NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Anak yang Tidak Pernah Mengenal Hari Lahirnya

​

​Beberapa hari setelah Clara sembuh dari demam tingginya, kehidupan di rumah petak itu kembali pada rutinitasnya yang dingin dan tak berbelas kasih. Sentuhan lembut dan ucapan "terima kasih" yang sempat keluar dari bibir Clara di malam ia sakit parah, kini menguap tanpa sisa, tertiup oleh kerasnya angin kemiskinan dan tebalnya dinding dendam. Clara kembali menjadi sosok ibu yang kaku, pemarah, dan menjaga jarak.

​Maya, dengan kepolosannya yang tak berujung, tidak pernah memprotes. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar memanjat naik ke atas atap seng yang berkarat, gadis kecil berusia tujuh tahun itu sudah bangun. Ia menyapu lantai, merapikan selimut tipis mereka, dan memakan sisa makanan kemarin sebelum berangkat ke sekolah dasar tempat ibunya bekerja.

​Namun, ada satu hal yang tidak pernah diketahui oleh Clara. Sebuah rahasia kecil yang menjadi satu-satunya sumber cahaya dalam kehidupan Maya yang gelap.

​Setiap kali bel tanda sekolah berakhir berbunyi nyaring, Clara memiliki sebuah kebiasaan yang tidak bisa diganggu gugat: ia akan menghilang selama sekitar dua jam. Clara tidak pernah menjelaskan ke mana ia pergi. Kadang wanita itu hanya bergumam bahwa ia ingin mencari udara segar, atau menghindari keramaian anak-anak kaya yang dijemput oleh mobil-mobil mewah.

​Di masa lalu, Maya selalu menghabiskan dua jam itu dengan duduk meringkuk di sudut gudang kebersihan, menunggu ibunya kembali dalam ketakutan. Namun kini, dua jam itu telah bertransformasi menjadi surga kecilnya. Karena di saat itulah, bayangan Elena selalu muncul, membawa sinar matahari ke dunianya yang sempit.

​Hari itu, udara siang terasa cukup terik ketika Maya sedang duduk di bawah pohon beringin tua di dekat gerbang belakang sekolah.

​"Maya!"

​Suara riang yang sangat familier itu membuat Maya segera menoleh. Ia melihat Elena berlari menghampirinya. Rambut Elena yang dikuncir kuda bergoyang-goyang lucu. Hari ini Elena mengenakan seragam putih merah yang disetrika sangat rapi, menebarkan aroma pelembut pakaian rasa stroberi yang selalu membuat Maya diam-diam menarik napas panjang karena menyukainya.

​"Ada apa, Elena? Jangan berlari, nanti kamu jatuh," tegur Maya lembut, bangkit berdiri dan membersihkan debu dari roknya yang kusam.

​Elena berhenti tepat di depan Maya dengan napas sedikit terengah namun wajahnya berseri-seri luar biasa. "Besok ulang tahunku!" serunya dengan nada penuh kemenangan.

​Maya tertegun sejenak, lalu sebuah senyum tulus mekar di bibir mungilnya. "Selamat ulang tahun, Elena."

​"Belum besok, Maya! Tapi kamu sudah mengucapkannya," Elena tertawa renyah, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. Tangan kecil Elena kemudian merogoh ke dalam tas ransel mahal bergambar putri Disney, lalu mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna merah muda beraroma wangi. "Aku ke sini karena aku ingin mengundangmu. Datanglah ke rumahku besok sore."

​Maya menatap kartu undangan itu seolah benda itu adalah peninggalan dari planet lain. Kertasnya tebal, berkilau, dan ada pita satin kecil yang mengikatnya. Dengan tangan bergetar, Maya menerimanya. Ia membuka lipatan kertas itu perlahan. Ada tulisan indah berwarna emas dan gambar-gambar balon yang meriah.

​Namun, alih-alih melompat kegirangan seperti anak-anak lain, raut wajah Maya perlahan berubah redup. Tangannya yang memegang undangan itu turun perlahan.

​"Aku... aku tidak bisa, Elena," bisik Maya, suaranya nyaris seperti embusan angin yang patah.

​Senyum di wajah Elena memudar. "Kenapa? Acaranya pasti seru! Nanti ada badut, ada kue cokelat yang sangat besar, dan banyak sekali makanan!"

​"Ibu..." Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sandal karetnya yang sudah menipis. "Ibuku pasti tidak mengizinkannya."

​"Memangnya ibumu melarangmu?"

​Maya menggeleng pelan. "Bukan. Ibuku tidak tahu. Tapi... aku takut Ibu marah kalau melihatku pergi ke rumahmu. Ibu selalu bilang aku tidak pantas berteman dengan anak-anak sepertimu."

