NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Malam itu, Karin membuka akun media sosial Nadia. Ia menelusuri satu per satu unggahannya. "Hanya satu postingan sejak bercerai..." Ia tersenyum puas. "Bagus. Berarti kamu memang nggak aktif."

Foto yang diunggah Nadia hanyalah hasil pemotretan sebuah pekerjaan. Tidak ada konten harian, tidak ada siaran langsung, tidak ada unggahan yang mengejar perhatian. Bagi Karin, itu adalah kesempatan emas. "Kalau aku terus muncul setiap hari, orang-orang pasti lebih sering melihat wajahku daripada wajahmu."

Ia kembali menyusun jadwal unggahan. Giveaway, video keseharian, hingga berbagai konten yang menurutnya mudah menarik perhatian. "Semakin sering aku muncul di beranda mereka, semakin cepat mereka melupakan Nadia."

Karin benar-benar percaya bahwa perhatian publik memiliki batas. Jika ia mampu memenuhi linimasa dengan namanya sendiri, maka lambat laun nama Nadia akan tenggelam. "Netizen itu gampang bosan," gumamnya sambil tersenyum. "Mereka selalu mencari sosok baru."

Tanpa ragu, ia kembali menyiapkan giveaway berikutnya. Di dalam benaknya hanya ada satu tujuan. Bukan sekadar menjadi terkenal. Melainkan membuat orang berhenti membicarakan Nadia dan mulai mengingat dirinya sebagai sosok yang paling sering hadir di media sosial.

Ia tidak menyadari bahwa Nadia sendiri tidak pernah berusaha mempertahankan popularitasnya. Perempuan itu lebih memilih fokus pada pekerjaan dan membesarkan Kian. Justru karena tidak sibuk mengejar perhatian, setiap kemunculannya terasa lebih berarti bagi orang-orang yang mengikutinya.

***

Beberapa hari kemudian, Reno akhirnya mengetahui kebiasaan Karin yang terus-menerus mengadakan giveaway.

Ia melihat mutasi rekening yang semakin sering dipakai untuk transfer hadiah. Wajah Reno langsung berubah. "Karin!"

Karin yang sedang memegang ponsel menoleh santai. "Kenapa?"

"Kamu bagi-bagi uang lagi?"

"Iya."

"Sudah berapa kali?" Karin tidak langsung menjawab. Reno mengembuskan napas panjang, berusaha menahan emosi. "Kamu sadar nggak sih? Ekonomi kita lagi pas-pasan. Masih banyak kebutuhan yang harus dipikirkan. Kenapa malah menghambur-hamburkan uang begini?"

Karin meletakkan ponselnya. "Kamu sabar dulu."

"Sabar bagaimana? Uang tabungan terus berkurang."

"Aku begini juga buat masa depan kita."

Reno mengernyit. "Maksudnya?"

Karin tersenyum penuh keyakinan. "Kalau namaku makin dikenal, nanti akan banyak yang mengundang aku kerja sama. Aku bisa menggantikan posisi Nadia." Reno terdiam mendengar nama mantan istrinya disebut. "Kalau aku sudah terkenal, ekonomi kita juga bakal membaik. Jadi anggap saja giveaway ini investasi."

Reno menggeleng pelan. "Kamu terlalu yakin."

"Bukan terlalu yakin. Aku sedang membangun nama."

"Karin, membangun nama itu belum tentu harus menghabiskan uang seperti ini."

"Kamu lihat saja nanti."

Reno menatap istrinya beberapa saat.

Ia tidak tahu dari mana datangnya keyakinan sebesar itu. Yang ia lihat justru pengeluaran rumah tangga semakin besar, sementara pemasukan mereka tidak bertambah.

Namun Karin sudah telanjur percaya bahwa semua uang yang ia keluarkan hari ini akan kembali berkali-kali lipat jika suatu saat ia berhasil menjadi sosok yang lebih populer daripada Nadia.

***

Hari yang dinanti akhirnya tiba. SD tempat Kian bersekolah mengadakan pentas seni yang dirangkaikan dengan acara kenaikan kelas. Hari ini Kian akan naik ke kelas dua.

Sejak pagi, halaman sekolah sudah dipenuhi para orang tua yang datang dengan wajah penuh kebanggaan untuk menyaksikan penampilan putra-putri mereka. Balon warna-warni menghiasi gerbang sekolah, sementara suara tawa anak-anak yang mengenakan kostum pentas membuat suasana terasa semakin meriah. Kian tampak begitu bersemangat. Sejak bangun pagi ia berkali-kali memastikan pakaian pentasnya sudah rapi dan semua perlengkapannya tidak ada yang tertinggal.

