NovelToon NovelToon
PENGEMBARA DARI DESA

PENGEMBARA DARI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Djafar S

Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 LANGIT DI UJUNG LEMBAH

​Bagi Raka Ardian, batas dunia selalu ditandai oleh deretan Pegunungan Kendeng yang membentang gagah di ufuk barat.

Di balik dinding raksasa dari batu purba dan hijaunya hutan belantara yang menyimpan sejauh misteri itu, orang-orang di desanya sering berbisik tentang sebuah tempat asing bernama kota—sebuah labirin beton tempat matahari seolah tenggelam di antara menara-menara tinggi pencakar langit, dan jutaan manusia hidup berkejaran dengan waktu yang tak kasat mata.

​Namun, bagi Raka yang kini menginjak usia dua puluh dua tahun, dunia yang nyata dan bernyawa adalah aroma tanah basah seusai hujan pagi, suara gemerisik daun bambu yang dihempas angin lembah, serta derit kincir air milik mendiang kakeknya yang berputar lambat di tepi Sungai Cimanuk.

Dunia Raka tenang, teratur, meskipun terkadang terasa begitu sempit bagi seorang pemuda yang dadanya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar.

​Pagi itu, kabut tipis sisa semalam masih malas beranjak, menyelimuti atap-atap rumah panggung dan hamparan sawah bertingkat yang mulai menguning di Desa Ciherang.

Raka berdiri terpaku di teras rumah kayunya, menatap jauh ke luar. Di tangan kanannya, sebuah cangkir tanah liat berisi kopi robusta hitam mengepulkan uap hangat yang beradu dengan dinginnya udara pegunungan.

​Hidupnya berjalan dalam ritme yang nyaris sama selama bertahun-tahun: bangun jauh sebelum fajar menyingsing, membantu ibunya menyiapkan ladang, merawat saluran irigasi tradisional yang menjadi urat nadi desa, lalu menghabiskan waktu senggang di sore hari dengan melahap buku-buku usang peninggalan kakeknya—seorang pengembara ulung di masa mudanya yang kerap bercerita tentang dunia di luar sana.

​"Pikiranmu sudah melayang melewati batas gunung itu lagi, Rak?"

​Sebuah suara yang sarat akan kelembutan membuyarkan lamunan Raka. Sang ibu, Siti, melangkah keluar dari pintu dapur sambil membawa sekeranjang gabah kering yang hendak dijemur di halaman. Garis-garis keletihan tampak jelas di sudut mata dan wajah wanita paruh baya itu, sisa dari tahun-tahun panjang bekerja keras selepas kepergian ayahnya.

Namun, di balik kerutan itu, senyuman ibunya selalu menjadi sauh yang menenangkan badai apa pun di dalam dada Raka.

​Raka menoleh, tersenyum tipis, lalu meneguk kopinya yang meninggalkan rasa pahit yang pas di lidah. "Tidak, Bu. Hanya... merasa hari ini udara terasa agak berbeda. Agak gelisah, entah kenapa."

​Ibu meletakkan keranjang gabahnya di atas tanah, lalu berjalan mendekati teras. Ia berdiri di samping Raka, ikut menatap ke arah punggung Pegunungan Kendeng yang menjulang megah. "Udara selalu terasa sama di desa kita, Raka. Yang berbeda itu isi kepalamu. Kau sudah terlalu sering membaca catatan kakekmu, hingga dunia luar seolah memanggil-manggil namamu setiap kali angin lembah berhembus."

​Ibu menghela napas panjang, pandangannya menerawang jauh. "Kakekmu dulu juga sering menatap ke arah barat dengan tatapan persis seperti itu, sebelum akhirnya ia pergi membawa ransel lusuh dan baru kembali bertahun-tahun kemudian dengan membawa banyak cerita, sekaligus luka yang tak pernah benar-benar sembuh."

​Raka terdiam. Ia sangat menghormati mendiang kakeknya, seorang lelaki tua yang keras kepala namun bijaksana. Dari kakeknyalah Raka belajar membaca, memahami rasi bintang, dan mengerti arti penting menjaga alam.

Warisan paling berharga yang ditinggalkan kakeknya bukanlah harta benda, melainkan sebuah kompas tua berkarat dan buku harian bersampul kulit rusa yang berisi catatan perjalanan menelusuri berbagai daerah di Nusantara. Buku itu adalah jendela pertama yang memperlihatkan kepada Raka bahwa bumi ini jauh lebih luas ketimbang petak sawah tempatnya berpijak.

