NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Matahari siang di langit Jakarta seolah sedang memamerkan seluruh kekuatannya, memanggang area lapangan basket indoor SMA Nusa Bakti hingga terasa seperti di dalam oven. Suara decit sepatu sneakers yang beradu dengan lantai kayu, pantulan bola basket, dan teriakan para pemain menggema memekakkan telinga.

​Di pinggir lapangan, Nadiva duduk selonjoran di atas bangku penonton lapis kedua. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, dipenuhi bulir-bulir keringat yang mengalir di balik jilbab putihnya. Napasnya memburu, naik-turun tak beraturan. Di samping kakinya, teronggok sebuah tas olahraga Nike berukuran jumbo warna hitam legam yang isinya terasa lebih berat dari tumpukan dosa umat manusia.

​Itu adalah tas milik Dereen Hilton. Dan hari ini, genap sudah empat hari Nadiva resmi menjabat sebagai 'Babu Kehormatan' dari sang pangeran sekolah.

​"Div, ini handuk gue. Bawa sini. Terus ambilin botol minum gue sekalian. Yang dingin."

​Sebuah suara bariton yang berat dan menuntut terdengar dari tepi lapangan. Dereen baru saja menyelesaikan lay-up sempurnanya, berjalan ke pinggir lapangan dengan napas sedikit terengah. Keringat membasahi rambut hitam kelamnya, membuat beberapa helai jatuh menutupi dahi. Kaus jersei tanpa lengannya mengekspos otot-otot lengannya yang menegang sempurna. Bagi siswi lain, pemandangan itu mungkin setara dengan anugerah visual tiada tara. Namun bagi Nadiva, cowok itu tak ubahnya mandor romusha yang tidak punya hati.

​"Sebentar, Kak! Kaki aku masih kram ini habis lari-lari dari kantin lantai tiga beliin pesenan ciloknya Kak Andrew!" sungut Nadiva, suaranya sedikit melengking menembus keriuhan.

​Meski mengeluh panjang pendek, gadis itu tetap bangkit berdiri. Ia menyambar handuk kecil beraroma mint dari dalam tas, meraup botol air mineral dingin, lalu berjalan menghampiri Dereen dengan langkah diseret.

​"Nih, Bos. Minumnya. Ingat, ya, ini tenaga ekstra. Argo argonya jalan terus. Jalan dari lantai tiga ke sini itu hitungannya sepuluh ribu, belum termasuk pajak ngos-ngosan," cerocos Nadiva seraya menyodorkan botol itu dengan gaya tengil andalannya. Ia bersedekap, menatap cowok jangkung di depannya dengan alis menukik tajam.

​Dereen menyambar botol itu dan meneguk isinya separuh. Ujung matanya menatap Nadiva, lalu sudut bibirnya berkedut menahan senyum geli yang mati-matian ia sembunyikan di balik topeng arogannya. Mengisengi gadis ini ternyata jauh lebih menyenangkan dari dugaannya. Ada kepuasan tersendiri melihat wajah chubby itu cemberut, namun tangannya tetap cekatan menuruti perintah.

​"Lo perhitungan banget sih jadi cewek. Dasar mata duitan," cibir Dereen sarkas, melempar handuk kecilnya yang sudah sedikit lembap ke atas kepala Nadiva.

​"Ih, jorok!" Nadiva memekik, buru-buru menyingkirkan handuk itu dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Bukan mata duitan, Kak. Ini namanya prinsip ekonomi berbasis freelance. Demi Maroko, semua keringat ini harus dikonversikan jadi rupiah! Lagian—"

​Ucapan Nadiva tiba-tiba terputus.

​Sayup-sayup, dari arah pengeras suara masjid sekolah yang terletak tak jauh dari area olahraga, lantunan suara azan Zuhur mengalun membelah udara. Suaranya bergema, menembus riuhnya lapangan basket, membawa getaran magis yang seketika mengubah atmosfer di sekitar Nadiva.

​Raut wajah kesal gadis itu menguap dalam hitungan detik. Postur tubuhnya yang tadinya tegang siap berdebat, mendadak rileks. Keningnya tak lagi berkerut. Matanya yang bulat menatap lurus ke arah jendela, mendengarkan lantunan panggilan itu dengan khusyuk. Bibir mungilnya bergerak tanpa suara, menjawab setiap bait azan yang berkumandang.

​Dereen terdiam. Ia menatap perubahan drastis itu dengan kening berkerut.