​Mendengar itu, Elena mengerutkan keningnya, mencoba mencari jalan keluar dengan logika anak-anaknya yang cerdik. "Tunggu dulu. Setiap hari setelah sekolah, ibumu selalu pergi entah ke mana, kan? Dan dia baru kembali menjemputmu dua jam lagi."

​Maya terdiam. Ia mengangguk pelan. Memang benar, ibunya selalu menghilang selama dua jam.

​"Nah, berarti kita punya waktu!" Elena menepuk tangannya dengan antusias. "Kita cuma pergi sebentar, Maya! Rumahku tidak jauh dari sini. Sopirku bisa mengantar kita ke sana dalam lima menit. Kamu bisa makan kue, melihat badut sebentar, lalu sebelum ibumu kembali ke sekolah, sopirku akan mengantarmu lagi ke sini. Ibumu tidak akan pernah tahu!"

​Maya menggigit bibir bawahnya. Perang batin berkecamuk di dalam dadanya. Di satu sisi, ketakutannya pada kemarahan Clara sangatlah besar. Bayangan ibunya yang berteriak dan menamparnya masih terekam jelas di benaknya. Namun di sisi lain... ia sangat ingin melihat seperti apa pesta ulang tahun itu. Seumur hidupnya, Maya tidak pernah merayakan apa pun. Ia tidak pernah memakan kue yang dihiasi lilin. Ia hanya ingin melihatnya sekali saja.

​"Hanya sebentar?" tanya Maya ragu-ragu, matanya yang besar menatap Elena penuh harap. "Kamu janji aku tidak akan pulang terlambat?"

​Elena mengangkat jari kelingkingnya tinggi-tinggi. "Aku janji! Benar-benar sebentar. Hanya sampai sebelum ibumu pulang."

​Maya menatap jari kelingking itu, lalu perlahan menautkan kelingkingnya sendiri yang kasar. "Baiklah. Aku akan datang."

​"Berhasil!" Elena bersorak girang, melompat kegirangan sebelum akhirnya memeluk Maya erat-erat, meninggalkan wangi stroberi yang manis di baju kusam Maya.

​Keesokan sorenya, janji itu ditepati. Begitu jam sekolah berakhir dan Clara menghilang dari pandangan, Maya berlari diam-diam menuju mobil jemputan Elena yang sudah menunggu di luar gerbang.

​Perjalanan yang hanya memakan waktu lima menit itu terasa seperti melintasi dua dunia yang berbeda bagi Maya. Ketika mobil sedan hitam itu memasuki gerbang besi tinggi yang menjulang, Maya menempelkan wajahnya ke kaca jendela, ternganga tak percaya.

​Rumah Elena bukanlah rumah. Di mata Maya, itu adalah sebuah kastel raksasa.

​Halamannya terhampar luas dengan rumput hijau yang dipangkas sempurna. Mobil-mobil mewah berbaris rapi di jalan masuk. Taman yang terawat dihiasi oleh air mancur kecil, dan saat itu, halaman samping telah disulap menjadi taman hiburan mini. Balon warna-warni bergantung di dahan-dahan pohon, pita-pita mengilap menjuntai dari tenda putih yang megah, dan suara musik anak-anak mengalun riang.

​Begitu turun dari mobil, Maya langsung membeku. Tubuhnya kaku seperti patung.

​Anak-anak yang seumuran dengannya berlarian dengan pakaian yang sangat indah. Anak perempuan mengenakan gaun sutra berenda dengan sepatu mengilap, sementara anak laki-laki memakai kemeja rapi berdasi kupu-kupu. Dan di sana berdirilah Maya; mengenakan satu-satunya baju kaus terbersih yang ia miliki, yang kerahnya sudah sedikit melar, dipadukan dengan celana selutut yang warnanya sudah pudar akibat terlalu sering dicuci, serta sepasang sepatu kanvas yang solnya sudah direkatkan kembali dengan lem murahan.

​Maya tanpa sadar menggenggam erat ujung kausnya sendiri. Tubuhnya sedikit gemetar.

​Melihat sahabatnya mematung, Elena segera menggandeng tangan Maya. "Maya, ayo masuk! Jangan takut."

​"Aku tidak takut," bohong Maya, suaranya bergetar pelan. Matanya melirik liar ke sekeliling, takut jika ada orang yang akan mengusirnya. "Aku cuma... aku cuma takut menyentuh sesuatu."

​"Kenapa harus takut menyentuh?" Elena tertawa bingung.

