Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Ardi hanya menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan ibunya untuk saat ini.
"Apa maksudnya menggelengkan kepala Ardi, kamu bertemu Rania tidak sih!!".
Ningsih sangat kesal pada sang anak karena sejak tadi tidak menjawab pertanyaannya padahal dia ingin tahu apa yang terjadi.
"Aku sedang tidak mood untuk membicarakannya Bu, tolong jangan banyak bertanya dulu, kepalaku pusing".
Ardi berusaha menghindar agar ibunya ini tidak bertanya macam-macam, dia ingin istirahat agar bisa menyusun strategi agar bisa meluluhkan hati Rania agar tidak melanjutkan sidang perceraiannya.
"Eh jangan pergi dulu Ardi, jawab dulu pertanyaan ibu barusan, ibu sangat penasaran dan ibu tidak sabar untuk kembali kerumah besar itu".
Dia tidak peduli dengan protesan sang anak, dia harus tahu bagaimana kelanjutan nasibnya, dia tidak mau terus menerus tinggal dirumah sempit seperti ini.
Ardi menghela nafas, matanya menatap tajam sang ibu yang tidak pernah mau tahu kondisinya, dia sudah diambang emosi yang sejak tadi dia tahan.
Tanpa mengatakan apapun, dia memukul meja dengan sangat keras sehingga membuat sang ibu langsung memundurkan tubuhnya kebelakang karena terkejut.
Sang ibu menatap sang anaknya dengan tidak percaya, lelaki penurut dan selalu mengiyakan apapun perkataannya kini sedang marah dan memukul benda karena kesal padanya.
"Ibu itu bisa diam tidak sih, sudah kubilang untuk tidak banyak bertanya tapi ibu ini seperti orang budek yang sangat ngeyel".
"Harusnya ibu sudah tahu tanpa aku jelaskan, ibu tidak lihat wajahku kusut seperti ini, andai Rania mau kembali padaku, aku tidak akan pusing dan tidak akan punya beban seperti ini". Bentaknya dengan suara menggelegar
Emosinya langsung pecah karena Tidka bisa menahannya lagi, ibunya sudah sangat keterlaluan padanya.
Nafas Ardi menderu kasar, matanya menyala karena emosi yang meluap, pekerjaannya yang terasa berat, rumah tangganya diambang kehancuran dan ATM berjalannya sudah Tidka bisa dia manfaatkan lagi dan sekarang ibunya terlalu banyak bertanya padahal dia sudah mengatakannya.
"Nak kamu". Cicitnya ketakutan.
Dia menatap anaknya itu dengan khawatir sekaligus ketakutan karena anaknya ini tidak pernah berteriak. Seperti itu padanya.
"Jangan buat kesabaranku habis Bu, jangan buat aku menjadi anak durhaka karena berani kurang ajar pada orangtua, tolong mengertilah".
Ardi meninggalkan sang ibu seorang diri, dia melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya seorang diri dengan langkah gontai sedangkan sang ibu hanya menatapnya nanar.
Entah mengapa anak sulungnya itu bisa sering marah setelah kejadian dimana mereka diusir dari rumah Rania.
"Ya sudah, sebaiknya aku tidak bertanya dulu padanya, sepertinya dia betul-betul pusing sampai membentak dan memarahi aku seperti itu".
Ardi memasuki kamarnya kemudian membanting pintu sehingga terdengar nyaring, dia sangat emosi karena banyaknya masalah yang terjadi akhir-akhir ini.
"Sialan, pulang kerumah bukannya tenang malah tambah pusing, aku usir kalian semua baru tahu rasa, dasar manusia berisik". umpatnya dengan kesal.
Dia lupa jika yang dia hina itu adalah ibunya sendiri karena sangat jengkel sekali
Hari persidangan yang dinanti oleh Rania pun akhirnya tiba, dia berjalan anggun kedalam gedung pengadilan sedangkan Ardi datang bersama keluarganya.
Mereka melangkah dengan cepat begitu melihat keberadaan Rania, mereka akan mencoba membujuk Rania agar membatalkan perceraian ini, Ardi sengaja membawa ibu dan adiknya untuk meminta maaf, mungkin dengan begitu Rania bisa luluh
"Rania". Teriak Ibunda Ardi itu dengan pelan.
