NovelToon NovelToon
Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.

Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.

Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: RUMAH DENGAN PAGAR HIJAU

Malam merambat pelan di atas langit Jakarta Selatan. Sebuah mobil sedan hitam berpelat nomor cantik berhenti dengan mulus di depan rumah bernuansa klasik modern berpagar tanaman hijau di kawasan Radio Dalam.

Ranti melangkah keluar dari mobil, merapikan gaun casual chic berwarna pastel yang dikenakannya. Di sampingnya, Bima—anak laki-lakinya yang berusia empat tahun—berdiri memegangi jemari Ranti dengan erat. Di tangan kirinya, Ranti membawa dua keranjang buah segar dan sebuah kotak berisi bolu kukus keju kegemaran masa kecilnya yang sengaja ia beli dari toko kue langganan.

Ranti menatap papan nama kayu kecil yang terpasang di dekat bel rumah: Kediaman Arisya.

Jantung Ranti berdesir halus. Perjalanan dari rumahnya di kawasan Dharmawangsa menuju rumah Farhan hanya memakan waktu sekitar tiga puluh lima menit. Sebuah jarak yang teramat dekat untuk ukuran Jakarta. Selama bertahun-tahun, ketika Ranti terpuruk di dalam pernikahan yang dingin, sosok masa kecil yang pernah berjanji melindunginya ternyata tinggal tidak jauh dari jangkauannya. Mereka bernapas di bawah langit kota yang sama, namun terpisah oleh dinding waktu dan takdir yang belum memihak.

Dekat sekali... tapi kenapa baru sekarang kita dipertemukan kembali? batin Ranti dengan napas teratur dan lapang.

Pintu pagar kayu yang berderit halus terbuka. Farhan melangkah keluar dengan kemeja kasual berwarna biru muda yang digulung hingga ke siku. Pria itu menyunggingkan senyuman hangat begitu melihat Ranti dan Bima berdiri di luar.

"Selamat malam, Ranti. Halo, Bima," sapa Farhan lembut, membukakan pintu pagar lebih lebar.

"Selamat malam, Farhan," balas Ranti penuh kehangatan. "Ini ada sedikit buah tangan untuk Tante Rida."

"Aduh, kamu tidak perlu repot-repot begini, Ran," tutur Farhan seraya menerima keranjang buah dari tangan Ranti. Tangannya yang lain secara alami terulur untuk mengelus rambut Bima. "Ayo masuk, Ibu sudah menunggu di dalam dari tadi."

Mereka bertiga melangkah melewati halaman depan yang asri. Begitu menapakkan kaki di teras rumah yang diterangi pendar lampu hangat, seorang wanita paruh baya bermukena dan mengenakan hijab berwarna krem anggun melangkah tergesa-gesa keluar dari pintu utama.

Ibu Rida.

Langkah wanita tua itu terhenti sejenak di ambang pintu. Matanya yang keibuan berbinar basah begitu menangkap sosok Ranti yang berdiri anggun di hadapannya.

"Ranti...?" bisik Ibu Rida, suaranya bergetar menahan gejolak rindu yang terkumpul selama dua puluh tahun.

Ranti tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. "Iya, Tante... Ini Ranti."

Tanpa mengulur waktu, Ibu Rida melangkah maju dan merengkuh tubuh Ranti ke dalam pelukannya. Dekapan hangat seorang ibu yang dulu sering mengusap air mata Ranti kecil seketika meruntuhkan sisa-sisa rasa lelah Ranti. Aroma minyak kayu putih dan wewangian melati yang khas dari Ibu Rida membawa Ranti kembali pada kenangan masa kecil yang paling aman dan damai.

"Ya Allah, Nak... Cantik sekali kamu sekarang," tangis haru Ibu Rida pecah seraya melepaskan pelukannya dan memegangi kedua pipi Ranti. "Tante rindu sekali sama kamu dan Mendiang Ibumu... Tante cari-cari kabar kalian setelah kalian pindah dulu, tapi tidak pernah ketemu."

"Ranti juga rindu sekali sama Tante Rida," sahut Ranti dengan suara parau yang hangat.

Ibu Rida kemudian menunduk, menatap Bima yang berdiri bersandar di paha Ranti. Mata wanita tua itu makin berbinar lembut.

"Ini Bima ya?" tanya Ibu Rida seraya berlutut kecil agar sejajar dengan tinggi Bima. "Ganteng dan pintar sekali cucu Tante..."

Bima menatap Ibu Rida dengan mata bulatnya yang polos, lalu mengulurkan tangan kecilnya untuk menyalami dan mencium punggung tangan wanita tua itu dengan sangat sopan. "Selamat malam, Oma..."

Ibu Rida tertawa bahagia, mengusap pipi Bima penuh kasih sayang. "Aduh, pintarnya! Ayo masuk, Nak, Tante sudah masakkan makanan kesukaanmu dan Kirana dulu!"

Namun, kehangatan di balik pagar rumah bernuansa hijau itu tak sepenuhnya sepi dari tatapan dengki.

