"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINDING KACA DAN RAHASIA YANG BOCOR
Mobil hitam itu akhirnya menembus gerbang kediaman Al-Idrus tepat saat jarum jam menunjuk angka delapan malam.
Pagar besi ditutup pelan oleh satpam. Kreet.
Hujan di luar masih menyisakan rintik yang turun satu-satu. Tik. Tik. Memukul kaca jendela dengan ritme yang monoton. Lampu teras memantulkan kilau air di aspal.
Zaid mematikan mesin. Namun jemarinya masih diam di atas setir. Kaku. Matanya lurus menatap ke depan, ke arah taman yang gelap. Memikirkan setiap jengkal kata-kata Raka di telepon tadi.
"Jaket flanel lo bakal lebih bagus kalau warnanya merah darah."
"Mas Zaid," panggil Khadijah lembut. Ia sudah merapikan tasnya, siap untuk turun. "Kita sudah sampai."
Zaid tersentak kecil. Ia menoleh. Sisa-sisa ketegangan di wajahnya dipaksa luruh. Digantikan seulas senyum tipis yang dipaksakan. "Ah, iya. Ayo masuk. Tubuhmu bisa makin dingin kalau kelamaan di sini."
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang hangat. Wangi masakan Umi menyambut.
Umi Syarifah rupanya sudah menunggu di ruang tengah dengan segelas susu cokelat hangat untuk Khadijah. Selimut juga sudah disiapkan di sofa.
Setelah bertukar sapa singkat dan memastikan Khadijah masuk ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian, Zaid berbalik arah. Langkah kakinya tidak menuju kamar.
Melainkan ke arah pintu belakang yang terhubung langsung dengan garasi samping.
Ia butuh udara. Lebih tepatnya, ia butuh ruang untuk berpikir. Ruang untuk menjadi Zaid yang dulu, tanpa harus membuat Khadijah cemas.
Zaid berdiri di kegelapan garasi. Hanya lampu kecil yang menyala. Ia bersandar pada bodi motor sport-nya yang terparkir rapi. Mengkilap.
Ia meraba sakunya. Mengeluarkan ponsel. Jarinya gemetar sedikit. Lalu mendial sebuah nomor.
"Haikal," ucap Zaid langsung begitu panggilan tersambung. Suaranya rendah. Nyaris berbisik namun penuh penekanan. "Raka tahu posisi gue sore ini. Dia tahu gue sama Khadijah ada di kedai es krim perempatan luar kampus."
Di seberang telepon, terdengar suara gesekan kunci pas yang mendadak berhenti. _Clink._ Haikal menarik napas dalam.
"Nggak mungkin, Zaid," kata Haikal. "Kedai itu jauh dari basisnya Macan Hitam. Di daerah Pancoran. Kecuali..."
"Kecuali ada yang ngasih tahu dia," potong Zaid dingin. Mata elangnya menatap lurus ke arah kegelapan malam. "Gue nggak bodoh, Kal. Raka itu malas mikir taktik. Dia tipe yang nunggu umpan. Ada orang di sekitar kampus, atau bahkan di sekitar kita, yang bocorin pergerakan gue."
"Gue bakal selidiki anak-anak bengkel, Zaid," jawab Haikal serius. "Gue tanya satu-satu. Tapi lo juga harus waspada. Raka sekarang nekat karena dia ngerasa punya kartu as."
"Kartu as apa?"
"Kartu as itu... posisi Khadijah yang nggak tahu apa-apa tentang dunia kita. Dia titik lemah lo sekarang."
Zaid mengepalkan tangannya. Buku-buku jarinya putih. "Gue nggak akan biarkan dia gunain kartu itu. Besok gue bakal perketat penjagaan. Gue antar jemput sendiri. Dan gue minta lo awasin area sekitar fakultas Khadijah dari jauh. Pake motor. Jangan keliatan."
"Iya. Siap, Dan."
Setelah menutup telepon, Zaid menyugar rambutnya yang agak lembap karena gerimis. Dadanya sesak.
Saat ia berbalik untuk kembali ke dalam rumah, langkahnya mendadak terhenti.
Di ambang pintu pembatas garasi, berdiri sesosok wanita dengan gamis rumahannya warna sage. Rambutnya masih sedikit basah. Khadijah.
