Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATAS
Dara muncul digandeng Waluyo dari arah ruang kerjanya.
Sejak malam setelah terbangun dan menangis mencari Sutami, Dara meminta dipindahkan ke kamar kosong di lantai satu. Kamar tepat di sebelah ruang kerja Waluyo. Dulu kamar itu tempat mendiang ibunya beristirahat siang.
Begitu melihat Sutami berdiri di depan anak tangga, Dara langsung melepaskan genggaman tangan Waluyo. Ia berjalan pelan, lalu berhenti tepat di samping Sutami. Tangan kecilnya itu langsung melingkar manja di lengan Sutami.
Dara mendongak. Matanya menatap bergantian ke arah dua kakaknya yang berdiri di atas tangga.
"Jangan marahin Ibu!" katanya lantang. Nadanya tegas untuk ukuran anak 6 tahun. "Mulai sekarang dia Ibu kita!"
Mendengar teriakan adiknya, Arka berbalik. Tangan yang sudah terulur hendak meraih gagang pintu kamarnya itu pun ia terik kembali. Dahinya mengerut dalam lalu melongok ke bawah, sekilas menatap Sutami, lalu beralih menatap Dara lebih lama. Tapi tatapan itu seolah menyembunyikan pilu dan kecewa. Ia menghela napas panjang dengan mulut yang terkatup rapat, kemudian kembali berbalik dan masuk ke kamarnya.
Bam!
Pintu itu tertutup lebih keras dari biasanya, seolah sebagai jawaban penolakan yang tegas.
Di anak tangga ketiga, Kirana terpaku sejenak. Ia berbalik menatap Dara, lalu Sutami. Perlahan ia menuruni dua anak tangga. Berhenti di pijakan terakhir, tepat di hadapan Dara. Ia berjongkok agar sejajar.
"Adikku yang paling menggemaskan," ujar Kirana lembut sambil mencubit gemas pipi Dara. "Selamat bersenang-senang ya."
Mendengar itu, Dara tersenyum lebar disertai anggukan manis.
Kirana lalu berdiri, tapi senyumnya hilang. Matanya beralih ke Sutami dengan tatapan dingin. "Tapi ingat pesan Kakak," lanjutnya datar. "Kalau ada orang asing yang mengganggumu, langsung bilang ke Kakak."
Kalimat itu tidak ditujukan untuk Dara, tapi sengaja ia lemparkan tepat ke wajah Sutami sebagai penegasan batas.
"Sudah ya, Kakak mau belajar di kamar!" Kirana melengos lalu berbalik menaiki tangga menuju kamarnya yang tepat bersebelahan dengan kamar Arka.
Sutami bergeming. Satu tangannya masih menggenggam erat gagang koper kecilnya. Lengan satunya menjadi tempat Dara bergelayut manja. Tapi dalam dadanya, sesak tak bisa dipungkiri. Ia menyadari sesuatu yang tak ia duga sebelumnya. 'Aku salah mengambil keputusan. Belum terlambat untuk mundur!' pikirnya.
Tapi bayangan wajah Bapak di rumah sakit, wajah Ibu yang menahan tangis, tuduhan Kuswara, dan bisik-bisik warga, membuat kakinya terkunci di depan anak tangga itu.
Sutami menarik napas dengan sadar. 'Baiklah. Aku datang ke rumah ini hanya untuk sebuah kesepakatan.'
Waluyo berdiri berjarak di belakang Dara. Sejak tadi ia hanya menonton. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi. Saat pintu kamar Arka tertutup, dan saat Kirana melemparkan kalimat terakhirnya, ia hanya menghela napas panjang, pelan dan lelah.
"Mulai besok kamu yang urus jadwal Dara dan seluruh kegiatannya. Untuk sementara fokuskan pada putriku, dan uruslah cutimu sampai putriku membaik." Tegas dan penuh perhitungan. Begitulah ucapan Waluyo bukan selayaknya seorang suami kepada istri, tapi seperti seorang Bos pada bawahan.
Waluyo berjalan ke sisi Dara, lalu menyerahkan sebuah kartu pada Sutami. "Pakai ini untuk semua keperluan Dara dan untuk keperluan mu."
Sutami terpaku menatap kartu berwarna abu-abu silver itu. 'Kartu platinum!' batin Sutami seketika menciut, menyadari selebar itu jarak kehidupan mereka.
Tangannya gemetar saat menerimanya. "Ba-baik, Pak!"