​"Kalau rusak bagaimana? Ibuku tidak punya uang untuk menggantinya, Elena."

​Elena tertawa semakin lebar, berusaha menenangkan kekhawatiran sahabatnya. "Kalau ada yang rusak, nanti aku akan bilang pada mamaku kalau itu salahku. Mamaku tidak akan marah. Ayo!"

​Dengan tarikan lembut dari Elena, Maya akhirnya melangkah masuk ke dalam area pesta.

​Semuanya terlihat magis. Meja panjang di bawah tenda dipenuhi oleh makanan yang tidak pernah Maya lihat seumur hidupnya. Ada menara cupcake dengan krim beraneka warna, air mancur cokelat, sandwich yang dipotong berbentuk bintang, dan di tengah-tengahnya, berdiri sebuah kue ulang tahun bertingkat tiga yang dihiasi patung putri berbahan gula.

​Mata Maya berbinar-binar penuh kekaguman. Ia merasa seperti sedang berada di dalam buku cerita dongeng yang dulu pernah ia pinjam. Namun, meskipun perutnya berbunyi pelan mencium aroma manis itu, Maya tidak berani mengambil satu makanan pun. Ia hanya berdiri diam di sudut, agak jauh dari kerumunan, memastikan dirinya tidak menghalangi jalan siapa pun.

​Ia tidak menyadari bahwa sejak lima menit yang lalu, dari arah teras rumah utama, sepasang mata tua yang tajam sedang memperhatikannya dengan saksama.

​Itu adalah Kakek Suryo—ayah dari Daniel, kakek biologis Maya yang sebenarnya.

​Kakek Suryo datang khusus ke kota ini demi menghadiri perayaan ulang tahun cucunya, Elena. Awalnya, ia sedang berdiri di teras sambil menikmati tehnya, tersenyum melihat cucunya berlarian. Namun, matanya tiba-tiba terkunci pada sosok gadis kecil yang dibawa oleh Elena tadi.

​Pakaian anak itu sangat mencolok, justru karena kesederhanaannya yang ekstrem di tengah lautan kemewahan. Kakek Suryo mengerutkan keningnya. Ia adalah pria yang sangat teliti. Ia bisa melihat sepatu kanvas anak itu yang sudah tua, kausnya yang kedodoran, dan bahasa tubuhnya yang sangat defensif—berdiri merapat ke meja, menyembunyikan tangannya di belakang punggung, seolah takut keberadaannya mengotori tempat itu.

​Kakek Suryo memanggil kepala pelayan yang berdiri tak jauh darinya. "Siapa anak kecil di sudut sana itu?"

​Kepala pelayan itu melihat ke arah yang ditunjuk. "Oh, anak itu. Kalau saya tidak salah dengar, Nona Elena menyebutnya teman sekolahnya, Tuan."

​"Teman sekolah?" Kakek Suryo bergumam pelan.

​Sekolah Bima Sakti tempat Elena bersekolah adalah institusi swasta paling bergengsi dengan biaya masuk yang fantastis. Hampir tidak mungkin ada murid dari kalangan menengah ke bawah yang bisa masuk ke sana. Pakaian anak itu tidak mencerminkan latar belakang keluarga konglomerat, bahkan tidak juga keluarga kelas menengah.

​Rasa penasaran yang aneh, ditambah sebuah tarikan batin yang tidak bisa ia jelaskan, membuat Kakek Suryo meletakkan cangkir tehnya dan berjalan perlahan menuruni undakan teras menuju area pesta.

​Maya sedang berdiri di depan meja, menatap lekat-lekat pada sepotong kue cokelat yang ditaburi meses warna-warni, ketika sebuah suara bariton yang berat namun hangat menyapanya dari samping.

​"Kamu suka kue cokelat itu, Nak?"

​Maya tersentak kaget. Ia buru-buru menoleh, matanya membelalak melihat seorang lelaki tua berwibawa dengan rambut memutih, mengenakan setelan jas kasual yang tampak sangat mahal. Menyadari ini adalah orang penting di rumah ini, Maya langsung mundur selangkah dan menundukkan badannya dalam-dalam, sebuah gestur penghormatan yang sering diajarkan Clara kepadanya jika bertemu majikan.

​"S-selamat sore, Tuan," sapa Maya dengan suara bergetar, kedua tangannya saling meremas di depan perut.

​Kakek Suryo sedikit terkejut melihat reaksi defensif dan terlalu sopan untuk anak seusianya. Ia tersenyum ramah, mencoba meredakan ketegangan anak itu. "Selamat sore. Kakek lihat dari tadi kamu hanya berdiri. Kenapa tidak ambil kuenya? Kamu teman Elena, kan?"

