NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 – Kembali ke Guild Petualang

Embun pagi masih menempel di ujung dedaunan saat langkah kaki mereka membelah jalan setapak menuju Kota Lumin. Angin sejuk berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga liar yang mekar di pinggir hutan. Haruto berjalan di depan dengan punggung tegak, kedua tangannya menggenggam erat ujung jubah sederhana yang ia pakai. Dulu, setiap kali melangkah ke arah kota ini, hatinya penuh keraguan dan ketakutan. Namun hari ini, ada perasaan mantap yang mengalir di setiap detak jantungnya—seperti aliran air yang tak lagi tersumbat, kini mengalir tenang dan pasti sesuai jalurnya.

"Akhirnya... aku akan mendaftar lagi," gumamnya pelan, matanya tak lepas dari bayangan tembok tinggi Kota Lumin yang mulai terlihat di kejauhan.

Pochi yang melompat-lompat riang di bahunya langsung mengeluarkan suaranya yang khas. "Pyoo! Pyoo!" seolah ikut menyemangati temannya itu, tubuh kenyalnya memantul pelan seirama langkah kaki Haruto.

Mizuna yang berjalan tepat di belakang mereka tersenyum tipis di balik kerah jubah birunya. "Jangan gugup," ucapnya lembut namun tegas. "Tunjukkan saja hasil latihanmu. Tidak perlu memaksakan diri, tidak perlu berlebihan. Cukup jadilah dirimu sendiri, dan biarkan kemampuanmu yang berbicara."

Haruto menoleh sebentar, lalu mengangguk mantap. "Siap! Aku tidak akan menyia-nyiakan semua yang sudah kau ajarkan."

Di samping Mizuna, Daichi tertawa kecil sambil membetulkan posisi gagang pedang di pinggangnya. "Hahaha, itu baru semangat yang benar! Ingat, orang hebat bukanlah mereka yang bisa melakukan hal mustahil dalam sekejap, melainkan mereka yang mau berusaha dan tidak takut memulai dari bawah."

Perjalanan mereka berjalan dalam keheningan yang hangat. Haruto merenung sejenak mengingat hari-hari yang ia lalui: betapa kacau aliran mananya saat pertama kali dicoba di hadapan Elena, betapa ia merasa malu dan kecewa saat ditolak, hingga bertemu Mizuna yang mengajarinya bahwa sihir bukanlah soal kekuatan yang meledak-ledak, melainkan soal keseimbangan, kesabaran, dan kesatuan dengan mana yang ada di sekelilingnya. Setiap tetes keringat yang jatuh saat berlatih di tepi danau, setiap malam yang ia habiskan untuk bermeditasi, setiap kali ia gagal lalu mencoba lagi—semuanya terasa begitu berharga saat ini.

Tak lama kemudian, gerbang kota yang megah sudah berdiri tepat di hadapan mereka. Para penjaga mengangguk hormat saat melihat Mizuna dan Daichi melintas, dan bisikan-bisikan pelan mulai terdengar dari para penduduk yang sedang beraktivitas di jalanan. Namun kali ini, Haruto tidak lagi menunduk menghindari tatapan. Ia melangkah tegap, membiarkan angin pagi menyapa wajahnya, melangkah masuk kembali ke tempat yang dulu pernah mematahkan semangatnya—kini dengan hati yang jauh lebih kuat.

Sesampainya di depan gedung Guild Petualang yang berbangun dari batu kokoh dengan lambang pedang dan tongkat sihir yang menyilang di atas pintu utama, napas Haruto sedikit tercekat. Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Pochi menggeser posisinya, menyentuh pipi Haruto seolah memberi isyarat "semangat". Haruto tersenyum, lalu melangkah maju membuka pintu guild.

Suasana di dalam ruangan yang luas itu langsung berubah seketika. Percakapan yang riuh rendah tiba-tiba mereda. Puluhan pasang mata yang sedari tadi sibuk melihat papan pengumuman atau berdiskusi dengan rekan satu timnya, kini serentak menoleh ke arah pintu.

"Itu... Daichi?" suara seseorang terdengar bergetar tak percaya. "Bukankah dia sudah pensiun dari dunia petualang lima tahun lalu?"

"Tunggu... wanita yang berjalan di sampingnya itu..." seorang petualang berjubah ungu mengerjap berkali-kali, seolah tak percaya pada apa yang ia lihat. "Itu Mizuna... Sang Penyihir Air dari Tim Azure!"

Seorang petualang senior yang mengenakan zirah berwarna perak dengan lambang peringkat A di dadanya langsung berdiri tegak dari bangku panjangnya. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak terkejut. "Benar itu Mizuna! Bagaimana mungkin anggota tim legendaris Azure datang ke guild kecil ini?"

Keheningan itu seketika pecah menjadi keributan rendah.

"Tim Azure? Tim yang pernah menyelamatkan wilayah utara dari serangan kawanan naga es itu?"

"Kenapa mereka datang bersama anak muda itu?"