Jantung Zaid mencelos. _Deg._
'Sejak kapan dia berdiri di sana? Apa dia dengar semuanya?'
Khadijah tidak memakai cadarnya. Di bawah lampu selasar yang agak redup, matanya menatap Zaid dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kecemasan. Namun ada juga ketegasan yang jarang ia tunjukkan. Ketegasan seorang istri.
"Kenapa belum tidur?" tanya Zaid. Mencoba mencairkan suasana sambil melangkah mendekati istrinya.
"Mas Zaid merahasiakan sesuatu dari saya," ucap Khadijah langsung. Tanpa basa-basi. Suaranya tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Zaid merasa tersudut.
Zaid menghela napas panjang. Ia menuntun Khadijah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. _Klik._
"Khadijah, ini urusan jalanan. Urusan laki-laki," kata Zaid. "Kamu nggak perlu—"
"Saya istri Mas Zaid!" potong Khadijah. Nadanya naik. Menatap lurus ke dalam netra hitam suaminya. "Bagaimana bisa Mas bilang saya tidak perlu tahu, sementara nama saya disebut-sebut dalam bahaya yang mengincar Mas?"
Khadijah menarik napas. "Saya memang seorang Hafizah, Mas. Saya menghabiskan waktu saya di pesantren. Saya terbiasa dengan kitab dan doa. Tapi saya bukan wanita lemah yang harus disembunyikan di balik dinding kaca sampai tidak tahu kalau suaminya sedang menanggung beban sendirian."
Zaid terpaku. Ini pertama kalinya Khadijah menaikkan nadanya. Menuntut haknya sebagai seorang istri yang ingin berbagi beban, bukan hanya berbagi kebahagiaan.
Zaid melangkah mendekat. Meraih kedua pundak Khadijah yang sedikit bergetar karena emosi.
"Aku bukan menganggapmu lemah, Khadijah," kata Zaid. Suaranya bergetar. "Demi Allah, tidak. Aku hanya... aku takut. Aku takut duniaku yang kotor ini merusak kesucianmu. Aku takut trauma masa laluku berimbas pada keselamatanmu. Aku takut kehilangan kamu."
Khadijah menatap dada bidang Zaid. Dadanya naik turun. Lalu perlahan ia menyandarkan keningnya di sana. Menghirup wangi sabun Zaid.
"Mas Zaid," bisik Khadijah. "Allah tidak pernah salah meletakkan takdir. Jika Allah memilih Mas untuk menjadi imam saya menggantikan Kak Farhan, itu karena Allah tahu Mas adalah orang yang paling mampu menjaga saya."
"Jangan hadapi Raka dengan kemarahan Zaid yang dulu. Hadapi dia sebagai suami saya. Sebagai kepala keluarga. Libatkan saya dalam doa-doa Mas. Libatkan saya dalam rencana Mas. Biar saya bisa bantu dengan cara saya."
Mendengar bait demi bait kalimat Khadijah, benteng pertahanan Zaid runtuh seutuhnya. Tembok yang ia bangun 10 tahun.
Ia melingkarkan lengannya di pinggang Khadijah. Memeluknya erat. Menenggelamkan wajahnya di puncak kepala istrinya yang harum wangi mawar dan sampo.
"Maafkan aku," bisik Zaid lirih. "Maaf karena masih sering bertingkah egois. Maaf karena mau melindungi dengan cara salah."
Khadijah mengangguk di dalam pelukan. "Nggak apa-apa. Kita belajar bareng."
Malam itu mereka tidur dengan rencana. Bukan dengan ketakutan.
Keesokan paginya, suasana kampus Fakultas Tarbiyah tampak seperti biasa. Mahasiswa lalu lalang. Ada yang baca buku. Ada yang ngobrol.
Namun, bagi mata yang terlatih seperti Zaid, ada atmosfer yang berbeda. Ada motor yang parkir terlalu lama. Ada orang yang duduk di kantin terlalu lama.
Setelah memastikan Khadijah masuk ke dalam kelasnya dengan aman, di bawah pengawasan diam-diam dari Haikal yang memantau dari seberang jalan dengan topi dan kacamata hitam, Zaid baru melangkah menuju fakultasnya sendiri. Fakultas Ekonomi.
Di koridor gedung utama yang sepi, langkah Zaid dihentikan oleh sebuah tepukan di bahu.