​Begitu azan selesai bergema, Nadiva menoleh kembali pada Dereen. Wajahnya kini memancarkan ketenangan yang luar biasa. Ia merapikan letak jilbabnya, lalu menunjuk tas jumbo Dereen yang tergeletak di bangku penonton.

​"Waktu kerjanya break dulu ya, Kak. Aku mau ke masjid, salat Zuhur," ucap Nadiva sopan, namun dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.

​Dereen mengangkat sebelah alisnya. Egonya yang terbiasa dituruti mendadak terpancing. "Gue belum selesai latihan, Div. Lo harus beresin tas gue dulu, beliin gue makan siang, baru lo boleh pergi."

​"Nggak bisa, Kak," tolak Nadiva halus tapi tegas. Matanya menatap lurus ke dalam netra gelap Dereen, tanpa setitik pun rasa takut. "Bos di bumi harus ngalah sama Bosnya alam semesta. Kontrak babu kita nggak berlaku kalau udah masuk waktu salat. Kalau Kakak maksa, aku anggap kontrak batal sepihak."

​Setelah menundukkan kepala sekilas sebagai formalitas, Nadiva berbalik. Ia berjalan meninggalkan lapangan basket tanpa menoleh lagi, membiarkan rambut-rambut halus yang lolos dari jilbabnya tertiup angin pelan. Langkahnya mantap, mengabaikan beban kelelahan yang sedari tadi merayapi otot-ototnya.

​Dereen berdiri mematung di pinggir lapangan. Tangannya yang memegang botol air perlahan turun. Matanya terkunci pada sosok mungil berbalut seragam putih abu-abu itu hingga akhirnya menghilang di balik pintu keluar.

​Di tempat yang sama, dari arah tribun seberang, Mex berjalan mendekat. Cowok yang sejak awal latihan memilih duduk diam mengamati itu kini berdiri tepat di samping Dereen. Matanya menatap ke arah pintu keluar yang sama dengan sorot lembut yang tak bisa disembunyikan.

​"Gila, ya, tu cewek," gumam Mex pelan, memecah keheningan di antara mereka berdua. Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Gue perhatiin dari pagi dia nggak ada berhenti gerak. Belajar mati-matian, kerja paruh waktu, ditambah lo kerjain abis-abisan keliling sekolah. Tapi pas dengar azan... dia bisa langsung ninggalin semuanya gitu aja."

​Dereen tak menjawab. Ia meremas botol plastik di tangannya hingga berbunyi gemeretak.

​"Dia tahu prioritasnya, Ren," lanjut Mex, suaranya mengalun tenang namun sarat akan kekaguman. "Keteguhannya itu lho... cantik banget."

​Jantung Dereen seakan berhenti berdetak selama sekian milisekon mendengar kata terakhir yang meluncur dari mulut sahabatnya. Cantik. Kata itu berdengung di telinganya, memicu letupan rasa tak suka yang membakar pangkal dadanya. Rahang Dereen mengeras.

​Dalam diam, ekor mata Dereen menangkap kilauan salib perak yang menyembul dari balik kerah kaus Mex. Kalung yang sama dengan yang ia kenakan. Benda itu kembali menjadi pengingat yang kejam—sebuah tamparan realitas tentang seberapa jauh jarak antara dunia mereka dan dunia Nadiva.

​Namun anehnya, melihat ketaatan gadis itu bukannya membuat Dereen ingin menjauh, hal itu justru menariknya semakin dalam ke dalam pesona yang tak bisa dijelaskan. Ada sesuatu di balik mata cokelat terang Nadiva, di balik kelakuan barbar dan mulut tajamnya, sebuah kemurnian yang tak pernah Dereen temukan pada perempuan mana pun di sekitarnya.

​Sebuah kemurnian yang... sayangnya, tak berhak ia sentuh.

​Dereen membuang muka, mengusap tengkuknya dengan kasar. "Lebay lo, Mex," desisnya dingin, menutupi gejolak badai di dalam dadanya. Ia berbalik dan berjalan menuju tasnya yang ditinggalkan Nadiva. "Biarin aja dia halu sama Maroko-nya. Habis salat, gue bakal bikin dia keliling lapangan bawain tas gue lagi."

​Meski kata-katanya terdengar kejam, namun Mex yang sudah mengenalnya bertahun-tahun bisa melihat dengan jelas. Di balik langkah angkuh Dereen, ada benteng tinggi yang perlahan mulai retak oleh seorang gadis polos berjilbab putih yang bahkan tak pernah berniat meruntuhkannya.

1
niaww
semngt jangan lupa mampir cerita ku kak🙏
kholifah Montes: siap💗
total 1 replies
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!