NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cadar dan Keindahan yang Terjaga

Suasana pagi yang sejuk di dalam rumah itu terasa begitu meneduhkan setelah kebiasaan manja Fatimah yang kian menjadi bumbu manis dalam pernikahan mereka.

Rayhan baru saja merapikan berkas-berkas di atas meja kerjanya, sementara Fatimah telah bersiap dengan sup ayam hangat yang aromanya mulai tercium gurih dari arah dapur.

Namun, sebelum mereka sempat duduk bersama di meja makan, Rayhan menerima panggilan darurat dari sekretarisnya di kantor.

Ada dokumen kemitraan penting yang harus segera ia tanda tangani secara langsung pagi ini juga, tidak bisa ditunda hingga siang hari.

"Ima, maafkan Mas, yah. Rupanya Mas harus ke kantor lebih cepat dari perkiraan," ucap Rayhan penuh penyesalan saat menghampiri istrinya di dapur.

Pria tiga puluh delapan tahun itu menatap sup ayam yang masih mengepulkan asap tipis di atas meja dengan pandangan enggan untuk pergi.

Fatimah tersenyum maklum. Kedewasaannya sebagai seorang istri kembali muncul.

"Tidak apa-apa, Mas Ray. Tugas kantor memang harus diutamakan. Supnya bisa Ima hangatkan nanti siang saat Mas pulang untuk istirahat."

Rayhan menatap wajah polos istrinya dengan tatapan yang sarat akan rasa cinta.

"Kalau begitu, ikut Mas ke kantor saja, bagaimana? Setelah urusan tanda tangan selesai, kita bisa makan siang di luar, atau langsung pulang bersama."

Fatimah sempat menimang sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju.

"hmm, iya deh aku ikut."

"Rasanya bosen juga kalau tidak ada mas."

"Tunggu yah mas Ima bersiap sebentar."

Fatimah lansung segera masuk ke dalam kamar utama. Di depan cermin besar, ia mengenakan gamis longgar berwarna anggun yang dipadukan dengan khimar lebar.

Langkah terakhir yang ia lakukan adalah meraih selembar kain hitam halus dari atas meja rias.

Dengan jemari yang terampil, ia mengikatkan kain tersebut di belakang kepalanya, menutupi seluruh wajahnya dan hanya menyisakan sepasang mata jernih yang indah. Cadar itu telah kembali terpasang.

Saat Fatimah melangkah keluar kamar, Rayhan yang sudah menunggu di ruang tengah seketika terpaku.

Sorot matanya memancarkan rasa takzim dan kekaguman yang begitu mendalam. Di dalam rumah, Fatimah adalah milik pribadinya yang utuh—gadis manja yang rapuh, yang kecantikannya bebas ia pandangi tanpa batas.

Namun begitu melangkah keluar rumah, istrinya menjelma menjadi sosok yang begitu terjaga, asing bagi dunia, dan terbenteng kokoh oleh syariat.

"Mas Ray, kenapa melamun? Ada yang salah dengan pakaian Ima?" tanya Fatimah dari balik cadarnya, matanya menyipit jenaka menandakan ia sedang tersenyum di balik kain penutup wajah tersebut.

Rayhan menggeleng pelan, lalu melangkah mendekat.

Ia meraih jemari Fatimah yang telah terbalut sarung tangan kain, menggenggamnya dengan kelembutan seorang pelindung.

"Tidak ada yang salah, Ima. Mas hanya selalu takjub setiap kali melihatmu kembali mengenakan cadar ini," tutur Rayhan jujur, suaranya terdengar berat dan penuh wibawa.

"Bagi dunia luar, kain ini mungkin menutup keindahanmu. Namun bagi Mas, cadar ini adalah bukti betapa berharganya dirimu.

Keindahanmu begitu terjaga, hanya untuk Mas seorang yang berhak atas rida Allah."

Fatimah menunduk dalam, merasakan desiran hangat yang luar biasa memenuhi dadanya.

Pujian Rayhan bukan sekadar sanjungan duniawi, melainkan sebuah bentuk penghargaan tertinggi atas prinsip hijrah yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah di tengah modernisasi zaman.

Bersama Rayhan, Fatimah tidak pernah merasa dikekang; ia justru merasa layaknya sebuah permata yang disimpan di tempat paling aman dan terhormat.

"Terima kasih , Mas Ray... karena selalu memuliakan prinsip Ima," bisik Fatimah tulus.

"Sudah menjadi tugas Mas sebagai imammu, Sayang," jawab Rayhan sembari mengecup punggung tangan istrinya yang lembut.

"Mari kita berangkat. Mas tidak sabar menyelesaikan urusan kantor agar bisa segera membawa ratu Mas kembali ke istana kecil kita."

Dengan hati yang dipenuhi kedamaian, keduanya melangkah keluar rumah menuju mobil.

Di bawah perlindungan Rayhan, Fatimah melangkah dengan penuh percaya diri.

Cadar di wajahnya bukan lagi sekadar selembar kain, melainkan simbol kehormatan atas keindahan yang terjaga, yang kini telah menemukan pelabuhan terbaiknya pada sosok pria bernama Rayhan Khalif.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!