Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
"Apa maksudmu? Jelaskan dengan benar!"tegas Alfa.
"Warga berbondong-bondong datang dan menghentikan aktivitas pengangkutan pasir. Mereka menuntut pertanggungjawaban dari pihak kita," jelas pria di seberang telepon dengan suara panik.
Alfa mengernyit. "Bagaimana bisa?Bukankah kegiatan penambangan selama ini berjalan lancar?"
"Itulah yang belum saya pahami, Pak. Mereka menuduh kegiatan kita merugikan warga dan mengatakan penambangan ini ilegal. Saya sudah mencoba menjelaskan, tetapi mereka tidak mau mendengarkan."
Alfa mengembuskan napas berat. Ia tidak menyangka persoalan seperti itu muncul ketika usahanya sedang berkembang. Padahal, sebelum memulai kegiatan penambangan, ia sudah memastikan seluruh persyaratan dipenuhi dan izin dari dinas terkait dikantongi.
"Saya akan segera datang ke sana. Untuk sementara, jangan terpancing emosi. Hentikan dulu kegiatan penambangan sampai masalah ini jelas," perintahnya tegas.
"Baik, Pak."
Setelah mengakhiri panggilan, Alfa memasukkan ponsel ke saku celana. Ayudia yang sejak tadi memperhatikan perubahan raut wajah suaminya segera mendekat.
"Ada masalah apa, Mas?" tanyanya.
Sejenak Alfa menghela napas berat. "Warga melakukan demonstrasi. Mereka menuduh kegiatan penambangan itu ilegal dan merugikan masyarakat."
Ayudia terkejut. "Astaga... Bukankah semua perijinannya sudah lengkap?"
"Sudah. Itulah yang membuatku heran. Aku harus melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di sana."
"Kalau begitu aku ikut."
"Tidak perlu, Ini masalahku," jawab Alfa.
"Lebih baik kamu segera berangkat ke kantor nanti terlambat. Bukankah kamu juga punya masalah sendiri?"
"Baiklah, aku harap masalahnya bisa diselesaikan dengan baik. Jangan sampai kamu emosi menghadapi mereka."
Alfa tersenyum mendengar nasihat istrinya. "Kamu tenang saja. Aku akan mencari tahu duduk persoalannya terlebih dahulu."
Setelah berpamitan, Alfa bergegas menuju lokasi penambangan pasir. Hampir dua jam perjalanan, akhirnya tiba di kawasan tersebut. Puluhan warga berkumpul di tepi jalan, sebagian membawa spanduk berisi tuntutan, sementara yang lain berdiri menghadang truk pengangkut pasir.
Alfa turun dari mobil dan segera menghampiri penanggung jawab lokasi yang telah menunggunya.
"Sejak kapan mereka seperti ini?" tanyanya.
"Mereka datang dari pagi, Pak. Mereka juga melarang truk keluar dan menuntut agar kegiatan penambangan dihentikan," jawab pria itu.
Alfa mengamati warga yang terus menyuarakan protes. Dia tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa mereka sengaja membuat keributan. Bisa saja memang ada persoalan yang belum ditangani dengan baik.
Dengan langkah mantap, dia mendekati kerumunan.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Saya Alfa, pemilik usaha yang menjalankan kegiatan penambangan di sini. Saya datang untuk mendengarkan keluhan kalian. Kalau memang ada masalah, mari kita bicarakan baik-baik."
Seorang pria paruh baya langsung maju ke depan.
"Bicara baik-baik bagaimana, Pak? Kami sudah terlalu lama dirugikan! Setiap hari truk pengangkut pasir berlalu-lalang di jalan desa, membuat jalanan yang dulu bagus sekarang mulai rusak!"
,
"Benar! Kalau musim kemarau, debunya sampai masuk ke dalam rumah. Kami harus membersihkan lantai berkali-kali setiap hari!" sahut seorang perempuan dengan nada kesal.
Warga lain ikut menyampaikan keluhan.
"Truk-truk itu juga membuat jalanan berbahaya. Anak-anak kami berangkat sekolah lewat jalan yang sama. Kalau sampai terjadi kecelakaan, siapa yang mau bertanggung jawab?"
"Belum lagi suara kendaraan yang mengganggu! Kami tidak bisa terus-menerus hidup seperti ini hanya demi keuntungan perusahaan!"
Alfa mendengarkan setiap keluhan tanpa menyela. Ia bisa memahami keresahan mereka, terlebih jika aktivitas kendaraan berat memang telah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Namun, tuduhan berikutnya membuatnya mengernyit.
"Dan jangan pura-pura tidak tahu, Pak! Penambangan ini ilegal!" seru seorang pria bertubuh kekar dari tengah kerumunan.
Alfa menoleh kepadanya. "Apa dasar kalian mengatakan penambangan ini ilegal?"
