Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Tak Seharusnya
Tak lama kemudian Gladys sudah siap kembali, mengenakan pakaian tidur yang sederhana namun rapi. Ia duduk kembali di meja makan, namun suapan demi suapan terasa sulit ditelan. Setiap kali dia teringat wajah Adnan yang merah padam, tatapan terkejutnya, dan momen memalukan saat dirinya berdiri tanpa sehelai kain pun, wajahnya kembali memerah hebat. Ia terus menunduk, memainkan ujung sendok dengan gelisah, hatinya berdebar tak karuan antara rasa malu yang luar biasa dan perasaan hangat yang aneh namun nyata.
Setelah makan selesai dan peralatan dicuci bersih, suasana rumah perlahan menjadi sunyi. Kelelahan yang berat akhirnya meruntuhkan ketegangan seharian. Saat Gladys melirik pintu kamar sebelah, dia melihat lampu di dalamnya sudah padam. Ia melangkah pelan mendekat, mendengar napas yang teratur dan tenang, Adnan sudah terlelap lelap sekali, tubuhnya yang lelah akhirnya menyerah pada kantuk yang mendalam.
...***...
Pintu kamar Adnan sedikit terbuka, membiarkan cahaya bulan yang samar masuk menerangi ruangan yang tenang. Gladys melangkah masuk perlahan, langkahnya tanpa suara. Ia berdiri sejenak menatap sosok Adnan yang terbaring damai di atas kasur. Hatinya terasa penuh dan lembut. Tanpa sadar, tangan Gladys bergerak sendiri, melepaskan pakaian tidurnya satu per satu hingga jatuh berantakan di lantai. Ia berdiri di sana telanjang bulat, tubuhnya yang putih dan halus berkilau lembut di bawah cahaya remang malam.
Ia mendekat perlahan lalu duduk di tepi kasur, menatap wajah Adnan yang damai itu dengan tatapan penuh cinta yang mendalam. Jemarinya menyentuh pelan pipi yang kasar namun hangat itu, hingga akhirnya Adnan mengerjap perlahan, matanya terbuka berat, masih kabur oleh sisa tidur.
"Gladys...?" gumamnya serak, dia mencoba mengumpulkan kesadarannya. Namun seketika matanya membelalak lebar, napasnya tercekat di kerongkongan.
Di hadapannya, dalam cahaya yang samar, ia melihat Gladys duduk di sana tanpa menutupi tubuhnya sedikit pun, lekuk tubuhnya yang sempurna tampak begitu memikat dan mempesona.
"Kau... apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya lemah, dia mencoba menarik selimut menutupi tubuhnya sendiri karena rasa malu yang mendadak menyerbu. "Cepatlah pakai pakaianmu... ini tidak benar, Gladys... kita tidak boleh seperti ini..."
Namun Gladys tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatapnya lekat-lekat dengan pandangan yang memohon sekaligus menggoda, lalu perlahan ia berbaring turun hingga tubuhnya terbaring di samping Adnan. Kulitnya yang halus menyentuh lengan Adnan, membawa rasa hangat yang menyengat hingga ke tulang sumsum.
"Aku tidak mau sendiri malam ini..." bisiknya pelan, suaranya lembut namun memikat seperti mantra. "Biarkan aku di sini... hanya malam ini..."
Tanpa menunggu jawaban, tangan Gladys yang lembut bergerak turun perlahan. Jemarinya menyentuh area pribadi Adnan, menyentuhnya dengan sentuhan yang begitu lembut namun membuat seluruh darah di tubuh Adnan mendidih seketika.
Adnan tersentak hebat, napasnya menjadi cepat dan berat, ia ingin mendorongnya menjauh, ingin berteriak bahwa ini salah, bahwa mereka seharusnya menjaga batas. Namun mulutnya terasa terkunci rapat, dan seluruh tenaganya seolah menguap begitu saja.
"Tidak... Gladys... hentikan..." ucapnya lemah, namun suaranya terdengar bukan seperti penolakan, melainkan seperti permohonan yang sudah kalah oleh hasrat yang membara.
Gladys seolah tidak mendengar atau tidak peduli. Tangan lainnya bergerak lincah, melepas kancing baju Adnan satu per satu, lalu menarik celana tidurnya turun perlahan hingga tubuh Adnan pun terbuka sepenuhnya di hadapannya. Anehnya, meski akal sehatnya berteriak keras, tubuh Adnan seolah memiliki kehendak sendiri. Ia merasa seolah sedang terhipnotis oleh keindahan wanita itu, oleh sentuhan yang begitu nikmat dan mendambakan itu.
Matanya tak bisa lepas dari wajah Gladys yang tampak begitu cantik dan mempesona di bawah cahaya bulan. Ia melihat kilatan di matanya yang memancarkan rasa cinta dan kepemilikan yang mendalam. Perlahan, tangan Adnan yang tadi gemetar ragu akhirnya terulur juga, menyentuh pinggang ramping wanita itu, menyerah sepenuhnya pada rasa hangat, kedekatan, dan hasrat yang kini menguasai seluruh jiwa dan raganya, membiarkan dunia luar yang penuh bahaya dan ancaman hilang lenyap sejenak dalam keheningan malam yang penuh gairah itu.
udah baca Thor novel terbarunya 🔥🔥🔥🔥seru