"Siapa pemuda yang berjalan di depan mereka?"

Mizuna tetap berjalan tenang, sorot matanya teduh seolah tak mendengar semua pembicaraan itu. Ia tidak melambaikan tangan, tidak juga menyapa berlebihan—hanya anggukan kecil sopan kepada mereka yang mengenalnya. Daichi di sampingnya hanya tersenyum tipis, pandangannya hangat menatap sekeliling, seolah kembali bertemu dengan rumah lamanya.

Haruto yang merasakan semua tatapan itu mulai merasakan gugupnya kembali muncul. Ia mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah Mizuna, berbisik pelan: "Sepertinya... kalian berdua jauh lebih terkenal dari yang aku kira."

Daichi terkekeh pelan agar tidak mengganggu orang lain. "Itu cerita lama, Nak. Nama besar tidak ada artinya jika tidak dibuktikan dengan tindakan nyata. Lihatlah, hari ini kau yang menjadi pusat perhatian kita."

Mereka terus berjalan menuju meja pendaftaran yang terletak di sisi paling dalam ruangan. Di sana, Elena sedang merapikan tumpukan dokumen saat ia mengangkat wajah. Matanya terbelalak sesaat sebelum senyum ramah namun terkejut menghiasi wajahnya.

"Haruto... kau kembali," ucapnya lembut, matanya beralih ke Mizuna dan Daichi di belakangnya, lalu kembali menatap Haruto dengan tatapan yang penuh pertanyaan namun juga harapan.

Haruto mengangguk mantap, menatap lurus ke mata Elena. "Ya. Aku sudah menyelesaikan latihanku. Aku ingin mengikuti pemeriksaan ulang."

Belum sempat Elena menjawab, pintu di belakang meja pendaftaran terbuka lebar. Seorang pria tua berbadan tegap dengan rambut dan janggut yang memutih rapi melangkah keluar. Itu adalah Master Gensai, pemimpin sekaligus penguji tertinggi di Guild Petualang Lumin. Ia menatap tajam ke arah Haruto, matanya yang tajam seolah mampu melihat apa yang tersembunyi di dalam diri pemuda itu.

"Jadi kau benar-benar kembali," suaranya berat namun tenang, menggema di seluruh ruangan yang kembali hening. "Kau sudah menyelesaikan semua latihan yang diperlukan?"

"Ya, Master Gensai," jawab Haruto tanpa ragu sedikitpun.

Master Gensai mengangguk pelan, lalu menunjuk ke arah Kristal Penilai yang berdiri tegak di atas meja pendaftaran—batu kristal bening setinggi orang dewasa yang memancarkan cahaya samar. "Kalau begitu, buktikan. Letakkan telapak tanganmu di atasnya. Biarkan kristal ini menilai seberapa jauh kemajuanmu."

Dengan napas yang teratur, Haruto melangkah maju. Ia meletakkan telapak tangannya perlahan di atas permukaan kristal yang dingin. Seketika itu juga, cahaya biru muda mulai memancar dari dalam batu itu, perlahan-lahan menyelimuti seluruh permukaannya hingga memenuhi ruangan dengan pantulan cahaya yang lembut namun hidup.

Berbeda dengan saat pertama kali ia mencoba dulu, di mana cahaya itu berkedip liar, berubah warna tak menentu, dan memancarkan getaran yang membuat siapa saja merasa tidak nyaman—kini aliran mananya mengalir tenang, stabil, dan utuh. Cahaya biru itu mengalir merata seperti air sungai yang jernih, menunjukkan bahwa Haruto kini telah mampu mengendalikan sumber kekuatannya dengan benar.

Mizuna yang memperhatikan dari samping mengangguk perlahan, sorot matanya menyiratkan rasa bangga yang tak terucapkan. "Bagus sekali," bisiknya pelan. "Kau benar-benar telah memahami inti dari segalanya."

Master Gensai memperhatikan perubahan itu dengan saksama, matanya tak berkedip sedikitpun. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk pelan. "Pengendalian mananya sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tidak ada lagi kekacauan, tidak ada lagi kebocoran. Namun kemampuan mengendalikan mana saja belum cukup untuk menjadi petualang. Perlihatkanlah sihir dasar yang telah kau pelajari."

Haruto menarik napas panjang, mengumpulkan ketenangan dalam dirinya. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, memejamkan mata sejenak merasakan aliran mana di sekelilingnya. Ketika ia membuka matanya kembali, ujung jari-jarinya bergerak lembut seolah sedang mengajak sesuatu untuk datang.

Dari sebuah kendi tanah liat yang berisi air di sudut ruangan, setetes air perlahan terangkat ke udara. Tetes itu diikuti tetes-tetes lainnya, bergerak menari-nari mengikuti pergerakan jari Haruto. Puluhan, bahkan ratusan tetes air berkumpul menjadi satu, berputar perlahan hingga membentuk bola air yang bulat sempurna dan padat—sihir dasar Water Ball yang dulu begitu sulit ia wujudkan, kini terbentuk dengan begitu mudah dan indah.

