ingat, jangan tambah beban pikirannya. Jika Anda hanya ingin memakinya lagi seperti biasanya, lebih baik Anda pulang sekarang."

Arya tidak membalas sindiran Alex. Ia menyentuh gagang pintu, mendorongnya perlahan, dan melangkah masuk ke dalam kamar yang hening itu.

"Gendis..."

.

.

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!