"Pakai seperlunya," imbuh Waluyo datar. "Untuk dapur, sekolah Dara, obat Bapak, dan kebutuhan rumah. Semua transaksi akan ada laporannya. Minta struk lalu letakkan di meja ruang kerjaku tiap tanggal 30."
Sutami mengangguk pelan. Tenggorokannya tercekat. Ia sadar, Ini bukan hadiah pernikahan, juga bukan bentuk kepercayaan. Tapi lebih terasa seperti sebuah surat tugas dengan materai tak tertulis.
"Dan satu lagi," lanjut Waluyo, suaranya tetap rendah. "Jangan gunakan untuk hal yang tidak perlu. Saya tidak suka kejutan di tagihan."
"Iya, Pak," jawab Sutami lirih.
Waluyo akhirnya menatapnya sekilas tapi tajam. "Simpan baik-baik. Mulai hari ini, kamu yang pegang keuangan rumah." Waluyo berjalan melewatinya, naik ke lantai dua. Langkahnya tenang, dingin, dan berjarak.
Sutami masih berdiri di tempat. Ia menggenggam kartu itu erat. Di balik plastik silver itu, ia merasakan beban yang lebih berat dari utang Kuswara kemarin.
Kirana yang sedari tadi mengintip dari celah pintu kamarnya mendengus kesal. "Lihat. Sudah dikasih kartu belanja. Tapi jangan harap bisa bebas menjadi Nyonya beneran di rumah ini!"
Sutami memasukkan kartu itu ke dalam dompet kecilnya. Dompet lusuh hadiah kelulusannya dari sang ibu yang sudah entah berapa tahun yang lalu. Menyimpan kartu itu ke dalamnya seolah memaksanya menyeberang ke dunia dongeng yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dara masih memeluk lengan Sutami. "Kita masuk ke kamar ibu, Dara bantu beresin pakaian ibu, Ya?" ajaknya manja.
Sutami tersenyum menatap Dara lalu mengusap lembut wajah pucat itu. "Hmm... hayuk!"
Sutami harus kuat. Ia sudah mengambil keputusan. Dan mundur? Tidak lagi terpikirkan olehnya. Meskipun ia harus berjalan di antara penolakan, kesepakatan, dan rumah besar yang terasa asing.
.
.
.
Sementara itu, di sudut warung kopi, Kuswara duduk bersandar dengan penampilan kusut. Sangat berbeda dari biasanya yang selalu tampil klimis.
"Heh bro! Siang-siang kok sudah kusut, berapa hari kau tak mandi?" Seorang pelayan mendatangi lalu duduk bersamanya.
Kuswara menatap kesal pada temannya itu. "Kerja jadi pelayan berapa gajinya?" tanyanya balik alih-alih menjawab rasa penasaran temannya.
"Ya, cukup lumayan! Apalagi kalau ketemu janda-janda kesepian... tip-nya banyak!" serunya membuat gerakan menggesekkan ibu jari dan telunjuk. "Kenapa nanya-nanya? Kamu pengangguran sekarang? Pantesan kusut!" imbuhnya mencerca.
"Mana ada sarjana kayak aku jadi pengangguran! Lagi cuti aja, kesel sama orang rumah!" jawab ketus Kuswara.
"Kesel kenapa? Ibumu minta uang dapur lebih, atau Bapakmu minta motor baru?"
"Goblok! Lebih rumit dari itu, Man!" celetuk Kuswara seraya menepuk kasar bahu temannya itu.
Kuswara mendesah berat, seolah hanya dia saja yang hidupnya paling rumit. "Kakakku, si pembawa sial itu, malah menikahi bosku! Mampus aku bisa jadi pesuruhnya seumur hidup!"
Manto menoleh cepat menatap Kuswara. "Yang bener? Ya baguslah!" serunya menepuk balas bahu Kuswara.
"Bagus apanya?"
"Kalau kakakmu itu istri bosmu, otomatis kamu akan jadi kepercayaannya, kaki tangan bosmu. Kamu kan adik dari istrinya, mana mungkin akan tega memperlakukanmu dengan tak adil. Pe-ermu sekarang justru berbaik-baiklah dengan kakakmu itu, ambil hatinya, lalu jadikan dia sebagai tamengmu!"
Kuswara terdiam. Ia sedang menimbang ucapan Manto. "Bener juga ya...."
...****************...
Bersambung
Gimana, gw udah cocok ikut arisan ibu-ibu kompleks belum?🥴😂
rasain tuh 😏