Sesuai rencana, Nadia datang ke sekolah bersama Fahri. Tentu saja atas permintaan kedua anak mereka yaitu Kian dan Ray. Fahri membantu membawakan beberapa barang bawaan tanpa banyak bicara, lalu berjalan berdampingan dengan Nadia menuju aula sekolah.

Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Reno turun bersama Karin. Awalnya mereka berjalan santai memasuki area sekolah, tetapi langkah Reno mendadak terhenti ketika melihat Nadia datang bersama seorang pria yang belum dikenalnya. Pria itu tampak tenang, sesekali membantu Nadia tanpa bersikap berlebihan.

Reno memicingkan mata, berusaha mengingat wajah tersebut. "Tunggu..." Ingatan Reno perlahan kembali pada sebuah peristiwa beberapa waktu lalu. Wajah pria itu terasa tidak asing. Ia teringat seseorang yang pernah muncul dan menggagalkan rencananya ketika ia hendak berbuat buruk kepada Nadia. "Itu... dia?" Meski Reno tidak mengetahui nama pria tersebut, ia yakin orang itulah yang pernah menghalangi aksinya.

Sementara itu, Karin mengikuti arah pandangan Reno. "Siapa dia?" tanyanya pelan. "Kenapa dia bersama mantanmu? Apa jangan-jangan?" Karin menyelidik.

Reno menggeleng. "Aku nggak tahu namanya." "Tapi?" Rahang Reno mengeras. "Dia pernah ikut campur urusanku." Tatapan Reno tidak lagi tertuju pada aula tempat acara akan dimulai, melainkan terus mengikuti langkah Nadia dan pria itu. Entah mengapa, melihat Nadia datang bersama seseorang yang pernah berdiri di pihaknya membuat hati Reno dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa kesal, cemburu, sekaligus kekhawatiran yang perlahan tumbuh, sementara Karin mulai menyadari bahwa perhatian suaminya terhadap Nadia ternyata belum benar-benar hilang, meski hubungan mereka telah lama berakhir.

Di tengah ramainya suasana acara, Reno berjalan bersama Karin menghampiri Nadia yang sedang berdiri bersama Fahri di dekat aula. Melihat kedatangan mereka, Nadia tampak terkejut. Selama ini, sejak perceraian mereka, Reno hampir tidak pernah menunjukkan perhatian terhadap kegiatan sekolah Kian. Karena itulah, kehadirannya di acara kenaikan kelas membuat Nadia benar-benar tidak menyangka.

" Reno?" ucap Nadia pelan. "Aku nggak nyangka kamu datang."

Reno memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil menatap Nadia. "Memangnya kenapa kalau aku datang? Kian itu putraku," lanjut Reno. "Wajar dong kalau aku peduli sama dia. Masa aku nggak boleh datang ke acara kenaikan kelas anak sendiri?"

Nadia mengangguk singkat. "Aku nggak bilang begitu. Aku cuma... kaget."

Reno lalu mengalihkan pandangannya kepada pria yang berdiri di samping Nadia. Tatapannya penuh selidik. "Terus... ini siapa?"

Sebelum suasana menjadi canggung, Nadia segera memperkenalkan mereka. "Ini Pak Fahri."

Fahri menganggukkan kepala dengan sopan. "Selamat pagi. Saya Fahri William. Oh ya, kita sudah pernah bertemu sebelumnya kan Pak Reno, meski dalam kondisi buruk." Fahri mengingatkan perbuatan buruk Reno hingga ia gelagapan.

Nadia melanjutkan, "Putranya Pak Fahri juga sekolah di sini. Satu kelas dengan Kian, mereka berteman baik."

Reno mengangkat alis. "Oh..." Ia tersenyum tipis, meski senyum itu lebih terdengar seperti sindiran. "Aku pikir..." Reno menggantungkan kalimatnya sejenak, lalu melirik bergantian ke arah Nadia dan Fahri. "aku pikir dia datang sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar teman orang tua murid."

Suasana mendadak hening. Nadia memahami maksud ucapan Reno, tetapi ia memilih tetap tenang. "Kamu, jangan berprasangka. Kami memang bertemu karena anak-anak kami berteman."

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!