Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kembali Ke Klan Su
Setelah daging rusa malam itu habis disantap, Su Yu menyandarkan tubuh pada sebongkah batu besar di dekat tepian sungai. Pandangannya terangkat lurus ke atas, menembus rimbun dedaunan yang mulai basah oleh titik-titik air yang jatuh perlahan dari langit yang memucat.
"Selama ini aku tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengetahui apa pun tentang kultivasi..." batinnya lirih, nyaris tenggelam oleh suara gerimis yang mulai menyentuh permukaan daun. "Tapi sekarang aku memilikinya, berkat pertemuan yang tidak pernah kuduga sebelumnya."
Kedua kelopak matanya menutup perlahan, membiarkan hawa dingin menyusup ke dalam tubuhnya yang masih terasa hangat oleh aliran energi spiritual.
Sementara itu, Xioutian yang sejak tadi bertengger tidak jauh darinya melompat turun dari batu tempatnya berpijak. Burung kecil itu lantas berjalan bolak-balik di atas tanah basah, sayapnya sesekali terangkat lalu turun kembali.
"Tidak mungkin sesederhana itu..." gumam Xioutian tanpa menoleh kepada tuannya. "Apa yang kulihat tadi pasti punya makna lebih dalam. Tekanan itu bukan sekadar bayangan... itu seperti perwujudan garis darah leluhur. Tetapi bocah ini bahkan belum lama menjadi kultivator."
Gerimis turun semakin rapat, dan beberapa titik air akhirnya mengenai wajah Su Yu. Pemuda itu membuka matanya perlahan, lalu bangkit dari sandarannya. Ia mengepalkan tangan kanannya di depan dada, merasakan aliran tenaga yang berputar tenang di dalam dantiannya.
"Kun... Peng..."
Su Yu menggumam pelan, pandangannya tidak lepas dari genggaman tangannya sendiri.
"... penuh misteri. Tapi aku bisa merasakan dengan jelas kekuatan yang mengalir di dalam tubuhku."
Ia mengepalkan tangannya erat.
"Kalau begitu akan kucoba."
Xioutian yang masih berjalan bolak-balik seketika menghentikan langkahnya dan mendongak cepat.
"Tuan?"
Su Yu tidak menjawab panggilan itu. Ia justru berbalik dan melangkah menuju tepian anak sungai yang tanahnya lebih lapang. Begitu tiba di sana, ia memasang kuda-kudanya dan mengangkat kedua tangannya ke posisi jaga, lalu mulai mengayunkan tinjunya ke depan secara beruntun.
Setiap pukulan yang ia lepaskan disusul dengan tendangan yang menyapu udara basah, kemudian tangkisan yang menggeser posisi lengannya ke samping. Gerakan-gerakan itu ia ulang berkali-kali, tidak jarang dengan posisi kaki yang sama agar tubuhnya terbiasa menahan beban.
Xioutian memandanginya dari atas batu, lalu tanpa bisa ditahannya lagi, burung biru itu terguling-guling di tanah sambil tertawa keras.
"Hahaha... Tuan, jangan membuat lelucon di tengah gerimis! Gerakanmu seperti orang yang baru pertama kali memegang pedang, tidak ubahnya anak kecil yang meniru jurus dari kejauhan!"
Su Yu tidak menghiraukan cemoohan itu. Ia terus menggerakkan tubuhnya, membiarkan otot-ototnya mencari ritme yang tepat di tengah derasnya air yang mulai membasahi seluruh pakaiannya. Tangannya memukul, kakinya menendang, lalu tubuhnya berputar cepat sebelum kedua lengannya menyilang di depan kepala untuk gerakan menangkis.
Setengah batang dupa berlalu. Hujan yang semula gerimis telah berubah menjadi guyuran lebat yang menghantam permukaan sungai tanpa henti. Namun di tengah segala kebisingan itu, tubuh Su Yu justru bergerak semakin luwes. Tidak ada lagi keraguan dalam ayunan tinjunya, tidak ada lagi jeda kikuk saat ia memindahkan berat badan dari satu kaki ke kaki lainnya.
Xioutian berhenti tertawa. Bulu-bulu di lehernya berdiri ketika melihat pemuda itu melepaskan satu tendangan kaki kiri ke arah batu yang menjulang di dekatnya.
CRACK!
Serpihan batu beterbangan dari titik yang terkena telapak kakinya, meninggalkan cekungan kecil yang langsung dibasahi air hujan.