"Sudah jelas! Kalau punya izin, kenapa kalian seenaknya mengeruk pasir dari tanah ini? Kalian hanya memikirkan keuntungan sendiri!"
"Saya tidak pernah menjalankan usaha tanpa memenuhi persyaratan yang berlaku," jawab Alfa tegas. "Perusahaan kami sudah mengantongi izin dari dinas terkait. Kalau kalian meragukannya, saya bisa menunjukkan dokumennya."
Pria itu mendengus. "Dokumen bisa dibuat kapan saja! Kami tidak mau dibodohi!"
Beberapa warga kembali berteriak menyetujui perkataannya. Suasana yang sempat mereda kembali memanas.
Alfa menahan diri. Dia menyadari bahwa penjelasan saja tidak akan cukup untuk meyakinkan orang-orang yang sudah terlanjur percaya pada tuduhan tersebut.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita minta pemerintah setempat datang ke sini. Saya ingin semua persoalan ini diperiksa secara terbuka. Jika ada pelanggaran yang kami lakukan, saya bersedia bertanggung jawab sesuai ketentuan. Namun, saya juga meminta kalian tidak langsung menjatuhkan tuduhan tanpa bukti."
Seorang warga mengangkat tangannya. "Kami tidak hanya menuntut penjelasan! Kami juga menuntut ganti rugi!"
"Ganti rugi untuk apa?" tanya Alfa.
"Jalan rusak harus diperbaiki! Rumah kami dipenuhi debu, anak-anak kami terancam keselamatannya. Kami ingin perusahaan mengganti kerugian yang sudah kami alami!"
"Saya bersedia membahas persoalan yang ada. Namun, kita harus memeriksa kondisi sebenarnya terlebih dahulu. Saya tidak bisa menyetujui tuntutan ganti rugi tanpa mengetahui kerugian yang dimaksud dan siapa yang bertanggung jawab atasnya."
"Jadi, Bapak menolak tuntutan kami!" bentak pria bertubuh kekar tadi.
"Saya tidak mengatakan begitu. Saya hanya ingin penyelesaiannya jelas dan adil bagi semua pihak."
Belum sempat pria itu membalas, seorang warga yang lebih tua meminta semua orang menenangkan diri.
"Sudah! Kita tunggu saja pemerintah desa datang. Biar semuanya terang!"
Tidak lama kemudian, kepala desa bersama beberapa perangkat setempat tiba di lokasi. Alfa menyambut mereka dan menjelaskan secara singkat persoalan yang sedang terjadi.
Kepala desa kemudian berdiri menghadap warga.
"Kami sudah menerima laporan tentang demonstrasi ini. Sekarang, beri kesempatan kepada kedua belah pihak untuk menjelaskan persoalannya. Jangan sampai ada kesimpulan yang diambil hanya berdasarkan kabar dari mulut ke mulut."
Alfa memberi isyarat kepada penanggung jawab lokasi untuk mengambil map berisi dokumen perizinan. Setelah map itu diserahkan, ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan memberikannya kepada kepala desa.
"Ini dokumen perijinan yang kami miliki, Pak. Silakan diperiksa. Jika diperlukan, kita juga bisa meminta pihak dinas terkait melakukan verifikasi."
Kepala desa memeriksa dokumen tersebut dengan seksama. Beliau membaca beberapa bagian penting, kemudian meminta perangkat desa membantunya mencocokkan informasi yang tercantum.
"Berdasarkan dokumen yang ditunjukkan, kegiatan usaha ini memiliki perijinan yang diterbitkan oleh instansi terkait. Untuk memastikan seluruh ijin masih berlaku dan sesuai dengan kegiatan yang dilakukan, tentu perlu verifikasi lebih lanjut. Namun, tuduhan bahwa penambangan ini sama sekali tidak terbukti."
Kerumunan warga mulai gaduh.
"Lalu bagaimana dengan kerusakan jalan?" tanya salah seorang dari mereka.
"Itu persoalan berbeda dan tetap harus ditangani. Kita perlu memeriksa kondisi jalan, dampak debu, serta keselamatan warga. Jika memang ada kerugian akibat kegiatan operasional, pihak perusahaan dan masyarakat harus membicarakannya berdasarkan fakta."
Alfa mengangguk. "Saya setuju, Pak. Saya tidak keberatan jika dilakukan pemeriksaan bersama. Saya juga akan mengevaluasi pengangkutan pasir agar tidak menganggu warga sekitar."
Akan tetapi, pria bertubuh kekar tadi kembali bersuara keras.
"Jangan percaya begitu saja! Mereka pasti sudah bekerja sama dengan orang-orang pemerintahan. Kita tetap harus menuntut ganti rugi!"
Kali ini, beberapa warga justru saling pandang. Salah seorang dari mereka mengangkat tangan, meminta kesempatan berbicara.
"Sebenarnya, ada yang ingin saya sampaikan..."
Duaarrr .... sport jantungku 🤭🫰