​Sebelum Raka sempat menjawab perkataan ibunya, keheningan pagi yang damai itu tiba-tiba dirobek oleh suara bising yang asing.

​Brrrr... Vroom!

​Suara deru mesin kendaraan bermotor berkapasitas besar—sesuatu yang sangat jarang sanggup mendaki jalanan terjal berbatu hingga ke jantung Dusun Ciherang—berkumandang memecah kesunyian. Disusul oleh suara gonggongan anjing liar yang bersahutan dan riuh rendah suara warga desa yang mulai berhamburan keluar rumah karena terkejut.

​Raka dan ibunya saling berpandangan. Ada getaran aneh, sebuah firasat buruk yang merayap dingin di punggung Raka. Suara mesin itu semakin lama semakin dekat, berhenti tepat di area tanah kosong dekat balai pertemuan desa.

​Tanpa buang waktu, Raka meletakkan cangkir kopinya di atas pagar bambu. "Ibu tetap di sini," ucapnya singkat, lalu melompat menuruni tangga teras dan berlari meniti jalan setapak menuju balai desa.

​Sesampainya di sana, kerumunan warga telah berdesakan membentuk setengah lingkaran. Suasana riuh dan penuh ketegangan. Di tengah-tengah lapangan desa yang biasanya digunakan untuk menjemur padi atau tempat anak-anak bermain, terparkir sebuah mobil jip modern berwarna hitam legam berbadan besar. Cat mobil itu tampak berdebu tebal di bagian ban dan bempernya, bukti bahwa kendaraan mewah itu telah memaksa diri melewati jalur ekstrem pedesaan.

​Dua orang pria berjas rapi—meskipun kini kerah baju mereka kusut dan sepatu pantofel kulitnya kotor terciprat lumpur sawah—berdiri di hadapan Kepala Desa, Pak Lurah, yang tampak dikelilingi oleh beberapa sesepuh desa. Pria yang bertubuh lebih gempal memegang gulungan peta kertas berukuran besar, sementara pria satunya tampak berbicara dengan nada yang meninggi, berusaha mendominasi situasi.

​"Intinya, proyek perluasan perkebunan modern dan kawasan ekowisata terpadu ini sudah mengantongi izin resmi dari tingkat kabupaten dan provinsi!" ucap pria berjas itu dengan suara lantang yang terdengar begitu asing dan menusuk di telinga warga desa.

"Tanah di sepanjang aliran Sungai Cimanuk ini, termasuk lahan pertanian dan permukiman di sekitarnya, akan segera dialihfungsikan mulai bulan depan. Perusahaan kami sudah menyiapkan skema uang ganti rugi yang akan dibagikan melalui kantor kecamatan."

​Pernyataan itu bagaikan seember air es yang disiramkan ke tengah api unggun. Keriuhan langsung meledak hebat di antara kerumunan warga.

​Pak Tani tua di sebelah Raka, seorang lelaki sepuh bernama Pak Harun, langsung mengacungkan tongkat kayunya dengan tangan gemetar karena murka. "Ganti rugi apa?! Tanah ini bukan sekadar tanah biasa! Ini adalah tanah leluhur tempat kami menanam kehidupan secara turun-temurun! Dari mana kalian datang membawa kertas bergambar garis merah lalu merampas hak kami begitu saja?!"

​Protes keras bersahutan dari puluhan warga lainnya. Para ibu rumah tangga memeluk anak-anak mereka dengan cemas, sementara para pemuda desa mulai mengepal tangan, menatap geram pada dua orang asing tersebut. Di desa kecil itu, tanah bukan sekadar komoditas jual beli; tanah adalah ibu yang memberi mereka makan, tempat darah nenek moyang mereka menyatu dengan bumi.

​Di tengah kekacauan itu, Raka merangsek maju, membelah kerumunan warga dengan langkah pasti. Matanya menatap tajam ke arah gulungan peta yang dipegang oleh utusan korporasi tersebut. Jantungnya berdegup kencang, memompa darah panas ke seluruh tubuhnya. Ketika ia melihat garis merah tebal yang ditarik secara sepihak di atas peta itu, napasnya seketika tertahan.

​Garis merah itu melintang tepat di atas petak sawah keluarganya. Lebih dari itu, garis tersebut juga melintasi area perbukitan kecil di mana makam kakeknya berada—sebuah tempat yang disucikan dan dijaga oleh keluarganya selama bertahun-tahun.