Di seberang jalan, berjarak sekitar lima puluh meter dari pagar rumah Farhan, sebuah mobil Grab berwarna perak terparkir pelan di tepi jalan yang agak gelap. Di dalam interior mobil, kaca jendela belakang diturunkan sedikit.

Sonya—adik kandung Sony yang selama ini ikut menikmati fasilitas uang belanja dari Sony—duduk di kursi belakang dengan raut wajah yang dipenuhi intrik. Sejak Sony ditahan di polda dan rekening keluarganya dibekukan oleh kepolisian, Sonya berusaha keras mencari tahu keberadaan Ranti untuk memohon belas kasihan atau mencari celah kesalahan yang bisa dipakai untuk memeras Ranti kembali.

Sonya sengaja membuntutinya menggunakan mobil sewaan sejak Ranti keluar dari kawasan rumahnya.

Mata Sonya menyipit tajam dari balik kegelapan mobil. Ia menyaksikan secara langsung saat Ranti keluar dari mobil sedan mewahnya, membawa keranjang hadiah, dan disambut hangat oleh Farhan serta seorang wanita paruh baya berhijab yang tak lain adalah ibu kandung Farhan.

Melihat adegan pelukan yang penuh keharuan serta tawa Bima yang begitu akrab dengan Farhan di teras rumah tersebut, otak Sonya yang picik dan busuk langsung menarik kesimpulan liar yang keliru.

"Ooh... jadi begini kelakuanmu yang sebenarnya, Ranti?!" bisik Sonya dengan nada penuh kebencian dan senyum sinis yang menjijikkan.

Jemari Sonya meremas pinggiran jok mobil Grab dengan erat. Di dalam kepalanya yang terdistorsi oleh rasa iri hati, Sonya merangkai narasi palsu persis seperti tuduhan buta kakaknya, Sony, di pengadilan tadi siang.

Pantas saja Mas Sony diceraikan dan dimasukkan ke penjara! batin Sonya berprasangka buruk. Ternyata wanita sok suci ini memang sudah punya pria idaman lain! Dia pacaran sama hakim yang menyidangkan kasus cerainya sendiri! Ibu-ibu berhijab itu pasti ibunya si hakim! Mereka sudah merencanakan ini semua untuk merebut harta Mas Sony dan hak asuh Bima!

Sonya dengan cepat merogoh ponsel murahnya dari dalam tas, mengarahkan kamera ke arah teras rumah Farhan yang terang, lalu mengambil beberapa foto dan rekaman video singkat yang memperlihatkan Ranti, Farhan, dan Ibu Rida yang sedang tertawa bersama di depan pintu.

"Tunggu saja, Ranti..." desis Sonya seraya menyeringai puas memandangi hasil rekaman di layar HP-nya. "Aku punya bukti kalau kamu ini wanita tidak benar yang berselingkuh dengan hakim persidanganmu sendiri. Foto-foto ini bisa bikin kamu hancur di media sosial dan bikin Mas Sony bebas!"

Tanpa disadari Sonya, tuduhan liar dan kepicikannya itu hanyalah ilusi dari jiwa-jiwa yang tidak mampu menerima kenyataan bahwa kejahatan mereka telah hancur total di hadapan kebenaran.

Di Dalam Rumah Farhan

Suasana ruang makan keluarga Arisya terasa teramat hangat dan bersahaja. Meja kayu panjang dipenuhi dengan hidangan rumahan: garang asam daging, ayam goreng rempah, sambal bajak, dan sayur lodeh yang aromanya memikat selera.

Bima duduk di sebelah Farhan, sibuk menyantap potongan ayam goreng yang telah dipisahkan tulangnya oleh Farhan dengan penuh kesabaran. Ranti memperhatikan interaksi itu dari seberang meja. Hatinya lumer melihat betapa alaminya Farhan mengayomi Bima—sesuatu yang tak pernah dilakukan Sony yang selalu bersikap dingin dan tidak peduli pada anaknya sendiri.

"Bagaimana perusahaanmu sekarang, Ranti?" tanya Ibu Rida lembut seraya menyodorkan mangkuk garang asam ke dekat Ranti. "Tante dengar dari Farhan, kamu sekarang dipundaki tanggung jawab besar menggantikan Mendiang Ibumu."

Ranti tersenyum hangat, mengangguk pelan. "Alhamdulillah makin stabil, Tante. Kemarin baru saja menyelesaikan pembersihan masalah internal dan menandatangani kerja sama investasi baru. Ranti berusaha sebaik mungkin menjaga warisan Ibu."

"Ibumu pasti sangat bangga melihatmu di atas sana, Nak," tutur Ibu Rida dengan pendar mata yang teduh. "Dulu... Kirana selalu bilang kalau Ranti adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya. Ibumu wanti-wanti agar Ranti tumbuh jadi wanita yang kuat dan tidak boleh diinjak-injak oleh siapa pun."

Farhan menatap Ranti dari samping, menyunggingkan senyuman manis yang memberikan dorongan moral. "Ranti sudah membuktikannya, Bu. Dia berdiri sangat tegap membela hak-haknya dan Bima."