​"Iya, Tuan... saya teman Elena. Namaku Maya," jawabnya pelan, masih belum berani menatap langsung ke mata Kakek Suryo.

​"Maya..." Kakek Suryo mengulang nama itu, merasakan nada yang lembut di telinganya. "Bagaimana sekolahmu, Maya? Menyenangkan?"

​Maya mengangguk polos. "Saya suka berada di sekolah, Tuan. Banyak sekali buku yang bisa saya lihat dari luar jendela."

​Kening Kakek Suryo kembali berkerut samar. Jawaban itu terdengar ganjil. "Dari luar jendela? Maksud Kakek, kamu sekelas dengan Elena, kan?"

​Maya menggelengkan kepalanya perlahan, menatap mata pria tua itu dengan kepolosan yang memilukan. "Tidak, Tuan. Saya di sekolah bukan untuk belajar."

​Senyum di wajah Kakek Suryo perlahan memudar, digantikan oleh rasa bingung yang mendalam. "Bukan untuk belajar? Lalu untuk apa anak sekecil kamu ada di sekolah setiap hari?"

​"Saya membantu Ibu saya bekerja mengepel lantai koridor, Tuan," jawab Maya jujur, tanpa sedikit pun nada malu atau mengeluh dalam suaranya. Baginya, mengepel lantai adalah sebuah kebanggaan karena ia bisa membantu ibunya.

​Kakek Suryo terdiam. Jantungnya terasa seolah diremas pelan. Anak ini seusia dengan Elena, cucunya yang sedang berlarian tertawa bebas di luar sana. Bagaimana mungkin di usia sekecil ini, saat anak-anak lain sibuk belajar mengeja dan bermain, anak ini justru menghabiskan waktunya mengepel lantai koridor?

​Berusaha mengendalikan rasa empatinya yang tiba-tiba membengkak, Kakek Suryo bertanya lagi dengan nada yang lebih lembut. "Berapa usiamu, Maya?"

​Maya mendongak menatap Kakek Suryo, lalu menjawab dengan santai. "Saya tidak tahu, Tuan."

​Kakek Suryo membeku. Pria tua yang telah melewati asam garam dunia bisnis yang keras itu merasa napasnya tercekat. "Kamu... tidak tahu berapa usiamu?"

​Maya kembali menggeleng.

​Kakek Suryo berjongkok, mensejajarkan pandangannya dengan mata bulat gadis kecil itu. "Lalu... kapan kamu lahir, Nak? Bulan apa? Tanggal berapa?"

​"Saya juga tidak tahu, Tuan."

​Hati Kakek Suryo terasa perih. Bagaimana mungkin ada seorang anak yang bahkan tidak mengetahui hari kelahirannya sendiri? Hari di mana seorang anak seharusnya dirayakan eksistensinya di dunia.

​"Apakah... kamu tidak pernah bertanya kepada ibumu, Maya?" tanya Kakek Suryo, suaranya kini terdengar sedikit parau.

​Maya memainkan ujung bajunya dengan jari-jarinya yang kecil. Ia tampak berpikir sejenak, mengingat-ingat memori yang menyakitkan namun ia ucapkan tanpa beban. "Pernah, Tuan."

​"Dan ibumu menjawab apa?"

​Maya menundukkan kepalanya, suaranya mengecil, nyaris berbisik. "Ibu selalu marah kalau saya bertanya. Ibu bilang... kelahiran saya bukanlah suatu hal yang baik untuk diingat-ingat."

​Kakek Suryo terdiam kaku. Matanya menatap wajah mungil yang kotor itu dengan rasa tidak percaya.

​Maya melanjutkan ucapannya, mengulangi kata-kata yang pernah dilontarkan Clara di saat wanita itu kehilangan kendali emosinya, kata-kata yang telah Maya rekam sebagai sebuah kebenaran absolut. "Ibu bilang... saya lahir karena sebuah kecelakaan yang membuat hidup Ibu menjadi sangat susah. Jadi, saya tidak punya hari ulang tahun seperti Elena."

​Dada Kakek Suryo bergemuruh. Kata "kecelakaan" yang diucapkan oleh mulut kecil itu menghantam sanubarinya seperti godam besi. Siapa wanita kejam yang tega mengatakan hal semacam itu kepada darah dagingnya sendiri?

​Kakek Suryo menatap anak di hadapannya. Tidak tahu usianya. Tidak tahu tanggal kelahirannya. Tidak bersekolah. Diberitahu bahwa eksistensinya adalah sebuah kesalahan. Namun, yang paling membuat Kakek Suryo terpukul adalah: Maya sama sekali tidak tampak marah atau membenci ibunya.