​Kemarahan yang selama ini terpendam oleh kedamaian hidup di desa mendadak tersulut menjadi nyala api yang membakar akal sehatnya. Ini bukan lagi sekadar cerita tentang dunia luar di balik pegunungan. Ini adalah serangan langsung terhadap eksistensi keluarganya, masa depan ibunya, dan seluruh denyut nadi kehidupan warga Desa Ciherang.

​Pria berjas yang memimpin perundingan itu melirik sekilas ke arah warga dengan senyuman tipis yang menyiratkan arogansi dan kepongahan. Ia melambaikan tangannya, seolah sedang menghadapi sekumpulan anak kecil yang merajuk.

​"Kalian warga desa pedalaman harus realistis," kata pria itu dengan nada meremehkan, suaranya sengaja dikeraskan agar menenggelamkan protes warga. "Kalian tidak akan mengerti bagaimana roda kemajuan zaman berputar. Pertanian tradisional seperti ini sudah ketinggalan jaman. Wilayah ini akan disulap menjadi kawasan komersial yang jauh lebih produktif. Keputusan sudah bulat, dan penolakan dari kalian hanya akan memperumit proses administrasi saja."

​Mendengar kalimat itu, dunia di sekeliling Raka mendadak senyap. Darahnya mendidih hingga terasa panas di pelipisnya. Seluruh kesabaran yang diajarkan ibunya seolah lenyap seketika, disapu oleh gelombang harga diri yang diinjak-injak.

​Raka melangkah maju melewati barisan sesepuh desa. Ia berdiri tegak, tepat di hadapan sang utusan korporasi, menghalangi pandangan pria itu dari Pak Lurah. Tinggi badannya yang jangkung dan tatapan matanya yang tajam membuat sang utusan sedikit mengernyitkan dahi, terkejut melihat keberanian pemuda desa tersebut.

​"Kemajuan macam apa yang kau maksud?" Suara Raka terdengar tenang, namun bergetar hebat karena amarah yang tertahan di balik giginya yang mengatup rapat. Seluruh warga desa yang tadinya berteriak-teriak perlahan-lahan terdiam, menoleh serentak ke arah Raka.

​Pria berjas itu mengangkat sebelah alisnya, menatap Raka dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Wah, ada pahlawan kesiangan rupanya. Siapa anak muda ini?" tanyanya sambil melirik ke arah Pak Lurah.

​Raka tidak gentar sedikit pun. Ia membalas tatapan itu tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun, menegakkan bahunya lebar-lebar.

​"Nama saya Raka Ardian," jawab Raka lantang, suaranya menggema di seluruh lapangan balai desa, memantul di antara dinding-dinding bukit. "Dan saya katakan kepadamu sekarang juga: kami, warga Desa Ciherang, tidak akan pernah menyerahkan tanah ini kepada orang-orang serakah seperti kalian!"

​Hari itu, di bawah langit Ciherang yang mendadak terasa begitu sempit dan mendung, Raka tahu persis bahwa masa mudanya yang tenang, damai, dan terlindungi di balik lembah telah resmi berakhir. Pertarungan besar antara tradisi melawan ambisi kekuasaan telah ditabuh, dan mau tidak mau, ia harus bersiap melangkah jauh melewati batas cakrawala yang selama ini hanya berani ia bayangkan dalam mimpi-mimpi liarnya.

1
indah Mayaddah f
Jadi penasaran, apa isi catatan rahasia di buku harian kakek Wirya itu 🤔
Myz Pena
kebiasaan orang2 di kampung kalau ada orang yang udah naik mobil mewah lalu di bawa ke kampunh pasti jadi tontonan warga kampung 🤭
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Betul😄
total 1 replies
Myz Pena
keuarganya raka sangat sederhana apalagi penggambaran sosok ibundanya 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: iya, memang tokoh pendamping kadang kurang kita perhatikan
total 1 replies
CNNTAYY
utusan juga itu ngeremehin+songong banget untung ada raka/Proud//Proud/
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih CNNTAY ku😍
total 1 replies
iorlif
sepertinya mirip kejadian di suatu tempat
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Mungkin juga sih, tapi murni kok dari imaginasi ku👍
total 1 replies
Siti Aisyah
Kalau ngomongin tentang gabah dan dijemur dihalaman jadi teringat ibu waktu dikampung 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!