NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi Nyonya Alkantara Sesungguhnya

Silau.

Itu yang pertama kali aku rasakan. Cahaya matahari Maladewa masuk dari jendela kaca besar yang lupa ditutup tirai semalam. Terang, hangat, menyilaukan.

Aku mengerjap. Kepalaku pusing sedikit. Tubuhku... pegal. Pegal yang aneh. Pegal yang bahagia.

Lalu aku sadar.

Aku tidak pakai dress satin champagne ku lagi. Aku hanya dibalut selimut sutra putih yang tebal. Rambutku berantakan. Di sekelilingku... kelopak mawar putih dan merah yang semalam tertata cantik membentuk hati, kini sudah berantakan, penyok, ada yang jatuh ke lantai. Dress satin ku? Ada di lantai, terlipat tidak rapi. Kalung bulan sabit 1,2 Miliarku? Masih melingkar di leherku, tapi rantainya melilit di bantal.

Dan... di sebelahku kosong.

Kosong. Dingin.

Jantungku langsung _deg!_

"Mas? Mas Brayen?" suaraku serak, panik. Aku duduk, menarik selimut menutupi tubuhku.

Tidak ada jawaban. Kamar mandi kosong. Pintu vila terbuka sedikit, angin masuk.

Apa... apa Mas sudah pergi? Apa Mas menyesal? Apa...

Pikiran jahatku langsung kemana-mana, kebiasaan burukku sebagai Isyana yang dulu selalu ditinggalkan.

Aku hampir menangis, sampai aku mendengar suara cipratan air dari luar. Dan suara seseorang bersenandung pelan.

Aku menoleh ke jendela.

Di kolam renang infinity...

BRAYEN.

Ya Tuhan.

Dia bertelanjang dada. Hanya memakai celana pendek renang hitam. Rambutnya masih basah. Punggung kekarnya yang lebar itu diterpa matahari pagi. Dia sedang mendorong sesuatu yang besar di kolam renang.

Floating breakfast! Nampan kayu besar berbentuk hati yang mengapung di atas air! Di atasnya ada croissant, buah-buahan, jus, telur, dan satu kotak beludru biru kecil!

Aku langsung malu setengah mati. Cepat-cepat aku cari baju. Aku pakai kemeja putih Brayen yang ada di kursi. Kebesaran, sampai menutupi pahaku. Wanginya... wangi Brayen.

Aku keluar ke tepi kolam dengan kaki masih agak gemetar. Pura-pura batuk.

"Ehem."

Brayen menoleh. Begitu melihatku, senyumnya langsung merekah. Senyum yang... berbeda. Senyum seorang suami yang puas dan bahagia.

"Bangun juga akhirnya, Nyonya Alkantara," katanya, suaranya serak menggoda. "Tidur nyenyak?"

Wajahku merah padam. "Mas... dari jam berapa di luar?"

"Dari jam 6. Mas tidak bisa tidur. Mas hanya bisa menatap kamu tidur semalaman. Cantik sekali kamu kalau tidur, Berlian."

Aku makin malu. Aku menatap nampan mengapung itu. "Ini... buat aku?"

"Buat kita. Sini, turun. Pelan-pelan."

Ia naik dari kolam, menggendongku lagi seperti semalam, menurunkanku pelan-pelan ke dalam kolam yang airnya hangat karena matahari pagi. Kami duduk di dalam kolam, dengan nampan di tengah kami.

Kami sarapan di dalam kolam! Kakiku menyentuh kakinya di dalam air. Sesekali ia menyuapiku buah stroberi dengan tangannya.

"Mas," bisikku malu, tidak berani menatap matanya. "Semalam..."

"Semalam apa, sayang?" Ia pura-pura tidak tahu, padahal senyumnya jahil.

"Semalam kan... kita... aku..."

Brayen terkekeh. Ia mengambil kotak beludru kecil itu dari nampan. Membukanya.

Isinya gelang couple. Gelang emas putih tipis. Yang satu ada liontin bulan sabit kecil, yang satu ada bintang kecil. Kalau disatukan, bulan dan bintangnya menyatu.

"Ini hadiah pagi pertama kita sebagai suami istri beneran," katanya sambil memasangkan gelang bulan di tanganku yang mungil. "Bulan nya kamu, bintang nya Mas. Biar kemanapun, kita selalu satu langit."

Air mataku jatuh lagi. Pagi-pagi sudah dibikin nangis!

"Mas Brayen..."

Ia menghapus air mataku, lalu menarikku ke pelukannya di dalam kolam. Aku duduk di pangkuannya, basah-basahan, dengan kemeja putihnya yang juga basah.

"Isyana, mulai hari ini, panggil Mas bukan cuma Mas lagi," bisiknya di telingaku.

"Terus apa?"

"Suamiku."

_Deg!_

"Su... suamiku..." bisikku malu-malu.

"Yang kencang. Mas tidak dengar."

Aku menarik napas, mengumpulkan keberanian, lalu berteriak kecil di tepi kolam private yang sepi itu, hanya disaksikan ombak dan burung camar.

"SUAMIKU! Brayen Alkantara adalah suamiku!"

Brayen tertawa puas, lalu memelukku erat dan menciumku lama di tengah floating breakfast itu. Jus manggaku tumpah sedikit, tapi kami tidak peduli.

Pagi itu, di Maladewa, di kolam renang yang menyatu dengan laut, Isyana akhirnya benar-benar menjadi Nyonya Alkantara. Bukan karena kontrak. Tapi karena cinta.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!