Ranti meraba dada kirinya. Kedamaian yang ia rasakan malam ini begitu sempurna. Di balik kehangatan meja makan ini, Ranti menyadari bahwa kebahagiaan yang sejati tidak diukur dari kemewahan yang dipamerkan, melainkan dari kehadiran orang-orang yang tulus menyayangi dan menghargai keberadaannya.

Usai makan malam, mereka duduk santai di ruang keluarga. Ibu Rida membuka-buka album foto tua yang berisi kenangan masa kecil Ranti dan Farhan di Menteng. Gelak tawa renyah sesekali pecah saat Farhan digoda oleh ibunya mengenai kacamata bulat tebal dan kepolosannya sewaktu kecil.

Saat waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Bima sudah mulai mengantuk dan tertidur lelap di pangkuan Farhan di sofa.

Ranti berdiri perlahan. "Tante Rida... sepertinya Ranti dan Bima harus pamit pulang dulu. Kasihan Bima sudah tertidur."

Ibu Rida berdiri dan memeluk Ranti sekali lagi dengan sangat erat. "Sering-sering main ke sini ya, Ranti. Rumah ini selalu terbuka lebar untukmu dan Bima kapan saja."

"Pasti, Tante Rida. Terima kasih banyak untuk makan malamnya yang sangat lezat," sahut Ranti tulus.

Farhan menggendong Bima yang terlelap dengan sangat hati-hati di dadanya, lalu berjalan berdampingan bersama Ranti menuju mobil sedan yang terparkir di depan halaman.

Malam Jakarta yang tenang membiaskan cahaya bintang di langit. Farhan membukakan pintu belakang sedan dan meletakkan Bima di car seat dengan lembut, membetulkan sabuk pengamannya sebelum menutup pintu kembali.

Kini, Ranti dan Farhan berdiri berhadapan di samping mobil.

"Terima kasih untuk malam yang sangat indah ini, Farhan," tutur Ranti seraya menatap mata teduh Farhan. "Sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya seperti ini."

Farhan menatap Ranti dengan pendar mata yang sangat dalam, jujur, dan hangat.

"Aku yang berterima kasih, Ranti," sahut Farhan dengan suara bariton yang lembut. "Melihatmu tersenyum lepas dan bahagia malam ini... adalah hal terbaik yang ingin kusaksikan sejak kita bertemu kembali."

Farhan membetulkan posisi kacamatanya, lalu melangkah satu titik lebih dekat.

"Perjalananmu untuk pulih memang tidak mudah," lanjut Farhan pelan namun sarat akan makna. "Tapi ingat... kamu tidak lagi berjalan sendirian. Aku dan Ibu akan selalu ada di sini untuk mendampingimu."

Ranti mengangguk pelan, rasa hangat yang manis membuncah di dalam dadanya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi rasa takut akan bayang-bayang pengkhianatan masa lalu.

Ranti melangkah masuk ke dalam mobilnya. Saat mobil sedan itu melaju perlahan membelah keheningan jalan Radio Dalam, Ranti melirik melalui kaca spion. Farhan masih berdiri di depan pagar rumahnya yang hijau, melambaikan tangan dengan senyuman hangat yang akan selalu menjadi tempat Ranti pulang.

1
Lee Mba Young
pengacara Sony keren banget, walau Sony napi ttp bisa memenangkan sidang🤣.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.

pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
NinLugas: ka baca karya baru aku kak, perlu pembaca kritis kyk KK
total 1 replies
Lee Mba Young
pling enak pelakor Raya gk dpt karma.
Lee Mba Young
Cerita pling aneh. pdhl Sony napi dpt hak asuh.
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
Lee Mba Young
pengacara Sony best banget pdhl Sony selingkuh, zina korupsi tp dpt bebas Dan dpt hak asuh🤣 .
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
NinLugas: kalau g gila authornya ya ceritanya yg gila kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Ini hukum pling aneh, pdhl korupsi kok bisa bebas bersyarat.
pengacara ranti yg kurang keren
sunaryati jarum
Fitnah jika diselidiki dan ada bukti akurat,maka fitnah akan kalah
sunaryati jarum
Sony Seharus kamu akui dan terima kenyataan,ini semua karena kesalahan kamu.
Lee Mba Young
di sini pengadilan yg gk banget bpk nya napi tp dpt hak asuh itu dah aneh.
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.

ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
NinLugas: nnti d jelaskan d episode berikutnya nya y kk 🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Kenapa Sony bisa dpt hak asuh anak kn dia narapidana. kok aneh.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.
sunaryati jarum
Kacang lupa akan kulitnya ,itu kamu Soni dan keluargamu
sunaryati jarum
Kamu malah.tambah cari masalah
NinLugas: terimakasih y kk atas dukungannya, 😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Ada temen semasa kecil yang memberi dukungan
sunaryati jarum
Semoga kedepannya tidak ada lagi pengkhianat Ranti
sunaryati jarum
Orang tua Raya , bagus.Tidak membela tapi menyalahkan
sunaryati jarum
Tujuan kamu memang ingin merebut posisi Ranti, sudah pas kamu langsung dapat karma instan
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!