Zaid berbalik dengan cepat. Refleks. Tangannya hampir saja melayang jika ia tidak melihat wajah orang tersebut.
'Sherly.'
Wanita itu tampak berantakan. Bukan Sherly yang dulu glamor.
Riasan wajahnya yang biasanya tebal kini terlihat pudar. Lipstiknya luntur. Matanya sembab dengan lingkaran hitam di bawahnya. Rambutnya tidak di smoothing.
Ia menatap Zaid dengan pandangan memohon. Cengkeramannya di jaket flanel Zaid begitu erat. Jaket yang sama yang kemarin Zaid pakai ke Khadijah.
"Zaid... tolong aku," bisik Sherly dengan suara gemetar. "Gue butuh lo."
Zaid melepaskan tangan Sherly dari jaketnya dengan dingin. Sekali sentak. "Gue nggak ada urusan lagi sama lo, Sher. Jangan ganggu gue. Jangan ganggu istri gue."
"Ini soal Raka, Zaid!" seru Sherly setengah terisak. Suaranya cukup keras membuat beberapa mahasiswa yang lewat sempat menoleh.
Sherly menurunkan suaranya. Mendekat ke telinga Zaid. Baunya masih sama. Parfum manis yang dulu Zaid suka.
"Raka... dia tahu segalanya tentang Khadijah," bisik Sherly. "Dia tahu jadwal kelasnya. Dia tahu di mana rumah orang tuanya di Jogja. Dia punya orang dalam di kampus."
Zaid diam. Rahangnya mengeras.
"Dan dia nggak merencanakan tawuran, Zaid," lanjut Sherly. "Dia merencanakan sesuatu yang lebih buruk. Di hari kelulusan kalian nanti. Dia mau bikin malu. Dia mau nyulik."
Kata "nyulik" itu membuat darah Zaid membeku.
Zaid menatap Sherly dengan tatapan menyelidiki. Mata ke mata. 'Apakah ini jujur, atau ini hanya jebakan lain dari Macan Hitam untuk memecah fokusnya?'
"Kenapa lo ngasih tahu gue?" tanya Zaid curiga. "Lo kan tim dia."
Sherly menunduk. Air matanya luruh. Jatuh ke lantai. "Karena aku sadar... seberapa keras pun aku mencoba, lo nggak akan pernah lihat aku lagi. Lo udah milih dia."
"Aku pernah sayang sama lo, Zaid. Beneran sayang. Dan ini cara terakhirku untuk lepas dari lingkaran setan ini. Biar aku nggak nyesel seumur hidup."
Sherly mengusap air matanya kasar. Lalu berbalik dan berlari pergi. Hilang di tikungan koridor.
Meninggalkan Zaid yang terpaku di tengah koridor. Jantungnya berdetak cepat.
Secarik kertas kecil terjatuh dari saku Sherly secara sengaja. Kertas lusuh. Lipatan empat.
Zaid memungutnya. Membukanya.
Tertulis alamat dengan pulpen: 'Gudang tua PT. Maju Jaya, Jl. Daan Mogot KM 17, Jakarta Barat.'
Di bawahnya ada tulisan kecil: _Raka kumpul sini. Bawa 15 orang._
Zaid meremas kertas itu kuat-kuat di dalam genggaman. Sampai lecek.
Permainan petak umpet ini harus segera diakhiri. Sebelum Raka benar-benar melangkah terlalu jauh ke dalam dunianya yang baru.
Sebelum Khadijah benar-benar dalam bahaya.
Zaid mengeluarkan ponselnya. Menelpon Haikal. "Kal. Gue tau sarangnya. Malam ini kita sikat. Tapi bukan buat tawuran. Buat ngunci Raka. Biar dia nggak bisa gerak."
Di ujung telepon, Haikal terdiam. Lalu menjawab pelan. "Gue ikut, Zaid. Demi lo. Demi Mbak Khadijah."
Zaid menutup telepon. Menatap ke arah kelas Khadijah.
Dalam hatinya ia berdoa. 'Ya Allah... jaga istriku. Beri aku kekuatan untuk jadi pelindung, bukan perusak.'
Karena perang ini, bukan lagi perang geng.
Ini perang seorang suami untuk menjaga rumahnya.