Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.
Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.
"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."
Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.
Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sesampainya di kediamanku, kuparkir mobil di garasi. Kuangkat bayi yang tertidur itu dan kubawa masuk. Aku berjalan ke kamarku dan membaringkannya di ranjang. Kulepas selimut dan pakaiannya yang basah, lalu kucari beberapa lembar sprei untuk menyelimutinya. Sambil begitu, kuraih ponsel dan menelepon Julian. Beberapa detik kemudian ia menjawab.
"Julian, aku butuh kau membawakan pakaian bayi, kira-kira ukuran tiga bulan. Jangan lama-lama."
Kututup teleponnya, lalu kutelepon dokter keluarga. Kuperintahkan ia datang ke rumahku, dan ia bilang akan tiba dalam dua puluh menit.
"Sandra, kemari sekarang." Pelayan itu masuk ke kamar. "Aku butuh kau menjaga bayi ini beberapa menit."
Aku berjalan keluar rumah dan memberi perintah pada pasukan keamananku agar tetap waspada. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, laporkan padaku. Aku kembali ke kamar dan kulihat Sandra sedang membersihkan bayi itu.
"Sandra, kau boleh keluar sekarang. Jangan sepatah kata pun soal ini. Kita jelas?"
"Baik, Nyonya," jawabnya.
Terdengar ketukan di pintu. Kuberi izin masuk, dan dokter itu melangkah masuk.
"Dokter, syukurlah Dokter datang. Aku butuh Dokter memeriksa bayi ini."
Ia tampak bingung, lalu berjalan mendekat dan memeriksa bayi itu. Beberapa menit kemudian ia berbicara.
"Nona Adelina, bayi ini demam. Warnanya tak sedap kupandang."
"Tapi dia akan baik-baik saja, kan? Dokter harus menyelamatkannya!"
"Akan saya lakukan sebisa saya."
Aku teringat kata-kata dokter lain yang dulu mengucapkan hal serupa dan tak mampu menyelamatkan bayiku. Amarah dan kecemasan menguasaiku. Kucengkeram kemejanya.
"Sebaiknya Dokter menyelamatkan bayiku, karena kalau sampai aku kehilangan dia, kubersumpah takkan ada jejak Dokter yang tersisa. Jadi kerjakan tugas Dokter dengan benar."
Kudorong ia, dan wajahnya dipenuhi ketakutan. Ia berjalan ke arah bayi itu, mengeluarkan jarum suntik dan ampul dari tasnya, lalu menyuntiknya. Setelah itu ia bilang butuh kompres dingin untuk demamnya, jadi kupanggil Sandra membawakan semua yang diperlukan.
"Adelina, untuk apa kau minta pakaian bayi? Ada apa ini?"
Julian menatapku heran, memberi isyarat agar aku menceritakan apa yang terjadi.
"Akhirnya kau datang juga. Bukan urusanmu. Sekarang kau boleh pergi."
Ia hanya menatapku, lalu keluar dari kamar. Sementara aku duduk memperhatikan dokter menangani bayi itu, kudengar suara-suara di lorong. Semenit kemudian Julian sudah kembali, bersama Black, di kamar.
"Adelina, apa artinya ini? Bayi siapa itu?" tanya Black.
"Black, ini cerita panjang. Nanti kuceritakan padamu."
Black memandangku sambil menyipitkan mata, lalu memberi isyarat agar aku keluar kamar. Aku keluar, dan ia mengikuti di belakangku.
"Sekarang ceritakan, dari mana kau dapat bayi itu. Jangan bilang kau menculiknya."
"Apa? Tentu saja tidak. Aku takkan pernah melakukan hal semacam itu."
Aku mengembuskan napas. Saat hendak menceritakannya pada kakakku, kusadari Julian masih berdiri di samping Black.
"Julian, kau masih di sini? Pergilah sekarang. Besok pagi-pagi kau kubutuhkan di sini."
"Tapi... baiklah. Sampai besok."
Kami memperhatikannya pergi. Begitu sosoknya hilang dari pandangan, aku menoleh ke kakakku yang berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap.
"Aku menemukannya di hutan. Dia ditinggalkan begitu saja."
"Di hutan? Apa yang kau lakukan di sana?"
"Aku sedang mencari udara segar. Aku bosan terkurung di rumah, jadi kupergi sebentar ke hutan. Tapi aku mendengar tangisan, lalu kucari sumber suaranya, dan kutemukan dia. Tak ada orang lain di sana."
"Kita harus mencari keluarganya, atau menyerahkannya pada pihak berwenang biar mereka yang mengurus."
"TIDAK! Aku takkan menyerahkannya. Dia milikku."
"Adelina, bayi itu bukan milikmu. Dia pasti punya orang tua."
"Orang tua yang menelantarkannya? Kalau bukan karena aku, bayi ini sudah mati. Aku yang akan merawatnya. Aku yang akan jadi ibunya!"
"Kalau orang tuanya muncul?"
"Kalau begitu, akan kutancapkan belatiku ke dada mereka karena menelantarkan makhluk mungil ini. Pahami sekali ini saja, Black. Mulai sekarang bayi ini anakku. Dia seorang Vannicelli."
Aku masuk ke kamar, meninggalkan kakakku di lorong. Semenit kemudian ia menyusul masuk.
"Dokter, bagaimana keadaan bayinya?"
"Demamnya sudah turun. Sebaiknya diganti bajunya dan diselimuti rapat. Besok ia akan lebih baik. Saya tinggalkan obat ini, berikan setiap delapan jam."
"Terima kasih, Dokter."
"Nona Adelina, saya permisi dulu. Besok saya akan kembali untuk memeriksanya."
Dokter itu keluar dari kamar. Kakakku duduk di sofa.
"Apa yang akan kau katakan pada orang tua kita? Papa takkan mendukung kegilaan ini."
Kupandangi bayi cantik itu. Kuambil pakaian yang ditinggalkan Julian, dan hati-hati kuganti bajunya, lalu kuselimuti. Kemudian aku menoleh ke Black. Saat ini aku belum memikirkannya, tapi kalau sampai terjadi, akan sangat disayangkan bagi siapa pun yang menghalangi, karena akulah ibu bayi ini. Aku tak peduli pendapat orang lain.
"Baiklah, kalau itu keputusanmu, aku mendukungmu," kata Black. "Tapi sebaiknya kau telepon Mama supaya dia membantumu, karena kau belum berpengalaman mengurus bayi."
"Mama? Ide bagus. Meski aku tak tahu bagaimana reaksinya nanti."