NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Anisa

Pilihan Hati Anisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Single Mom
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: pinkanmiliar

Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.

Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.

----------------------------

"Siapa ayah dari bayimu?"

"Itu bukan urusan Dokter."

"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."

Anisa hanya tersenyum getir.

"Maaf. Saya menolaknya."

-----------------------

Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Raisa dan Rendra

Rhea menenteng barang belanjaannya keluar dari salah satu toko di mall XYZ. Ia tak menyangka jika Renata akan berbaik hati membelikan barang-barang ini untuknya.

"Makasih banyak ya, Ren. Aku jadi gak enak nih dibeliin baju sama sepatu." Rhea meringis menunjukkan giginya.

"Gak apa-apa. Aku juga beli banyak kok ini." Renata menunjukkan barang belanjaannya juga sambil tersenyum gembira. "Kamu lapar gak? Kita makan dulu yuk. Aku yang traktir."

Mata Rhea berbinar senang. Untuk anak kos sepertinya ini adalah sebuah jackpot bisa makan dan belanja gratis.

"Boleh boleh. Coba kalau ada Anisa. Pasti dia bakal seneng banget ditraktir begini."

Renata menunjuk sebuah restoran jepang yang ada di mall. Gadis itu memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya dan Rhea.

"Ummm, sudah berapa lama kamu berteman sama Anisa?" tanya Renata membuka obrolan.

"Belum lama sih. Kenal pas upacara pembukaan mahasiswa baru. Kenapa emangnya?"

"Aku ... gak pernah punya teman dekat seperti ini. Papaku sangat protektif terhadapku."

Rhea tersenyum miris. "Anak orang kaya emang beda sih."

"Bukan begitu kok. Mereka hanya gak mau aku terjerumus ke pergaulan yang gak baik."

Rhea mengangguk paham.

"Omong-omong ... apa Anisa punya pacar?"

Rhea malah tertawa. "Pacar? Mana mungkin. Dia aja anti banget sama yang namanya cowok. Kamu tahu gak? Bahkan cowok seganteng dokter Reinhart aja gak dilirik sama dia."

"Oh ya?" Renata tampak tak percaya. Pasalnya ia sendiri melihat jika Anisa keluar dari taman terlarang disusul Reinhart. Mungkinkah ada hal yang tidak diketahui orang lain tentang mereka berdua? Begitulah pemikiran Renata.

"Eh, kamu kan dekat sama dokter Reinhart. Gimana kalau kamu masuk grup penggemarnya aja?"

"Hah? Grup penggemar?"

Rhea mengangguk yakin. "Kamu pasti tahu banyak tentang dokter Reinhart. Kamu bisa berbagi dengan kami para penggemar beliau. Ya mau ya?" bujuk Rhea dengan wajah memelas.

Renata hanya mengulas senyum. Ia paham betul seperti apa karakter Reinhart jika ada hal yang tidak dia sukai. Pria itu bisa berbuat hal frontal yang tidak pernah orang duga.

Untungnya pelayan resto segera datang membawa pesanan sehingga Renata tidak perlu menjawab permintaan Rhea itu.

*

*

*

Anisa dan Rahayu tiba di sebuah apartemen mewah bernama Prince Town. Mulut mereka berdua menganga menatap takjub pada bangunan yang menjulang tinggi itu.

"Ayo masuk! Barang-barang kalian sudah ada di dalam," ujar Raya membuyarkan keterkaguman Anisa dan Rahayu.

Anisa mengangguk dan menggenggam tangan ibunya memasuki gedung bertingkat itu.

"Rumah kalian ada di lantai 15. Diingat-ingat jangan sampai salah masuk. Mengerti?"

"Iya, Kak."

Tak pernah Anisa sangka jika ia akan tinggal di tempat mewah seperti ini. Bahkan apartemen itu sudah diisi lengkap dengan peralatan rumah tangga dan lainnya.

"Eike harap kamu betah tinggal disini. Ini demi kesehatan bayi kamu. Raisa hanya ingin yang terbaik untuk bayinya."

"Iya, Kak. Aku mengerti. Sekali lagi terima kasih ya."

"Eike pamit dulu. Ada pekerjaan yang harus diurus."

Sepeninggal Raya dan orang-orang suruhannya, Anisa mengajak Rahayu duduk di sofa.

"Masha Allah, rumahnya besar dan bagus ya, Nak."

"Iya, Bu. Dapurnya juga pasti bersih dan komplit. Ibu bisa masak dengan nyaman nanti."

"Sebenarnya ... kenapa Nyonya Raisa sampai harus menyewakan rumah ini untuk kita, Nak?"

Anisa menguatkan hati untuk menceritakan yang sebenarnya pada Rahayu.

"Bu, ada yang mau aku sampaikan sa76ma Ibu..." Wajah Anisa terlihat sangat serius.

"Apa, Nak?"

Anisa menceritakan semuanya pada Rahayu. Mulai dari ia mengandung bayi kembar dan jenis kelaminnya, lalu rencananya yang akan mengambil satu bayi perempuan untuknya sendiri. Dengan dibantu dokter Ridha, Anisa yakin bisa melewati masa-masa sulit itu.

Tanpa Anisa dan Rahayu ketahui, rupanya Raya telah memasang kamera tersembunyi di ruang tamu itu. Raya sengaja mengawasi gerak gerik Anisa dan ibunya tanpa sepengetahuan Raisa.

"Hmm, menarik. Tidak kusangka ternyata Anisa punya nyali yang besar juga. Dan Ridha ... dia sudah melanggar perjanjian dengan Raisa," gumam Raya sambil mengusap dagunya.