Rania menghentikan langkahnya begitu mendengar panggilan itu, dia hanya bisa menghela nafas karena malas menghadapi keluarga ini.
Dia berbalik kemudian melipat kedua tangannya dan memasang wajah dingin dan datar kearah mereka.
Melihat ekspresi Rania yang seperti itu membuat mereka semua geram tapi berusaha menyembunyikannya terutama ibu Ardi itu.
"Ada apa?". Jawabnya langsung tanpa basa-basi.
Mereka mendekat dan kini menatap Rania dengan tatapan memelas.
"Rania yang sopan sama orangtuaku". Ucap Ardi pelan walau wajahnya dia pasang memelas.
Rania tidak memperdulikannya kemudian menatap orang yang memanggil nya sehingga dia salah tingkah.
"Ardi jangan begitu, kita memang bersalah padanya jadi wajar dia bersikap seperti itu pada kita". Tegur sang ibu pelan
Mereka memainkan perannya yang sudah mereka sepakati tadi dirumah, mereka akan melakukan apapun untuk bisa membuat Rania kembali pada keluarga mereka untuk bisa mendapatkan kembali fasilitas mewah itu.
Rania yang melihat itu hanya mengangkat alisnya pelan, wajahnya tetap datar melihat aksi mereka dan tidak tersentuh sama sekali.
Dia sudah tahu jika mereka akan mencari cara untuk menggagalkan rencananya untuk bercerai dan tidak akan dia biarkan hal itu
"Ada apa?, saya mau masuk kedalam jadi jika ada keperluan silahkan katakan sekarang juga karena saya tidak punya waktu".
Mereka semua mengepalkan tangannya tapi berusaha menjaga ekspresi mereka. Amarah mereka harus mereka tahan karena sikap Rania seperti itu pada mereka
"Jangan bicara begitu nak, kami meminta maaf atas sikap kami waktu itu dan juga selama ini kami tinggal dirumah kamu, Ardi sudah membohongi kami jadi kami memakai cara seperti itu, kami tidak tahu harus tinggal dimana jadi kami nekat melakukan itu, tolong maafkan kami yah, jangan teruskan perceraian ini". Bujuknya dengan lembut.
Dia memasang wajah memelas agar Rania luluh kepadanya, mereka tidak tahu saja jika Rania sudah muak kepada mereka.
"Kalian ini lucu, setelah saya pergi baru kalian berikan sikap seperti itu, jangan membuatku tertawa karena aku sudah tidak peduli dengan apa yang kalian katakan padaku, dan jangan harap bisa kembali mengatur dan masuk kedalam hidupku terutama anak kalian yang satu ini".
"Rania tolong nak, Ardi sangat mencintai kamu, kami datang kesini memang untuk meminta maaf padamu, jangan yah nak, tolong maafkan kami". Ucapnya terus berusaha membujuk
Rania tidak mengatakan apapun untuk menjawab perkataan ibu Ardi itu kemudian berbalik untuk berjalan kedalam masuk kedalam gedung pengadilan meninggalkan keluarga Ardi yang geram, marah dan juga emosi melihat sikapnya.
"Sial, kurang ajar sekali sikap anak itu padahal ibu sudah merendahkan diri untuk meminta maaf kepadanya". Kesal Ningsih yang melihat kepergian Rania itu.
"Iya Bu, sombong sekali sikap kak Rania itu, mentang-mentang dia memiliki segalanya seenaknya bersikap seperti itu pada kita".
Ardi yang melihat sikap Rania itu hanya bisa menghela nafas kasar, dia sungguh frustasi karena tidak tahu cara meluluhkan hati perempuan itu.
"Sudahlah, kita masuk kedalam saja, jangan membuat keributan didalam, aku tidak mau Rania semakin marah pada kita dan dia benar-benar ingin bercerai".
Keduanya mendengus kesal, tapi tetap mengikuti langkah Ardi masuk kedalam ruangan dengan langkah yang dipaksa.
"Lihat saja kami tidak akan tinggal diam".