Namun Haruto belum berhenti. Dengan satu gerakan tangan yang halus namun tegas, bola air itu perlahan berubah bentuk. Ujungnya meruncing, bagian tengahnya melebar memegang bentuk gagang, hingga akhirnya berubah menjadi sebilah pedang air yang berkilau bening. Pedang itu tampak kokoh, memancarkan aura dingin namun terkendali, seolah bisa menebas apa saja namun tetap taat sepenuhnya pada perintah pemiliknya.

Seluruh isi ruangan terdiam serentak. Tak ada satu orang pun yang berani bersuara.

"Impossible..." gumam seorang petualang muda dengan mulut ternganga. "Dalam waktu sesingkat itu... dia bahkan belum sebulan meninggalkan guild, bukan?"

"Cara dia mengendalikan air itu..." petualang senior peringkat A yang tadi berdiri mengerutkan kening tak percaya. "Itu bukan sekadar kemampuan dasar. Pengendalian mananya sangat halus, terukur, dan terpadu. Seperti penyihir yang sudah berlatih puluhan tahun."

"Siapa sebenarnya anak muda itu?" bisik orang lain. "Bahkan penyihir air berbakat sekalipun butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk bisa mengubah bentuk sihir dasar menjadi senjata!"

Mizuna melangkah maju sedikit, berdiri di samping Haruto yang masih memegang pedang air itu dengan tenang. "Itulah hasil dari latihan keras, kesabaran, dan kerendahan hati untuk belajar dari awal," ucapnya lantang sehingga semua orang bisa mendengar. "Ia tidak memulai dari kehebatan, melainkan dari memahami dirinya sendiri."

Master Gensai mengangguk pelan, lalu melambaikan tangan. Pedang air itu perlahan pecah menjadi butiran-butiran air yang melayang sejenak sebelum kembali jatuh ke dalam kendi asalnya. Ia menatap Haruto lekat-lekat, lalu tersenyum tipis—senyum yang jarang sekali ia perlihatkan kepada orang lain.

"Haruto Kazehara," suaranya terdengar jelas dan tegas di tengah keheningan yang masih menyelimuti ruangan. "Berdasarkan penilaian terhadap aliran mana serta kemampuan yang kau perlihatkan hari ini, kau dinyatakan lulus ujian penerimaan."

Sebuah riak tepuk tangan pelan mulai terdengar, perlahan berubah menjadi tepukan yang lebih hangat dan penuh rasa hormat.

"Selamat datang secara resmi di Guild Petualang Lumin," lanjut Gensai.

Elena tersenyum lebar, wajahnya tampak sungguh-sungguh merasa bahagia. Ia mengambil sebuah kartu persegi dari laci meja—kartu berwarna perunggu polos yang berukir lambang guild—lalu menyodorkannya kepada Haruto dengan kedua tangan.

"Mulai hari ini, peringkat resmi kau adalah Petualang Kelas F," ucapnya lembut namun tegas. "Peringkat terendah, namun ini adalah awal dari segala perjalanan besar."

Haruto menerima kartu itu dengan kedua tangannya yang sedikit bergetar. Ia memegangnya erat, merasakan permukaan logam yang dingin itu. Meski hanya peringkat paling bawah, meski ia masih harus berusaha jauh lebih keras dari siapa pun, air mata haru hampir menetes dari sudut matanya. Senyumnya mengembang begitu lebar hingga menampakkan deretan giginya, bahunya terasa begitu ringan seolah beban berat yang ia pikul selama ini telah terangkat.

"Akhirnya..." suaranya sedikit bergetar namun penuh rasa syukur. "Aku resmi menjadi petualang... terima kasih banyak."

Pochi yang sedari tadi diam di bahunya tiba-tiba melompat tinggi ke udara, memantul-pantul riang di atas kepala Haruto sambil berteriak kegirangan. "Pyoo! Pyoo! Pyoo!"

Daichi tertawa lebar, lalu menepuk bahu Haruto dengan cukup keras namun penuh rasa sayang. "Selamat, Nak! Ini baru permulaan, tapi kau sudah melangkah dengan benar."

Mizuna tersenyum lembut, menatap pemuda itu dengan pandangan yang penuh harapan. "Perjalananmu yang sesungguhnya baru saja dimulai. Jangan lupakan semua yang telah kau pelajari hari ini, meski nanti kau telah jauh lebih kuat dari sekarang."

Sementara itu, para petualang di dalam ruangan masih terus memperhatikan Haruto. Mereka saling bertukar pandang, berbisik-bisik tentang pemuda yang tiba-tiba muncul bersama dua legenda masa lalu itu. Mereka tahu, meski saat ini namanya belum dikenal luas dan peringkatnya masih berada di urutan paling bawah, bakat yang dimiliki penyihir air muda itu jauh melampaui petualang biasa seusianya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!