*

*

*

Raisa mendatangi rumah orang tuanya untuk memberitahu perihal kabar kehamilannya. Tentu saja kedua paruh baya itu sangat bahagia mendengar kabar hamilnya putri mereka.

"Selamat ya, Sayang. Akhirnya setelah menunggu selama lima tahun kamu hamil juga," ucap Reni, mama Raisa sambil memeluk putrinya.

"Iya, Ma. Makasih. Makanya aku datang kesini buat ngundang mama sama papa buat datang di acara perayaan nanti malam. Ini adalah cucu dan buyut pertama di keluarga Kramawijaya."

"Wah, senang sekali mama mendengarnya. Kamu sudah tahu jenis kelamin bayinya?" Reni mengusap perut Raisa, tapi wanita itu merasa risih dengan tindakan ibunya. Ia takut jika ibunya tahu kalau ia hanya berpura-pura hamil.

"Bayinya laki-laki, Ma." Raisa segera menghampiri sang papa yang hanya diam.

"Pa, nanti malam datang ya ke rumah kakek Raka."

Ridho menghela napas. "Kenapa acara doa bersamanya tidak diadakan disini saja? Ini kan rumah kamu, Nak," tutur Ridho.

Raisa menatap Reni seolah meminta pertolongan.

"Raisa kan tinggal bersama keluarga suaminya, Pa. Sudah sepantasnya acara doa bersama dilakukan disana."

"Tapi, Ma. Kita kan orang tua kandungnya Raisa. Kita juga berhak atas cucu kita dong."

Raisa tak ingin kedua orang tuanya berdebat.

"Pah, sudah ya. Jangan berantem. Untuk acara empat bulanan ini, acaranya di rumah Mas Rendra. Nanti pas tujuh bulan, kita adakan acara disini. Gimana?" Raisa memeluk lengan Ridho untuk menenangkan pria paruh baya itu.

"Hmm, ya sudah kalau begitu." Ridho mengusap puncak kepala Raisa.

*

*

*

Bunyi getaran ponsel Reinhart membuat Riyan yang sedang bermain PS di apartemen Reinhart merasa terganggu.

"Rein, handphone lo getar terus dari tadi. Angkat aja ngapa sih?" seru Riyan agar Reinhart mendengarnya.

Saat ini Reinhart sedang membuat kopi di dapur.

"Malas ah. Palingan kalau gak mama Rindi ya kak Rendra yang telpon."

Riyan akhirnya mengalah dan melirik ponsel Reinhart.

"Rein, bukan keduanya. Yang telpon kakak ipar lo nih."

Reinhart sedikit kaget. "Kak Raisa telpon?"

Riyan mengangguk. "Cepetan angkat gih. Siapa tahu penting."

Reinhart berjalan mendekat dan mengambil ponsel.

"Halo, Kak."

"............."

Kepala Reinhart mengangguk menandakan ia setuju. "Baik, Kak. Insya Allah aku datang."

Panggilan berakhir. Reinhart menatap Riyan dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kenapa lo? Kena sawan abis ditelpon kakak ipar?"

Reinhart mengembus napas pelan. Entah kenapa saat mengingat Raisa yang tengah hamil, fokus Reinhart malah tertuju pada Anisa yang juga sedang hamil.

"Kira-kira berapa usia kandungan Anisa? Apa sama dengan Kak Raisa?" gumam Reinhart.

"Hah? Lo ngomong apaan?" Riyan hanya mendengar sayup-sayup gumaman Reinhart.

*

*

*

"Ke luar negeri?"

Respon semua orang yang ada di ruang keluarga itu sama syoknya setelah mendengar pernyataan Raisa dan Rendra, tak terkecuali Reinhart, ia pun ikut terkejut dengan keputusan Raisa yang mendadak ini.

"Ma, Kakek, Mama Reni, Papa Ridho, aku mengambil keputusan ini karena banyak sekali pertimbangan untuk kehamilan Raisa. Aku ingin Raisa ditangani oleh dokter yang terbaik. Dan suasana lingkungan tempat tinggalnya juga kondusif dengan ibu hamil," jelas Rendra.

"Tapi kan gak harus ke luar negeri juga, Ren. Dokter Ridha sahabatnya Raisa juga kan dokter kandungan yang bagus," protes Rindi.

"Iya, Nak. Pikirkanlah dulu matang-matang. Kami disini bisa kamu andalkan kalau kamu butuh apa-apa saat perutmu besar nanti." Reni ikut menyahut.

"Maaf, Ma. Tapi, aku sama Mas Rendra sudah pikirkan ini jauh-jauh hari. Bayi laki-laki ini adalah penerus keluarga Kramawijaya. Jadi, aku ingin yang terbaik untuknya selama kehamilan. Dan ... kalian tahu sendiri bagaimana disini para wartawan akan mencari berita tentang kehamilanku ini. Itu akan membuatku kurang nyaman. Aku mohon mengertilah..."

Raisa menatap semua orang dengan wajah sendu. Ia ingin semua orang setuju dengan keputusannya yang pindah ke luar negeri selama hamil hingga melahirkan nanti. Padahal tujuan sebenarnya adalah agar tidak ada yang tahu jika sebenarnya Raisa tidak hamil.

1
falea sezi
oalah bodoh bgt anisa😒
Emak Femes: makasih udh mampir Kak 🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
Sunarti Narti
itu namanya jodoh
Dian
suka
Emak Femes: Makasih sudah mampir, Kak 😍
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Baru episode satu kamu udah bikin hidup orang rumit, Mak🤣

daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: ❤️❤️❤️
semangART, Emak!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!