​Mata gadis kecil itu tetap jernih, suaranya tetap penuh rasa hormat saat menyebut kata 'Ibu'.

​"Maya..." Kakek Suryo menelan ludah yang terasa pahit. "Kamu tinggal dengan siapa di rumah? Ayahmu ada di mana?"

​"Hanya dengan Ibu, Tuan," jawab Maya. "Saya tidak tahu siapa ayah saya. Ibu bilang saya tidak membutuhkannya."

​Kakek Suryo menarik napas panjang, berusaha menstabilkan emosinya. Ia mulai mengerti sedikit gambaran kasarnya. Anak ini pasti berasal dari latar belakang keluarga bawah yang sangat hancur. Mungkin ibunya adalah korban dari pria tak bertanggung jawab, dan anak ini menjadi pelampiasan dari rasa frustrasi kemiskinan mereka.

​Kakek Suryo ingin bertanya lebih banyak. Ia ingin tahu siapa nama ibu dari anak ini. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, senyum cerah tiba-tiba merekah di wajah Maya saat melihat sesuatu di belakang pria tua itu.

​"Tuan tidak perlu kasihan padaku," ucap Maya tiba-tiba, seolah bisa membaca tatapan iba dari Kakek Suryo. "Aku sangat senang hari ini. Elena itu sangat baik."

​"Kenapa kamu bilang Elena baik?" tanya Kakek Suryo, sedikit terkejut dengan kedewasaan kalimat anak itu.

​"Karena dia temanku. Teman pertamaku." Maya menatap Kakek Suryo dengan mata berbinar-binar penuh ketulusan. "Bisa melihat rumah Elena yang bagus, dan melihatnya meniup lilin... itu sudah cukup membuatku sangat bahagia, Tuan. Walaupun aku tidak punya hari ulang tahun, aku bisa ikut senang merayakan ulang tahun Elena."

​Kakek Suryo tertegun. Untuk pertama kalinya, ia melihat senyum Maya yang benar-benar cerah dan tulus. Tidak ada rasa iri, tidak ada rasa dengki, tidak ada kesedihan. Hanya kebahagiaan murni seorang anak yang ikut bersuka cita untuk sahabatnya.

​"Maya!"

​Suara panggilan dari arah belakang memutus percakapan mereka. Elena berlari menghampiri dengan dua buah piring kertas berisi potongan kue cokelat yang sangat besar di tangannya.

​"Ayo, Maya! Aku sudah mengambilkan kue untukmu! Tadi ada badut yang membagikan balon!" Elena langsung meraih lengan Maya, lalu menoleh ke arah kakeknya. "Kakek, aku pinjam Maya sebentar ya!"

​Maya membungkukkan badannya dengan sangat sopan kepada Kakek Suryo. "Permisi, Tuan. Terima kasih sudah mengobrol dengan saya."

​Kakek Suryo hanya bisa tersenyum kaku dan mengangguk. "Pergilah bermain, Nak."

​Ia berdiri perlahan, matanya terus mengikuti langkah kedua anak perempuan itu yang kini duduk berdua di sebuah bangku panjang, tertawa bersama sambil memakan kue cokelat.

​Sementara itu, di tempat yang jauh dari kemeriahan pesta ini, waktu dua jam milik Clara sudah hampir habis. Clara selalu memanfaatkan waktu luang itu untuk menyendiri, bersembunyi dari bayang-bayang masa lalunya, takut jika ia bertemu seseorang dari keluarga Danendra yang mungkin mengenalinya.

​Clara sama sekali tidak tahu bahwa putri yang selama ini ia kurung dalam kemiskinan untuk menghindari takdir, justru sedang duduk di taman belakang rumah musuh bebuyutannya.

​Dan tanpa seorang pun di dunia ini yang menyadari kebenarannya, seorang anak malang yang tidak tahu hari ulang tahunnya, yang mengenakan pakaian paling kusam di pesta itu, sesungguhnya sedang berdiri di tanah kelahirannya sendiri. Jarak Maya dengan Kakek kandungnya hanya terpaut beberapa langkah. Darah yang sama mengalir deras di nadi mereka.

​Kakek Suryo memandangi Maya dari kejauhan. Sebuah perasaan aneh, sebuah dorongan protektif yang irasional, mulai mengakar di dalam hatinya. Ia tidak tahu apa itu, namun jauh di dalam lubuk sanubarinya, Kakek Suryo merasa bahwa pertemuannya dengan gadis kecil bernama Maya sore ini, bukanlah sebuah kebetulan semata.

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!