Su Yu lalu mengayunkan tinju kanannya ke arah ujung batu yang sama. Ujung batu itu terpotong bersih seperti ditebas bilah pedang tipis. Energi biru menyelimuti tinjunya, dan di permukaan kepalan itu terpancar aura khas yang membuat Xioutian menelan ludah dengan susah payah.
"Itu..." Xioutian memiringkan kepalanya, kedua matanya membulat lebar. "Aura ras burung..."
Su Yu tidak menoleh. Ia terus menendang, memukul, bahkan gerakan menangkis. seolah-olah sedang bertarung dengan musuh-musuhnya.
"Ini masih kurang..." batin Su Yu dengan napas memburu. "Kalau aku tidak kuat, aku akan selalu dipukuli. Setidaknya dengan menguasai sedikit gerakan, aku tidak akan diam saja ketika ditindas lagi."
"Lagi!" teriaknya tiba-tiba, suaranya menembus derasnya hujan yang mengguyur tanpa ampun. "Lagi! Ini belum kuat!"
Xioutian terdiam di atas batu. Air hujan mengalir deras di sepanjang bulu-bulu birunya, tetapi ia tidak bergerak untuk berlindung. Pandangannya terkunci pada sosok pemuda yang terus menghantam udara dan batu dengan semangat yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan surut.
"Bocah ini memiliki semangat yang bagus..." gumamnya dalam hati. "Tidak buruk untuk menjadi tuanku. Kekuatannya juga misterius. Mungkin kontrak ini bukan pilihan yang keliru."
Waktu terus bergerak tanpa terasa. Hujan akhirnya mulai mereda, menyisakan rintik-rintik kecil yang jatuh satu per satu dari sela dedaunan. Langit di ufuk barat berubah jingga ketika Su Yu melepaskan pukulan pamungkasnya ke arah sebongkah batu besar.
SWIISH!
BRUK!
Batu itu terbelah menjadi dua bagian yang jatuh ke kanan dan kiri dengan suara berat. Tanah di sekitar belahan batu bergetar sesaat sebelum semuanya kembali tenang.
Su Yu menurunkan kedua tangannya perlahan, lalu mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Dua belahan batu itu tergeletak tidak jauh darinya, sementara air hujan yang tersisa menetes dari ujung rambut dan jubahnya yang basah kuyup.
"Ini cukup memuaskan untuk langkah awal..." katanya pelan, matanya beralih menatap langit sore. "Sudah waktunya untuk kembali."
Xioutian segera mengepakkan sayapnya dan terbang mendekat, mendarat tepat di hadapan pemuda itu dengan gerakan yang lebih cekatan dari sebelumnya.
"Tuan, saya mendengar anda ingin kembali," ujarnya sambil mengangkat kepala. "Kemana tujuannya?"
Su Yu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah tenggara.
"Ke sana. Ayo ikuti aku."
"Tunggu, Tuan!" seru Xioutian cepat.
Burung itu tidak menunggu jawaban. Ia segera terbang menjauh beberapa langkah, lalu melebarkan kedua sayapnya ke samping. Dalam beberapa tarikan napas, tubuh Xioutian membesar hingga panjang sayapnya mencapai dua zhang untuk satu sisinya saja.
"Naiklah ke punggung saya tuan," ujar Xioutian dengan nada yang jauh lebih sopan daripada sebelumnya. "Ini akan menghemat waktu perjalanan kita."
Su Yu mengernyitkan dahinya, lalu menatap burung itu dengan curiga. "Tadi kau begitu lemah sampai terjatuh hanya karena seranganmu sendiri. Kenapa sekarang tiba-tiba bisa membesar kembali?"
Xioutian mengangkat salah satu sayapnya dengan bangga. "Ini berkat kontrak kita tuan. Tapi pemulihan saya baru sedikit saja, karena kultivasi tuan masih sangat lemah."
Su Yu mengangguk pelan. Ia masih ingat betapa besar ukuran Xioutian saat pertama kali melihatnya bertarung melawan Cangle di langit. Sekarang ukuran burung itu mungkin hanya sepertiga dari wujud maksimalnya, tetapi tetap cukup untuk ditunggangi.
"Baiklah, aku mengerti."
Su Yu melompat ringan dan mendarat di punggung Xioutian dengan satu gerakan, lalu ia duduk bersila.
"Sekarang terbanglah."
"Baik, Tuan!"
Sayap-sayap biru itu mengepak dua kali, lalu tubuh mereka terangkat dari tanah dan melesat menembus udara basah. Su Yu mencengkeram bulu di punggung burung itu saat ketinggian bertambah, sementara pandangannya tertuju ke bawah untuk sesaat.
Hamparan Hutan Kelabu terlihat semakin kecil di bawah mereka, diselimuti sisa kabut sore yang perlahan turun. Ada rasa haru yang muncul tanpa ia minta, bercampur dengan kengerian tipis karena terlalu tingginya posisinya. Namun semua perasaan itu segera ia singkirkan ketika bayangan gerbang Klan Su kembali menempati pikirannya.
"Sekuat apa pun aku sekarang... siksaan tetap menantiku di sana. Tapi setidaknya, kali ini aku tidak pulang dengan tangan kosong."
Su Yu menarik napas panjang dan memfokuskan pandangannya ke depan.
Perjalanan berlangsung cepat. Dalam waktu sekitar setengah batang dupa, gerbang Kota Yunwu telah tampak dari kejauhan.
Su Yu menatap gerbang itu, lalu menepuk punggung Xioutian.
"Turunkan tubuhmu dan kecilkan ukuranmu. Jika manusia melihatmu, itu bisa menarik perhatian."
Xioutian mengangguk, lalu tubuhnya berubah menjadi cahaya biru.
WUSSS!
Cahaya itu masuk ke dalam telapak tangan Su Yu dan menghilang ke dalam tanda kontrak.
"Di sini lebih aman untuk menghindari manusia, Tuan..." suara Xioutian terdengar dari dalam kesadaran Su Yu. "Jadi biarkan saya tinggal di dalam tanda kontrak."
Su Yu menatap telapak tangannya sebelum melangkah menuju gerbang Kota Yunwu.
"Baiklah... tetaplah di sana untuk sementara."
Sementara Su Yu mendekati gerbang kota, keadaan di Klan Su telah berubah menjadi jauh lebih tegang.
*****
Di kediaman Klan Su, suasana hari itu tidak berjalan seperti biasanya. Aula klan yang biasanya hanya digunakan untuk pertemuan penting kini dipenuhi oleh empat orang tetua yang duduk di kursi-kursi kayu berat.
Patriark Su, Su Gaochang, duduk di kursi utama dengan pandangan datar yang tidak memperlihatkan minat sedikit pun pada pembicaraan di hadapannya.
"Sudah enam hari sejak tuan muda Su Zhan dan Su Han berangkat menuju Sekte Pedang Api Hitam," ujar Tetua Ketiga sambil mengelus janggutnya yang tipis. "Bahkan nona muda Qing Shi juga ikut bersama tuan muda Su Han."
Tetua Keempat menyahuti dengan nada yang lebih santai. "Berarti urusan kunjungan itu sudah berjalan sesuai rencana. Tapi sampah itu belum juga kembali. Apakah dia benar-benar mati di Hutan Kelabu seperti yang kita harapkan?"
"Semoga saja demikian," jawab Tetua Ketiga sambil menyeringai kecil.
Su Gaochang tidak bereaksi. Ia hanya menopang dagunya dengan punggung tangan, sementara kedua matanya menerawang ke luar jendela aula.
Belum sempat pembicaraan itu berlanjut, seorang pelayan klan masuk dengan langkah tergesa dan menangkupkan tangannya di depan dada.
"Pemimpin, Su Yu telah kembali. Sekarang dia berada di gerbang, sedang dihadang oleh para penjaga."
Tetua Kedua langsung mengepalkan tangannya di atas lutut. "Delapan hari setelah kepergiannya... sekarang sampah itu kembali. Sial!"
"Tenang saja," ujar Tetua Pertama dengan suara dingin. "Justru karena dia terlambat kembali, kita memiliki alasan untuk memukulinya. Bukankah itu yang kita inginkan?"
Tetua Keempat terkekeh pelan sambil menggosok kedua telapak tangannya. "Sudah lama aku tidak memukulinya. Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan."
Su Gaochang mengibaskan lengannya dengan malas. "Pergilah. Aku tidak tertarik pada bocah itu."
Keempat tetua itu langsung berdiri dan menangkupkan tangan mereka ke arah sang patriark. Setelah itu Tetua Ketiga menoleh kepada pelayan yang masih menunggu di ambang pintu.
"Panggil seluruh anggota klan," perintahnya dengan nada yang menggantung penuh ancaman. "Kita akan memukuli si sampah itu seperti biasanya."
Pelayan itu menunduk cepat, lalu berbalik dan bergegas keluar dari aula untuk menyampaikan perintah tersebut.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔
di tambah up nya thoorrr.